August 4th, 2012
Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiap-siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak.

Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS. 59:18).

Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan taqwa kepada karena di sisi Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah taqwa.
Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).
Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk mendapat ampunan-Nya dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi orang-orang yang bertaqwa.(QS 3:133)

Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah sejak dini secara berkala karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.( QS. 50:17-18). Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya.(QS. 99:7-8)
Bila kita mengingat betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, maka wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin.
Dalam QS. 80:34-37, tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: “Kemana tempat lari?. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali”.(QS. 75:7-12)

Ummul Mu’minin Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah SAW apakah manusia tidak malu dalam keadaan telanjang bulat di padang mahsyar. Rasulullah SAW menjawab bahwa hari itu begitu dahsyat sampai-sampai tidak ada yang sempat melihat aurat orang lain.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa ada 7 golongan yang akan mendapat naungan/perlindungan Allah di mana di hari tidak ada naungan/perlindungan selain naungan/perlindungan Allah (Yaumul Qiyamah atau Yaumul Hisab). Ketujuh golongan itu adalah Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT, pemuda yang lekat hatinya dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah; bertemu dan berpisah karena Allah, orang yang digoda wanita cantik lagi bangsawan dia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya (secara senbunyi-sembunyi) dan orang yang berkhalwat dengan Allah di tengah malam dan meneteskan airmata karena takut kepada Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang pertama dihisab adalah mereka yang berjihad, berinfaq dan beramal shaleh (QS. 22:77, 2:177). Kemudian sabda Rasulullah SAW di hadits lainnya: “Ada 70.000 orang akan segera masuk surga tanpa dihisab”. “Do’akan aku termasuk di dalamnya, ya Rasulullah!”, mohon Ukasyah bersegera. “Ya, Engkau kudo’akan termasuk di antaranya”, sahut Nabi SAW. Ketika sahabat-sahabat yang lain meminta yang serupa, jawab Nabi SAW singkat, “Kalian telah didahului oleh Ukasyah”. “Siapa mereka itu ya Rasulullah?”, tanya sahabat. “Mereka adalah orang yang rajin menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di akhirat”.

Di riwayat lain dikisahkan bahwa orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antri dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata, “Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab”.
Dan memang ada 3 harta yang tak akan kena hisab yakni: 1 rumah yang hanya berupa 1 kamar untuk bernaung, pakaian 1 lembar untuk dipakai dan 1 porsi makanan setiap hari yang sekedar cukup untuk dirinya. Maka orang-orang miskin itupun dipersilakan masuk ke surga dengan bergerombol seperti kawanan burung.
Betapa beruntungnya mereka semua padahal hari penghisaban itu begitu dahsyatnya sampai banyak yang ingin langsung ke neraka saja karena merasa tak sanggup segala aibnya diungkapkan di depan keseluruhan umat manusia. Apalagi tak lama kemudian atas perintah Allah, malaikat Jibril menghadirkan gambaran neraka yang dahsyat ke hadapan mereka semua sampai-sampai para Nabi dan orang-orang shaleh gemetar dan berlutut ketakutan. Apalagi orang-orang yang berlumuran dosa.

Yaumul Hisab itu bahkan juga terasa berat bagi para Nabi seperti Nabi Nuh yang ditanya apakah ia sudah menyampaikan risalah-Nya atau Nabi Isa yang ditanya apakah ia menyuruh umatnya menuhankan ia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu terlihat menekan dan meresahkan para Nabi. Jika Nabi-nabi saja demikian keadaannya, bagaimana pula kita ?.

Mudah-mudahan saja kita tidak termasuk orang yang bangkrut/pailit di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggungjawabannya. Mengapa disebut bangkrut? Karena ternyata amal shaleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka.
Hasil Muhasabah
Seseorang yang rajin me’muhasabah’i dirinya akan mau dan mudah melakukan perbaikan diri. Ia juga akan mau meneliti, mengintrospeksi, mengoreksi dan menganalisis dirinya. Hal-hal apa saja yang menjadi faktor kekuatan dirinya yang harus disyukuri dan dioptimalkan. Kemudian hal-hal apa saja yang menjadi faktor kelemahan dirinya yang harus diatasi, bahkan kalau mungkin dihilangkan. Lalu bahaya-bahaya apa yang mengancam diri dan aqidahnya sehingga harus diantisipasi, dan akhirnya peluang-peluang kebajikan apa saja yang dimilikinya yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika dirinci, paling tidak, ada 3 hasil yang akan diraih orang yang rajin melakukan muraqabah dan muhasabah :

1. Mengetahui aib, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya serta berupaya sekuat tenaga meminimalisir atau bahkan menghilangkannya.
2. Istiqamah di atas syari’at Allah. Karena ia mengetahui dan sadar akan konsekuensi-konsekuensi keimanan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak maka cobaan sebesar apapun tidak akan memalingkannya dari jalan Allah seperti misalnya tokoh Bilal dan Masyitah. Walaupun keistiqamahan adalah hal yang sangat berat sehingga Rasulullah SAW sampai mengatakan, “Surat Hud membuatku beruban” (Karena di dalamnya ada ayat 112 berisi perintah untuk istiqamah).
3. Insya Allah akan aman dari berat dan sulitnya penghisaban di hari kiamat nanti (QS. 3:30)
August 4th, 2012
Seorang mukmin menertibkan dirinya sendiri; dia mengkritik dan menilai
hanya untuk kepentingan Tuhan.
Penghitungan akhir (hisab) bisa menjadi ringan pada orang-orang karena
mereka dulunya terbiasa menghisab
dan menilai diri sendiri dalam kehidupan ini.  Dan Penghitungan Akhir pada
Hari Pengadilan kelak menjadi
amat keras  pada mereka yang menjalani hidup ini dengan sewenang-wenang
dan mengira bahwa mereka tidak akan
pernah dipanggil untuk di hisab. (Al- Hasan ibn Ali ibn Abi Talib )

Dalam thariqat kita, untuk menghilangkan kegelapan dalam hati, adalah
penting  bagi semua pencari untuk
menyiapkan sebuah buku tulis dan menulis sifat-sifat buruk dari ego
masing-masing. Setiap orang boleh
mencatat sedikitnya 200 kelakuan-kelakuan buruknya.

Dengan menuliskannya akan menjadi kunci untuk menghancurkannya.
Siapa yang belum pernah melakukannya, maka harus segera
melaksanakan nya.  Diantara sifat-sifat buruk
ini adalah mencuri, berbohong dan marah. Salah satu yang paling buruk
adalah kemarahan. Jika kalian marah
pada seseorang, maka kendalikan diri sendiri selama 40 hari.
Syaikh Nazim menulis bagi diri beliau sendiri
lebih dari 100 kelakuan buruk, jadi kita tidak mungkin kurang dari itu.
Ketika kalian mengamati sifat-sifat buruk ego itu, kalian akan merasa jijik.

Proses ini akan merobohkan ego yang menghasut (an-nafs al –ammara ).
Jika kalian menulis apa yang
masuk dalam hati dengan  bantuan spiritual syaikh, maka ego akan takut.
Jika ada yang menemukan buku
catatan kalian, biarkan  mereka melihatnya, karena lebih baik merasa
 malu dalam dunia ini daripada di
Hari Pengadilan kelak.

Sebagai tambahan, para pencari harus menyediakan waktu di setiap
akhir hari untuk menghitung diri sendiri :
 apa yang telah dia perbuat dan mengapa dia melakukannya?
Apakah dia telah lalai dan mengapa ? Siapa
yang dia jahati dan siapa yang telah dia tolong ? Lalu ambil tasbih
dan minta ampunan Tuhan (istighfar ) bagi
tiap kesalahan dalam perbuatan atau kelalaian itu.

Keseimbangan berawal dari diri sendiri, karena diri ini adalah akar
 dari segala masalah dalam spiritualitas.
Dalam mendekatkan diri pada Hadirat Tuhan, para pencari harus
membangun aspek ilahiah dari
dirinya. Seseorang mungkin akan bergegas dalam ibadah-ibadah
sunah dan puasa, bersedekah lebih banyak,
dll. Namun, dalam mencari kebenaran, hal-hal tersebut tidaklah
cukup. Karena biasanya orang-orang yang
beribadah akan melewatkan sebuah langkah yang penting iaitu
al muhasabah – penghisaban/pemeriksaan diri
sendiri.

Tanpa aspek ini, seluruh ibadah yang dilakukan adalah dalam
keyakinan bahwa kita sedang meraih
tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, padahal faktanya hal itu
 menjadi penghalang kemajuan kita. Bagaimana
boleh ? Ketika  ibadah-ibadah itu tidak secara murni dilakukan
demi mencari ridha Allah semata dan kita
terus  melanjutkannya dibawah
prasangka berpuas diri bahwa seluruh apa yang kita lakukan
adalah untuk meningkatkan  perkembangan
kerohanian kita. Pada saat itu, kita kemudian
bersantai-santai menikmati kesuksesan dalam disiplin dan
pekerjaan kerohanian.
August 4th, 2012
Khauf (takut) adalah ibadah hati, tidak dibenarkan khauf ini kecuali terhadap-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Khauf adalah syarat pembuktian keimanan seseorang. Allah berfirman:
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].

Takut, dalam Islam juga diposisikan sebagai ujian, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al Quran,

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. 2:155).
 Menurut Sayyid Quthb, ayat tersebut menjelaskan tentang adanya keniscayaan untuk menempa jiwa dengan bencana dan ujian. Adanya rasa takut, merupakan ‘training’ mental dan jiwa manusia. Oleh karena itu mereka yang memiliki positive thinking yang akan berhasil melewati rasa takut dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Apabila khauf kepada Allah berkurang dalam diri seorang hamba, maka ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan dirinya terhadap Rabb-nya. Sebab orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya.
Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya: pertama, pengetahuan seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya; kedua, pembenarannya akan ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan; ketiga, mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.

Para ulama membagi khauf menjadi lima macam:
1. Khauf ibadah, yaitu takut kepada Allah, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menahan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Di Tangan-Nya-lah kemanfaatan dan kemudharatan. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan khaufus-sirr.
2. Khauf syirik, yaitu memalingkan ibadah qalbiyah ini kepada selain Allah, seperti kepada para wali, jin, patung-patung, dan sebagainya.
3. Khauf maksiat, seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan karena takut dari manusia dan tidak dalam keadaan terpaksa. Allah berfirman,“Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].
4. Khauf tabiat, seperti takutnya manusia dari ular, takut singa, takut tenggelam, takut api, atau musuh, atau selainnya.
 Allah berfirman tentang Musa, “Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).” [QS. Al-Qashash: 18].

5. Khauf wahm, yaitu rasa takut yang tidak ada penyebabnya, atau ada penyebabnya tetapi ringan. Takut yang seperti ini amat tercela bahkan akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan para penakut.

Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW:

 “Berfirman ALLAH SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-KU tidak mungkin berkumpul 2 rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul 2 rasa aman. Jika ia merasa aman pada-KU di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-KU di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)

Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’
1. Takutnya para Malaikat : “Mereka merasa takut kepada Rabb-nya, dan mereka melakukan apa-apa yang diperintahkan ALLAH.” (QS An-Nahl 16/50).

2. Takutnya Nabi SAW. “Bahwa Nabi SAW jika melihat mendung ataupun angin maka segera berubah pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang jika melihat mendung dan angin bergembira karena akan datangnya hujan, maka mengapa anda cemas?” Jawab beliau SAW: “Wahai A’isyah, saya tidak dapat lagi merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari 6/167 dan Muslim 3/26) Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW jika sedang shalat terdengar didadanya suara desis seperti air mendidih dalam tungku, karena tangisnya [2].

3. Khauf-nya shahabat ra. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”

4. Khauf-nya Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu mendengar sebuah ayat yang dibaca, lalu dia jatuh sakit hingga beberapa hari lamanya. Lalu, suatu hari dia mengambil segenggam tanah, seraya berkata, “Andaikan saja aku menjadi seperti tanah ini. Andaikan saja aku bukan yang diingat. Andaikan saja ibuku tidak pernah melahirkan aku.” Sementara itu, diwajahnya saat itu terlihat dua garis hitam karena banyak menangis.

5. Khauf-nya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, aku telah melihat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada saat ini, aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka. Mereka (sahabat) adalah orang-orang yang kusut dan berdebu, di antara mata mereka seakan-akan ada iring-iringan orang yang mengantar jenazah. Mereka senantiasa sujud dan berdiri kepada Allah, membaca Kitabullah, pergi dengan berjalan kaki dan mengingat Allah. Mereka tampak seperti pohon-pohon yang condong dan bergoyang pada saat angin berhembus kencang. Mereka selalu menangis hingga kain mereka basah. Demi Allah, sepertinya orang-orang pada saat ini sudah (banyak yang) lalai.” Muhammad bin Waqi’ pernah menangis sepanjang malam dan hampir tidak pernah berhenti.

6. Khauf-nya Khalifah Umar bin Abdul-Aziz mengingat mati, maka badannya bergetar seperti burung yang gemetar, lalu dia menangis, dan air matanya membasahi jenggotnya. Sepanjang malam dia menangis dan seluruh penghuni rumah pun ikut menangis. Fatimah, istrinya bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?” Umar bin Abdul-Aziz menjawab, “Aku ingat tempat kembalinya orang-orang dihadapan Allah. Di antara mereka ada yang di surga dan yang lain ada di neraka.” Setelah itu, Umar bin Abdul-Aziz pun pingsan.

7. Khauf-nya Tabi’iin. Ali bin Husein jika berwudhu untuk shalat pucat wajahnya, maka ditanyakan orang mengapa demikian? Jawabnya: “Tahukah kalian kepada siapa saya akan menghadap?” Berkata Ibrahiim bin ‘Iisa as Syukriy: “Datang padaku seorang lelaki dari Bahrain ke dalam mesjid saat orang-orang sudah pergi, lalu kami bercerita tentang akhirat dan dzikrul maut, tiba-tiba orang itu demikian takutnya sampai menghembuskan nafas terakhir saat itu juga.” Berkata Misma’: “Saya menyaksikan sendiri mau’izhoh Abdul Waahid bin Zaid disuatu majlis, maka wafat 40 orang saat itu juga dimajlis itu setelah mendengar ceramahnya.” Berkata Yaziid bin Mursyid: “Demi ALLAH seandainya Rabb-ku menyatakan akan memenjarakanku dalam sebuah ruangan selama-lamanya maka sudah pasti aku akan menangis selamanya, maka bagaimanakah jika ia mengancamku akan memenjarakanku didalam api?!”

Demikianlah Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’, maka kita lebih pantas untuk takut dibanding mereka. Mereka takut bukan karena dosa, melainkan karena kesucian hati dan kesempurnaan ma’rifah, sementara kita telah dikalahkan oleh kekerasan hati dan kebodohan. Hati yang bersih akan bergetar karena sentuhan kecil, sementara hati yang kotor tak berguna baginya nasihat dan ancaman.

PENTINGNYA RASA KHAUF

Pertama.

Agar terhindar dari kemaksiatan. Sebab nafsu yang ada pada diri kita sangat cenderung melakukan perbuatan jahat, dan selalu bermain mata dengan fitnah. Seperti tidak ada henti-hentinya nafsu ini mendorong dan menarik kita pada perbuatan demikian. Oleh karena itu kita harus mengancam dan membuat nafsu itu menjadi takut, dengan cara mencambuk dan mendera, baik berupa ucapan tindakan maupun pikiran. Sebagaimana yang dituturkan seorang shaleh, “Suatu ketika nafsuya mengajak berbuat maksiat, lalu ia keluar dan berguling- guling di atas pasir yang panas seraya berkata kepada nafsunya: “Rasakanlah! Neraka jahanam itu lebih panas dari pada apa yang anda rasakan ini. Paada malam hari engkau menjadi bangkai, sementara siang harinya menjadi pemalas.”

Kedua.

Agar tidak ujub atau berbangga diri/sombong pada ketaatan dan amal shalehnya. Sebab jika sampai bersikap ujub, maka dapat menyebabkan celaka. Sekalipun kita sedang berbuat ketaatan, kita harus selalu waspada terhadap nafsu. Nafsu harus tetap dipaksa dengan dicela dan dihinakan tentang apa yang ada padanya, berupa kejahatannya, dosa-dosa dan berbagai macam bahayanya.

Diceritakan dari Hasan Bashri, bahwa ia berkata: “Salah seorang diantara kita tidak akan aman, setelah melakukan dosa, sementara pintu ampunan telah ditutup, tanpa bisa memasukinya. sehingga salah seorang dari kita yang berbuat maksiat itu, brarti berbuat tidak pada tempatnya.”

Abdullah bin Mubarak pernah mencela nafsunya sendiri dengan berkata: “Ucapan anda seperti ucapan orang zuhud, tapi perbuatan anda seperti perbuatan orang munafik. Sementara anda ingin masuk surga. Jauh amat..!, mana mungkin..? Surga itu ada orang-orangnya sendiri. Orang-orang yang masuk surga itu tidak beramal seperti yang anda lakukan.”

Ucapan peringatan seperti itu sebaiknya sering diulang-ulang, untuk mengingatkan diri sendiri, agar tidak bersikap ujub dalam melakukan ketaatan dan agar tidak terjerumus pada kemaksiatan.

Ketiga

Khauf seorang s?lik bukanlah hanya sekedar rasa takut semata. Khauf pasti diiringi dengan raj?’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalah pembangkit dari raj?’. Maq?m khauf adalah maq?m yang membangkitkan maq?m raj?’. Raj?’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.
Ibn ‘At?’illah menyatakan bahwa jika s?lik ingin agar dibuka baginya pintu raj?’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allah kepadanya berupa anugerah maq?m, hal dan berbagai kenikmatan yang dia terima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya. Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘At?’illah:
”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu raj?’, maka lihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yang telah kau berikan kepada-Nya.”

Raj?’ bukan semata-mata berharap, raj?’ harus disertai dengan perbuatan. Jika raj?’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang s?lik untuk menyertakan raj?’nya dengan amal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah secara kontinu.
Jika raj?’ sudah ada dalam diri s?lik, maka raj?’ ini akan semakin menguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pasti akan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakan bahwa khauf akan melahirkan raj?’, dan raj?’ akan menjadi penguat khauf

Posted in Maqam | No Comments »
August 4th, 2012
Allah SWT berfirman, “Yad’uuns Rabbahum Khaufan watham’an” yang artinya, Mereka berdo’a kepada TUhannya  karena takut dan loba”.
 Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menagis karena takut kepada Allah Ta’ala, sebelum ada air susu yang masuk pada teteknya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba”.
Anas berkata bahwa RasduluLlah SAW bersabda, “Seandainya engkau mengetahui apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis”.
 Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah Ta’ala adalah tekut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana firmanNya, “wakhaafuuNy in kuntum mu’minun” yang artinya, “dan takutlah akmu semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman”.
Allah Ta’ala juga berfirman, “fa iyyaaYa farhabuun” yang artinya, “Maka kepadaKulah seharusnya mereka merasa takut”.
Disamping itu Allah Ta’ala memuji orang mu’min Karenna ketakutannya sebagai mana  dirmanNya,”yakhaafuuna Rabbahum min fawqihim” yang artinya, “mereka itu (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”.
 Saya (Syaikh Al-Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Takut mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khauf, khasyah, dan haibah”, khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hokum-hukumnya sebagaimana firmanNya,
 “WakhaafuuNy in kunutm mu’miniin”
 Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNya
Innamaa yakhsyaLlaaha min ‘ibaadihiil ‘ulamaa’”
yang artinya, “sesungguhnya yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara hambanya adalah ‘ulama’.
Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat ma’rifat sebagaimana firman Allah Ta’ala, “WayuchadhirukumuLlaahu nafsah”yang artinya, “Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya.
Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, “Takut adalah cambuk Allah SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari dari pintuNya”.
Abdul Qasim Al-Hakim berpendapat, khauf mempunyai dua bentuk yaitu rahbah dan khasyah.Yang dimaksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah SWT. Ada yang berpendapat, kata rahiba dan haraba  boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu seperti kata jadzuba dan jaladza. Sebagai contoh apabila dia lari , maka dia dapat di tarik dalam pengertian hawanafsunya. Seperti pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan / menggerakkan kebenaran syari’at, maka pengertian tersebut disebut khasyah.
Abu Hafs berkata, “Takut itu seperti lampu hati yang dapat ,menunjukkan kebaikan dan keburukan.” Utstadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Yang dimaksud takut adalah keadaan diri yang tidak menginginkan sebuah harapan dan keterlambatan”. Abu Umar Ad-Dimasyqy berkata, yang dimaksud takut adalah orang yang lebih takut kepada dirinya sendiri dari pada takut kepada setan”.
Menurut Ibnu Al-jalla’, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan”. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang takut adalah bukan orang yang menaangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut disiksa”. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh seseorang, “Mengapa saya tidak pernah melihat oarng yang takut kepada Allah SWT ?” Dia menjawab,”Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat orang yang takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang yang takut kepada Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya perempuan yang kehilangan anaknya akan melihat perempuan lain yang juga kehilangan anaknya”.
Yahya bin Mu’adz berpendapat, keturunan Adam yang miskin seandainya takut kepada api neraka sebagaimana ia takut kepada kefakiran, maka dia akan masuk surga. Menurut Syah Al-Karmani, indikasi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang selalu susah . sedangkan menurut Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang takut akan sesuatu maka ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah SWT maka ia akan lari kepadaNya”.
Dzunun telah ditanya, “Kapan bagi seorang hamba menemukan jalan takut kepada Allah SWT ?” Dia menjawab, “Apabila ia menempatkan dirinya pada posisi sakit maka ia akan menjauhkan diri dari segala hal karena sakitnya terus bertambah”. Menurut Mu’adz bin Jabbal, hati dan ketampanan wajah orang mu’min tidak akan tenteram dan tenang sebelum ia mampu meninggalkan titian neraka jahanam di belakangnya. Sedangkan menurut Bisyr Al-Hafy, takut kepada Allah SWT bagaikan harta milik yang tidak mempunyai tempat kecuali di hati orang bertaqwa.
Abu Utsman Al-Hariri mengatakan, “Cacatnya orang yang takut terletak pada ketakutannya”. Al-Washity juga mengatakan, “Takut merupakan penghalang antara Allah SWT dan hambaNya”. Pernyataan ini mengandung kemusykilan, artinya orang yang takut kepada Allah SWT akan mengetahui waktu yang ke dua. bentuk-bentuk waktu tidak akan diketahui untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu kebaikan orang-orang yang baik merupakan keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah SWT.
Saya (Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi) pernah mendengar Ahmad Ats-Tsauri mengatakan, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhan menuju Tuhan. Sebagaimana ulama berpendapat, indikasi takut adalah bingung dengan cara yang samar. ” Al-Junaid pernah ditanya tentang takut lalu beliau emnjawab, “Jatuhnya siksaan melalui sa,uran nafas”.
Abu Sulaiman Ad-Daarani menyatakan, “Takut tidak akan mampu menceraikan hati kecuali keruntuhan”. Abu Utsman juga berkata bahwa kebenaran takut adalah meninggalkan perbuatan dosa baik lahir maupun bathin.
Menurut Dzunun Al-Mishri, Manusia akan tetap di tengah jalan selagi ia takut. apabila ia tidak takut kepada Allah SWT maka ia akan sesat. Sedangkan menurut Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai  hiasan. Hiasan ibadah adalah takut , sedangkan indikasi takut adalah memperkecil keinginan.
Suatu saat seorang laki-laki bertanya kepada Bisyr Al-Hafi , “Saya pernah memperlihatkan takut mati”. Dan Bisyr menjawab, “Datang kepada Allah SWT sangat penting”.
Syaikh Abul Qasil Al-Qusyairy berkata, “Saya telah mendengar Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Saya pernah mendatangi Imam ABu Bakar bin Faruk. Ketika saya melihatnya, kedua matanya bercucuran air mata. Kukatakan kepadanya bahwa Allah akan emnyelamatkan dan menyembuhkanmu. Ia menjawab, “Engkau tidak akan pernah melihatku takut mati, tetapi saya takut dibalik mati itu.”‘
Diriwayatkan dari ‘A’isyah RA mengatakan, “Pernah kutanyakan  kepada RasuluLlah SAW tentang ayat yang berbunyi, “Walladziina yu’tuuna maa uutuu waquluubuhum wajilah” yang artinya.”Dan orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah diberikan, sedangkan hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhannya”.
Apakah mereka orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang yang minum khamr dan orang-orang yang mencuri ? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa , salat dan bersedekah. Mereka takut amalnya tidak diterima oleh Allah SWT”. Hal ini yang dimaksud dalam ayat, “ulaa-ikalladziina yusaari’uuna fil khairaati wahum lahaa saabiquun” yang artinya, “Mereka adalahorang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan mereka termasuk orang yang menang”.
Menurut AbduLlah bin Mubarak, takut tidak akan pernah bangkit sehingga ia tertanam di dalam hati dengan konsistensi pendekatan , baik secara samar maupun terang-terangan. Sedangkan menurut Ibrahim bin Syaiban , apabila takut tertanam di dalam hati , maka segala keinginan hawa nafsu dan cinta dunia akan terbakar dan tertolak. Menurut satu pendapat, takut merupakan kekuatan ilmu sesuai dengan perjalanan hukum . Sedangkan pendapat lain mengatakan, takut merupakan gerak hati karena keagungan Tuhan.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata,”Hati jangan sampai terkalahkan kecuali dengan takut. Apabila harapan dapat mengalahkan hati, maka ia akan rusak”. Selanjutnya ia berkata, “Apabila sikap takut telah ditanamkan, maka (derajat) mereka akan terangkat, dan apabila rasa takut di sia-siakan, maka (derajat) mereka akan jatuh”. Al Wasithi mengatakan, bahwa takut dan harapan adalah dua pengikat diri (jiwa) sehingga tidak terjebak dalam kebodohan. Ia juga mengatakan, apabila kebenaran telah tertanam di dalam hati, maka sikah berharap dan takut tidak akan muncul kembali.  Sedangkan menurut Ustadz Asy-Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq ..hal itu nampak terjadi kemusykilan. Apabila demensi kebenaran telah berpengaruh, maka ia akan memperoleh ketinggian rahasia hati. Kebahagiaan tidak aakn diperoleh hanya dengan mengikat dua peristiwa. Sikap takut dan harap merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berpengaruh melalui hukum kemanusiaan.
Husain bin Manshur mengatakan bahwa barang siapa yang tekut dan berharap kepada selain Allah SWT, maka segala pintu akan ditutup. Allah SWT menguasai dan memberikan rintangan dengan tuju puluh penghalang, minimal ia bersikap skeptis. Hal yang menyebabkan takut adalah karena mereka berpikir tentang siksaan Allah SWTdan keadaan dirinya khawatir berubah. Allah SWT berfirman,
Wabadaa lahum minaLlaahi maa lam yakuunuu yahtasibuun” QS. An Nuur 47.
yang artinya, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka pikirkan”.
Allah SWT juga berfirman,
 “Qul hal nunabbi’ukum bil akhsariina a’maalaa. Alladziina dhalla sa’yuhum fil hayaatiddunyaa. Wahum yahsabuuna annahum yuhshinuuna sun’a”
 yang artinya, “Katakanlah, maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang perbuatannya merugi, yaitu orang-orang yang tersesat perjalanannya di dunia sedangkan mereka menduga bahwa mereka mengerjakan perbuatan yang baik”.
Banyak sekali orang yang diberikan kenikmatan, keadaannya menjadi berbalik dan perbuatan jahatnya menjadi ketetapan. Oleh karena itu sikap senang hati dan takut perlu ditanamkan.
     Syair dari Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq :
Engkau telah berperasangka baik terhadap hari-hari,
Jika keadaannya membeik
Dan engkau tidak takut
Terhadap apa yang ditakdirkannya
Waktu-waktu malam telah menyelamatkanmu
Tetapi engkau telah menipunya
Dan ketika keheningan malam tiba
Kekeruhan mulai terjadi
 Saya / Imam Al Qusyairi mendengar Manshur bin Khalf Al-Maghribi berkata, “Dua orang laki-laki saling berteman dalam suatu kajian tentang masalah iradah dalam jangka waktu yang relatif pendek (dua tahun). Salah satu dari mereka pergi dan meningalkan temannya. Setrlah itu tak pernah terdengar kabarnya. Suatu saat teman yang lain bertempur di medan perang dan membunuh tentara Rum (roma). Ketika seorang-laki-laki keluar dengan kepala tertutup adn senjata di tangan menuntut agar semua keluar ke medan perang, maka keluarlah salah seorang dari para pahlawansehingga dia terbunuh, kemudian yang ke tiga keluar juga dan kemudian terbunuh. Dalam kondisi seperti itu, seorang sufi keluar dan agak berjauhan. Orang Rum itu memandang wajahnya dan ternyata orang yang dipandang adalah adalah temannya di waktu belajar tentang masalah iradah dan ibadah selama dua tahun. Orang sufi itiu bertanya, “Apa engkau sering membaca Al-Qur’an ?” Tentara Romawi itu menjawab, “Saya tidak ingat satu hurufpun dari Al-Qur’an”. Orang sufi berkata, “Hal itu jangan kau kerjakan dan kembalilah”. Tentara Romawi menjawab, “hal itu tidak akan saya lakukan. Sekarang saya mempunyai kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itu hendaklah engkau pergi. Jika tidak engkau akan saya bunuh seperti mereka”. Orang sufi berkata, “Ketahuilah engkau telah membunuh tiga orang Islam. Engkau tidak akan menjadin hina karena pulang, oleh akrena itu pulanglah engkau dan saya akan menangguhkan”. Orang laki-laki itu kemudian pulang di ikuti orang sufi tersebut. Dalam kondisi demikian orang sufi tersebut dapat menikam dan membunuhnya. Setelah pertempuran, orang sufi tersebut terbunuh di hadapan orang-orang nasrani.
Menurut satu pendapat, apabila terjadin sesuatu yang nampak di hadapan iblis, maka malaikat Jibril dan Mikail akan menangis dalam jangka waktu yang lebih lama. Allah SWT menegur mmereka, “Mengapa kalian berdua menangis ?” Mereka menjawab, “Yaa Tuhan kami tidak mampu menjaga tipu daya Mu”. Allah SWT memberikan perintah, “Jadilah kalian seperti ini, jangan kalian berusaha menjaga  (mengamankan) tipu dayaKu.”
Diriwayatkan dari Sariy As-Saqathi yang berkaata, “Suatu saat pasti saya melihat hidungku yang berada di dalam mulutku. Saya takut hidungku akan menjadi hitam ketika saya melihat siksaan”. Abu Hafs berkata, “Selama empat puluh tahun aku berkeyakinan, Allah SWT akan melihatku dengan penuh kebencian, sedangkan perbuatanku akan menunjukkan hal itu”.
Hatim Al-Asham berkata, “Janganlah bersikap sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu wajar bagi Nabi Adam AS berjumpa dengan sesuatu yang pernah ia jumpai. Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab iblis setelah lama beribadah ternyata mendapati sesuatu yang ia dapati. Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Bal’am yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata ia mati kafir. Jangan sombong akrena dapat melihat orang-orang yang baik, karena tak seorangpun lebih hebat dari Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah mengambi keuntungan jika berjumpa dengan sanak famili  musuh-musuhnya”.
Suatu hari Ibnu Mubarrak berjumpa dengan teman-temannya, ia berkata, “Di tengah malam saya memberanikan diri menghadap Allah SWT dengan memohon agar dimasukkan ke dalam surga”.  Ada yang berpendapat, Nabi Isa AS keluar bersama seorang Bani Israil yang saleh. Dalam perjalaan mereka diikuti oleh seorang yang selalu berbuat dosa dan terkenal fasik. Dia duduk bersandar dengan posisi yang berjauhan dari mereka dengan berdoa kepada Allah SWT, “Yaa Allah ampunilah saya”. Disamping itu orang saleh tersebut juga berdoa, “Yaa Allah kelak di hari kiyamat janganlah engkau kumpulkan aku dengan orang yang fasik tersebut.” Setelah itu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Isa AS, “Aku telah mendengarkan doa keduanya”.
Dzun Nun AL Mishri berkata, telah aku tanyakan kepada Ulaim, “Kenapa engkau disebut orang gila ?”Dia menjawab, apabila saya dipenjara begitu lama, maka saya menjadi gila karena takut berpisah”.
Dalam engertian yang seperti ini, ahli syair berkata “
Seandainya di depanku ada batu besar
Pasti akan saya buka
Namun bagaimana orang lain
Akan mampu memikul tanah liat
Sebagian ulama berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang sangat mengharapkan umat dan takut terhadap dirinya sendiri kecuali Ibnu Sirrin”. Menurut suatu ungkapan, Sufyan Ats-Tsauri dalam keadaan sakit menyindir seorang dokter yang sedang memeriksanya dengan ungkapan, “Inilah seorang laki-laki yang tidak takut penyakit limpa hatinya”. Dokter itu mendekat dan meraba lehernya seraya berkata, “Saya tidak tahu bahwa diri Abu Hanifah sama dengan diri Sufyan Ats-Tsauri “.
Imam Syibli pernah ditanya, “Kenapa matahari menjadi kuning ketika terbenam?”. Maka dijawab , “Karena ia meninggalkan tempatnya yang sempurna, sehingga ia menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Demikian pula orang mukmin apabila akan meninggal dunia, warnya menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Oleh akrena itu apabila matahari akan terbit ia akan terbit dengar sinar terang benderang. Demikian pula orang mukmin apabila dibangkitkan dari kubur, ia akan bangkit dengan wajah yang bersinar”. Jawabnya.
Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata, “Saya memohon kepada Tuhan agar  dibukakan pintu dengan siakp takut sehingga ia dapat terbuka. Demikian pula aku takut dengan kekuatan akalku. Oleh karena itu saya juga memohon, Yaa Tuhan berilah saya kemampuan berdasarkan apa yang telah saya kuasai sehingga diriku menjadi tenang”.
Posted in Maqam | No Comments »
August 4th, 2012

Habib Muhamad Al-Ajami adalah seorang dari bangsa persia yg menetap di Baghdad, dia merupakan salah seorang tokoh besar dalam ilmu tasawuf serta murid dari ulama tasawuf besar yaitu Hasan Al-Basri, dan beliau pun juga dikenal sebagai salah seorang ahli hadists yang merawikan hadits -hadits dari Hasan Al- Basri , Ibnu sirin dan tokoh tokoh terpercaya lainnya.
Mulanya dia adalah seorang yang banyak berbuat kejahatan, lintah darat, senang berfoya-foya akan tetapi setelah mendapat nasehat dari dalil – dalil dari Hasan Al-Basri dia akhirnya bertaubat, dan beliau menjadi murid sekaligus sahabat dari sang guru besar tasawuf tersebut.

Kisah Habib Si Orang Persia

Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan Wang. Ia tinggal di kota Bashrah, dan setiap hari berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperoleh angsuran dari langganannya, maka ia menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.

Pada suatu hari Habib pergi ke rumah seorang yang berutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya sedang tak ada di rumah. Maka Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang itu.

“Suamiku tak ada di rumah, “Isteri orang yang berutang itu berkata kepadanya, “Aku tak mempunyai sesuatu pun untuk diberikan kepadamu tetapi kami menyembelih seekor domba dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepadamu.”

“Bolehlah!” si lintah darat menjawab. Ia berpikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba itu dan membawanya pulang, “Masaklah!”

“Aku tak mempunyai roti dan minyak, “si wanita menjawab.

“Baiklah,” si lintah darat menjawab, “Aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu engkau harus membayar ganti rugi pula.” Lalu ia pun pergi mengambil minyak dan roti.

Kemudian si wanita segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke dalam mangkuk, seorang pengemis datang mengetuk pintu.

“Jika yang kami miliki kami berikan kepadamu,” Habib mendamprat si pengemis, “Engkau tidak akan menjadi kaya, tetapi kami sendiri akan menjadi miskin!”

Si pengemis yang kecewa memohon kepada si wanita agar ia sudi memberikan sekadar makanan kepadanya. Si wanita segera membuka tutup belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini, wajahnya menjadi pusat pasi. Segera ia mendapatkan Habib dan menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.

“Saksikanlah apa yang telah menimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si pengemis!” Si wanita menangis. “Apakah yang akan terjadi atas diri kita di atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti?”

Melihat kejadian ini dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.

“Wahai wanita! Aku menyesal segala perbuatan yang telah kulakukan!”

Keesokan harinya Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berutang kepadanya. Kebetulan sekali hari itu adalah hari Jum’at dan anak-anak bermain di jalanan. Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak, “Lihat, Habib sang lintah darat sedang menuju ke sini, ayo kita lari, kalu tidak niscaya debu-debu tubuhnya akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”

Seruan-seruan ini sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana terdengarlah olehnya ucapan-ucapan itu bagaikan menusuk-nusuk jantungnya sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.

Habib bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari apa sebenarnya yang terjadi, Hasan al Bashri datang memapahnya dan menghibur hatinya. Ketika Habib meninggalkan tempat pertemuan itu seseorang yang berutang kepadanya melihatnya, dan mencoba untuk menghindari dirinya.

“Jangan lari!” Habib berkata. “Pada waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindari diriku, tetapi sejak saat ini akulah yang harus menghindari dirimu.”

Habib meneruskan perjalanannya, anak-anak tadi masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib, mereka segera berteriak, “Lihatlah Habib yang telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! Jika tidak, niscaya debu-debu di tubuh kita akan menempel di tubuhnya sedang kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah.”

“Ya Allah ya Tuhanku!” seru Habib, “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, dan Engkau telah menabuh genderang-genderang di dalam hati manusia untuk diriku dan telah mengumandangkan namaku di dalam keharuman.”

Kemudian Habib membuat sebuah pengumuman yang berbunyi, “Kepada siapa saja yang menginginkan harta harta benda milik Habib, datang dan ambillah!”

Orang-orang datang berbondong-bondong, Habib memeberikan segala harta kekayaannya kepada mereka dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu pun juga. Namun masih ada seseorang yang datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar isterinya sendiri. Kemudian datang pula seorang lagi dan kepadanya Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga tubuhnya terbuka. Dan ia lalu pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggir sungai Eufrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang malam ia belajar di bawah bimbingan Hasan namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal Al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki ‘ajami atau si orang Barbar.

Waktu berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan rumahnya menuju tempat pertapaan untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah dan apabila malam tiba barulah ia pulang.

“Dimana sebenarnya engkau bekerja sehingga tak ada sesuatu pun yang engkau bawa pulang?” isterinya mendesak.

“Aku bekerja pada seseorang yang sangat Pemurah,” jawab Habib, “Sedemikian Pemurahnya Dia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-Nya, apabila saatnya nanti pasti ia akan memberi, karena seperti katanya sendiri, “Sepuluh hari sekali aku akan membayar upahmu.”

Demikian setiap hari Habib pergi ke pertapaannya untuk beribadah kepada Allah. Pada waktu shalat Zhuhur pada hari yang kesepuluh, sebuah pikiran mengusik batinnya, “Apakah yang akan kubawa pulang nanti? Apakah yang harus kukatakan kepada isteriku?”

Lama ia termenung di dalam perenungannya itu. Tanpa sepengetahuannya, Allah Yang Maha Besar telah mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawakan gandum sepemikulan keledai, yang lain membawa seekor domba yang telah di kuliti, dan yang terakhir membawa minyak, madu, rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantung berisi 300 dirham perak. Sesampainya di rumah Habib, si pemuda mengetuk pintu.

“Apakah maksud kalian datang kemari?” tanya isteri Habib setelah membukakan pintu.

Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini,” pemuda gagah itu menjawab, “Sampaikanlah kepada Habib, “Bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu.” Setelah berkata demikian mereka pun berlalu.

Setelah matahari terbenam Habib berjalan pulang. Ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau roti dan masakan-masakan. Dengan berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan bersikap lembut kepadanya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya pada waktu yang sudah-sudah.

“Wahai suamiku,” si isteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih. Lihatlah segala sesuatu yang telah dikirimkannya kemari melalui seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan, “Bila Habib pulang, katakanlah kepadanya, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu.”

Habib terheran-heran, “Sungguh menakjubkan! Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedemikian banyak imbalan yang dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti?”

Sejak saat itu Habib memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk Allah semata-mata.

Dikisahkan ketika pada awal permulaan taubatnya dia membuat pengumuman yang berbunyi, “kepada siapa saja yang mengingikan harta benda milik Habib segera datang dan ambilah!”. Mendengan pengumuman itu maka banyak orang yang datang kerumahnya yang terletak di sebuah persimpanga jalan di kota Baghdad untuk meminta hartanya, dan Habib memenuhi janjinya dengan memberikan seluruh hartanya hungga tidak memiliki apa-apa lagi. Meskipun begitu masih ada orang yang datang untuk meminta bagian, dan Habib pun memberikan cadar istrinya sendiri dan bahkan pakaian yang sedang dikenakannya sendiri.

Habib lalu pergi menyepi ke sebuah pertapaan di tepi sungai Eiphrat, di tempat inilah beliau membaktikan diri kepada Allah SWT dengan melakukan banyak ibadah sambil belajar di bawah bimbingan Hasan Al-Basri, dia mempunyai kesulitan dalam menhapal Al-Qur’an oleh karena itu dia di juluki Ajami atau si orang barbar.
Waktu terus berlalu , Habib benar – benar dalam kondisi yang sudah melarat, etapi isterinya tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya, menghadapi hal ini beliau biasanya buru – buru pergi ke tempat menyepi beliau untuk beribadah dan baru pulang ketika malam tiba, repotnya sang isteri menyaka bahwa beliau sedang pergi bekerja dan selalu bertanya dimana sebenarnya engkau bekerja dan kenapa tidak sesuatu pun yang engkau bawa pulang ?
Beliau menjawab,”Aku bekerja kepada yang sangat Pemurah sedemikian Pemurahnya Dia sehingga aku merasa malu untuk meminta sesuatu ke padaNya, apabila sudah tiba saatnya dia pasti akan memberikan bayaran buat kita”. Demikian lah Habib selalu pergi ke tempat nya menyepi untuk beribadah sedang sang isteri selalu menyangka dia sedang bekerja.
Suatu hari Habib merasa kebingungan karena lagi -lagi dia harus pulang kerumah dengan tangan hampa, lam dia termenung memikirkan hal itu. Tanpa sepengetahuan Habib Allah Yang Maha Besar mengutus pesuruh – pesuruhNya untuk datang kerumah Habib dengan membawa berbagai macam barang, ada yang membawa gandum sepemikulan keledai, ad yang membawa seekor domba gemuk yang telah di kuliti, ada yang membawa minyak, madu, rempah – rempah serta aneka macam bumbu, meraka di pimpin oleh seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantung berisi uang sebanyak 300 dirham perak, setibanya di rumah Nabib si pemuda mengetuk pintu, “apakah maksud kalian datang kemari?” tanya isteri Habib setelah membukakanpintu. “Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang – barang ini. sampaikanlah kepada Habib, bila dia semakin tekun bekerja, maka upahnya akan dilipatgandakan, “jawab si pemuda.
Begitulah yang terjadi, setelah Habib pulang dengan perasaan gundah karena tidak membawa apa-apa, setelah sampai di rumah tiba-tiba dia mencium aroma harum roti dan aneka masakan, yang semakin membuatnya heran, isterinya menyambut kedatangannya dengan sangat mesra, menghapus keringat di wajahnya, serta bersikap sangat lembut, benar – benar berbeda dari sikapnya yang biasanya. “Wahai suamiku, majikanmu memang benar-benar seorang yang sangat baik dan pemurah, lihatlah, segala sesuatu yang telah di kirimkannya kemari, melaui beberapa orang yang di pimpin oleh seorang pemuda yang sangat gagah berani, si pemuda juga mengatakan bahwa jika engkau semakin tekun bekerja, maka upahnya akan dilipatgandakan,”kata isteri Habib. Mulanya Habib sangat terkejut mendengar penuturan isterinya, dia pun maklum dengan yang sesungguhnya terjadi. Allah SWT telah memenuhi janjinya. Sejak saat itu Habib benar – benar memalingkan wajah dari urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk ALLAh SWT semata.

Karamah
Dikisahkan bahwa Habib memiliki sehelai mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim dingin maupun di musim panas, suatu saat ketika Habib hendak bersuci mantel itu dilepaskannya dengan s enaknya dan di lemparka ke hamparan tanah.Tidak beberapa lama kemudian Hasan Basri lewat di tempat itu dan melihat mantel milik Habib, dia pun bergumam, “Dasar Habib si orang barbar, tidak pedu;i harga mantel ini kalau di biarkan saja bisa hilang nanti.”Hasan kemugian berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut, tidak lama berselang Habib pun muncul kembali.
“Wahai imam kaum muslimin, mengapa engkau berdiri di sini?” tegur Habib setelah memberi salam. “Mantel seperti ini tidak boleh di tinggalkan di tempat sembarangan, sebab nanti bisa hilang di ambil orang,
katakan kepada siapa engkau menitipkan mantel ini tadi?” tanya Hasan.
“Kutitipkan pada Allah SWT, yang selanjutnya dia menitipkannya pada mu, jawab Habib.
Dikisahkan pula , pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah Habib, kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sdkit garam, ketika sang tamu sudah bersiap hendak menyantap hidangan itu, seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan roti itu pada pengemis tersebut, Hasan terheran-heran, lalu berkata “Habib engkau memang manusia budiman akan tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah disuguhkan ke ujung hidung tamu, lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis, seharusnya engkau memberikan sebagian ke pengemis dan sebagian kepada tamu mu.”
Mendengar teguran itu Habib tidak memberikan jawaban, tak lama kemudian seorang budak datang membawa sebuah baki, diatas bakitersebut terdapat daging domba pangang, makana yang manis – manis dan uang lima ratus dirham, si budak menyerahkan baki tesebut kepada Habib kemudian Habib membagi – bagikan uang kepada orang – orang miskin sedanmgkan daging domba dan makana lainnya di suguhkan kepada Hasan, ketika Hasan sedang menikmati daging itu Habib berkata kepadanya, “guru engkau memang seorang manusia yang budiman tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit keyakinan, pengetahuan harus disertai denghan keyakinan.”
Karomah Habib yang lain sebagai berikut, suatu hari seorang wanita tua datang ke rumah habib lalu merebahkan kepalanya dengan sangta memelas, “Aku mempunyai seorang putra yang tel