August 4th, 2012
Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiap-siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak.

Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS. 59:18).

Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan taqwa kepada karena di sisi Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah taqwa.
Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).
Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk mendapat ampunan-Nya dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi orang-orang yang bertaqwa.(QS 3:133)

Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah sejak dini secara berkala karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.( QS. 50:17-18). Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya.(QS. 99:7-8)
Bila kita mengingat betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, maka wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin.
Dalam QS. 80:34-37, tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: “Kemana tempat lari?. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali”.(QS. 75:7-12)

Ummul Mu’minin Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah SAW apakah manusia tidak malu dalam keadaan telanjang bulat di padang mahsyar. Rasulullah SAW menjawab bahwa hari itu begitu dahsyat sampai-sampai tidak ada yang sempat melihat aurat orang lain.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa ada 7 golongan yang akan mendapat naungan/perlindungan Allah di mana di hari tidak ada naungan/perlindungan selain naungan/perlindungan Allah (Yaumul Qiyamah atau Yaumul Hisab). Ketujuh golongan itu adalah Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT, pemuda yang lekat hatinya dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah; bertemu dan berpisah karena Allah, orang yang digoda wanita cantik lagi bangsawan dia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya (secara senbunyi-sembunyi) dan orang yang berkhalwat dengan Allah di tengah malam dan meneteskan airmata karena takut kepada Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang pertama dihisab adalah mereka yang berjihad, berinfaq dan beramal shaleh (QS. 22:77, 2:177). Kemudian sabda Rasulullah SAW di hadits lainnya: “Ada 70.000 orang akan segera masuk surga tanpa dihisab”. “Do’akan aku termasuk di dalamnya, ya Rasulullah!”, mohon Ukasyah bersegera. “Ya, Engkau kudo’akan termasuk di antaranya”, sahut Nabi SAW. Ketika sahabat-sahabat yang lain meminta yang serupa, jawab Nabi SAW singkat, “Kalian telah didahului oleh Ukasyah”. “Siapa mereka itu ya Rasulullah?”, tanya sahabat. “Mereka adalah orang yang rajin menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di akhirat”.

Di riwayat lain dikisahkan bahwa orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antri dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata, “Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab”.
Dan memang ada 3 harta yang tak akan kena hisab yakni: 1 rumah yang hanya berupa 1 kamar untuk bernaung, pakaian 1 lembar untuk dipakai dan 1 porsi makanan setiap hari yang sekedar cukup untuk dirinya. Maka orang-orang miskin itupun dipersilakan masuk ke surga dengan bergerombol seperti kawanan burung.
Betapa beruntungnya mereka semua padahal hari penghisaban itu begitu dahsyatnya sampai banyak yang ingin langsung ke neraka saja karena merasa tak sanggup segala aibnya diungkapkan di depan keseluruhan umat manusia. Apalagi tak lama kemudian atas perintah Allah, malaikat Jibril menghadirkan gambaran neraka yang dahsyat ke hadapan mereka semua sampai-sampai para Nabi dan orang-orang shaleh gemetar dan berlutut ketakutan. Apalagi orang-orang yang berlumuran dosa.

Yaumul Hisab itu bahkan juga terasa berat bagi para Nabi seperti Nabi Nuh yang ditanya apakah ia sudah menyampaikan risalah-Nya atau Nabi Isa yang ditanya apakah ia menyuruh umatnya menuhankan ia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu terlihat menekan dan meresahkan para Nabi. Jika Nabi-nabi saja demikian keadaannya, bagaimana pula kita ?.

Mudah-mudahan saja kita tidak termasuk orang yang bangkrut/pailit di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggungjawabannya. Mengapa disebut bangkrut? Karena ternyata amal shaleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka.
Hasil Muhasabah
Seseorang yang rajin me’muhasabah’i dirinya akan mau dan mudah melakukan perbaikan diri. Ia juga akan mau meneliti, mengintrospeksi, mengoreksi dan menganalisis dirinya. Hal-hal apa saja yang menjadi faktor kekuatan dirinya yang harus disyukuri dan dioptimalkan. Kemudian hal-hal apa saja yang menjadi faktor kelemahan dirinya yang harus diatasi, bahkan kalau mungkin dihilangkan. Lalu bahaya-bahaya apa yang mengancam diri dan aqidahnya sehingga harus diantisipasi, dan akhirnya peluang-peluang kebajikan apa saja yang dimilikinya yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika dirinci, paling tidak, ada 3 hasil yang akan diraih orang yang rajin melakukan muraqabah dan muhasabah :

1. Mengetahui aib, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya serta berupaya sekuat tenaga meminimalisir atau bahkan menghilangkannya.
2. Istiqamah di atas syari’at Allah. Karena ia mengetahui dan sadar akan konsekuensi-konsekuensi keimanan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak maka cobaan sebesar apapun tidak akan memalingkannya dari jalan Allah seperti misalnya tokoh Bilal dan Masyitah. Walaupun keistiqamahan adalah hal yang sangat berat sehingga Rasulullah SAW sampai mengatakan, “Surat Hud membuatku beruban” (Karena di dalamnya ada ayat 112 berisi perintah untuk istiqamah).
3. Insya Allah akan aman dari berat dan sulitnya penghisaban di hari kiamat nanti (QS. 3:30)
August 4th, 2012
Seorang mukmin menertibkan dirinya sendiri; dia mengkritik dan menilai
hanya untuk kepentingan Tuhan.
Penghitungan akhir (hisab) bisa menjadi ringan pada orang-orang karena
mereka dulunya terbiasa menghisab
dan menilai diri sendiri dalam kehidupan ini.  Dan Penghitungan Akhir pada
Hari Pengadilan kelak menjadi
amat keras  pada mereka yang menjalani hidup ini dengan sewenang-wenang
dan mengira bahwa mereka tidak akan
pernah dipanggil untuk di hisab. (Al- Hasan ibn Ali ibn Abi Talib )

Dalam thariqat kita, untuk menghilangkan kegelapan dalam hati, adalah
penting  bagi semua pencari untuk
menyiapkan sebuah buku tulis dan menulis sifat-sifat buruk dari ego
masing-masing. Setiap orang boleh
mencatat sedikitnya 200 kelakuan-kelakuan buruknya.

Dengan menuliskannya akan menjadi kunci untuk menghancurkannya.
Siapa yang belum pernah melakukannya, maka harus segera
melaksanakan nya.  Diantara sifat-sifat buruk
ini adalah mencuri, berbohong dan marah. Salah satu yang paling buruk
adalah kemarahan. Jika kalian marah
pada seseorang, maka kendalikan diri sendiri selama 40 hari.
Syaikh Nazim menulis bagi diri beliau sendiri
lebih dari 100 kelakuan buruk, jadi kita tidak mungkin kurang dari itu.
Ketika kalian mengamati sifat-sifat buruk ego itu, kalian akan merasa jijik.

Proses ini akan merobohkan ego yang menghasut (an-nafs al –ammara ).
Jika kalian menulis apa yang
masuk dalam hati dengan  bantuan spiritual syaikh, maka ego akan takut.
Jika ada yang menemukan buku
catatan kalian, biarkan  mereka melihatnya, karena lebih baik merasa
 malu dalam dunia ini daripada di
Hari Pengadilan kelak.

Sebagai tambahan, para pencari harus menyediakan waktu di setiap
akhir hari untuk menghitung diri sendiri :
 apa yang telah dia perbuat dan mengapa dia melakukannya?
Apakah dia telah lalai dan mengapa ? Siapa
yang dia jahati dan siapa yang telah dia tolong ? Lalu ambil tasbih
dan minta ampunan Tuhan (istighfar ) bagi
tiap kesalahan dalam perbuatan atau kelalaian itu.

Keseimbangan berawal dari diri sendiri, karena diri ini adalah akar
 dari segala masalah dalam spiritualitas.
Dalam mendekatkan diri pada Hadirat Tuhan, para pencari harus
membangun aspek ilahiah dari
dirinya. Seseorang mungkin akan bergegas dalam ibadah-ibadah
sunah dan puasa, bersedekah lebih banyak,
dll. Namun, dalam mencari kebenaran, hal-hal tersebut tidaklah
cukup. Karena biasanya orang-orang yang
beribadah akan melewatkan sebuah langkah yang penting iaitu
al muhasabah – penghisaban/pemeriksaan diri
sendiri.

Tanpa aspek ini, seluruh ibadah yang dilakukan adalah dalam
keyakinan bahwa kita sedang meraih
tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, padahal faktanya hal itu
 menjadi penghalang kemajuan kita. Bagaimana
boleh ? Ketika  ibadah-ibadah itu tidak secara murni dilakukan
demi mencari ridha Allah semata dan kita
terus  melanjutkannya dibawah
prasangka berpuas diri bahwa seluruh apa yang kita lakukan
adalah untuk meningkatkan  perkembangan
kerohanian kita. Pada saat itu, kita kemudian
bersantai-santai menikmati kesuksesan dalam disiplin dan
pekerjaan kerohanian.
August 4th, 2012
Khauf (takut) adalah ibadah hati, tidak dibenarkan khauf ini kecuali terhadap-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Khauf adalah syarat pembuktian keimanan seseorang. Allah berfirman:
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].

Takut, dalam Islam juga diposisikan sebagai ujian, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al Quran,

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. 2:155).
 Menurut Sayyid Quthb, ayat tersebut menjelaskan tentang adanya keniscayaan untuk menempa jiwa dengan bencana dan ujian. Adanya rasa takut, merupakan ‘training’ mental dan jiwa manusia. Oleh karena itu mereka yang memiliki positive thinking yang akan berhasil melewati rasa takut dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Apabila khauf kepada Allah berkurang dalam diri seorang hamba, maka ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan dirinya terhadap Rabb-nya. Sebab orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya.
Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya: pertama, pengetahuan seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya; kedua, pembenarannya akan ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan; ketiga, mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.

Para ulama membagi khauf menjadi lima macam:
1. Khauf ibadah, yaitu takut kepada Allah, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menahan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Di Tangan-Nya-lah kemanfaatan dan kemudharatan. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan khaufus-sirr.
2. Khauf syirik, yaitu memalingkan ibadah qalbiyah ini kepada selain Allah, seperti kepada para wali, jin, patung-patung, dan sebagainya.
3. Khauf maksiat, seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan karena takut dari manusia dan tidak dalam keadaan terpaksa. Allah berfirman,“Sesungguhnya mereka itu tidak lain syaitan-syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 175].
4. Khauf tabiat, seperti takutnya manusia dari ular, takut singa, takut tenggelam, takut api, atau musuh, atau selainnya.
 Allah berfirman tentang Musa, “Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).” [QS. Al-Qashash: 18].

5. Khauf wahm, yaitu rasa takut yang tidak ada penyebabnya, atau ada penyebabnya tetapi ringan. Takut yang seperti ini amat tercela bahkan akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan para penakut.

Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW:

 “Berfirman ALLAH SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-KU tidak mungkin berkumpul 2 rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul 2 rasa aman. Jika ia merasa aman pada-KU di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-KU di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)

Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’
1. Takutnya para Malaikat : “Mereka merasa takut kepada Rabb-nya, dan mereka melakukan apa-apa yang diperintahkan ALLAH.” (QS An-Nahl 16/50).

2. Takutnya Nabi SAW. “Bahwa Nabi SAW jika melihat mendung ataupun angin maka segera berubah pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang jika melihat mendung dan angin bergembira karena akan datangnya hujan, maka mengapa anda cemas?” Jawab beliau SAW: “Wahai A’isyah, saya tidak dapat lagi merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari 6/167 dan Muslim 3/26) Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW jika sedang shalat terdengar didadanya suara desis seperti air mendidih dalam tungku, karena tangisnya [2].

3. Khauf-nya shahabat ra. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”

4. Khauf-nya Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu mendengar sebuah ayat yang dibaca, lalu dia jatuh sakit hingga beberapa hari lamanya. Lalu, suatu hari dia mengambil segenggam tanah, seraya berkata, “Andaikan saja aku menjadi seperti tanah ini. Andaikan saja aku bukan yang diingat. Andaikan saja ibuku tidak pernah melahirkan aku.” Sementara itu, diwajahnya saat itu terlihat dua garis hitam karena banyak menangis.

5. Khauf-nya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, aku telah melihat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada saat ini, aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka. Mereka (sahabat) adalah orang-orang yang kusut dan berdebu, di antara mata mereka seakan-akan ada iring-iringan orang yang mengantar jenazah. Mereka senantiasa sujud dan berdiri kepada Allah, membaca Kitabullah, pergi dengan berjalan kaki dan mengingat Allah. Mereka tampak seperti pohon-pohon yang condong dan bergoyang pada saat angin berhembus kencang. Mereka selalu menangis hingga kain mereka basah. Demi Allah, sepertinya orang-orang pada saat ini sudah (banyak yang) lalai.” Muhammad bin Waqi’ pernah menangis sepanjang malam dan hampir tidak pernah berhenti.

6. Khauf-nya Khalifah Umar bin Abdul-Aziz mengingat mati, maka badannya bergetar seperti burung yang gemetar, lalu dia menangis, dan air matanya membasahi jenggotnya. Sepanjang malam dia menangis dan seluruh penghuni rumah pun ikut menangis. Fatimah, istrinya bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?” Umar bin Abdul-Aziz menjawab, “Aku ingat tempat kembalinya orang-orang dihadapan Allah. Di antara mereka ada yang di surga dan yang lain ada di neraka.” Setelah itu, Umar bin Abdul-Aziz pun pingsan.

7. Khauf-nya Tabi’iin. Ali bin Husein jika berwudhu untuk shalat pucat wajahnya, maka ditanyakan orang mengapa demikian? Jawabnya: “Tahukah kalian kepada siapa saya akan menghadap?” Berkata Ibrahiim bin ‘Iisa as Syukriy: “Datang padaku seorang lelaki dari Bahrain ke dalam mesjid saat orang-orang sudah pergi, lalu kami bercerita tentang akhirat dan dzikrul maut, tiba-tiba orang itu demikian takutnya sampai menghembuskan nafas terakhir saat itu juga.” Berkata Misma’: “Saya menyaksikan sendiri mau’izhoh Abdul Waahid bin Zaid disuatu majlis, maka wafat 40 orang saat itu juga dimajlis itu setelah mendengar ceramahnya.” Berkata Yaziid bin Mursyid: “Demi ALLAH seandainya Rabb-ku menyatakan akan memenjarakanku dalam sebuah ruangan selama-lamanya maka sudah pasti aku akan menangis selamanya, maka bagaimanakah jika ia mengancamku akan memenjarakanku didalam api?!”

Demikianlah Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’, maka kita lebih pantas untuk takut dibanding mereka. Mereka takut bukan karena dosa, melainkan karena kesucian hati dan kesempurnaan ma’rifah, sementara kita telah dikalahkan oleh kekerasan hati dan kebodohan. Hati yang bersih akan bergetar karena sentuhan kecil, sementara hati yang kotor tak berguna baginya nasihat dan ancaman.

PENTINGNYA RASA KHAUF

Pertama.

Agar terhindar dari kemaksiatan. Sebab nafsu yang ada pada diri kita sangat cenderung melakukan perbuatan jahat, dan selalu bermain mata dengan fitnah. Seperti tidak ada henti-hentinya nafsu ini mendorong dan menarik kita pada perbuatan demikian. Oleh karena itu kita harus mengancam dan membuat nafsu itu menjadi takut, dengan cara mencambuk dan mendera, baik berupa ucapan tindakan maupun pikiran. Sebagaimana yang dituturkan seorang shaleh, “Suatu ketika nafsuya mengajak berbuat maksiat, lalu ia keluar dan berguling- guling di atas pasir yang panas seraya berkata kepada nafsunya: “Rasakanlah! Neraka jahanam itu lebih panas dari pada apa yang anda rasakan ini. Paada malam hari engkau menjadi bangkai, sementara siang harinya menjadi pemalas.”

Kedua.

Agar tidak ujub atau berbangga diri/sombong pada ketaatan dan amal shalehnya. Sebab jika sampai bersikap ujub, maka dapat menyebabkan celaka. Sekalipun kita sedang berbuat ketaatan, kita harus selalu waspada terhadap nafsu. Nafsu harus tetap dipaksa dengan dicela dan dihinakan tentang apa yang ada padanya, berupa kejahatannya, dosa-dosa dan berbagai macam bahayanya.

Diceritakan dari Hasan Bashri, bahwa ia berkata: “Salah seorang diantara kita tidak akan aman, setelah melakukan dosa, sementara pintu ampunan telah ditutup, tanpa bisa memasukinya. sehingga salah seorang dari kita yang berbuat maksiat itu, brarti berbuat tidak pada tempatnya.”

Abdullah bin Mubarak pernah mencela nafsunya sendiri dengan berkata: “Ucapan anda seperti ucapan orang zuhud, tapi perbuatan anda seperti perbuatan orang munafik. Sementara anda ingin masuk surga. Jauh amat..!, mana mungkin..? Surga itu ada orang-orangnya sendiri. Orang-orang yang masuk surga itu tidak beramal seperti yang anda lakukan.”

Ucapan peringatan seperti itu sebaiknya sering diulang-ulang, untuk mengingatkan diri sendiri, agar tidak bersikap ujub dalam melakukan ketaatan dan agar tidak terjerumus pada kemaksiatan.

Ketiga

Khauf seorang s?lik bukanlah hanya sekedar rasa takut semata. Khauf pasti diiringi dengan raj?’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalah pembangkit dari raj?’. Maq?m khauf adalah maq?m yang membangkitkan maq?m raj?’. Raj?’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.
Ibn ‘At?’illah menyatakan bahwa jika s?lik ingin agar dibuka baginya pintu raj?’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allah kepadanya berupa anugerah maq?m, hal dan berbagai kenikmatan yang dia terima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya. Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘At?’illah:
”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu raj?’, maka lihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yang telah kau berikan kepada-Nya.”

Raj?’ bukan semata-mata berharap, raj?’ harus disertai dengan perbuatan. Jika raj?’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang s?lik untuk menyertakan raj?’nya dengan amal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah secara kontinu.
Jika raj?’ sudah ada dalam diri s?lik, maka raj?’ ini akan semakin menguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pasti akan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakan bahwa khauf akan melahirkan raj?’, dan raj?’ akan menjadi penguat khauf

Posted in Maqam | No Comments »
August 4th, 2012
Allah SWT berfirman, “Yad’uuns Rabbahum Khaufan watham’an” yang artinya, Mereka berdo’a kepada TUhannya  karena takut dan loba”.
 Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menagis karena takut kepada Allah Ta’ala, sebelum ada air susu yang masuk pada teteknya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba”.
Anas berkata bahwa RasduluLlah SAW bersabda, “Seandainya engkau mengetahui apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis”.
 Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah Ta’ala adalah tekut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana firmanNya, “wakhaafuuNy in kuntum mu’minun” yang artinya, “dan takutlah akmu semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman”.
Allah Ta’ala juga berfirman, “fa iyyaaYa farhabuun” yang artinya, “Maka kepadaKulah seharusnya mereka merasa takut”.
Disamping itu Allah Ta’ala memuji orang mu’min Karenna ketakutannya sebagai mana  dirmanNya,”yakhaafuuna Rabbahum min fawqihim” yang artinya, “mereka itu (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”.
 Saya (Syaikh Al-Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Takut mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khauf, khasyah, dan haibah”, khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hokum-hukumnya sebagaimana firmanNya,
 “WakhaafuuNy in kunutm mu’miniin”
 Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNya
Innamaa yakhsyaLlaaha min ‘ibaadihiil ‘ulamaa’”
yang artinya, “sesungguhnya yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara hambanya adalah ‘ulama’.
Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat ma’rifat sebagaimana firman Allah Ta’ala, “WayuchadhirukumuLlaahu nafsah”yang artinya, “Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya.
Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, “Takut adalah cambuk Allah SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari dari pintuNya”.
Abdul Qasim Al-Hakim berpendapat, khauf mempunyai dua bentuk yaitu rahbah dan khasyah.Yang dimaksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah SWT. Ada yang berpendapat, kata rahiba dan haraba  boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu seperti kata jadzuba dan jaladza. Sebagai contoh apabila dia lari , maka dia dapat di tarik dalam pengertian hawanafsunya. Seperti pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan / menggerakkan kebenaran syari’at, maka pengertian tersebut disebut khasyah.
Abu Hafs berkata, “Takut itu seperti lampu hati yang dapat ,menunjukkan kebaikan dan keburukan.” Utstadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, “Yang dimaksud takut adalah keadaan diri yang tidak menginginkan sebuah harapan dan keterlambatan”. Abu Umar Ad-Dimasyqy berkata, yang dimaksud takut adalah orang yang lebih takut kepada dirinya sendiri dari pada takut kepada setan”.
Menurut Ibnu Al-jalla’, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan”. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang takut adalah bukan orang yang menaangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut disiksa”. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh seseorang, “Mengapa saya tidak pernah melihat oarng yang takut kepada Allah SWT ?” Dia menjawab,”Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat orang yang takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang yang takut kepada Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya perempuan yang kehilangan anaknya akan melihat perempuan lain yang juga kehilangan anaknya”.
Yahya bin Mu’adz berpendapat, keturunan Adam yang miskin seandainya takut kepada api neraka sebagaimana ia takut kepada kefakiran, maka dia akan masuk surga. Menurut Syah Al-Karmani, indikasi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang selalu susah . sedangkan menurut Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang takut akan sesuatu maka ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah SWT maka ia akan lari kepadaNya”.
Dzunun telah ditanya, “Kapan bagi seorang hamba menemukan jalan takut kepada Allah SWT ?” Dia menjawab, “Apabila ia menempatkan dirinya pada posisi sakit maka ia akan menjauhkan diri dari segala hal karena sakitnya terus bertambah”. Menurut Mu’adz bin Jabbal, hati dan ketampanan wajah orang mu’min tidak akan tenteram dan tenang sebelum ia mampu meninggalkan titian neraka jahanam di belakangnya. Sedangkan menurut Bisyr Al-Hafy, takut kepada Allah SWT bagaikan harta milik yang tidak mempunyai tempat kecuali di hati orang bertaqwa.
Abu Utsman Al-Hariri mengatakan, “Cacatnya orang yang takut terletak pada ketakutannya”. Al-Washity juga mengatakan, “Takut merupakan penghalang antara Allah SWT dan hambaNya”. Pernyataan ini mengandung kemusykilan, artinya orang yang takut kepada Allah SWT akan mengetahui waktu yang ke dua. bentuk-bentuk waktu tidak akan diketahui untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu kebaikan orang-orang yang baik merupakan keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah SWT.
Saya (Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi) pernah mendengar Ahmad Ats-Tsauri mengatakan, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhan menuju Tuhan. Sebagaimana ulama berpendapat, indikasi takut adalah bingung dengan cara yang samar. ” Al-Junaid pernah ditanya tentang takut lalu beliau emnjawab, “Jatuhnya siksaan melalui sa,uran nafas”.
Abu Sulaiman Ad-Daarani menyatakan, “Takut tidak akan mampu menceraikan hati kecuali keruntuhan”. Abu Utsman juga berkata bahwa kebenaran takut adalah meninggalkan perbuatan dosa baik lahir maupun bathin.
Menurut Dzunun Al-Mishri, Manusia akan tetap di tengah jalan selagi ia takut. apabila ia tidak takut kepada Allah SWT maka ia akan sesat. Sedangkan menurut Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai  hiasan. Hiasan ibadah adalah takut , sedangkan indikasi takut adalah memperkecil keinginan.
Suatu saat seorang laki-laki bertanya kepada Bisyr Al-Hafi , “Saya pernah memperlihatkan takut mati”. Dan Bisyr menjawab, “Datang kepada Allah SWT sangat penting”.
Syaikh Abul Qasil Al-Qusyairy berkata, “Saya telah mendengar Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Saya pernah mendatangi Imam ABu Bakar bin Faruk. Ketika saya melihatnya, kedua matanya bercucuran air mata. Kukatakan kepadanya bahwa Allah akan emnyelamatkan dan menyembuhkanmu. Ia menjawab, “Engkau tidak akan pernah melihatku takut mati, tetapi saya takut dibalik mati itu.”‘
Diriwayatkan dari ‘A’isyah RA mengatakan, “Pernah kutanyakan  kepada RasuluLlah SAW tentang ayat yang berbunyi, “Walladziina yu’tuuna maa uutuu waquluubuhum wajilah” yang artinya.”Dan orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah diberikan, sedangkan hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhannya”.
Apakah mereka orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang yang minum khamr dan orang-orang yang mencuri ? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa , salat dan bersedekah. Mereka takut amalnya tidak diterima oleh Allah SWT”. Hal ini yang dimaksud dalam ayat, “ulaa-ikalladziina yusaari’uuna fil khairaati wahum lahaa saabiquun” yang artinya, “Mereka adalahorang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan mereka termasuk orang yang menang”.
Menurut AbduLlah bin Mubarak, takut tidak akan pernah bangkit sehingga ia tertanam di dalam hati dengan konsistensi pendekatan , baik secara samar maupun terang-terangan. Sedangkan menurut Ibrahim bin Syaiban , apabila takut tertanam di dalam hati , maka segala keinginan hawa nafsu dan cinta dunia akan terbakar dan tertolak. Menurut satu pendapat, takut merupakan kekuatan ilmu sesuai dengan perjalanan hukum . Sedangkan pendapat lain mengatakan, takut merupakan gerak hati karena keagungan Tuhan.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata,”Hati jangan sampai terkalahkan kecuali dengan takut. Apabila harapan dapat mengalahkan hati, maka ia akan rusak”. Selanjutnya ia berkata, “Apabila sikap takut telah ditanamkan, maka (derajat) mereka akan terangkat, dan apabila rasa takut di sia-siakan, maka (derajat) mereka akan jatuh”. Al Wasithi mengatakan, bahwa takut dan harapan adalah dua pengikat diri (jiwa) sehingga tidak terjebak dalam kebodohan. Ia juga mengatakan, apabila kebenaran telah tertanam di dalam hati, maka sikah berharap dan takut tidak akan muncul kembali.  Sedangkan menurut Ustadz Asy-Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq ..hal itu nampak terjadi kemusykilan. Apabila demensi kebenaran telah berpengaruh, maka ia akan memperoleh ketinggian rahasia hati. Kebahagiaan tidak aakn diperoleh hanya dengan mengikat dua peristiwa. Sikap takut dan harap merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berpengaruh melalui hukum kemanusiaan.
Husain bin Manshur mengatakan bahwa barang siapa yang tekut dan berharap kepada selain Allah SWT, maka segala pintu akan ditutup. Allah SWT menguasai dan memberikan rintangan dengan tuju puluh penghalang, minimal ia bersikap skeptis. Hal yang menyebabkan takut adalah karena mereka berpikir tentang siksaan Allah SWTdan keadaan dirinya khawatir berubah. Allah SWT berfirman,
Wabadaa lahum minaLlaahi maa lam yakuunuu yahtasibuun” QS. An Nuur 47.
yang artinya, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka pikirkan”.
Allah SWT juga berfirman,
 “Qul hal nunabbi’ukum bil akhsariina a’maalaa. Alladziina dhalla sa’yuhum fil hayaatiddunyaa. Wahum yahsabuuna annahum yuhshinuuna sun’a”
 yang artinya, “Katakanlah, maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang perbuatannya merugi, yaitu orang-orang yang tersesat perjalanannya di dunia sedangkan mereka menduga bahwa mereka mengerjakan perbuatan yang baik”.
Banyak sekali orang yang diberikan kenikmatan, keadaannya menjadi berbalik dan perbuatan jahatnya menjadi ketetapan. Oleh karena itu sikap senang hati dan takut perlu ditanamkan.
     Syair dari Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq :
Engkau telah berperasangka baik terhadap hari-hari,
Jika keadaannya membeik
Dan engkau tidak takut
Terhadap apa yang ditakdirkannya
Waktu-waktu malam telah menyelamatkanmu
Tetapi engkau telah menipunya
Dan ketika keheningan malam tiba
Kekeruhan mulai terjadi
 Saya / Imam Al Qusyairi mendengar Manshur bin Khalf Al-Maghribi berkata, “Dua orang laki-laki saling berteman dalam suatu kajian tentang masalah iradah dalam jangka waktu yang relatif pendek (dua tahun). Salah satu dari mereka pergi dan meningalkan temannya. Setrlah itu tak pernah terdengar kabarnya. Suatu saat teman yang lain bertempur di medan perang dan membunuh tentara Rum (roma). Ketika seorang-laki-laki keluar dengan kepala tertutup adn senjata di tangan menuntut agar semua keluar ke medan perang, maka keluarlah salah seorang dari para pahlawansehingga dia terbunuh, kemudian yang ke tiga keluar juga dan kemudian terbunuh. Dalam kondisi seperti itu, seorang sufi keluar dan agak berjauhan. Orang Rum itu memandang wajahnya dan ternyata orang yang dipandang adalah adalah temannya di waktu belajar tentang masalah iradah dan ibadah selama dua tahun. Orang sufi itiu bertanya, “Apa engkau sering membaca Al-Qur’an ?” Tentara Romawi itu menjawab, “Saya tidak ingat satu hurufpun dari Al-Qur’an”. Orang sufi berkata, “Hal itu jangan kau kerjakan dan kembalilah”. Tentara Romawi menjawab, “hal itu tidak akan saya lakukan. Sekarang saya mempunyai kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itu hendaklah engkau pergi. Jika tidak engkau akan saya bunuh seperti mereka”. Orang sufi berkata, “Ketahuilah engkau telah membunuh tiga orang Islam. Engkau tidak akan menjadin hina karena pulang, oleh akrena itu pulanglah engkau dan saya akan menangguhkan”. Orang laki-laki itu kemudian pulang di ikuti orang sufi tersebut. Dalam kondisi demikian orang sufi tersebut dapat menikam dan membunuhnya. Setelah pertempuran, orang sufi tersebut terbunuh di hadapan orang-orang nasrani.
Menurut satu pendapat, apabila terjadin sesuatu yang nampak di hadapan iblis, maka malaikat Jibril dan Mikail akan menangis dalam jangka waktu yang lebih lama. Allah SWT menegur mmereka, “Mengapa kalian berdua menangis ?” Mereka menjawab, “Yaa Tuhan kami tidak mampu menjaga tipu daya Mu”. Allah SWT memberikan perintah, “Jadilah kalian seperti ini, jangan kalian berusaha menjaga  (mengamankan) tipu dayaKu.”
Diriwayatkan dari Sariy As-Saqathi yang berkaata, “Suatu saat pasti saya melihat hidungku yang berada di dalam mulutku. Saya takut hidungku akan menjadi hitam ketika saya melihat siksaan”. Abu Hafs berkata, “Selama empat puluh tahun aku berkeyakinan, Allah SWT akan melihatku dengan penuh kebencian, sedangkan perbuatanku akan menunjukkan hal itu”.
Hatim Al-Asham berkata, “Janganlah bersikap sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu wajar bagi Nabi Adam AS berjumpa dengan sesuatu yang pernah ia jumpai. Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab iblis setelah lama beribadah ternyata mendapati sesuatu yang ia dapati. Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Bal’am yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata ia mati kafir. Jangan sombong akrena dapat melihat orang-orang yang baik, karena tak seorangpun lebih hebat dari Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah mengambi keuntungan jika berjumpa dengan sanak famili  musuh-musuhnya”.
Suatu hari Ibnu Mubarrak berjumpa dengan teman-temannya, ia berkata, “Di tengah malam saya memberanikan diri menghadap Allah SWT dengan memohon agar dimasukkan ke dalam surga”.  Ada yang berpendapat, Nabi Isa AS keluar bersama seorang Bani Israil yang saleh. Dalam perjalaan mereka diikuti oleh seorang yang selalu berbuat dosa dan terkenal fasik. Dia duduk bersandar dengan posisi yang berjauhan dari mereka dengan berdoa kepada Allah SWT, “Yaa Allah ampunilah saya”. Disamping itu orang saleh tersebut juga berdoa, “Yaa Allah kelak di hari kiyamat janganlah engkau kumpulkan aku dengan orang yang fasik tersebut.” Setelah itu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Isa AS, “Aku telah mendengarkan doa keduanya”.
Dzun Nun AL Mishri berkata, telah aku tanyakan kepada Ulaim, “Kenapa engkau disebut orang gila ?”Dia menjawab, apabila saya dipenjara begitu lama, maka saya menjadi gila karena takut berpisah”.
Dalam engertian yang seperti ini, ahli syair berkata “
Seandainya di depanku ada batu besar
Pasti akan saya buka
Namun bagaimana orang lain
Akan mampu memikul tanah liat
Sebagian ulama berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang sangat mengharapkan umat dan takut terhadap dirinya sendiri kecuali Ibnu Sirrin”. Menurut suatu ungkapan, Sufyan Ats-Tsauri dalam keadaan sakit menyindir seorang dokter yang sedang memeriksanya dengan ungkapan, “Inilah seorang laki-laki yang tidak takut penyakit limpa hatinya”. Dokter itu mendekat dan meraba lehernya seraya berkata, “Saya tidak tahu bahwa diri Abu Hanifah sama dengan diri Sufyan Ats-Tsauri “.
Imam Syibli pernah ditanya, “Kenapa matahari menjadi kuning ketika terbenam?”. Maka dijawab , “Karena ia meninggalkan tempatnya yang sempurna, sehingga ia menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Demikian pula orang mukmin apabila akan meninggal dunia, warnya menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Oleh akrena itu apabila matahari akan terbit ia akan terbit dengar sinar terang benderang. Demikian pula orang mukmin apabila dibangkitkan dari kubur, ia akan bangkit dengan wajah yang bersinar”. Jawabnya.
Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata, “Saya memohon kepada Tuhan agar  dibukakan pintu dengan siakp takut sehingga ia dapat terbuka. Demikian pula aku takut dengan kekuatan akalku. Oleh karena itu saya juga memohon, Yaa Tuhan berilah saya kemampuan berdasarkan apa yang telah saya kuasai sehingga diriku menjadi tenang”.
Posted in Maqam | No Comments »
August 4th, 2012

Habib Muhamad Al-Ajami adalah seorang dari bangsa persia yg menetap di Baghdad, dia merupakan salah seorang tokoh besar dalam ilmu tasawuf serta murid dari ulama tasawuf besar yaitu Hasan Al-Basri, dan beliau pun juga dikenal sebagai salah seorang ahli hadists yang merawikan hadits -hadits dari Hasan Al- Basri , Ibnu sirin dan tokoh tokoh terpercaya lainnya.
Mulanya dia adalah seorang yang banyak berbuat kejahatan, lintah darat, senang berfoya-foya akan tetapi setelah mendapat nasehat dari dalil – dalil dari Hasan Al-Basri dia akhirnya bertaubat, dan beliau menjadi murid sekaligus sahabat dari sang guru besar tasawuf tersebut.

Kisah Habib Si Orang Persia

Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan Wang. Ia tinggal di kota Bashrah, dan setiap hari berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperoleh angsuran dari langganannya, maka ia menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.

Pada suatu hari Habib pergi ke rumah seorang yang berutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya sedang tak ada di rumah. Maka Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang itu.

“Suamiku tak ada di rumah, “Isteri orang yang berutang itu berkata kepadanya, “Aku tak mempunyai sesuatu pun untuk diberikan kepadamu tetapi kami menyembelih seekor domba dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepadamu.”

“Bolehlah!” si lintah darat menjawab. Ia berpikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba itu dan membawanya pulang, “Masaklah!”

“Aku tak mempunyai roti dan minyak, “si wanita menjawab.

“Baiklah,” si lintah darat menjawab, “Aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu engkau harus membayar ganti rugi pula.” Lalu ia pun pergi mengambil minyak dan roti.

Kemudian si wanita segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke dalam mangkuk, seorang pengemis datang mengetuk pintu.

“Jika yang kami miliki kami berikan kepadamu,” Habib mendamprat si pengemis, “Engkau tidak akan menjadi kaya, tetapi kami sendiri akan menjadi miskin!”

Si pengemis yang kecewa memohon kepada si wanita agar ia sudi memberikan sekadar makanan kepadanya. Si wanita segera membuka tutup belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini, wajahnya menjadi pusat pasi. Segera ia mendapatkan Habib dan menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.

“Saksikanlah apa yang telah menimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si pengemis!” Si wanita menangis. “Apakah yang akan terjadi atas diri kita di atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti?”

Melihat kejadian ini dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.

“Wahai wanita! Aku menyesal segala perbuatan yang telah kulakukan!”

Keesokan harinya Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berutang kepadanya. Kebetulan sekali hari itu adalah hari Jum’at dan anak-anak bermain di jalanan. Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak, “Lihat, Habib sang lintah darat sedang menuju ke sini, ayo kita lari, kalu tidak niscaya debu-debu tubuhnya akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”

Seruan-seruan ini sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana terdengarlah olehnya ucapan-ucapan itu bagaikan menusuk-nusuk jantungnya sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.

Habib bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari apa sebenarnya yang terjadi, Hasan al Bashri datang memapahnya dan menghibur hatinya. Ketika Habib meninggalkan tempat pertemuan itu seseorang yang berutang kepadanya melihatnya, dan mencoba untuk menghindari dirinya.

“Jangan lari!” Habib berkata. “Pada waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindari diriku, tetapi sejak saat ini akulah yang harus menghindari dirimu.”

Habib meneruskan perjalanannya, anak-anak tadi masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib, mereka segera berteriak, “Lihatlah Habib yang telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! Jika tidak, niscaya debu-debu di tubuh kita akan menempel di tubuhnya sedang kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah.”

“Ya Allah ya Tuhanku!” seru Habib, “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, dan Engkau telah menabuh genderang-genderang di dalam hati manusia untuk diriku dan telah mengumandangkan namaku di dalam keharuman.”

Kemudian Habib membuat sebuah pengumuman yang berbunyi, “Kepada siapa saja yang menginginkan harta harta benda milik Habib, datang dan ambillah!”

Orang-orang datang berbondong-bondong, Habib memeberikan segala harta kekayaannya kepada mereka dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu pun juga. Namun masih ada seseorang yang datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar isterinya sendiri. Kemudian datang pula seorang lagi dan kepadanya Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga tubuhnya terbuka. Dan ia lalu pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggir sungai Eufrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang malam ia belajar di bawah bimbingan Hasan namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal Al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki ‘ajami atau si orang Barbar.

Waktu berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan rumahnya menuju tempat pertapaan untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah dan apabila malam tiba barulah ia pulang.

“Dimana sebenarnya engkau bekerja sehingga tak ada sesuatu pun yang engkau bawa pulang?” isterinya mendesak.

“Aku bekerja pada seseorang yang sangat Pemurah,” jawab Habib, “Sedemikian Pemurahnya Dia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-Nya, apabila saatnya nanti pasti ia akan memberi, karena seperti katanya sendiri, “Sepuluh hari sekali aku akan membayar upahmu.”

Demikian setiap hari Habib pergi ke pertapaannya untuk beribadah kepada Allah. Pada waktu shalat Zhuhur pada hari yang kesepuluh, sebuah pikiran mengusik batinnya, “Apakah yang akan kubawa pulang nanti? Apakah yang harus kukatakan kepada isteriku?”

Lama ia termenung di dalam perenungannya itu. Tanpa sepengetahuannya, Allah Yang Maha Besar telah mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawakan gandum sepemikulan keledai, yang lain membawa seekor domba yang telah di kuliti, dan yang terakhir membawa minyak, madu, rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantung berisi 300 dirham perak. Sesampainya di rumah Habib, si pemuda mengetuk pintu.

“Apakah maksud kalian datang kemari?” tanya isteri Habib setelah membukakan pintu.

Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini,” pemuda gagah itu menjawab, “Sampaikanlah kepada Habib, “Bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu.” Setelah berkata demikian mereka pun berlalu.

Setelah matahari terbenam Habib berjalan pulang. Ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau roti dan masakan-masakan. Dengan berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan bersikap lembut kepadanya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya pada waktu yang sudah-sudah.

“Wahai suamiku,” si isteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih. Lihatlah segala sesuatu yang telah dikirimkannya kemari melalui seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan, “Bila Habib pulang, katakanlah kepadanya, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu.”

Habib terheran-heran, “Sungguh menakjubkan! Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedemikian banyak imbalan yang dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti?”

Sejak saat itu Habib memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk Allah semata-mata.

Dikisahkan ketika pada awal permulaan taubatnya dia membuat pengumuman yang berbunyi, “kepada siapa saja yang mengingikan harta benda milik Habib segera datang dan ambilah!”. Mendengan pengumuman itu maka banyak orang yang datang kerumahnya yang terletak di sebuah persimpanga jalan di kota Baghdad untuk meminta hartanya, dan Habib memenuhi janjinya dengan memberikan seluruh hartanya hungga tidak memiliki apa-apa lagi. Meskipun begitu masih ada orang yang datang untuk meminta bagian, dan Habib pun memberikan cadar istrinya sendiri dan bahkan pakaian yang sedang dikenakannya sendiri.

Habib lalu pergi menyepi ke sebuah pertapaan di tepi sungai Eiphrat, di tempat inilah beliau membaktikan diri kepada Allah SWT dengan melakukan banyak ibadah sambil belajar di bawah bimbingan Hasan Al-Basri, dia mempunyai kesulitan dalam menhapal Al-Qur’an oleh karena itu dia di juluki Ajami atau si orang barbar.
Waktu terus berlalu , Habib benar – benar dalam kondisi yang sudah melarat, etapi isterinya tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya, menghadapi hal ini beliau biasanya buru – buru pergi ke tempat menyepi beliau untuk beribadah dan baru pulang ketika malam tiba, repotnya sang isteri menyaka bahwa beliau sedang pergi bekerja dan selalu bertanya dimana sebenarnya engkau bekerja dan kenapa tidak sesuatu pun yang engkau bawa pulang ?
Beliau menjawab,”Aku bekerja kepada yang sangat Pemurah sedemikian Pemurahnya Dia sehingga aku merasa malu untuk meminta sesuatu ke padaNya, apabila sudah tiba saatnya dia pasti akan memberikan bayaran buat kita”. Demikian lah Habib selalu pergi ke tempat nya menyepi untuk beribadah sedang sang isteri selalu menyangka dia sedang bekerja.
Suatu hari Habib merasa kebingungan karena lagi -lagi dia harus pulang kerumah dengan tangan hampa, lam dia termenung memikirkan hal itu. Tanpa sepengetahuan Habib Allah Yang Maha Besar mengutus pesuruh – pesuruhNya untuk datang kerumah Habib dengan membawa berbagai macam barang, ada yang membawa gandum sepemikulan keledai, ad yang membawa seekor domba gemuk yang telah di kuliti, ada yang membawa minyak, madu, rempah – rempah serta aneka macam bumbu, meraka di pimpin oleh seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantung berisi uang sebanyak 300 dirham perak, setibanya di rumah Nabib si pemuda mengetuk pintu, “apakah maksud kalian datang kemari?” tanya isteri Habib setelah membukakanpintu. “Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang – barang ini. sampaikanlah kepada Habib, bila dia semakin tekun bekerja, maka upahnya akan dilipatgandakan, “jawab si pemuda.
Begitulah yang terjadi, setelah Habib pulang dengan perasaan gundah karena tidak membawa apa-apa, setelah sampai di rumah tiba-tiba dia mencium aroma harum roti dan aneka masakan, yang semakin membuatnya heran, isterinya menyambut kedatangannya dengan sangat mesra, menghapus keringat di wajahnya, serta bersikap sangat lembut, benar – benar berbeda dari sikapnya yang biasanya. “Wahai suamiku, majikanmu memang benar-benar seorang yang sangat baik dan pemurah, lihatlah, segala sesuatu yang telah di kirimkannya kemari, melaui beberapa orang yang di pimpin oleh seorang pemuda yang sangat gagah berani, si pemuda juga mengatakan bahwa jika engkau semakin tekun bekerja, maka upahnya akan dilipatgandakan,”kata isteri Habib. Mulanya Habib sangat terkejut mendengar penuturan isterinya, dia pun maklum dengan yang sesungguhnya terjadi. Allah SWT telah memenuhi janjinya. Sejak saat itu Habib benar – benar memalingkan wajah dari urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk ALLAh SWT semata.

Karamah
Dikisahkan bahwa Habib memiliki sehelai mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim dingin maupun di musim panas, suatu saat ketika Habib hendak bersuci mantel itu dilepaskannya dengan s enaknya dan di lemparka ke hamparan tanah.Tidak beberapa lama kemudian Hasan Basri lewat di tempat itu dan melihat mantel milik Habib, dia pun bergumam, “Dasar Habib si orang barbar, tidak pedu;i harga mantel ini kalau di biarkan saja bisa hilang nanti.”Hasan kemugian berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut, tidak lama berselang Habib pun muncul kembali.
“Wahai imam kaum muslimin, mengapa engkau berdiri di sini?” tegur Habib setelah memberi salam. “Mantel seperti ini tidak boleh di tinggalkan di tempat sembarangan, sebab nanti bisa hilang di ambil orang,
katakan kepada siapa engkau menitipkan mantel ini tadi?” tanya Hasan.
“Kutitipkan pada Allah SWT, yang selanjutnya dia menitipkannya pada mu, jawab Habib.
Dikisahkan pula , pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah Habib, kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sdkit garam, ketika sang tamu sudah bersiap hendak menyantap hidangan itu, seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan roti itu pada pengemis tersebut, Hasan terheran-heran, lalu berkata “Habib engkau memang manusia budiman akan tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah disuguhkan ke ujung hidung tamu, lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis, seharusnya engkau memberikan sebagian ke pengemis dan sebagian kepada tamu mu.”
Mendengar teguran itu Habib tidak memberikan jawaban, tak lama kemudian seorang budak datang membawa sebuah baki, diatas bakitersebut terdapat daging domba pangang, makana yang manis – manis dan uang lima ratus dirham, si budak menyerahkan baki tesebut kepada Habib kemudian Habib membagi – bagikan uang kepada orang – orang miskin sedanmgkan daging domba dan makana lainnya di suguhkan kepada Hasan, ketika Hasan sedang menikmati daging itu Habib berkata kepadanya, “guru engkau memang seorang manusia yang budiman tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit keyakinan, pengetahuan harus disertai denghan keyakinan.”
Karomah Habib yang lain sebagai berikut, suatu hari seorang wanita tua datang ke rumah habib lalu merebahkan kepalanya dengan sangta memelas, “Aku mempunyai seorang putra yang telah lama pergi meninggalkan ku, aku rtak sanggup lebih lama lagi berpisah dengannya, berdoalah ke pada Allah semoga berkat doamu Allah SWT mengembalikan putra ku kepadaku.” pinta wanita tua itu sambil menangis.
“Apakah engkau memiliki uang?” tanya Habib. “Aku hanya memiliki dua dirham.” Jawabnya. “Berikannlah uangmu kepada orang – orang miskin, nasihat Habib. Setelah wanita tua itu melakukan apa yang di perintahkan, Habib kemudian membaca doa, seusai berdoa dia berkata, “Pulanglah, puteramu sekarang telah pulang dan sedang manantimu.”
Benar apa yang dikatakan habib, ketika wanita tua itu pulang dia melihat sorang pria berdiri di pintu rumahnya, dan ternyata pria itu adalah putranya. wanita tua itu benar – benar gembira dan membawa putranya bertemu Habib, “apa sebenarnya yang telah engkau alami,” tanya Habib pada putra wanita tua itu.
“Aku sedang berada di Kirmani untuk membeli daging, gurukulah yang menyuruhku, ketika aku hendak pulang ke rumah guruku, tiba -tiba bertiuplah angin kencang sekali sehingga tubuhku terbawa terbang. Dalam keadaan panik, terdengar suara tanpa wujud yang mengatakan, “wahai angin demi doa Habib dan dua dirham yang telah di sedekahkan kepada orang miskin, pulangkanlah dia kerumah nya sendiri. Itulah yang tadi aku alami”. Jawab si pemuda.

Keajaiban-keajaiban Habib

Pada suatu seorang wanita tua datang kepada Habib, merebahkan dirinya di depan Habib dengan sangat memelas hati.

“Aku mempunyai seorang putera yang telah lama pergi meninggalkanku. Aku tidak sanggup lebih lama lagi terpisah darinya, berdoalah kepada Allah,” mohonnya kepada Habib, “Semoga berkat doamu, Allah mengembalikan puteraku itu kepadaku.”

Apakah engkau memiliki uang ?” Tanya Habib kepada wanita tua itu.

“Aku mempunyai dua dirham.” Jawabnya.

“Berikanlah uang itu kepada orang-orang miskin.”

Kemudian Habib membaca sebuah doa lalu ia berkata kepada wanita itu, “Pulanglah, puteramu telah kembali.”

Belum lagi wanita itu sampai ke rumah, dilihatnya sang putera telah ada dan sedang menantikannya.

“Wahai! Anakku telah kembali!” wanita itu berseru. Kemudian dibawanya puteranya itu menghadap Habib.

“Apakah yang telah engkau alami?” Tanya Habib kepada putera wanita itu.

“Aku sedang berada di Kirmani, guruku menyuruhku membeli daging. Ketika daging itu telah kubeli dan aku hendak pulang ke guruku, tiba-tiba bertiuplah angin kencang, tubuhku terbawa terbang dan terdengar olehku sebuah suara yang berkata, “Wahai angin, demi doa Habib dan dua dirham yang telah disedekahkan kepada orang-orang miskin, pulangkanlah ia kerumahnya sendiri.”

Pada tanggal 8 Zulhijjah, Habib kelihatan di kota Bashrah dan pada keesokkan harinya di Padang Arafah. Pada waktu yang lain, bencana kelaparan melanda kota Bashrah. Karena itu, dengan berutang Habib membeli banyak bahan-bahan pangan dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Habib menggulung kantung uangnya dan menaruhnya di bawah lantai. Apabila para pedagang datang untuk menagih utang, barulah kantung itu dikeluarkannya. Sungguh ajaib, ternyata kantung itu sudah penuh dengan kepingan-kepingan dirham. Dari situ dilunasinya semua utangnya.

Rumah habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Sekali peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya dilemparkannya ke atas tanah.

Tidak berapa lama kemudian Hasan al Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel Habib yang terletak di atas jalan, ia bergumam, “Dasar Habib seorang barbar, tak peduli berapa harga mentel bulu ini! Mantel yang seperti ini tidak boleh dibiarkan saja di tempat ini, bias-bisa hilang nanti”.

Hasan berdiri di tempat itu untuk menjaga Mantel itu. Tidak lama kemudian habib pun kembali.

“Wahai, imam kaum Muslimin,” Habib menegur Hasan setelah member salam kepadanya, “mengapakah engkau berdiri di sini?”

“Tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakana, kepada siapakah engkau menitipkan mantel ini?”

“Kutitipkan kepada Dia, yang selanjutnya menitipkannya kepadamu”. Jawab Habib.

Pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah habib. Kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan sudah bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu kepadanya.

Hasan terheran-heran lalu berkata, “Habib, engkau memang seorang manusia budiman. Tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhkan ke ujung hidung tamu lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya engkau memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu”.

Habib tidak memberikan jawaban.

Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. Di atas nampan itu ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis, dan uang lima ratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan itu ke hadapan Habib. Kemudian Habib membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan itu di samping Hasan.

Ketika Hasan mengenyam daging panggang itu Habib berkata kepadanya, “Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus disertai dengan keyakinan.

Pada suatu hari ketika perwira-perwira Hajjaj mencari-cari Hasan, ia sedang bersembunyi di dalam pertapaan Habib.

“Apakah engkau telah melihat Hasan pada hari ini?” Tanya mereka kepada Habib.

“Ya, aku telah melihatnya”, jawab Habib.
“Di manakah Hasan pada saat ini?”
“Di dalam pertapaan ini”.

Para perwira itu memasuki pertapaan Habib dan mengadakan penggeledahan, namun mereka tidak berhasil menemukan Hasan.

“Tujuh kali tubuhku tersentuh oleh mereka”, Hasan mengisahkan, “namun mereka tidak melihat diriku”.

Ketika hendak meninggalkan pertapaan itu Hasan mencela habib, “Habib, engkau adalah seorang murid yang tidak berbakti kepada guru. Engkau telah menunjukkan tempat persembunyianku”.

“guru, karena aku berterus terang itulah engkau dapat selamat. Jika tadi aku berdusta, niscaya kita berdua sama-sama tertangkap”.

“Ayat-ayat apakah yang telah engkau bacakan sehingga mereka tidak melihat diriku?” Tanya hasan.

“Aku membaca Ayat Kursi sepuluh kali, Rasul Beriman sepuluh kali, dan Katakanlah, Allah itu esa sepuluh kali. Setelah itu aku berkata, “Ya Allah, telah kutitipkan Hasan Kepada-Mu dan oleh karena itu jagalah dia”.

Suatu ketika Hasan ingin pergi ke suatu tempat. Ia lalu menyusuri tebing-tebing di pinggir suangai Tigris sambil merenung-renung. Tiba-tiba Habib muncul di tempat itu.

“Imam, mengapakah engkau berada di sini?” Habib bertanya.

“Aku ingin pergi ke suatu tempat namun perahu belum juga tiba”, jawab Hasan.

“guru, apakah yang telah terjadi terhadap dirimu? Aku telah mempelajari segala hal yang kuketahui dari dirimu. Buanglah rasa iri kepada orang-orang lain dari dalam dirimu. Tutuplah matamu dari kesenangan-kesenangan dunia. Sadarilah bahwa penderitaan adalah sebuah karunia yang sangat berharga dan sadarilah bahwa segala urusan berpulang kepada Allah semata-mata. Setelah itu turunlah dan berjalanlah di atas air”.

Selesai berkata demikian Habib menginjakkan kaki ke permukaan air dan meninggalkan tempat itu. Melihat kejadian ini, Hasan merasa pusing dan jatuh pingsan. Ketika ia siuman orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai imam kaum Muslimin, apakah yang telah terjadi pada dirimu?”

“Baru saja muridku Habib mencela diriku; setelah iti ia berjalan di atas air dan meninggalkan diriku sedang aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jika di akhirat nanti sebuah suara menyerukan, “Laluilah jalan yang berada di atas api yang menyala-nyala”, sedang hatiku masih lemah seperti sekarang ini, apakah dayaku?”

Di kemudian hari Hasan bertanya kepada Habib, “Habib, bagaimanakah engkau mendapatkan kesaktian-kesaktianmu itu?”

Habib menjawab, “Dengan memutihkan hatiku sementara engkau menghitamkan kertas”.

Hasan berkata, “Pengetahuanku tidak memberi manfaat kepada diriku sendiri, tetapi kepada orang lain”.

KEJUJURAN HABIB AL ‘AJAMI

Hasan al-Basri (semoga Allah memberkatinya) adalah seorang imam yang terkenal.
Dan di masanya, hidup Habib al-’Ajami (semoga Allah mensucikan jiwanya). Beliau bukan seorang Arab, tapi dari Persia atau Bukhara, dan (beliau) buta huruf.
Suatu ketika Habib al-’Ajami sedang duduk di depan khaniqahnya (pondokan untuk berdzikir), tiba-tiba Hasan al-Basri datang dengan tergopoh-gopoh. “Oh Habib, sembunyikan aku karena Hajjaj, wakil gubernur, mengutus tentaranya untuk menangkapku. Sembunyikan aku!” kata Hasan al Basri. Dan Habib membalas “Masuklah ke dalam dan bersembunyilah.” Hasan masuk ke dalam dan menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi. Beberapa saat kemudian, beberapa tentara menghampiri Habib, “Apakah anda melihat Hasan al-Basri?”
“Ya, Aku melihatnya di dalam. Dia ada di dalam.” jawab habib.
Mereka masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling, melihat ke segala arah, bahkan menyentuh kepala Hasan al-Basri, dan beliau melihat mereka dengan ketakutan. Kemudian pasukan itu keluar, dan berkata kepada Habib,”Apa sekarang anda tidak malu (karena) anda telah berdusta. Di mana dia? Hajjaj akan berurusan dengan orang yang bekerja sama dengan Hasan al-Basri, dan itu cocok dengan anda. Anda berkata bahwa dia berada di dalam, apakah anda tidak malu telah berdusta!”
“Di dalam, Aku tidak berdusta. Dia di dalam.”  jawab Habib.
Sekali lagi, mereka masuk. Lalu, dengan sangat marah, merekapun pergi karna tak menemukan. Beberapa saat Kemudian Hasan al-Basri keluar. “Oh, Syaikh, apa ini? Aku datang kapadamu, memintamu untuk menjagaku dan engkau malah mengatakan kepada tentara bahwa aku berada di dalam.” “Ya Hasan, ya Imam, najawta min sidqi kalaamiy {engkau diselamatkan oleh kebenaranku!} Aku mengatakan kebenaran dan Allah melindungimu karena aku berkata dengan jujur. Aku berkata, “Wahai Tuhanku, ini adalah Hasan al-Basri, hamba-Mu, dia datang meminta pertolonganku, berkata, ‘Sembunyikan aku, jagalah aku!’ Aku tidak bisa melindunginya. Aku mempercayakan dia kepada-Mu, menyerahkan dia kepada-Mu sebagai amanat dariku. Engkau melindunginya.’ Aku hanya mengatakan hal itu dan membaca Ayat al-Kursi.”
Karena itulah para tentara tiada pun dapat melihatnya.

PERJALANAN KEROHANIAN HABIB AL AJAMI

Habib Al Ajami,semula adalah seorang yang kaya raya yang pekerjaanya adalah membungakan uang atau rentenir yang meminjamkan kepada seseorang dengan sistim bunga.
Suatu saat  Habib pergi kepada seseorang yang berhutang kepadanya. Seperti biasa dia dating untuk menagih hutang sekaligus bunganya. Namun kali ini seseorang yang dicari tidak ada dirumah. Dia hanya menemukan istrinya saja, Kepada wanita itu dia menagih hutang dan bunganya.
Siwanita itu pun berkata; Suamiku sedang tak ada dirumah,,”dan saya tak punya uang untuk membayar hutang kami kepada tuan, tetapi kami baru menyembelih kambing dan sekarang yang tersisa hanya lehernya saja, Jika tuan menginginkanya saya akan memberikanya kepada tuan.
Habibpun menjawab:” Boleh”,Tapi ini bukan berarti pembayaran atas hutang suamimu,,”!
Segera wanita tersebut masuk kedalam rumah dan memasak leher kambingitu.setelah matang wanita itupun menuangkan kesebuah mangkok. Namun sebelum dia mengucurkan kuahnya kedalam mangkok tiba-tiba dating seorang pengemis meminta minta sedekah, Wanita itupun bingung antara memberikan leher kepada pengemis atau Habib.”
Kemudian wanita itu  memberanikan bicara kepada Habib:” Jika yang kami miliki ini saya berikankepadamu,,,”Tuan tidak akan menjadi kaya karenanya tetapi kami sendiri yang akan menjadi miskin sebab tidak ada apa-apa lagi yangdapat kami makan hari ini.”
Habibpun marah dan mendamprat pengemis itu. Namun pengemis tersebut masih tetap mengharap pemberian walau hanya sekedar untuk mengganjal perut.
Melihat hal tersebut dan didorong oleh sifat kasihan maka wanita tersebut akhirnya memberikanya masakan itu kepada pengemis. Namum alangkah terkejutnya habib manakala dibuka penutup mangkok itu ternyata isinya berubah menjadi darah hitamyang membusuk.
Wanita itupun berkata :” Tuan,,” Saksikanlah olehmu, Masakan ini berubah menjadi darah hitam yang membusuk dikarenakan Ribamu yang terkutuk dan sikapmu terhadap seseorang yang  mengharapakan belah kasihmu”,
Tak lama wanita itupun menagis dan berkata:”Aku tak tahu bagaimana nasib kita kelak diakhirat dengan perbuatan kita ini”
Habib terdiam  tiba-tiba tubuhnya menerima sebuah kesadaran bahwa apa yang telah ia perbuat terhadap suami istri dan kepada seorang pengemis hari itu adalah suatu kesalahan besar.
Setelah peristiwa itu besoknya dia pergi lagi kesalah seorang  dengan maksud yang sama menagih hutang, kebetulan  hari itu hari jum’at, banyak anak-anak yang bermain main dijalan pada saat itu.
Mengetahui kedatangan Habib mereka berkata:”Lihatlah Habib silintah darat itu menuju kemari,,”ayo lari….”!!klo ga nanti debu-debunya akan menempel kepada kita dan kita akan menjadi seperti dia”!
Pada awalnya Habib begitu marah dengan tingkah anak anak itu tapi lambat laun dari itulah Habib semakin menyadari kesalahnya. Habib menjadi orang yang Khusu dalam beribadah dalam tobatnya dia berkata:”Ya ALLAH…”baru saja hambamu membuat permainan dengan-MU,dan Engkau telah membuat gendering gendering didalam hati manusia untuk diriku. Aku benar-benar bertobat kepada-MU,,Ya,,ALLAH..”

Pada suatu hari Habib membuat pengumuman yang sangat aneh,pengumuman itu berisi”Barang siapa  yang menginginkan harta benda milik Habib Al Ajami dating dan ambilah”!!!
Dari pengumuman itu maka berbondong-bondonglah semua warga untuk mengambil harta Habib yang mengakibatkan Habib Al Ajami jatuh miskin,hingga ketika seseorang yang dating paling akhir tak kebagian harta habib dan meminta baju yang dikenakanya maka habib pun memberikanya.
Akhirnya Habib pergi uzlah dengan berbekal pakaian yang dikenakan saja,menyepi menuju pinggiran sungai Euphrat.ditempat itulah dia hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada ALLAH,ditempat itu dia tidak sendiria dia ditemani oleh Hasan Al Basri yang menjadi guru dan pembimbing perjalanan sepiritualnya.
Beberapa waktu kemudian habib menjenguk istrinya yang ditinggal ketika berniat untuk menyepi. Kedatangan Habib tentusaja membuat bahagian sang istri tapi juga kecewa karena tak pernah bertemu sekian lama juga tak ada kabar dari Habib,sehingga munculah sebuah percakapan sang istri yang bertanya kepada Habib.
“Kemana saja engkau bekerja selama ini?”,mengapa sampai sekarang engkau tidak memberiku apa-apa untuk menutupi kebutuhan hidup kita?”
Habibpun menjawab:”Aku bekerja kepada seseorang yang sangat pemurah”Sedemikian murahnya Dia sampai-sampai aku malu untuk meminta sesuatu kepada-NYA. Sudahlah ,,,”pada saatnya nanti Dia akan memberikan sesuatu kepada kita,sebab Dia pernah berjanji sepuluh hari sekali AKU akan membayar upahmu”.
Tanpa sepengetahuan sang istri Habib pun pergi menuju masjid untuk bermunajat kepada ALLAH. Dan pada shatal dhuhur dihari yang kesepuluh sebuah pikiran mengusik batinya,”Apakah yang akan aku bawa pulang hari ini yang bias aku berikan kepada istriku,,?”
Lama Habib memikirkan hal itu sampai pada titik puncak dia memasrahkan semua kepada ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan pada saat bersamaan ALLAH menyuruh malaikat-NYA dalam wujud manusia untuk membawakan gandum ,ada lagi yang membawa domba yang sudah dikuliti sementara yanglainya membawa minyak,madu,rempah-rmpah,dan bumbu kerumah Habib tanpa sepengetahuan Habib.diantara malaikat ada yang berwujud seorang pemuda yang gagah yang membawa sebuah kantong yang berisi uang 300 dirham perak.
Sang pemudapun mengetuk rumah Habib, dari dalam rumah sang istripun membukakan pintu, betapa kagetanya istri Habib melihat rombongan yang lumayan banyak bertandang kerumahnya. Istri Habibpun bertanya:”Apakah maksud tuan-tuan dating kerumah kami ini?”
Sang pemudapun menjawab:” Majikan kami menyuruh kami untuk mengatarkan barang-barang ini.,”Dan tolong sampaikan kepada Tuan Habib bahwa jika dia melipat gandakan jerih payahnya maka Tuan Kami juga akan melipat gandakan upahnya,,”
Sementara itu Habi masih dalam keadaan bingung dimasjid,akhirnya dia pulang dengan keadaan bersedih karena tidak bisa membawakan apapun untuk istrinya untuk sekedar makan beberapa hari saja. Sesampai dirumah Habib merasa aneh dengan rumah yang bau dengan masakan mengundang selera, Meleihat suaminya pulang istri Habibpun langsung berlari menyambut kedatangan suaminya dengan senyum bahagia,”
Sang istripun berkata:”Wahai suamiku,,”memang benar apa yang engkau katakana tempo hari,bahwa majikanmu memang seorang yang sangat pemurah dan pengasih. Lihatlah apa saja yang Dia kirimkan kepada kita tadi pagi lewat seorang pemuda yang gagah.”
Habib masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Sedangkan tadi pagi sampe siang dia berada dimasjid  dalam keadaan bingung. Istri habibpun melanjutkan percakapanya:”Oh..iya,,,”Pemuda tadi juga berpesan bahwa jika engkau melipat gandakan jerih payahmu niscaya Tuanmu akan melipat gandakan upahmu juga..”
Betapa terkejutnya Habib dengan cerita istri yang baru dia sampaikan, Dia baru sadar bahwa ternyata ALLAH telah membalas apa yang selama ini dia kerjakan,Dalam rasa syukurnya Habib berkata;” Ya,,ALLAH,,” begitu banyak nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami didunia ini.Berikanlah limpahan nikmat ini kepada hamba-MU ini kelak diakherat nanti”
Semoga dari cerita perjalanan sepiritual Habib Al Ajami bisa sedikit member kita pelajaran bahwasanya perlu sekali ditanamkan rasa sabar dan  berserah diri kepada ALLAH niscaya akan memberi  petunjuk dengan karunia nikmat lebih sesuai dengan kebutuhan hati kita,karena ALLAh telah berjanji  dalam firman-NYA:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Syaikh Habib al Ajami – Sufi Lugu Yang Penuh Hikmah

Awalnya, Habib adalah seorang laki-laki yang kaya raya dan juga seorang lintah darat. Ia tinggal di Bashrah. Setiap hari ia berkeliling kota menagih orang-orang yang berutang padanya. Bila tak ada uang, ia akan meminta pembayaran dengan kulit domba untuk bahan sepatunya. Begitulah mata pencariannya. Suatu hari, ia pergi untuk menemui seseorang yang berutang padanya. Namun orang itu tidak ada di rumah. Karena gagal menemui orang itu, ia pun meminta pembayaran dengan kulit domba.“Suamiku tak ada di rumah,” tutur istri si peng­utang itu padanya. “Aku sendiri tak punya apa-apa. Kami telah menyembelih seekor domba, tapi, kini tinggal lehernya yang tersisa. Bila kau mau, aku akan memberikan padamu.”
“Boleh juga,” ujar Habib, ia berpikir bahwa setidaknya bisa ia membawa pulang leher domba itu. “Panaskan panci!”
“Aku tidak punya roti ataupun bahan bakar,” kata wanita itu.“Baiklah,” kata Habib. “Aku akan pergi meng­ambil roti dan bahan bakar, dan semuanya akan kuperhitungkan dengan kulit domba.”Habib pun pergi dan mengambil roti serta bahan bakar. Wanita-itu menyiapkan panci. Masakan itu pun matang, dan si wanita hendak menuangkannya ke dalam sebuah mangkuk. Saat itu, seorang pengemis mengetuk pintu.“Jika kami memberimu apa yang kami miliki,” teriak Habib, “kau tak akan menjadi kaya, sementara kami sendiri akan menjadi miskin!”Pengemis itu dengan putus asa, meminta wanita itu untuk menuangkan sesuatu ke mangkuknya. Wanita itu mengangkat tutup panci dan melihat bahwa seluruh isinya telah berubah menjadi darah. Wanita itu menjadi pucat, ia bergegas menemui Habib dan menarik tangannya, membawanya mendekati panci itu. “Lihatlah apa yang telah terjadi akibat praktik riba terkutukkmu itu, dan akibat caci-makimu kepada. pengemis itu!” pekik wanita itu. “Apa yang akan menimpa kita sekarang di dunia ini, belum lagi di akhirat kelak?”Melihat hal ini, Habib merasa seakan-akan kobaran api di dalam tubuhnya yang tak akan pernah surut. “Wahai wanita,” ujarnya; “aku menyesali segala, yang pernah kulakukan.”
Esok harinya Habib kembali pergi menemui orang-orang yang berutang padanya untuk menagih. Hari itu hari Jumat, anak-anak terlihat bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka berteriak, “Jangan dekat-dekat, agar debunya tidak menempel pada tubuh kita dan membuat kita terkutuk seperti dirinya.”Kata-kata itu sangat menyakiti Habib, Ia kemudian menuju gedung pertemuan, di sana Hasan Bashri sedang berceramah. Kebetulan, ada kata-kata Hasan Bashri yang benar-benar- menghenyakkan hati Habib, hingga membuatnya jatuh pingsan. Ia pun bertobat. menyadari apa yang telah terjadi, Hasan Bashri memegang tangan Habib dan menenang­kanya. Sepulangnya dari gedung pertemuan., Habib terlihat oleh seseorang yang berutang padanya, orang itu pun hendak melarikan diri. “Jangan lari!,” kata Habib padanya, “Mulai sekarang, akulah yang harus melarikan diri darimu.” Habib pun berlari. Anak-anak masih saja bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka kembali berteriak, “Lihat, itu Habib sang petobat. Jangan dekat-dekat, agar debu kita tidak menempel di tubuhnya, karena kita adalah para pendosa.”“Ya Allah, ya Tuhan,” tangis Habib. “Karena satu hari ini, di mana aku bertobat, Engkau telah menabuh genderang di hati manusia untukku, dan membuat namaku masyhur karena kebajikan.” Lalu ia pun mengeluarkan pernyataan, “Siapa saja yang menginginkan apa pun dari Habib, datanglah ke­padaku dan ambil apa pun yang kalian mau!”, Orang-orang pun berkumpul di rumahnya, dan ia memberikan segala yang dimilikinya hingga ia tak punya uang sepeser pun. Kemudian, seorang pria datang meminta sesuatu, Karena tak memiliki apa-apa lagi, Habib pun memberi pria itu kain istrinya. Kepada seseorang yang datang kemudian, Habib memberikan bajunya, sendiri, ia pun jadi telanjang dada.Habib lalu menyepi di tepi Sungai Eufrat dan di sana ia menyerahkan diri sepenuhnya untuk ibadah.
Setiap hari, siang dan malam, ia. belajar di bawah bimbingan Hasan, tapi ia tidak bisa mempelajari Al-Qur’an, karenanya, ia juluki Barbar. Waktu pun berlalu, dan Habib benar-benar menjadi orang yang sangat, miskin. Istrinya me­mintanya untuk memberi nafkah sehari-hari, Habib pun keluar rumah menuju tepi Sungai Eufrat untuk beribadah. Ketika malam tiba, ia kembali ke rumah. “Suamiku, di mana engkau bekerja, kok tidak membawa pulang apa-apa?,” tanya istrinya. “Aku bekerja pada. seseorang yang sangat dermawan,” jawab Habib, “Saking dermawannya ia, aku sampai malu untuk meminta kepadanya. Bila telah tiba waktu yang tepat, ia akan memberi. Setiap sepuluh hari aku membayar upah,” kata Bosku.Begitulah, setiap hari Habib pergi ke tepi sungai dan beribadah di sana, hingga sepuluh hari. Pada hari kesepuluh, di waktu dzuhur, di benaknya berkata; “Apa yang aku bawa pulang malam ini, dan apa yang aku katakan pada isteriku?”Habib merenungkan hal ini dalam-dalam. Seketika, Allah Yang Mahakuasa mengutus bebe­rapa orang kuli ke rumah Habib dengan membawa tepung, daging domba, minyak, madu, rempah rempah, dan bumbu dapur. Kuli-kuli itu menaruh barang berat tersebut di dapur rumah Habib. Seorang anak muda yang tampan menyertai mereka dengan membawa uang sebanyak tiga ratus dirham. Anak muda itu mengetuk pintu rumah Habib.“Apa keperluan Anda?” tanya istri Habib sambil membuka pintu. “Tuanku telah mengirim semua ini” jawab anak muda itu. “Bilang pada Habib, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.” Setelah mengatakan hal itu, ia pun pergi.Di kegelapan malam, Habib melangkah pulang, malu dan sedih. Ketika ia semakin mendekati rumah­nya, ia mencium aroma roti dan masakan. Istrinya berlari menyambutnya, membersihkan wajahnya, dan berlaku sangat lembut padanya: “Suamiku,” kata istrinya, “tuanmu itu sangat haik, dermawan, serta; penuh cinta dan kebaikan. lihatlah apa yang telah ia kirimkan melalui seorang anak muda yang tam­pan! Dan anak muda itu berkata, ‘Jika Habib pulang, katakan padanya, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.”Habib merasa takjub. “Menakjubkan!” katanya. “Aku baru bekerja, selama sepuluh hari, dan ia telah memberikan aku-segala kebaikan ini. Jika aku bekerja lebih keras, siapa yang tahu apa yang akan diperbuat­nya?” Habib pun memalingkan wajahnya sepenuhnya dari duniawi dan mengabdikan diri untuk ber­ibadah kepada-Nya.
Keajaiban Habib
Suatu hari, seorang wanita tua menemui Habib dan tersungkur di hadapannya meratap. Aku mempunyai seorang anak laki-laki. Kami sudah ter­pisah sekian lama. Aku tak dapat lagi menahan derita terpisah darinya. Berdoalah kepada Tuhan,” pintanya kepada Habib. “Mungkin doamu kepada-Nya akan membawa anakku pulang kembali.”“Apakah Anda punya uang?” tanya Habib. “Ya, dua dirham,” jawabnya.“Berikanlah uang itu kepada fakir miskin.” Habib pun berdoa, lalu berkata kepada wanita tua itu, “Pulanglah, anakmu telah kembali padamu.”Sesampainya dirumahnya, wanita itu melihat anak laki-lakinya: “Oh, anakku!” teriaknya gembira, dan ia pun membawa anaknya itu menemui Habib.“Apa yang terjadi?” Habib bertanya. “Aku berada di Kirman” jawab si anak. “Guruku menyuruhku membeli daging. Aku membelinya dan hendak kembali kepadanya. Namun aku terhalang oleh kerasnya hembusan angin. Aku mendengar suara yang mengatakan, ‘Wahai angin, bawalah dia ke rumahnya, dengan berkah doa’ Habib dan dua dirham yang disedekahkan.”Di suatu hari 8 Dzul Hijjah Habib terlihat ada di Basrah. Namun esok hari tanggal 9 Zulhijah, ia terlihat ada, di Arafah.
Suatu waktu, kelaparan mewabah di Bashrah. Habib membeli banyak bahan makanan dengan cara kredit dan menyedekahkannya semua. Habib menaruh dompetnya yang kosong di bawah bantal. Ketika para pedagang bahan makanan menagih utangnya, Habib mengeluarkau dompetnya, yang secana ajaib telah penuh berisi dirham.Habib memiliki sebuah sebuah rumah di persimpangan jalan. Ia juga memiliki selimut mantel hidup yang ia kenakan kala musim panas dan juga musim dingin. Suatu kali, ketika hendak wudlu, ia letakkan mantelnya di atas tanah. Waktu itu, Hasan Bashri lewat. dan melihat mantel Habib tergeletak di jalan. “Si Barbar ini (Habib) pastilah tak tahu nilai mantelnya,” komentar Hasan. “Mantel bulu ini mestinya tidak digeletalkan begitu saja di sini. Bisa hilang nanti.” Maka Hasan pun berdiri di sana sambil mengawasi mantel itu. Kemudian, Habib pun kembali. “Imam Kaum Muslim,” katanya menyambut Hasan, “mengapa Anda berdiri di sana?”“Tidakkah kau tahu,” jawab Hasan, “mantel ini mestinya tidak ditinggal begitu saja di sini? Bisa hilang. Katakan, kau titipkan kepada siapa mantel ini sementara kau pergi?”“Kepada Allah yang telah me­nunjukmu untuk menjaganya.” jawab-HabibSuatu hari, Hasan datang mengunjungi Habib. Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam pada Hasan. Ketika mulai hendak makan. Tiba-tiba, seorang pengemis datang, dan Habib memberikan dua potong roti dan sedikit garam itu kepadanya. “Habib,” tegur Hasan yang terlihat bingung, “Kau, orang yang baik. Alangkah lebih baiknya jika kau juga berpengetahuan. Kau mengambil roti di bawah hidung, tamumu dan memberikannya semua kepada pengemis. Mestinya kau berikan sebagian untuk pengemis, dan sebagian lagi untuk-tamumu.” Habib diam saja. Tak lama berselang, seorang budak datang membawa sebuah baki berisi daging panggang, manisan, roti yang lezat, dan uang lima ratus dirham. Budak itu menyerahkan semuanya kepada Habib. Habib menyedekahkan uang lima ratus, dirham itu kepada fakir miskin, dan menyuguhkan makanan-makanan lezat itu kepada Hasan.“Guru,” katanya ketika Hasan tengah makan, “Anda orang yang baik? Alangkah lebih baiknya jika Anda juga memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus diiringi dengan iman.”
Suatu hari, sejumlah aparat Al Hajjaj mencari-cari Hasan. Ia bersembunyi di tempat Habib biasa berkhalwat.“Apa kau melihat Hasan hari ini?” tanya para aparat itu kepada Habib.“Ya aku melihatnya, “ jawab Habib“Dimana dia?”“Di dalam situ.”Aparat itu menggeledah dan tak menemukan Hasan. (“Tujuh kali mereka menyentuhku tapi mereka tak dapat melihatku.”) kata Hasan.“Habib,” tegur Hasan setelah aparat itu pergi, “kau tidak memenuhi kewajibanmu, kau membocorkan persem-bunyianku…”“Guru,” ujar Habib, “ karena aku berkata jujur maka anda bisa bebas. Jika tadi aku berbohong kita berdua pasti ditangkap.”“Apa yang kau baca sehingga mereka tidak melihatku?”“Aku baca ayat Kursi sepuluh kali. Sepuluh kali aku membaca “Rasul percaya” dan sepuluh kali Qulhuwallaahu Ahad, lalu aku berdoa, “Ya Allah aku telah mempercayakan Hasan kepada-Mu. Jagalah dia…”
Suatu hari Hasan berniat untuk pergi ke suatu tempat, melewati sungai Tigris sembari merenung ketika Habib di tempat itu.“Guru, mengapa Anda berdiri di sini?” tanya Habib“Aku ingin pergi ke suatu tempat, namun perahu­nya terlambat,” jawab Hasan.“Guru, apa yang telah terjadi padamu?” tanya Habib. “Semua yang kutahu, kupelajari darimu. Hilangkan kedengkian dalam.hatimu. Tutuplah hatimu dari keduniawian, Ketahuilah bahwa pen­deritaan adalah hadiah yang amat berharga, dan semua urusan adalah dari Tuhan. Kemudian, taruh­lah kaki di atas air dan berjalanlah.”Selesai berkata demikian, Habib melangkah di atas air dan meninggalkan tempat itu. Melihatnya, Hasan pun jatuh pingsan. Ketika, ia siuman, orang orang bertanya kepadanya, “Wahai Imam Kaum Muslim, apa yang terjadi padamu?”“Muridku, Habib, baru saja menegurku,” jawab Hasan. “Kemudian ia melangkah di atas air dan pergi meninggalkan tempat ini, sementara aku tetap tak berdaya. Jika kelak aku diperintahkan, ‘Seberangi jembatan itu dan aku tetap tak berdaya seperti ini, apa yang dapat aku lakukan?”Dalam kesempatan lain, Hasan bertanya, “Habib, bagaimana kau dapat memperoleh kekuatan itti?” “Aku memutihkan hatiku, sementara Anda menghitamkan kertas,” jawab Habib.“Pengajaranku menguntungkan orang lain, bukan diriku sendiri,” komentar Hasan.

HABIB AL-AJAMI MENINGGAL DUNIA PADA TAHUN 120 SELEPAS HIJRAH, MAKAM BELIAU DI BAGHDAD.

Posted in Tazkirah | No Comments »
August 4th, 2012
Manuskrip yang disebut itu tiada dicatitkan siapa pengarangnya tetapi ada disebutkan sebagai ILMU DAN MAKRIFAT TOK GURU PERAMU. Ianya ditulis dalam Bahasa Melayu lama dengan ejaan jawi lama. ( contoh ba wau mim bukan bom tetapi bumi )

Fakir tidak pasti sama ada manuskrip ini benar benar hasil karangan Tok Guru Peramu atau ditulis oleh orang lain yang merujuknya sebagai Ilmu Makrifat Tok Guru Peramu. Namun fakir membiarkan perkara penulis ini sebagai satu persoalan yang tidak dapat fakir selesaikan dan menganggapnya manuskrip itu sebagai satu bahan sumber ilmu yang bernilai yang barangkali ditulis atau bersumberkan ilmu dari Tok Guru Peramu yang terkenal itu.

Namun begitu perlu ditegaskan bahawa apa apa juga pendapat, fahaman dan tafsiran manuskrip ini merupakan pendapat, fahaman dan tafsiran penulis manuskrip dan bukannya pendapat , fahaman dan tafsiran fakir.

Ada juga terdapat beberapa bahagian dan tulisan khususnya ayat ayat Al-Quran dan hadith hadith yang ditulis mengikut tulisan Arab yang tidak dapat fakir masukkan dan salin kedalam entri kerana kelemahan fakir sendiri dalam perkara ini. Jadi yang diambil hanyalah terjemahan ke- Bahasa Melayunya sahaja.

KESIMPULAN HATI

Pertama Hati Yang Beriman Lawannya Kafir
Kedua Sum’ah Lawannya Bid’ah
Ketiga Hati Yang Taat Lawannya Maksiat

Dan HATI inilah tempat NIAT yang menentukan SAH SOLAT atau lain lain pekerjaan.

KEDUDUKAN NIAT

Bahawa NIAT itu tempatnya di HATI, tidak berhuruf dan bersuara sebagai letaknya harus melaksanakan :-

QASAD menunjukkan ZAT akan SIFATNYA kepada yang disifatkan

TAKRID menentukan ZAT akan SISATNYA dan kepada yang disifatkan.

TA’AYUN sabenar2nya AKU menyatakan DIRI AKU dalam TAUHID Takbiratul Ihram Aku kepada Sifat yang disifatkan.

Maka karamlah DIRI dalam lautan tidak bertepi itu nescaya SOLAT bukan lagi ENGKAU / AKU tetapi AKU ZAT yang melahirkan Kerja Aku dalam rupaku yakni SifatKu yang nyata dalam kelakuan hambaKu. Engkau tiada UPAYA dan KEKUATAN untuk melakukan solat itu malahan engkau lakukan atas Kurniaan & Rahmat Aku semata-mata.

Kenapa engkau merasa ada kewujudan dalam hidup ini sedangkan WUJUD itu adalah Aku semata-mata ? Yang mengerjakan kelakuanmu itu Aku atas Kudrat & IradatKu. Yang menentukan waktu pun Aku, Aku punya Ilmu. Tanpa itu engkau tiada hambaku. Aku sengaja menyatakan DIRIKU padamu dan Aku memuji DiriKu diatas lidahmu wahai hambaku.

Jangan sekali-kali ada rasa didalam hatimu bahawa engkau mempunyai kemampuan untuk memujiKu . Ketahuilah bahawa engkau adalah hambaKu yang FAKIR berhak menerima PemberianKu.

TIANG SOLAT

a. HADIR HATI yakni menghadap Allah dan membuangkan segala yang GHAYR (yang lain selain Allah ) didalam solat

b. KHUSU’ / TETAP HATI didalam solat yakni tidak merayau –rayau fikiran kemana mana.

c. SEMPURNA bacaan FATIHAH

SAH SOLAT

a. Sah solat kerana SAH WUDHU’

b. Sah Wudhu kerana Sah ISTINJA

c. Istinja itu membersihakan anggota badan dari berupa bentuk najis besar mahupun kecil.

KESEMPURNAAN ISLAM

Nota oleh Fakir – S = Soalan , J = Jawapan

S Yang dikatakan ISLAM berapa kesempurnaannya ?

J Tiga Perkara :-

a. Diikrarkan dengan lidah
b. Ditashdiqkan dalam hati
c. Dikerjakan dengan anggota

S Berapa tandakah yang dikatakan sesaorang itu Islam ?

J Empat perkara :-

a. Merendahkan diri keHadrat Allah dan sesama islam
b. Suci lidah dari memakan dan meminum benda haram
c. Suci lidah dari dusta dan mengumpat
d. Suci badan daripada Hadath Besar

S Yang dikatakan Islam berapa syarat pakaiannya ?

J Empat perkara :-

a. Sabar akan Hukum Allah SWT
b. Ridha akan Qadha Allah SWT
c. Menyerahkan Diri kepada Allah dengan tulus ikhlas
d. Mengikut Firman Allah dan Hadith Nabi.

S Apakah yang membinasakan Islam ?

J Empat perkara :-

a. Berbuat sesuatu amalan yang tiada dasar dari Islam itu sendiri
b. Mencela orang berbuat baik & meringankan Hukum Allah SWT
c. Diketahui tetapi tidak dibuat
d. Tiada tahu tetapi malas bertanya

Adapun Makrifat yang mesti diketahui itu ialah 20 Perkara terbahagi kepada 5 Bahagian…….


BAHAGIAN PERTAMA :-

Hendaklah diketahui 4 perkara yakni :-

Pertama Allah sabelum bernama Allah apa NamaNya ?
Kedua Muhammad sebelum bernama Muhammad apa namanya ?
Ketiga sebelum hari yang tujuh itu apa namanya ?
Keempat sebelum Waktu Yang Lima itu apa namanya waktu itu ?

BAHAGIAN KEDUA

Hendaklah juga kamu ketahui 4 perkara lagi.

Pertama 40 hari hendak mati
Kedua 7 hari hendak mati
Ketiga 3 harihendak mati
Keempat 24 jam sebelum mati.

BAHAGIAN KETIGA

Lagi 4 perkara yang perlu kamu ketahui

Pertama hendaklah KENAL DIRI kamu
Kedua hendaklah kenal NYAWA kamu
Ketiga hendaklah kenal PENGHULU kamu
Keempat hendaklah kenal TUHAN kamu

BAHAGIAN KEEMPAT

Hendaklah ketahui akan ZIKIR PENYERAHAN NYAWA kepada Allah . Ada 4 perkara juga.

Pertama Serahkan dengan ZIKIR AF’AL yakni La Ilaha Illallah
Kedua serahkan dengan ZIKIR ASMA’ yakni Allah Allah Allah
Ketiga serahkan dengan ZIKIR SIFAT yakni Hu Hu Hu
Keempat serahkan dengan ZIKIR ZAT yakni Ah Ah Ah

BAHAGIAN KELIMA

Hendaklah ketahui berkenaan RUH juga 4 perkara

Pertama RUH JASMANI yaitu TUBUH kita yakni DIRI TERJALLI
Kedua RUH RUHANI yaitu HATI kita yakni DIRI TERPERI
Ketiga RUH IDHAFI yaitu NYAWA kita yakni DIRI YANG TERPERI
Keempat RUH AL-QUDDUS yaitu RAHSIA kita yakni DIRI YANG WUJUD.

MUHAMMAD…………..

Adapun nama MUHAMMAD itu jadi TUBUH pada kita.
Tubuh kepada Muhammad jadi NYAWA pada kita
Hati kepada Muhammad jadi NYAWA kepada kita
Nyawa kepada Muhammad jadi RAHSIA kepada kita.

TUBUH……………..

Adapun yang bernama TUBUH itu PERBUATAN yang datang daripada HATI.
Perbuatan Hati datang daripada Nyawa
Perbuatan Nyawa datang daripada Rahsia
Perbuatan Rahsia datang daripada AF’AL ALLAH.

FUAD…………….

Adapun yang bernama MATA itu ialah untuk MELIHAT dan orang yang melihat itu tempatnya pada MATA HATI pada JANTUNG.
Didalam jantung ada FUAD
Didalam Fuan ada CAHAYA
Didalam Cahaya ada RAHSIA
Didalam Rahsia itu adalah saperti Firman Allah SWT yang berbunyi :-

Al Insanu Sirri…Wa Ana Sirruhu
Insan itu adalah rahsiaKu dan Akulah rahsianya.

KENAPA NAMA MUHAMMAD ? ( Rahsia Muhammad )

Adapun sebab Nabi Muhammad itu bernama Muhammad kerana Kehendak Allah.
Sekalian ( Keseluruhan / Semuanya ) Alam ini terjadi kerana Muhammad saperti dinyatakan didalam Hadith Qudsi :-

Sekalian jadi daripadamu Ya Muhammad dan engkau jadi daripada AKU

Sabda Baginda Rasul :-

Aku jadi kerana Allah dan sekalian alam jadi kerana aku.

RAHSIA MUHAMMAD ( Mim Ha Mim Dal )

KETERANGAN HURUM MIM AWAL MUHAMMAD ( MIM AWAL )

Pertama menunjukkan ZAT hambanya berdiri solat
Kedua Tempat Makrifat tatkala Qiam
Ketiga Zikir Bagi Zat yaitu ZIKIR RAHSIA
Keempat tatkala itu Tuhan bernama AHDIAH
Kelima semasa itu Tuhan Semata-mata . Belim ada terjadi apa apa akan masa itu bernama AH…( Alif Ha )

KETERANGAN HURUM HA MUHAMMAD ( HA )

Artinya SIFAT HAMBA yakni RUKUK dalam solat
Tempat HAKIKAT yaitu Rukuk
Zikir bagi Sifat yakni Nyawa
Tatkala itu Tuhan bernama WAHDAH

KETERANGAN HURUM MIM KEDUA MUHAMMAD ( MIM KEDUA )

Artinya ASMA’ HAMBA yaitu SUJUD dalam solat
Tempat TARIQAT tatkala Sujud
Tatkala itu Tuhan bernama WAHADIAH
Tatkala itu Tuhan TAJALLI sabenar-benarnya meliputi NUR MUHAMMAD. Masa itu Tuhan bernama ALLAH SWT

KETERANGAN HURUM DAL MUHAMMAD ( DAL )

AF’AL HAMBA yaitu DUDUK dalam solat
Tempat SYARIAT yaitu tatkala dalam Duduk
Zikir bagi Af’al yaitu TUBUH La Ilaha Illallah
Tatkala itu Tuhan ibarat LA ( Lam Alif )
Tatkala itu bercampur RAHSIA dengan NYAWA dan ANASIR ADAM ( Alif Dal Mim )

KEJADIAN DIRI.

Adapun kejadian DIRI itu terkandung dalam 20 perkara dibahagi kepada 4 bahagian

Bahagian Pertama

1 Jenis ZAT Diri Wujud Rahsia Kita Alam Lahut Ruh Al-Quddus

2 Jenis SIFAT Diri Terdiri Nyawa Kita Wujud Mutlak Ruh Idhafi
Alam Jabarut

3 Jenis ASMA’ Diri Terperi Hati kita Wujud Alam Ruh Ruhani
Tubuh halus

4 Jenis AF’AL Diri Tajalli Jasmani Wujud Idhafi Tubuh Yang Zahir

Bahagian Kedua

1 Wujud Wujud mutlak – Wujud Hakiki – Wujud Idhafi Wujud Tajalli

2 Ilmu Ilmu Hakiki – Ilmu Maklumat – Ilmu Fikir – Ilmu Ma’dom
Al-Asma’

3 Nur Nur AlHadi – Nurul quddus – Nur hadi – Nur Al-bayan

4 Suhud Suhud Al-Ain – Suhud Khadafi – Khaliq Al-Asmat
Suhud Taufil

Bahagian Ketiga

1 Angin Angin Niat –Angin Padtar – Angin Sarsa – Angin Serul

2 Api Al-Hayat – Al-Muja – Sajin

3 Air Maal Hayat – Maal Kus – Maal Zam Zam – Maal Hain

4 Tanah Tanah Firdaus – Tanah Tiin – Arbail baasir – Tiin Siipaab

Bahagian Keempat

1 Di Jadi Ruh Masripah – Tubuh – Af’al

2 Wadi Jadi Tulang – Tariqat – Hati – Asma’

3 Mani Jadi urat – Haqiqat – Nyawa – Sifat

4 Ma’nikam Jadi Nyawa – Makrifat – Rahsia – Zat

Bahagian Kelima

1 LA ( Laf Alif )

Ucapan bagi Tubuh menjaga kulit dan bulu Qalbi kepada Baitullah

2 ILAHA ( Alif Lam Ha )

Ucaoan bagi Hati penjaga daging dan darah Qalbi kepada Baitulmakmur

3 ILLA ( Alif Lam Alif )

Ucapan bagi Nyawa penjaga urat dan tulang Qalbi kepada Arasy

4 Allah ( Alif lam Lam Ha )

Ucapan kepada Rahsia penjaga urat dan sumsum Qalbi kepada Allah

KEJADIAN BENIH

HU QALBI itu RABBI terdiri Aku didalam Sifat Nafsiah Aku dikandung dalam Wujud Allah La Ilaha Illallah Muhammadur Rasullullah Fi Kul Lil Maha Tiin Wa Naf Sin Aa Da Da Maa Wa Si A-Hu Il Mullah

Adapun asal kejadian BENIH manusia daripada MA’NIKAM daripada Syurga, dirupakan Allah SWT turun kepada HU GHAIB rupa Allah jadi Ma’nikam rupa gilang gemilang hingga tujuh petala langit dan tujuh petala bumi

- kemudian manikam itu jatuh kepada ubun ubun bapa 100 hari

- kemudian manikam itu jatuh kejantung bapa 40 hari

- kemudian manikam itu jatuh ke Hati Nurani Cahaya Haq 7 hari

- kemudian Manikam itu jatuh TA’AYUN HATI berupa air 3 hari

- kemudian manikam itu MERTABAT ZAT pada pinggang bapa 24 jam

- kemudian Manikam itu jatuh kerahim ibu dengan rupa huruf ALIF

- kemudian Manikam itu kepada ALAM RUH berkumpul saperti biji . Itulah sebab ia bernama Manikam

- kemudian manikam bersifat ia bernama ALAM MITHAL. Ini yang bernama saperti Firman Allah : al insanu sirri wa ana sirruhu

- kemudian ia menilik dirinya terlalu indah, lalu lupa kepada dirinya bila bercampur dengan darah ibunya. Maka hilanglah rupa itu dan bernama pula ia ALAM AJSAM yakni Alam Kasar. Kemudian bila sampai janji, keluarlah ia dari kandungan ibunya dan hilanglah rupa yang dilihat maka menangis ia sebab suara inilah bernama ALAM INSAN.

BILA AKHIR HAYAT

Bila akhir hayat kita dapati BERDENYUT-DENYUT PUSAT saperti asap serta kita mendengar ucapan :-

ALASTU BI RAB BIKUM – AH ( Alif Ha ) ANA MA – KAA NA BII MAA KAA NA MASA KAA NA.

Maka jawablah :-

YA ANA LA ILA HA ILLALLAH – 3 kali

Kemudian nampak cahaya KEBESARAN ALLAH maka kita zikir ALLAH – 3 kali

Kemudian kita nampak KALIMAH ALLAH maka kita zikir HU – 3 kali

Kemudian kita dengar UCAPAN TUHAN : ANA ALLAH LA ILA HA ILLALLAH ANA….serta terus kita memandang akan KEBESARAN ALLAH maka kita zikir AH – AH- AH ( Alif Ha ).

Maka tamatlah riwayat kita. Ruh kembali ke Rahmatullah. Hasanul Khatimah.

ALHAMDU …..( Alif – Lam – Ha – Mim – Dal )

ALIF

Huruf ALIF itu WAKTU SUBUH. Nabi Adam a.s cahayanya putih. Malikatnya Jibrael Ruhani. Sahabatnya Abu Bakar & Fatimah Keluar dari huruf ALIF itu DUA RAKAAT kerana TAJALLI Tuhan dua mertabat yakni MERTABAT ZAT atau AHDIAH dan Mertabat SIFAT atau WAHDAH. Istananya dibawah susu kiri . Keluar cahaya pada dahi. Kenyataan pada kita ialah MULUT & LIDAH

LAM

Huruf LAM itu waktu ZUHUR. Nabi IBRAHIM cahayanya Kuning. Malaikatnya MAKRIBUN.Keluar dari huruf Lam itu empat rakaat kerana TAJALLI Tuhan WUJUD – ILMU – NUR – SUHUD. Istananya pada HATI di lambung susu kiri yaitu RUH MAZIFAH. Kenyataan pada kita ialah HIDUNG & MATA

HA

Huruf HA ini waktu ASAR. Nabinya Nabi Yunus a.s Cahayanya Hijau Kuning. Malikaynya MIKAIL. Sahabatnya pula ialah Omar. Keluar dari huruf HA ini empat rakaat yakni API – AIR – ANGIn – TANAH. Istanayna pada LIMPA – Nafsu Jasmani. Kenyataan pada kita ialah BAHU & DADA.

MIM

Huruf MIM itu waktunya MAGHRIB . nabinya ialah Nabi MUSA. Cahayanya MERAH HITAM. Malikatnya ISHDAH & WAHIDIAH. Istananya PARU – PARU Nafsunya Nafsu Haiwan. Kenyataan pada kita ialah MATA ( Cahayanya )

DAL

Huruf DAL itu waktu ISYA’ Nabinya Nabi NUH. Cahayanya HIJAU HITAM. Malikatnya IZRAFIL. Sahabatnya ALI. Keluar dari huruf DAL itu 4 rakaat kerana Tajalli Tuhan DI – WADI – MANI – MA’NIKAM. Istananya HEMPEDU dari bawah lidah hingga keteklinga. Kenyataan pada kita ialah TAPAK KAKI.

TEMPAT ZIKIR PADA TUBUH

ZIKIR QALBI

Dua jari bawah susu kiri = QALBI = HATI

ZIKIR RUH

Dua jari bawah susu kanan = RUH = NYAWA

ZIKIR SIRR

Dua jari bawah susu kiri = SIRR = RAHSIA

ZIKIR KHOFI

Dua jari atas susu kanan = KHOFI = TERSEMBUNYI

ZIKIR AKHFA

Ditengah dada = AKHFA = TERLEBIH SEMBUNYI

ZIKIR NAFAS

Antara 2 kening meliputi sekalian kepala

ZIKIR KHALIAH

Di ubun ubun meliputi sekalian jasad

20 SIFAT DI DALAM DIRI

1 WUJUD

Badan Insan SIFATKU mula jadi menanggung didalam dunia

2 QIDAM

RUH JASMANI kulitku mula jadi meliputi sekalian alam

3 BAQA’

RUHANI dagingku mula jadi menanggung RAHSIA didalam DIRI

4 MUKHALAFATUHU LIL HAWADITH

RUH NIBATI darahku mula menjadi meliputi Alam Sendiri

5 BINAFSIHI

RUH INSAN nafasku mula jadi berjalan ucapan didalam DIRI

6 WAHDANIAT

RUH RABBANI hatiku asal mula jadi TAHU didalam DIRI

7 KUDRAT

RUH QUDUS urat putihku yang tidak berdarah berjalan setiap dalam DIRI-ku

8 IRADAT

RUH KAHFI tulangku asal mula jadi menguatkan Alam Sendiri

9 ILMU

RUH IDHAFI benihku asal mula jadi YANG NYATA didalam CERMIN HAQ

10 HAYAT

RUH NURANI uratku yang meliputi didalam tubuh aku yang hidup alam sendiri.

11 SAMA’

BESI KURSANI pendengaranku asal semula jadi

12 BASAR

PANCARAN MA’NIKAM kalam aku berkata-kata dengan sendiri

13 KALAM

RUH MA’NIKAM menzahirkan perkataan didalam dunia

14 QADIRUN

WUJUD MA’NIKAM tali Ruhku KUNHI ZAT dengan Sifatku

15 MURIDUN

ILMU ALLAH badanku asal mula jadi KALIMAH didalam diriku

16 ALIMUN

DARJAT ALLAH kebesaranku asal mula jadi duduk didalam otak yang putih

17 HAIYUN

Amalan terlebih suci ialah amalan Kalimah Aku asal mula jadi alam diriku

18 SAMIUN

Bersama ZAT & SIFAT WAHDAH didalam Kalimah iman diriku

19 BASIRUN

RAHSIA NYAWA dengan BADANWAHIDAH bersamalah Zat dengan badan tidak bercerai dunia akhirat

20 MUTAKALLIMUN

Ghaib didalam Ka’bah Ghaib aku didalam Ka’bah Kaca Arasy yang putih titik didalam Kalimah.

AWALUDDIN MAKRIFATULLAH

Permulaan agama mestilah MENGENAL ALLAH.

Firman allah :-

Ya Muhammad kenalkanlah DIRI kamu sebelum kamu Mengenal Aku dan sebenar-benar kenal Diri kamu ialah Engakau Kenal Aku

Allah juga Berfirman :-

Ya Muhammad Aku jadikan baharu alam ini kerana Engkau dan Aku jadikan engkau kerana Aku. Maka engkau inilah sebenar-benarnya RAHSIA AKU.

Dengan ini bererti kita mesti berpegang kepada pokok kesimpulan RAHSIANYA itu yakni kita mesti betul betul kepada pengertian dan pemahaman RahsiaNya itu dengan terang dan jelas. Marilah kita renungi Firman Firman Allah saperti berikut :-

Aku tidak memandang kepada rupamu yang cantik…pengetahuanmu yang banyak jika kamu tidak Mengenal Aku maka sia sia sajalah amal kebajikan serta solat kamu yakni umpama debu yang berterbangan diudara ditiup angin

Engkau itu Aku dan Aku itu engkau

Oleh itu saudaraku sekalian kamu tuntutlah betul betul dan pelajarilah dengan sungguh sungguh serta kajilah dengan mendalam agar kamu DAPAT MENGENAL ALLAH dengan sebanar-benarnya. Mudah-mudahan Allah akan mengangkat Darjat kamu menjadi AHLI SUFI dan WALINYA.

Sebanyak manapun kitab kita baca, kaji dan pelajari INTIPATI yang perlu kita dapat dan perolehi hanya EMPAT ( 4 ) PERKARA sahaja yaitu perkara yang membolehkan amal ibadah kita diterima dan diakui oleh Allah SWT.

Perkara itu ialah :-

Pertama

Mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan dengan bukti yang terang dan jelas.

Kedua

sentiasa dalam TUBUH ALLAH dengan bukti yang terang dan jelas juga.

Ketiga

sentiasa mendengar SERUAN ALLAH juga dengan bukti yang jelas dan terang.

Keempat

Datang dari Allah kembali kepada Allah dengan pedoman yang sebenar-benarnya terang dengan bukti yang jelas.

Sesungguhnya keputusan perkara perkara diatas, nampaknya senang dibaca tetapi tiap tiap satu perkara diatas bukanlah mudah diperolehi pemahaman dan pegangan keimanannya walaupun kita telah membaca mengkaji banyak buku, berguru dengan ramai guru, jika kita tidak menemui / ditemukan dengan buku buku dan guru guru yang benar benar dapat memberi petunjuk untuk pemahaman kita secra terang dan jelas.

RAHSIA DI DALAM DIRI

Inilah pada menyatakan bahawa didalam badan manusia itu EMPAT BAHAGI yaitu :-

NAFAS
ANPAS
TANAPAS
NUPUS

Sesungguhnya bagaimana rupa jasmani begitu jugalah rupa NYAWA. 

Manakala Nyawa itu adalah NAFAS dan TANAPAS itu saperti ANPAS. Maka keempat itu berperingkat sampai kepada NUPUS dan Nupus itu saperti rupa ZAT manakala Zat itu saperti rupa SIFAT dan Sifat itu saperti rupa ASMA’ dan Asma’ itu saperti rupa AF’AL.

Dan perkara diatas diakui oleh Allah saperti FirmanNya melalui Hadith Qudsi :-

QA LAL LAH HU TAALA – AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRUHI SI FATI ILLA KHAIRI LIL LAH
Insan itu rahsiaKu dan Aku rahsianya. SifatKu itu Sifatnya tiada ada daripadaku melainkan Allah Taala

Barangsiapa mengenal akan BADANnya ia mengenal akan NYAWAnya. Barangsiapa mengenal akan nyawanya ia akan mengenal akan SIRRnya Barangsiapa mengenal akan Sirrnya akan mengenal akan TUHANnya yang qadim adanya.

Ketahuilah olehmu wahai talib – YANG KELUAR itu bernama NAFAS dan yang dinamai ANPAS itu gerak dari hidung sampai kebawah leher. Dan yang dinamai TANAPAS itu gerak dari bawah leher sampai ke hati. Yang dinamai NUPUS itu didalam Hati. Itulah HAKIKAT NYAWA.

WUJUD

WUJU DU KA ZAHRU WALA YUQA MU BI HI ZAHBU
Barangsiapa mengadakan DUA WUJUD jadi SYIRIK

ANA WUJU DA HU
Ada kita dengan DIA

WA NAF SUHU
Ada DIA dengan sendirinya.

Adapun WUJUD itu AIN ZAT artinya kenyataan kerana lafaznya dibaca itu wujud maknanya ZAT. Ini adalah kerana Wujud itu ADA. Maka yang ADA itu ZAT. Maka tiada diperoleh dengan lafaz yang lain daripada Wujud itu kerana wujudnya itu menyatakan Zatnya. Maka disebabkan itu dikatakan AIN ZAT namanya.

Adapun Wujud itu artinya ADA. Apa yang dikatakan itu ada.
Yang dikatakan itu ialah ZAT.

Adapun Wujud ini ditilikkan pihak lafaznya SIFAT dan jika ditilik pada maananya ZAT dan apa yang dikatakan lafaz itu kerana bacaan itu Wujud ada ZAT. Inilah maananya.

Adapun WUJUD DIRI SENDIRI berdiri dengan ZAT. Apa sebab dikatakan Wujud itu berdiri dengan Zat ? Sebab lafaz wujud itu ada manakala yang ADA itu ialah ZAT.

PERINGATAN TENTANG SEMBAHYANG

Barangsiapa menyembah NAMA TANPA MAANA bahawasanya ia KUFUR

Barangsiapa menyembah MAANA TANPA NAMA bahawasanya ia MUNAFIK

Barangsiapa menyembah NAMA DAN MAANA dengan HAKIKAT MAKRIFAT mereka itulah MUKMIN sabenar benarnya t

Barangsiapa meninggalkan NAMA DAN MAANA bahawasanya mereka itulah ARIFBILLAH

Solah Daim itu ialah solah tanpa huruf tanpa suara tanpa apa apa perbuatan. Ianya ialah kerja HAYAT atau kerja HIDUP. Yang Hidup itu ialah NURULLAH atau Nur Muhammad yakni Nyawa.

PENGERTIAN ALLAH DAN NABI MUHAMMAD MUSTAFFA RASULLULLAH


NABI

Adapun Tubuh Nabi Muhammad itu yang zahir ialah AF’AL daripada ZAT
Adapun nyawa Nabi Muhammad itu SIFAT daripada ZAT ALLAH.

SIFAT

Adapun SIFAT itu NYAWA kepada Muhammad
MUSTAFFA – Adapun hati Mustaffa itu ASMA’ daripada ZAT ALLAH.

ASMA’

Adapun ASMA’ itu Nama NamaNya.

AF’AL

Adapun AF’AL itu Tubuh Nabi namanya AF’AL.

RASULLULLAH – Adapun Rasullullah itulah SIRR daripada ZAT ALLAH SWT.

ZAT

Adapun ZAT itu TUHAN, Rahsia pada Nabi, Cahaya Ilmu Kalam – SIRRULLAH namanya.

Inilah kita bertuhan pada Allah dengan 4 syarat yakni :-

Pertama ZAT ALLAH itu Tuhan pada kita
Kedua SIFAT ALLAH itu NYAWA pada kita
Ketiga ASMA’ ALLAH itu HATI pada kita
Keempat AF’AL ALLAH itu TUBUH pada kita.

Dan TAJALLI Af’al Allah pada Tubuh kita dan Tajalli Asma’ Allah pada Hati kita dan Tajalli Sifat Allah pada Nyawa kita dan Tajalli Zat Allah pada Sirr kita yakni sebenar-benarnya RAHSIA kita adanya.

ASAL RUKUN 13 DIDALAM SOLAT.

Inilah asal Rukun 13 yang wajib diketahui dalam melakukan Solat.
Adapun Rukun Solat itu datangnya daripada ALLAH – BAPA dan IBU.

DATANG DARIPADA ALLAH – 5 PERKARA.

1 Niat
2 Nyawa
3 Wujud
4 Nafas
5 Af’al

Yaitu didalam bentuk Merasa – Mencium – Menjamah – Melihat & Mendengar

DATANG DARIPADA BAPA – 4 PERKARA

1 Tulang
2 Kuku
3 Rambut
4 Rupa

DATANG DARIPADA IBU – 4 PERKARA

1 Darah
2 Daging
3 Otak
4 Lendir

Terhimpun menjadi 13 . maka jadilah Rukun 13 perkara melakukan SOLAT setiap hari memulangkan sekalian HAKNYA sebagai ISI AMANAH yang dipertaruhkan kepada kita.

YANG MATI – YANG HILANG – YANG TINGGAL – YANG PULANG

YANG MATI itu ada 6 perkara yakni – Wujud – Anggota – Hawa – Nafsu – Gerak & Diam.

YANG HILANG pula ada 4 perkara yakni Darah – Daging – Tulang & Kulit

YANG TINGGAL itu ada 2 perkara yakni Iman & Taat

YANG PULANG ada satu sahaja yakni NYAWA. Pulang keempunyanya keasalnya

HENING – QASAD – TAQRID & TA’YUN

HENING itu apa ?

Adapun HENING itu tiada dapat menyerupai dengan CAHAYA yang lain. Adapun JERNIH itu apakala tertenung lantas 7 petala langit dan 7 petala bumi.

Maka dalam cahaya yang HENING JERNIH itu yang terang benderang itulah CAHAYA PUTIH SIFAT saperti terlebih putih daripada kapas bersifat saperti SIFAT KITA.

Ada tanda pada DAHI kita tersurat NAMA ALLAH. Inilah RUH NABI kita

Maka dalam ZIKIR ALLAH syaratnya terhapus sekalian diri dengan keadaan diri kita yang kehambaan bagi RUH NABI saw yang dikatakan sebenar-benar SIFAT ALLAH NUR MUHAMMAD namanya.

Dan cahaya terang benderang hening jernih itulah CAHAYA ZAT ALLAH adanya. Wallah Hu Alam.

QASAD

Adapun QASAD itu MENYATAKAN NIAT tiada huruf dan tiada suara. Yang ada huruf dan suara BUKAN NIAT tetapi ADOM ( ADAM )

Adapun yang sebenar-benarnya NIAT yang tiada huruf dan tiada suara itu ialah ZAT ALLAH. Inilah NIAT yang sebanar-benarnya. Asal Niat dan tempat niat pada zahirnya ialah kita yang berniat tetapi sebenarnya ialah TUHAN YANG MUTLAK yang bersifat WAJIBUL WUJUD KHALIQ AL ALAM lagi ber-Sifat KAMIL MUKAMIL.

TA’RID

Adapun TA’RID itu MENYATAKAN FARDHU. Yang sebenar-benarnya Fardhu itu ialah TAJALLI SIFAT ALLAH ertinya NYATA SIFAT ALLAH itu NUR MUHAMMAD AIN SABITAH pun ia juga namanya, UJUD IDHAFI dan INSAN pun ia juga. Inilah sebenar-benarnya FARDHU itu.

Asal Fardhu ialah RUH NABI MUHAMMAD saw tempat Tajalli sekalian Ruh Adam itu.

Sebab dikatakan ASAL FARDHU yang sebenarnya kerana sekalian nyawa itu tajalli daripada NUR MUHAMMAD saperti kata HADITH QUDSI :-

ANA MINALLAH HU KUL LII SHAI IIN MINAN NUR yang bermaksud

Daku daripada Allah manakala segala sesuatu atau cahaya alam ini daripada cahayaku.

ANA MINALLAHU WAL ANBIYA ……( tidak jelas = fakir ) yang bermaksud :-

Aku daripada Allah sekalian anbia’ daripada aku.

ANA MINALLAHU WAL MUKMINI NAA MIN NI

Aku daripada Allah dan segala / semua mukminin daripada aku

Inilah sebabnya dikatakan MUHAMMAD itu BAPA SEKALIAN RUH dan ADAM itu BAPA SEKALIAN TUBUH / JASAD.

Inilah juga sebab kenapa dikatakan yang Fardhu PADA KITA ITU NYAWA. Nyawa itu PEMERENTAH BADAN. Jika tidak digerak oleh Nyawa tidak bergeraklah badan. Wallah hu Alam.

TA’YUN

Adapun TA’YUN itu menyatakan WAKTU Zuhur, Asar dan lain lain lima waktu itu. Adapun yang sebenarnya NYATA AF’AL ALLAH SWT pada Jasad Adam yaitu Tubuh kita ialah ALAMM RUH YANG KASAR. Itulah sebenarnya TA’YUN yakni sebenar benar NYATA.

TAUHID TAKBIRATUL IHRAM ( TI )

Adapun syarat TI itu hendaklah HADIR MATA HATI SYAHADAT KE ZAT ALLAH SWT.

Sebelum takbir kita NIATKAN didalam Hati yang kita MEMULANGKAN SEKALIAN PANCAINDERA yang dikurniakan kepada kita ( kepada Allah = fakir ) Niatnya ialah Tiada pendengaranku hanya ia ( pendengaran Zat Allah ) tiada penglihatanku hanya ia tiada huruf tiada suara hanya ia tiada ciukmku hanya ia tiada gerak dan diamku hanya ia.

HAKIKAT ZAT AF’AL – HAKIKAT SOLAT

Adapun ertinya SOLAT sebenarnya YANG MENYEMBAH ITU HAMBA, YANG DISEMBAH ITU TUHAN.

Yang menyembah itu FANA’ – yang disembah itu BAQA’. Maka sihamba PULANG KEPADA ADOMNYA. Maka KEKALLAH TUHAN semata-mata pada SUHUD ( pandangan = fakir ) kita.

Yang Menyembah dan Yang Disembah pun ia juga. Yang memuji = DIA Yang Dipuji pun DIA juga kerana Allah SWT Memuji DiriNya sendiri melalui lidah makhlukNya ( Insan )

Maka hamba itu tetaplah FANA’ sebab ditilik sekalian keadaan dirinya habis terpulang kepada Allah – Ilmu, hayat, Kudrat, Iradat, Sam’, Basar, Kalam . Yang ada pada dirinya adalah SIFAT ZAT ALLAH semata-mata.

Adapun Tuhan itu tiada diatas, tiada dibawah, tiada dihadapan, tiada dibelakang tiada dikanan mahupun dikiri.

TIADA HAMBA TIADA TUHAN YANG WUJUD HANYA ZAT ALLAH WAJIBUL WUJUD.

MEMULANGKAN AMANAH.

Hadith Qudsi yang bermaksud :-

1 TUKARKAN CAHAYA DIRIMU KEPADA CAHAYA TUHANMU

2 MATIKAN DIRI KAMU SEBELUM KAMU MATI

Adapun maksud MATIKAN itu ialah MEMULANGKAN AMANAH ALLAH yang ditanggungkan kepada kita. Amanah Allah itu ialah WUJUD KITA YANG KASAR ( Jasad ) dan Yang Menanggung Amanah itu ialah WUJUD KITA YANG BATIN yakni Nyawa dan YANG MENGAMANAHKAN itu ialah ZAT ALLAH.

Adapun SYARAT Memulangkan Amanah Allah itu ialah tatkala kita mengatakan ALLAH itu tarik nafas kita dari dalam FUAD hingga sampai kealam QUDDUS. Alam itu UBUn UBUN dan makam KAB FUSAIN yaitu antara dua bulu kening.

Maka kita tahankan hingga kuat sekalian alam kita merasa hapus wujud kita yang kasar kepada wujud kita yang batin – hapus wujud yang batin kepada ZAT SEMATA-MATA kepada suhud kita.

Maka hapus dan karamlah sekalian SIFAT BASRIAH dalam lautan BAHRUL QADIM hingga nyata Sifat laut semata-mata yaitu Laut Alam Allah. Maka katakanlah ALLAH HU AKBAR . telah fana’ sekalian kelakuan dan diri kita maka nyatalah BAQA’ keadaan ZAT Tuhan semata-mata. Inilah dikatakan SUHUD sehingga sampai kepada SALAM.

Adapun SUHUD itu ertinya PANDANG MATA HATI erti Mata Hati ialah pengetahuan Nyawa. Alam Nyawa itulah sebenar-benarnya IMAN.

Inilah SIRRULLAH yaitu cahaya Alam Ilmu ZAT ALLAH yang tiada huruf tiada suara Wujud Mutlak yakni Wujud Zat Wajibul Wujud.

Dengan ini Jasad kita KAMIL dengan Nyawa kita dan Nyawa Kamil Mukamil dengan ZAT ALLAH

DALIL NAQLI – AYAT AL-QURAN

Telah ada Aku dalam dirimu – betapa tidak kamu lihat ?

SIFAT MAANI & SIFAT MAKNUYAH

A DAERAH KITA MENGENAL DIRI YANG KASAR
ADAM = JASAD YANG KASAR

a. HIDUP Jasad dengan hidup Nyawa
b. TAHU Jasad dengan tahu Nyawa
c. BERKUASA Jasad dengan berkuasa Nyawa
d. BERKEHENDAK Jasad dengan kehendak Nyawa
e. MENDENGAR Jasad dengan mendengar Nyawa
f. MELIHAT Jasad dengan melihat Nyawa
g. BERKATA Jasad dengan berkata Nyawa

B DAERAH KITA MENGENAL DIRI KITA YANG BATIN
MUHAMMAD = NYAWA INSAN

a. HIDUP Nyawa dengan HAYAT Tuhan
b. TAHU Nyawa dengan ILMU Tuhan
c. BERKUASA Nyawa dengan KUDRAT Tuhan
d. MENDENGAR Nyawa dengan SAMA’ Tuhan
e. MELIHAT Nyawa dengan BASAR Tuhan
f. BERKEHENDAK Nyawa dengan IRADAT Tuhan
g. BERKATA Nyawa dengan KALAM Tuhan

PANDANG WUJUD YANG ESA PADA WUJUD YANG BANYAK
ZIKIRNYA HU ALLAH

Adapun Allah itu banyak namaNya kerana Nama Allah yang menjadikan Alam dengan limpah Sifat Sifat diatas. Oleh itu Alam ini ialah Hakikat ZAT YANG ESA.

DALIL DALIL AL-QURAN

WALLAH HU MUHITHU LIL ALAMIN
Adapun Allah itu MELIPUTI sekalian Alam

LA TATA HAR RAKU ZAR RATUN BI IZ NILLAH
Tiada bergerak sesuatu walau sebesar zahrah sekalian melainkan dengan IZIn Allah
WA LA HAU LA WALA QUWWA TA ILLA BILLAH
Tiada DAYA UPAYA melainkan dengan KUDRAT Allah

FA IN NA MA TAL WAL LAU AF SII HIM WAJ JAHULLAH
Dimana kamu hadapkan wajahmu disitu Wajah Allah

Barang kamu pandang pada ini hingga sampai yang menjadikan janganlah terhenti pandang kamu pada sekalian itu hingga sampai kepada yang Menjadikan yaitu ZAT WAJIBUL WUJUD

Jika kamu pandang keadaan diri kamu hendaklah kamu pandang dengan HAYAT Tuhanmu. Jika kamu pandang pengetahuanmu hendaklah kamu pandang ILMU Allah. Apabila kamu pandang kuasamu hendaklah kamu pandang KUDRAT Allah. Begitulah seterusnya dengan pancaindera kamu dan Sifat Sifat MAANI Allah yang lain.

Jika tidak demikian halnya sia sialah pandangan itu dan DERHAKA kamu terhadap Tuhan kamu

ALLAH  - NIAT – AHDAH – WAHDAH – WAHIDIAH
ALLAH – Alif – Lam –Lam- Ha


ALIF itu AHDIAH ZAT

LA TAAYUN pun ia SIRRULLAH pun ia juga. Inilah ASAL NIAT yang tiada huruf dan tiada suara. Inilah USALLI SOLAT artinya Aku Solat Sifatnya NAFSI WUJUD

Adapun ALIF itu dalil menyatakan FARDHU . Inilah maknanya ZAT mertabat INSAN dan AHADIAH. Dengan kebesaran ALIF ini maka jadilah LAM yakni dengan kebesaran dan kekayaan SIFAT ZAT ertinya ESA pada pihak TANZIL.

LAM AWAL = ALIF DIATAS

Adapun ALIF DI-ATAS itu dalil menyatakan SIFAT huruf ALIF diatas. Maka jadilah LAM AWAL maknanya SIFAT SEMATA-MATA mertabatnya WAHDAH yakni TA’AYUN AWAL ertinya NYATA YANG PERTAMA yakni TAJALLI SIFAT ALLAH menjadi NUR MUHAMMAD – AIN SABITAH – WUJUD IDHAFI – INSAN KAMIL pun ia juaga menanggung namaNya ALLAH. Inilah asal FARDHU yang sebenarnya yakni SIFAT MAANI.

LAM AKHIR = ALIF DIBAWAH

Adapun Alif Di-bawah itu dalil menyatakan ASMA’NYA. Huruf Alif dibawah menjadi LAM AKHIR maknanya ASMA’ mertabat WAHIDIAH yang bernama ALLAH yakni TA’AYUn THANI ertinya NYATA YANG KEDUA maka Tajallilah RUH ADAM dengan kebesaran , kelimpahan Ruh inilah menjadi Tubuh Adam daripada huruf Alif Di-Atas.

Maka huruf ini maknanya Zat Alif Di-Atas maka jadilah LAM AWAL maknanya Sifat Alif dibawah. Maka jadilah LAM AKHIR maknanya ASMA’ ALIF didepan. Maka jadilah maknanya AFAL . Maka 4 huruf itu empat Sifat Alif Lam Lam Ha

ALLAH HU AKBAR

ALLAH – ( Alif – Lam – Lam – Ha ) – Empat Sifat

ALIF = ZAT
LAM AWAL = SIFAT
LAM AKHIR = ASMA’
HA = AF’AL

AKBAR – ( Alif – Kaf – Ba – Ra )

ALIF = KAHAR
KAF = JAMAL
BA = JALAL
RA = KAMAL

ALLAH = GHAIBUL GHUYUB

ALIF = LA TA’AYUN = MERTABAT ZAT
LAM AWAL = TA’AYUN AWAL = NUR MUHAMMAD = RUH
LAM AKHIR = TA’AYUN THANI = MERTABAT ADAM = NYAWA
HA = MERTABAT TUBUH = JASAD

ZAT DIRI YSNG BERDIRI SENDIRI .Wujudnya di Alam LAHUT. Zikirnya AH ( Alif Ha ) AH . Ilmunya KAMAL YAKIN

SIFAT DIRI DENGAN ZAT. Wujudnya Alam JABARUT. Zikirnya HU HU. Ilmunya HAQ QUL YAKIN

ASMA’ DIRI YANG TERPERI. Wujudnya di Alam MALAKUT. Zikirnya ALLAH 3 x . Ilmunya – ILMU YAKIN

AF’AL DIRI YANG TAJALLI. Wujudnya diAlam SAHADAH. Zikirnya LA ILA HA ILLALLAH. Ilmunya – ILMU YAKIN.

Jelaslah kewujudan itu sebagai PENZAHIRAN KEBESARAN diriNya.

Dengan wujud itu terzahir pula segala KEINDAHAN JAMAL Allah namanya. Lantas terzahir pulalah CAHAYANYA yang menerangi segala Keindahan itu JALAL ALLAH namanya dengan KEAGUNGAN itu sempurnalah sudah sebagai Kenyataan ALLA HU AKBAR.

DARI … Manuskrip ILMU & MAKRIFAT TOK GURU PERAMU -
ENTRI KEENAM BELAS ( 16 – TERAKHIR. )

HAKIKAT FATIHAH…………….
Ia Menyatakan DIRI


BISMILLAH…………..

Menjadi ia diriNya AR-RAHMAN itu Ya Muhammad , engkau jua keadaan YA RAHIM itu. Ya Muhammad engkaulah kekasihKu. Tiada yang lain.

ALHAMDULULLAH…….

Ya Muhammad yang membaca Fatihah itu Aku. Yang memuji itu pun Aku. Alhamdulillah itu Ya Muhammad Solatmu ganti SolatKu tempat memuji DiriKu sendiri.

RABBUL ALAMIN…………….

Rabbul Alamin itu Aku Tuhan Sekalian Alam.

AR RAHMAN – AR – RAHIM………..

Ya Muhammad yang membaca Ftihah itu Aku yang Memuji itu pun Aku juga.

MALIKIYAU MID DIIN…………..

Ya Muhammad Aku Raja Yang Maha Besar…engkaulah kerajaannya.

IYYA KANA’ BUDU…………….

Ya Muhammad yang solat itu Aku. Aku memuji DiriKu Sendiri..

WA IYYA KAA NAS TAA IIN….

Ya Muhammad tiada kenyataanKu jika engkau tiada…

IH DI NAS SII RATAL MUSTAAQIM…

Ya Muhmammad Awal dan Akhir itu Aku

SIRATAL LAZI NA AN AM TA ALAI HIM..

Ya Muhammad sebab Aku sukakan engkau ialah engkau itu kekasihKu.
GHAI RIL MAGHDU BI ALAI HIM..

Ya Muhammad Aku jadi Pemurah padamu kerana engkau itu kekasihKu

WA LAD DHAL LIN…

Ya Muhammad jika tiada Aku maka tiadalah engkau..

AMIN..

Ya Muhammad Rahsiamu itu Rahsia Aku.

Yakni yang disembah itu tiada suatu juapun didalamnya melainkan Tuhanku. Maka apabila Solat ghaiblah didalamnya . Apabila ghaib ESA-lah ia dengan Tuhannya.

Yang Solat itu tiada dengan lafaz dan maknanya dengan citarasa yang solat amat rapat kepada Zat Yang Esa dengan kata ALLA HU AKBAR.

Maka barangsiapa masuk didalam Solat tiada SERAH Tubuh dan Nyawa-nya maka kekallah Sifat dengan Tuhannya – tiada mengesakan dirinya dengan Tuhannya. Sabda Nabi saw :-

Tatkala kamu Takbiratul Ihram membuangkan lafaz dan makna melainkan Wujud Mutlak semata-mata.

August 4th, 2012

Beliau adalah Saiyid Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Naqieb bin Muhammad bin Ali Al Uraidli bin Ja’far Al Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Imam Al Husain Al Sibth bin Al Imam Ali bin Abi Thalib  dan Fatima Al Zahra Putri Nabi Muhammad SAW.

Biografi Al Imam Al Muhajir
Al Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa lahir di kota Bashra Iraq tempat tinggal keluarga dan sanak saudaranya, para ahli sejarah berselisih tentang tanggal kelahiran Al Imam Al Muhajir, namun Saiyid Muhahammad Dhiya’ Shihab dalam kitab beliau yang berjudul Al Imam Al Muhajir  mengatakan: sejauh pengetahuan kami tak seorang pun yang mengetahui umur Al Imam Al Muhajir secara pas, boleh jadi karena literature yang mengungkapkan hal tersebut telah sirna, akan tetapi dari sedikit data yang kami miliki kami dapat mengambil satu kesimpulan, dan boleh jadi kesimpulan yang kami ambil ini sesuai dengan  fakta, lalu dia mengatkan setelah dipelajari dan diperbandingkan dari sejarah pekerjaan anak-anak beliau dan sebagian guru-guru beliau, bisa disimpulkan bahwa Al Imam Al Muhajir dilahirkan pada tahun 273 H. Saiyid Salim bin Ahmad bin Jindan mengatakan di kitab Muqaddimah Musnad-nya bahwa Al Muhajir belajar kepada Al Nablisi Al basri ketika beliau berumur 4 th, dari sini disimpulkan bahwa beliau dilahirkan pada 279H.
Al Muhajir tumbuh dan berkembang dibawah Asuhan kedua orang tua nya dengan nuansa keilmuan religi yang sangat kental, demikina diungkapkan oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Shatiri, dalam kitabnya Adwaar Al Tarikh Al  Hadhramy.
Masa yang dilalui Al Muhajir adalah masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain, dikatakan bahwasanya Al Muhajir banyak mengambil riwayat dari ulama’ pada zamannya, diantara mereka, Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai, Al Nablisi Al bashri, banyak pula para ulama’ yang mengambil riwayat dari nya seperti Alhafidh Al Daulabi (di bashrah 306H), Ibnu Shaid, Al Hafidh Al Ajury, Abdullah bin Muhammad bin Zakariya Al Aufi Al Muammar Al Bashri, Hilal Haffar Al Iraqi, Ahmad bin Said Al Ashbahani, Ismail bi Qasim Al Hisasi, Abu Al Qasim Al Nasib Al Baghdadi, Abu Sahl bin Ziyad, dan lain-lain.
Sebagaimana disebutkan bahwa masa ini makmur dengan ilmu dan budaya namun disisi lain masa ini pun marak dengan fitnah, pertikaian, bentrok pemikiran dan senjata, Al Muhajir memandang masa itu sebagai masa kritis yang penuh dengan cobaan dan penderitaan, Negara-negara islam mulai meleleh persatuan pandangan dan politiknya, dan berkembang menjadi unstabilitas  sosial dan pertumpahan darah.

Revolusi Negro dan Fitnah Karamitah
Kehidupan Al Muhajir semenjak muda hingga dewasa diwarnai dengan guncangan-guncangan social  dibashrah[1] dan Iraq secara umum, mulai dari revolusi negro yang berawal pada tahun 225, pada masa pemerintahan Negri Abbasiyah, sampai fitnah yang disebarkan oleh Karamitah, sebuah sekte yang dipimpin oleh Yahya bin Mahdi di Bahrain, dia dengan para pengikutnya bekerja keras untuk membiuskan paham-pahamnya disemua lapisan masyarakat dan menggunakan situasi guncang akibat revolusi negro dan  fitnah Khawarij untuk memepercepat pertumbuhan dan  perkembangan mereka.

Terpencarnya Bani Abi Thalib
Seorang Ahli Sejarah, Abdullah bin Nuh menuliskan dalam tambahannya untuk kitab Al Muhajir hal 37 tentang kesaksian Al Muhajir tentang terpencarnya Bani Alawi ke penjuru dunia, seperti India, Sumatra, kepulauan Ujung timur, dan perbatasan cina, yang mana hal ini merupakan sebab tersebarnya agama islam diseluruh dunia.

Kepribadian Al Muhajir di Bashrah[2]
Kepribadian Almuhajir dibentuk oleh suasana yang penuh dengan pertentangan, ilmu, sastra, falsafat, pertumpahan darah, rasa takut, pertikaian disamping giatnya gerakan roda perdagangan dan pertanian, bahkan Almuhajir menyaksikan kapal-kapal besar bersandar di Bashrah dengan membawa barang dagangan hasil bumi, dan orang-orang dari berbagai bangsa. Keluarga Al Muahajir termasu keluarga terhormat yang bersih hatinya, penuh keberanian, kedudukan dan kekayaan dibarengi dengan taqwa dan istiqamah. Saudara Al Muhajir Muhammad bin Isa adalah panglima perang dan pemimpin expansi wilayah islam.

Hijrah Al Muhajir dari Bashrah
Hijrah Al Imam Al Muhajir di dorong oleh keinginan untuk menjaga dan melindungi keluarga dan sanak familinya dari bahaya fitnah yang melanda Iraq diwaktu itu.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Al Muhjir memutuskan untuk hijrah ke hijaz, maka disodorkanlah berbagai alasan untuk meyakinkan keluarga dan sanak familinya untuk meninggalkan bashrah, dan mereka pun menyetujui usulan Al Muhajir. Hijrah Al Muhajir   terjadi pada 317 H dari Bashrah ke Al MAdinah Al Munawwarah. Diantara keluarga dan sanak famili Al Muhajir yang ikut berhijrah bersama Al Muhajir adalah:
1. Al Imam Al Muhajir Ilaa Allah Ahmad bin Isa.[3]
2. Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidli Isteri Al Muhajir
3. Abdullah bin Ahmad putra Al Muhajir
4. Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad  Isteri Abdullah bin Ahmad.
5. Ismail bin Abdullah bin Ahmad yang dijuluki dengan Al Bashry
6. Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah kakek Keluarga Al Ahdal[4].
7. Al Syarif Ahmad Al Qudaimi kakek keluarga Al Qudaim
8. 70 orang dari oarng-orang dekat Al Muhajir diantara mereka: hamba sahaya Al Muhajir, Jakfar bin Abdullah Al Azdiy, Mukhtar bin Abdullah bin Sa’ad, dan Syuwaiyah bin Faraj Al Asbahani.
Rombongan Al Muhajir berhijrah ke madinah melalui jalan Syam karena jalan yang biasa dilalui kurang amandan sampai di Madinah  pada tahun 317, konon di tahun ini terjadi fitnah besar di Al Haramain, gerakan Karamithah masuk ke Makkah Al Mukarramah di musim haji dan membuat keributan di sana serta mengambil hajar aswad dari tempatnya Pada tahun berikutnya 318H Al Muhajir beserta keluarga berngkat ke Makkah untuk melaksanakan Ibadah Haji, konon para jamaah haji pada tahun itu hanya meletakkan tangan mereka di tempat hajar aswad, disaat melaksanakan Ibadah haji Al Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadhramaut, belajarlah mereka dari Al Muhajir ilmu dan akhlak, dan mereka menceritakan kepada Al Muhajir tentang fitnah Al Khawarij di Hadhramaut dan mengajak Al Muhajir untuk membantu mereka menyelesaikan fitnah itu lantas Al Muhajir menjanjikan untuk datang ke negeri mereka.

Perjalanan ke Tihamah dan Hadhramaut.
Hadhramaut pada waktu itu berada dibawah pengaruh Abadhiyah suatu gerakan yang dipelopori oleh Abdullah bin Ibadh Al Maady, gerakan ini pertama kali muncul pada abad kedua hijriah dibawah pimpinan Adullah bin Yahya Al Amawi yang menjuluki dirinya sebagai pencari kebenaran[8].
Al Mas’udi dalam kitab sejarahnya menuliskan “Alkhawarij masuk Hadhramaut dan pada saat itu kebanyakan penduduknya adalah pengikut aliran Ibadhiyah dan sampai saat ini (332 tahun penulisan buku tersebut) dan tidak ada perbedaan antara Khawarij yang ada di Hadhramaut dengan yang ada di Oman. Akan tetapi aliran Ibadhiyah dan Ahlu Sunnah tetap hidup di Hadhramaut  meskipun pengaruh Khawarij lebih menyeluruh di wilayah Hadhramaut samapi datangnya Al Muhajir.
Mengapa Al Muhajir memilih untuk berhijrah ke Hadhramaut?
Dhiya Syihab dalam kitabnya Al Imam Al Muhajir mengatakan, apakah motivasi Al Muhajir untuk berhijrah ke hadhramaut adalah harta? Hadhramaut bukanlah negri yang berlimpah harta dan dia pun seorang yang kaya raya, ataukah  hijrah Al Muahjir adalah untuk membantu rakyat hadhramaut, dan mencegah merembetnya fitnah Karamitah yang terus meluas? Sebenarnya kondisi dan peristiwa-peristiwa diatas adalah alas an utama kenapa Al Muhajir berhijrah ke Hadhramaut, sesuai ayat “Alam takun ardlu Allahi waasi’atan fatuhaajiruu fiihaa” artinya tidakkah bumi Allah itu luas sehingga kamu  berhijrah dan hadist ” yuu syiku an yakuuna khairu maali al muslim ghanamun yatba’u biha sya’afa al jibal wa mawaqi’a alqatar ya firru bidiinihi min al fitan” artinya dikhawatirkan akan dating suatu masa dimana harta yang paling berharga bagi seseorang adalah kambing, dia membawanya kearah pegunungan dan kota-kota untuk melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah. Maka Allah menjadikan hijrah Al Muahajir ke Hadramaut sebagai donator dan petunjuk sebab dengan hartanya Al Muhajir membangun banyak infrastruktuk yang lapuk dimakan zaman dan dengan kehadirannya Allah menyadarkan banyak dari orang-orang yang fanatic buta kepada Kahawarij.

Rombongan Al Muhajir diantara Tihamah dan Hadhramaut.
Saiyid Muhammad bin Sulaiman Al Ahdal salah satu dari anggota rombongan memutuskan untuk menetap di Murawa’ah di Tihamah, sedangkan saiyid Ahmad Al Qudaimy memutuskan untuk menetap di lembah Surdud di Tihamah, dan dengan izin Allah SWT mereka menjadi tonggak berkembangnya keturunan Nabi Muhammad SAW di negri tersebut, adapun Al Muhajir dia tetap meneruskan perjalanan hingga sampai  di desa Al Jubail di lembah Doan, konon penduduknya merupakan pecinta keluarga Nabi Muhammad SAW dan mereka dapat banyak belajar dari Al Muhajir, kemudian pindah ke Hajren disana  terdapat Al Ja’athim termasu kabilah Al Shaddaf yang merupakan pengikut aliran Sunny[10], disana Al Muhajir mangajak semua golongan untuk bersatu di bawah panji islam dan mempererat tali persaudaraan diantara mereka, maka banyaklah diantara orang-orang kahawarij yang sadar dan taubat kembali kejalan yang benar, ketika di Hajren Al Muhajir ditemani dan dibela  oleh para petua dari kabilah ‘afif. Al Muhajir membeli rumah dan kebun korma di hajren yang kemudian dihibahkan ke hamba sahaya nya Syuwaiyah sebelum pindah dari Hajren.
Dan setelah keluar dari Hajren Al Muhajir singgah dan bertempat tinggal di kampung Bani Jusyair didekat desa Bur yang mana penduduknya pada saat itu adalah Sunny, disitu Al Muhajir berdakwah dengan sabar dan sopan, kemudian pindah lagi ke desa Al Husaiyisah dan disana membeli tanah perkebunan yang dinamakan  Shuh di atas desa Bur. Pada periode ini Al Muhajir banyak menarik perhatian orang di daerah itu sehingga mereka banyak mengikut langkah sang Imam, kecuali beberapa golongan dari kahawarij, hal ini yang menyebabkan Al Muhajir mendatangi mereka untuk memahamkan mereka.

Al Imam Al Muhajir dan Khawarij
Hadirnya Al Muhajir di Hadhramaut merupakan  peristiwa besar dalam sejarah, sebab kehadiran Al Muhajir di Hadhramaut membawa perubahan besar di daerah itu, Yaman ketika itu diperintah oleh Al Ziyad di Yaman utara, namun penduduk Hadhramaut memiliki hak untuk menetukan perkara mereka, tidak semua penduduk Hadhramaut pada saat itu bermadzhab Ibadhi, terbukti keluarga Al Khatib dan Ba Fadhal dari Tarim pada saat itu masih berpegang teguh dengan aliran yang benar.
Imam Muhajir selalu berdiskusi  dengan para pengikut Abadhiyah dengan bijaksana dan teladan yang mulia, yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para lawan diskusinya dan menimbulkan simpati mereka, Khawarij adalah mazhab yang menerima diskusi tentang madzhab mereka dan mereka pun banyak berdiskusi dengan para ulama di banyak hal, sedangkan Al Imam Al Muhajir merupakan sosok yang ahli dalam hal meyakinkan lawan bicara. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Saiyid Al Syatiri dalam kitabnya “Al Adwar” halaman 123, sehingga aliran Al Abadhi perlahan-lahan terkikis dan habis di hadhramaut dan digantikan dengan mazhab Al Imam Syafii dalam hal pekerjaan dan Imam Al Asy’ary dalam hal Aqidah.

Adakah persengketaan senjata antara Al Muhajir dan Khawarij?
Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang terjadinya kontak senjata antara Al Muhajir dengan Khawarij, sebagian menyatakan terjadinya hal itu dan meriwayatkan kemenangan Al Muhajir atas kaum Khawarij, sebagian lagi menafikan hal tersebut.
Saiyid Al Syathiri dalam kitabnya “Al Adwar” menafikan terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak, dkatakanjuga bahwa pendapat ini di ambil karena dari sekian referensi sejarah yang ada pada nya tidak satupun yang memaparkan tentang terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak demikian juga para penulis sejarah Hadhramaut dari kurun terakhir[12], adapun Saiyid Dhiya Syihab dan Abdullah bin Nuh dalam kitab Al Muhajir menyatakan terjadinya perang Bahran namun keduanya tidak mencantumkan referensi yang memperkuat pendapat tersebut.
Saiyid Abdul Rahman bin Ubaidillah mengatakan bahwa Al Muhajir dan putra-putra nya terus menrus melancarkan argument-argumen kepada Ibadhiyah sampai mereka kehabisan dalil dan pegangan, dikatakan juga bahwa Al Muhajir melumpuhkan kekuasaan Abadhiyah  dengan cara melancarkan argument-argumen yang membuktikan kesalahan mazhab mereka, Syeh Salim bin Basri mengatakan Al Muhajir membuka kedok bid’ah Khawarij dan membuktikan kesalahannya, pendapat keduanya didukung pula oleh Al Faqih Al Muqaddam.

Al Imam Al Muhajir dan nasab mulianya
Sebagian penulis mengangkat tajuk pada tulisan mereka mengenai nasab Ahlu Bait Nabi Muhammad SAW, banyak diantara mereka yang menanamkan keraguan tentang Ahlu bait, motivasi mereka untuk mengangkat tema itu bermacam-macam diantara mereka ada yang hanya ingin mendapatkan pencerahan sehingga lebih meyakinkan mereka, ada pula diantara mereka yang ingin menjatuhkan Ahlu bait karena iri dan dengki terhadap mereka.
Berangkat dari kenyataan ini Al Imam Al Muhajir sebelum berangkat ke Hadhramaut telah menyusun nasabnya dan anak-anaknya smapai Rasulullah SAW, sebelumnya keluarga Al Muhajir nasab dan silsilahnya sudah terkenal di kota Bashrah, seandainya bukan begitu ini merupakan titik lemah yang bisa digunakan oleh Khawarij untuk menumbangkan dalill-dalil Al Muhajir.
Sepeninggal  Al Imam Al Muhajir beberapa orang ulama Hadhramaut berinisiatif untuk mencari bukti yang membenarkan nasab Al Imam Al Muhajir, Syeh Ba Makhramah dalam kitab tarikh nya mengatakan: Ahmad bin Isa ketika datang di Hadhramaut, penduduk kota itu mengakui kemulyaan dan keagungannya, lantas mereka ingin membuktikan pengakuan mereka lantas 300 orang mufti di Tarim pada saat itu mengutus seorang ahli hadist Al Imam Ali bin Muhammad bin Jadid ke Iraq untuk membuktikan hal tersebut lantas sang imam pulang dengan membawa nasab mulia Al Muhajir.
Saiyid Alwi bin Thohir membeberkan masalah ini di salah satu artikelnya yang di muat di majalah Rabithah Alawiyah(2/3:95M) dan mengatakan, kemulayaan Al Muhajir, keberadaan famili dan handai taulannya di Bashrah, tinggalnya Muhammad putra Al Muhajir di bashrah untuk menjaga harta bendanya, dan putra putri Ali, hasan, dan Husain, kedatangan Saiyid Jadid bin Abdullah untuk melihat harta benda itu, kesaksian penduduk Iraq akan kebenaran nasab Al Muhajir dan pengembangan harta Al Muhajir dari Iraq oleh anak cucunya di Hadhramaut, adanya saudara dan ipar Al Muhajir di Iraq, adanya hubungan yang continyu diantara mereka, adanya kabilah Bani Ahdal dan Bani Qudaim di Yaman, ini semua merupakan bukti akan kebenaran nasab Al Muhajir, tidaklah mudah bagi Saiyid Ali Bin Muhammad bin Jadid  untuk mendapatkan bukti ini sepeninggal kakek-kakenya selama bertahun-tahun bila nasab tersebut tidak terkenal di Bashrah, karena Ali dilahirkan di Hadhramaut bergitu juga Ayahnya Muhammad bin Jadid, akan tetapi hubungan antara mereka dengan keluarga yang di Iraq setelah kepergian mereka tidak putus.
Diantara para penulis yang mengulas luas tentang nasab Al Muhajir da puta-putra nya adalah:
1. Al Majdi, Al Mabsuth, Al Masyjar, yang ditulis oleh Ahli nasab, Abu Hasan Najm Al Diin Ali bin Abi Al Ghanim Muhammad     bin Ali Al Umri Al Bashri, meninggal tahun 443.
2. Tahdhib Al Ansaab, Tulisan tangan Al Allamah Muhammad bin Ja’far Al Ubaidli, meninggal tahun 435.
3. Umdatu Al Thalib Al Kubra, ditulis oleh ahli nasab Al Allamah Ibn Anbah Jamal Al Diin Ahmad bin Ali bin Husain bin Ali bin mihna Al Dawudi.
4. Al Nafhah Al Anbariyah Fi Ansab Khairil Briyah, ditulis oleh Al Allamah Ibn Abi Al Fatuh  Abi Fudhail Muhammad Al Kadhimi, meninggal tahun 859.
5. Tuhfatu Al Thalib Bi Ma’rifati Man Yantasib Ilaa Abdillah Wa Abii Thalib, ditulis oleh Al Allamah Al Muarrikh Abi Abdillah Muhammad bin Al Husain Al Samarqandi Al Makky, meninggal tahun 996.
6. Zahru Al Riyadh  Wa Zalalu Al Hiyaadl, ditulis oleh Al Allamah Dlamin bin Syadqam, meninggal tahun 1085.
Ibn Anbah dan AL Imam Al Murtadla memiliki dua kitab berbeda tentang nasab ini dan belum dicetak, adapun kitab yang ditulis secara modern tentang nasab Ahlu bait antara lain Dirasaat Haula Ansaab Alu bait oleh Saggaf bin Al Alkaff., Tazwiid Al Rawi oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri. Jadi permasalahannya sekarang bukan karena kurangnya literature atau referensi tapi karena hilangnya prinsip amanah dan hantaman dari para pengkhiyanat, juga karena kurangnya tingkat pengetahuan syariah sebagian Ahlu bait dan terpengaruhnya mereka oleh budaya orientalist, yang terus merongrong zona islam.

Meninggalnya Al Imam Al Muhajir
Setelah perjuangan yang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil pula menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, akhirnya Al Muhajir berpulang kehadirat Allah SWT pada tahun 435 H, dan di makamkan di Al Husyaisyiah tepatnya di Syi’b Makhdam, dan dapat diziarahi sampai hari ini.
Dimakamkan pula disekitar Kuba Al Muhajir Saiyid Al Allamah Ahmad Al Habsyi, dahulu diadakan setiap tahunnya peringatan masuknya Al Imam Al Muhajir ke Hadhramaut kemudian peringatan ini sempat terputus, lalu diadakan lagi namun dalam bentuk lebih terbatas, dan pada tahun 1422H ditambahkan nbeberapa peringatan yang sesuai dengan zaman, seperti seminar tentang samapainya Al Imam Al Muhajir di Hadhramaut, yang diisi didalamnya denagn study tentang sosok Al Muhajir, sejarah, ilmu, dan pengaruh perpindahannya ke Hadhramaut dalam kuliah-kuliah yang diadakan di Tarim dan Seiyun, dan harapan kami hal ini akan menjadi adat setiap tahun yang akan membiaskan gambaran ilmu dan sejarah yang telah ditorehkan oleh sekolah Al Muhajir dan orang-orang setelahnya demi membela islam, umat, dan negri.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

Mengenal diri itu adalah “Anak Kunci” untuk Mengenal Allah.  Hadis ada mengatakan;
‘Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah”.
Firman Allah Taala;
“Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami dalam dunia ini dan dalam diri mereka sendiri,  supaya Hakikat itu boleh terzhohir kepada mereka” (Al-Fusilat:53)
Tidak ada perkara yang lebih hampir dari diri sendiri.  Jika anda tidak kenal diri sendiri,  bagaimana anda hendak tahu perkara-perkara yang lain?  Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda,  badan,  muka,  kaki,  tangan dan lain-lain anggota anda itu.  Kerana mengenal semua perkara itu tidak akan membawa kita menegnal allah.  Dan bukan pula mengenal setakat perkara dalam diri anda iaitu bila anda lapar anda makan,  bila dahaga anda minum,  bila marah anda memukul dan sebagainya.  Jika anada bermaksud demikian,  maka binatang itu sama juga dengan anda.  Yang dimaksudkan sebenar mengenal diri itu ialah;

  • Apakah ada dalam diri anda itu?
  • Dari mana anda datang?
  • Kemana anda pergi?
  • Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini?
  • Apakah sebenarnya bahagian dan apakah sebenarnya derita?
Sebahagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan.  Sebahagian pula bersifat Iblis dan sebahgian pula bersifat Malaikat.  Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada;  dan yang tidak perlu.   Jika anda tidak tahu,  maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagian anda itu.

Kerja binatang ialah makan,  tidur dan berkelahi.  Jika anda hendak jadi binatang,  buatlah itu sahaja.  Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia,  pandai menipu dan berpura-pura.  Kalau anda hendak menurut mereka itu,  buatlah sebagaimana kerja-kerja mereka itu.  Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi.  Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.  Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan,  maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan meikirkan Allah Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu.  anda hendaklah tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu.  Adakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?.  Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu,  anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.
Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal yang anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir,  iaitu badan;  dan perkara yang batin iaitu hati atau Ruh.  Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu bukanlah seketul daging yang terletak dalam sebelah kiri badan.  Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu ialah satu perkara yang menggunakan semua keupayaan;   yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kakitangannya.  Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib.  Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya.  Mengenal perkara seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi “Anak Kunci” untuk mengenal Allah.
Sedikit idea tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala perkara yang lain kecuali diri sendiri.  Dengan cara ini,  dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan ”diri yang tidak terbatas itu”.  Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum.  Dalam Al-Quran ada diterang;
Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh.  Katakanlah Ruh itu adalah dari Amar(perintah atau urusan) TuhanKu”. (Bani Israil:85)
Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah jauhar yang tidak boleh dibahagi-bahagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam “Alam Amar”. Ianya bukanlah tidak ada permulaan.  Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Allah.  Pengetahuan falsafah yang tepat berkenaan dengan Ruh ini bukanlah permulaan yang mesti ada dalam perjalanan Agama,  tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu;  seperti tersebut di dalam Al-Quran;
“Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jalan Kami,  nescaya Kami akan pimpin mereka ke jalan yang benar itu”. (Al-Ankabut:69)
Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini,  bagi mencapai pengenalan kepada diri dan Tuhan,  maka

  • badan itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
  • Ruh itu ibarat Raja.
  • Pelbagai deria(senses) dan keupayaan(fakulti) itu ibarat satu ketumbukan tentera,
  • Aqal itu bolehlah diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
  • Perasaan itu ibarat Pemungut Hasil.
  • Marah itu ibarat Pegawai Polis.  Dengan pakaian Pemungut Hasil,  perasaan itu berterusan ingin hendak merampas dan merabuk.  dan marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekasaran.
Kedua-dua mereka ini perlu ditundukkan ke bawaah perintah Raja.  Bukan dibunuh atau dimusnahkan kerana mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan,  tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal,  maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan keupayaan-keupayaan yang bawahnya menguasai keupayaan-keupayaan yang atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim.  Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan den dengannya iaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu.  Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan dizhohirkan dengan bentuk-bentuk yang kelihatan di Hari Pengadilan.

  • Orang yang menurut hawa nafsu terzhohir seperti babi,
  • orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
  • dan orang yang suci seperti Malaikat.
Tujuan disiplin akhlak(moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan marah,  sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan membalikkan Cahaya Allah Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya;
“Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang,  Iblis dan juga Malaikat,  bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah jauharnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?”
Jawabannya ialah jauhar atau zat sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya.  Misalnya keldai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang,  tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keldai kerana kuda itu digunakan untuk peperangan.  Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan,  maka turunlah ke bawah darjatnya kepada darjat binatang pembawa barang-barang. sahaja.
Begitu juga dengan manusia;  keupayaan yang paling tinggi padanya ialah ia boleh berfikir iaitu ia ada Aqal.  Dengan fikiran itu dia boleh memikirkan perkara-perkara Ketuhanan.  Jika keupayaan berfikir ini yang meliputi dirinya,  maka bila ia mati(bercerai nyawa dari badan),  ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah,  dan layak duduk bersama dengan Malaikat.  Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan,  maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang,  tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya,  kerana Al-Quran ada amenerangkan bahawa;
“Kami telah tundukkan segala makhluk di bumi ini kepada manusia”(Luqman:20)
Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia,  maka setelah mati,  ia akan memandang terhadap keduniaan dan rindukan kepada keseronokan di dunia sahaja.

  • Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan.
  • Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu dan Sains;
  • dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekelip mata,
  • dapat memeta langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.
  • Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara,  dan
  • menundukkan binatang-binatang untuk berkhidmat kepadanya seperti gajah,  unta dan kuda. 
Lima deria(pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata(Alam Syahadah) ini.  Lebih ajaib dari itu lagi ialah ia ada Hati.  Hatinya itu ada sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah(Ruh-ruh) yang ghaib.  Dalam keadaan tidur,  apabila pintu-pintu deria tertutup,  pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima khabaran atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan perkara-perkara yang akan datang.  Maka hatinya adalah ibarat cermin yang membalikkan(bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz.  Tetapi meskipun dalam tidur,  fikiran tentang perkara keduniaan akan menggelapkan cermin ini.  Dan dengan itu gambaran yang diterimanya tidaklah terang.  Selepas bercerai nyawa dengan badan(mati),  fikiran-fikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenar.  Betullah firman Allah dalam Al-Quran;

“Kami telah buangkan hijab dari kamu dan pandangan kamu hari ini sangatlah terang dan nyata”. (Surah Qaf:22).

August 4th, 2012

Pembukaan pintu hati terhadap ke Alam Ghaib ini berlaku juga dalam keadaan-keadaan yang hampir dengan Wahyu Kenabian,  di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham terbit dalam fikiran tanpa di bawa melalui saluran-saluran deria(pancaindera) sebagaimana seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi) fikirannya kepada Allah.  Maka semakin bertambah teranglah kesedarannya terhadap Intuisi atau Ilham sedemikian itu.  Mereka yang tidak sedar tentang perkara ini tidak berhak menafikan hakikat tersebut.
Intuisi(Ilham) ini bukanlah terhad bagi mereka Kenabian sahaja.  Ibarat besi,  jika selalu digosok  dan digilap akan menjadi berkilat seperti cermin.  Begitu juga jiwa dan fikiran yang diasuh dengan disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima khabaran dari Alam Ghaib itu.  Sebab itulah Nabi Muhammad SAW. ada bersabda;
“Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan Islam(fitrah),  maka kemudian ibu-bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi”
Tiap-tiap manusia dalam kesedaran batinnya yang dalam itu pernah  mendengar soalan;
Bukankah aku ini Tuhanmu?”   dan mereka menjawab;  ”Ya”,  sebenarnya”  tetapi sesetengah hati adalah ibarat cermin yang penuh berhabuk dan berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-apa di dalamnya.  Tetapi hati Ambiya dan Aulia meskipun mereka itu manusia biasa yang mempunyai perasaan seperti kita,  mereka sangat senang dan cepat menerima semua gambaran atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.
Bukanlah kerana Ilmu yang didapati dari Ilham atau Wahyu atau Intuisi itu sahaja yang menyebabkan Ruh manusia itu boleh menduduki martabat pertama atau paling tinggi di kalangan makhluk,  tetapi juga oleh kerana kekuasaannya(Ruh).  Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai atau memerintah unsur-unsur,  maka begitu jugalah Ruh itu.  Ia memerintah anggota-anggota badan.  Ruh-ruh yang mencapai peringkat kekuasaan yang khusus  bukan sahaja memerintah badan mereka sendiri tetapi juga badan-badan yang lain. Jika mereka hendakkan orang sakit supaya sembuh,  maka sembuhlah ia,  atau orang yang sihat boleh disakitinya;  atau jika mereka inginkan seseorang supaya datang kepada mereka,  maka datanglah orang itu.  Oleh kerana kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua macam;  iaitu baik dan jahat,  maka perbuatan mereka itu pun dibahagikan dua macam juga iaitu Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.
Ruh-ruh yang kuat ini berbeza dari Ruh-ruh orang biasa dalam tiga perkara:
1.  Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi dalam tidur,  mereka lihat dalam jaga.
2.  Orang lain hanya dapat menguasai badan mereka sendiri sahaja.  Mereka ini dapat menguasai badan-badan yang lain dari diri mereka juga.
3.  Ilmu orang lain dapat secara belajar dan mengkaji bersungguh-sungguh.  Mereka ini dapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.
Bukanlah ini sahaja tanda yang membezakan mereka dari orang biasa.  Ada lagi yang lain.  Tetapi itulah sahaja yang kita ketahui.  Sebagaimana juga kita ketahui iaitu Allah itu sahaja yang mengenal  DiriNya Yang Sebenar-benarNya,  begitu jugalah  hanya Nabi-nabi itu juga yang mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya.  Ini tidaklah menghairankan.  Sedangkan dalam kehidupan sehari-harian ini pun kita ada mengalami kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan tidak faham tentang Syair dan Puisi;  atau keindahan warna pada orang buta.
Di samping ketidakupayaan biasa itu,  ada lain-lan lagi yang menghalang seseorang itu mencapai Hakikat Keruhanian.  Satu daripadanya ialah Ilmu yang diperolehi dari luar. Sebagai ibarat,  hati itu adalah sebuah telaga,  dan lima deria ialah lima batang tali air yang sentiasa mengalirkan air ke telaga itu.  Untuk mengetahui isi telaga itu sebenarnya,  taliair itu hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu untuk sementara waktu,  dan sampah sarap yang di bawa oleh taliair itu hendaklah dibuang dari telaga itu.  Demikianlah ibaratnya.
Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat Keruhanian yang suci itu,  maka kita hendaklah sementara waktu mengenepikan Ilmu yang diperolehi dari proses luar(iaitu yang datang dari luar seperti belajar,  membaca dan sebagainya) yang mana selalunya telah menjadi beku dan keras dan bersifat Prasangka Yang Dokmatik(Doqmatic Prejudice).
Di samping itu ada pula satu kesilapan yang dilakukan oleh orang-orang yang singkat IlmuNya,  iaitu setelah mereka mendengar percakapan orang-orang Sufi,  mereka pun merendah-rendahkan taraf ilmu.  Ini adalah ibarat seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu Kimia mengatakan,  ”Kimia itu lebih baik dari emas!”,  dan ia enggan menerima apabila emas diberikan kepadanya.  Kimia lebih baik dari emas,  tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar sangat sedikit bilangannya.  Begitu jugalah ahli-ahli Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit bilangannya.
Orang yang hanya tahu sedikit sahaja berkenaan Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari orang-orang yang berpengetahuan.  Begitu juga orang yang baru mencuba beberapa percubaan dalam bidang Kimia,  janganlah hendak merendah-rendahkan orang yang kaya.
Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu akan melihat betapa kebahagian itu adalah sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Allah Subhanahuwa Taala.   Tiap-tiap anggota kita ini suka dan seronok dengan untuk apa yang sebenarnya ia dijadikan.  Misalnya hawa nafsu suka dengan apa yang dikehendakinya;   marah suka hendak membalas dendam;  mata suka dengan benda yang indah;  telinga suka mendengar muzik yang merdu dan sebagainya.  Fungsi(tugas)  Ruh manusia yang paling tinggi ialah Menyaksi atau Melihat Hakikat,  dan di sanalah ia mendapat keseronokan dan kesukaannya.  Seorang itu amat gembira diberi jawatan Perdana Menteri,  tetapi kegembiraan itu akan bertambah jika Raja berkawan baik dengannya dan menceritakan kepadanya rahsia-rahsia negeri.
Ahli Ilmu Falak(Astronomer) dengan ilmunya dapat membuat peta-peta bintang dan perjalanan falaknya,  akan merasai lebih seronok dari ilmunya itu daripada pemain catur dengan ilmunya.  Tidak ada yang lebih tinggi dari Allah Subhanahuwa Taala.  Alangkah besarnya keseronokan dan kebahgiaan yang didapati oleh seseorang itu hasil dari Makrifat Allah.
Barangsiapa yang sudah hilang kemahuan untuk mencapaai Ilmu yang sedemikian tinggi itu,  maka orang itu adalah ibarat orang yang telah seleranya untuk memakan makanan yang baik-baik;  atau pun seperti orang yang lebih suka memakan tanah daripada memakan roti.  Semua selera badan kasar ini hilang sirnanya apabila mati (bercerai nyawa dengan badan).  Selera itu mati bersama badan kasar itu.  Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan yang ada padanya,  bahkan menambahkan Ilmu itu lagi.
Sebahagian penting berkenaan Ilmu kita tentang Allah adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita tentang badan kita sendiri,  yang membukakan kepada kita kekuasaan,  kebijaksanaan dan Cinta Tuhan Yang Menjadikan segalanya.  KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air djadikan kita  seorang manusia yang cukup lengkap.  KebijaksanaanNya ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya anggota-anggota kita dan saling persesuaian antara bahagian-bahagian anggota itu antara satu dengan yang lain.  CintaNya ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan sahaja anggota-anggota yang paling perlu untuk hidup seperti jantung,  hati,  otak,   tetapi juga anggota-anggota yang tidak paling perlu seperti tangan,  kaki,  lidah dan mata.  Kemudian ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam rambut,  merahnya bibir,  bulu mata yang melentik dan sebagainya.
Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan sebagai ” ALAM KECIL”  dalam dirinya sendiri bentuk dan susunan badan itu hendak dikaji bukan sahaja oleh mereka yang hendak jadi doktor tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang ingin mencapai MakrifatuLlah sebagaimana juga mengkaji dengan mendalam tentang susunan keindahan bahasa dalam Puisi yang agung membukakan kepada kita makin lama makin banyak kebijaksanaan pengarangnya.
Bahawa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan peranan yang lebih penting untuk membawa kepada MakrifatuLlah;  lebih penting dari mengenal badan dan tugas-tugasnya.  Badan ini ibarat kuda tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya.  Badan itu dijadikan untuk Ruh,  dan Ruh itu untuk badan.  Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang mana adalah yang paling hampir dengan Dia,  maka apakah gunanya ia mengenal yang lain?   Ibarat pengemis;  yang dirinya sendiri pun payah hendak makan berkata pula ia boleh memberi makan kepada penduduk sebuah pekan.
Dalam bab ini kita akan cuba sedikit-sebanyak membicarakan keagungan Ruh manusia. Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan bergelap,  maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga. Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya terletak pada keupayaan untuk Maju yang kekal abadi.  Jika tidak,  dalam dunia fana ini,  manusia itulah yang paling lemah dari segala makhluk kerana tertakluk kepada kepada lapar,  dahaga,  panas,  sejuk dan dukacita.
Perkara yang paling ia suka selalunya paling bahaya kepadanya,  dan perkara yang memberi faedah kepadanya itu tidak dapat diperolehi tanpa usaha dan susah payah.  Berkenaan dengan Aqalnya pula,  kesilapan yang sedikit saja pada otak boleh menyebabkan ia gila dan rosak.  Berkenaan kekuasaan pula,  gigitan nyamuk sahaja telah cukup menyebabkan ia resah gelisah dan tidak dapat tidur.  Berkenaan dengan perasaan pula,  dia rasa dukacita hanya dengan kehilangan beberapa sen wang.  Berkenaan dengan kecantikan pula,  dia tidak lebih dari perkara yang kotor dibalut dengan kulit yang licin lunak.  Tanpa dibasuh selalu,  ia menjadi Ain dan tidak menarik lagi.
Pada hikikatnya,  manusia itu dalam dunia ini adalah sangat lemah dan hina.  Hanya di akhirat kelak manusia itu akan bernilai dan berharga.  Jika dengan cara “Kimia Kebahgiaan” dia meningkat naik dari peringkat binatang kepada peringkat Malaikat.  Kalau tidak,  peringkat lebih hina dan rendah dari binatang yang akan hancur dan akan jadi tanah.  Maka perlulah bagi manusia di samping sedar tentang ketinggian martabatnya dari semua makhluk,  sedarlah hendaknya tentang lemah hinanya,  kerana itu pun adalah satu daripada“anak kunci” membuka pintu Mengenal Allah (MakrifatuLlah).

August 4th, 2012

Satu daripada Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah;
“Siapa yang mengenal dirinya,  mengenal ia akan TuhanNya”
Ini bererti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya,  manusia itu boleh sampai kepada mengenal Allah. Tetapi oleh kerana banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan,  maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.
Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pegenalan ini.  Satu daripada cara itu sangat sulit dan sukar difaham oleh untuk orang-orang biasa,  maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini.  Yang satu cara lagi adalah seperti berikut:  apabila seseorang memikirkan dirinya,  dia tahu bahawa ada satu katika apabila ia tidak ada wujud,  seperti tersebut dalam Al-Quran:  “Tidakkah terjadi kepada manusia itu iaitu ada satu ketika apabila ia tidak ada apa-apa?” Selanjutnyaia juga tahu bahawa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal,  pendengar,  penglihatan,  kepala,  tangan,  kaki dan sebagainya dari sini,  teranglah bahawa walaubagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan,  tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri atau pun membuat sehelai rambut.
Tambahan pula jika ia setitik air,  alangkah lemahnya ia?  Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu,  didapatinya dalam dirinya kekuasaan,  kebijaksanaan dan cinta Allah terbayang dalam bentuk yang kecil.  Jika semua pendita dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati,  nescaya mereka tidak dapat mengubah dan membaiki bentuk pembinaan walau satu bahagian pun dari badannya itu.
Misalnya,  dalam penggunaan gigi hadapan dan gigi sisi untuk menghancurkan makanan,  pembinaan lidah,  gelunjur air liur,  tengkuk,  kerongkong,  kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi.  Begitu juga,  fikirkan pula tangan dan jari kita.  Jari ada lima dan tidak pula sama panjang,  empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian,  dan ibu jari hanya ada dua persendian,  dan lihat pula bagaimana ianya boleh digunakan untuk memegang,  mencincang,  memukul dan sebagainya.    Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian,  betapa pula hendak menambah atau mengurangkan bilangan jari itu dan susunannya mengikut cara dan bentuk yang lain.
Lihat pula makanan,  tempat tinggal kita dan sebagainya.  Semuanya cukup dikurniakan oleh Allah yang maha kaya.  Tahulah kita bahawa rahmat atau Kasih Sayang Allah itu sama dengan Kekuasaan dan KebijaksanaaNya,  seperti firman Allah Subhanahuwa Taala.
“RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu”
Dan sabda Nabi SAW.,
“Allah itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya”
Demikianlah,  dari makhluk yang dijadikanNya,   manusia dapat tahu tentang wujudnya Allah;  dari keajaiban badannya,  ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Allah;  dan dari Pengurniaan rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu,  nampaklah Cinta Allah kepada hambaNya.  Dengan cara ini,  mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Allah Subhanawa Taala.
Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Allah.  Begitu juga cara wujudnya ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang cara wujudnya Allah,  iaitu Allah dan ruh itu tidak kelihatan,  tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan,  tidak tertakluk kepada ruang dan waktu,  diluar sempadan kuantiti (bilangan) dan kualiti (kaifiat),  dan tidak boleh diperikan dengan bentuk,  warna atau saiz.  Ada orang merasa payah hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini kerana ianya tidak termasuk dalam bidang kualiti dan kuantiti,  dan sebagainya,  tetapi cuba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah,  suka,  cinta dan sebagainya.  Semua itu adalah konsep fikiran atau tanggapan khayalan,  dan tidak dapat dikenali oleh deria.  kualiti,  kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep Deria(tanggapan pancaindera).  Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal warna,  dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi,  maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Allah itu bukanlah dengan derianya.
Allah itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini.  Dia tidak tertakluk kepada ruang dan waktu,  kuantiti dan kualiti,  dan menguasai segala makhluknya.  Begitu juga ruh itu memerintah badan dan anggotanya.  Ia tidak boleh dilihat,  tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tertakluk kepada tempat tertentu.  Kerana bagaimana pula sesuatu yang tidak boleh dibagi-bagikan itu diletak kedalam sesuatu yang boleh dibagi-bagikan atau dipecah-pecahkan?  Dari penerangan yang kita baca diatas itu,  dapatilah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.:  Allah jadikan manusia menurut rupanya”.
Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Allah hasil dari pemerhatian dan tafakur kita tentah zat dan sifat Ruh,  maka sampai pulalah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Allah Taala dan bagaimana ia muwakilkan Kuasa-Kuasanya kepada malaikat-malaikat,  dan lain-lain, dengan cara memerhati dan bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.
Kita ambil sati misalan:  Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Allah.  Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya.  Kemudian dibawa ke otak oleh tenaga keruhanian.  Maka bentuk perkataan “Allah” itu terdiri dalam bahagian khayalan atau fikiran otak itu.  Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf,  lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena.  Maka tertulislah nama “Allah” atas kertas,  serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.
Begitu juga apabila Allah Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu perkara,  Ia mula-mulanya terzhohir dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai “Al-Arash”.  Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar “Al-Kursi”.  Kemudian bentuknya terzhohir dalam “Al-Luh Al-Mahfuz”.  Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga yang digelar “Malaikat” terzhohirlah perkara itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan,  pokok-pokok dan binatang;  yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Allah.  Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis,  yang menggambarkan keinginan dan kemahuan yang terbit dan terkandung dalam hati;   dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.
Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri.  Allah telah jadikan kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil.  Dan ini adalah satu salinan kecil Diri(Zat)Nya dan KerajaanNya.  Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya;  ketua segala Malaikat itu ialah hatinya;  Kursi itu otaknya;  Luh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau fikirannya.  Ruh itu tidak bertempat dan tidak boleh dibahagikan dan ia memerintah badanya;  sebagaimana Allah memerintah Alam Semester Raya ini.  Pendeknya,  tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan cuai dan lalai mentadbir kerajaan itu.
Berkenaan dengan mengenal ciptaan Allah Subhanahuwa Taala,  ada banyak darjah pengetahuan.  Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memerhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu sahaja.
Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggeakkan pena itu,  iaitu ia tahu bahawa unsur-unsur  itu adalah kuasa bintang-bintang,  tetapi dia tidak tahu bahawa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.
Oleh kerana berbeza-bezanya darjah pandangan manusia itu,  maka tentulah timbul pertelingkahan dalam mengesan natijah atau kesan(akibat) kepada sebab.  Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari sempadan alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja.  Undang-undang alam nyata itu (Fenomena) itu mestilah tetap. Jika tidak,  tidak adalah sains.  Walaubagaimanapun,  adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.
Selagi ada perebezaan ini,  segala itulah pertelingkahan akan berterusan.  Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah.  Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang.  Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras.  Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas.  Tiap-tiap seorang mengganggap bahagian-bahagian itu sebagai kaseluruhan.  Dengan itu,  ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum.  Kesilapan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran,  Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang,  bulan dan matahari untuk disembah.  Lma kelamaan beliau sedar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu,  lalu boleh berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”
Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit.  Misalnya;   jika seseorang itu  tidak lagi cenderung kepada hal-ehwal keduniaan,  segala keseronakkan biasa tidak lagi dipedilikannya,  dan tidak peduli apa pun,  maka doktor mengatakan,  “Ini adalah kes penyakit gundah gulana,  dan ia perlu sekian-kian ubat atau priskripsi.”
Ahli fizik akan berkata “Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab.”
Ahli nujum akan mengatakan bahawa itu adalah pengaruh bintang-bintang.
“Setakat itulah kebijaksanaanya mereka.” Kata Al-Quran,  tidaklah mereka tahu bahawa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Allah Subahana Wataala mengambil berat tentang kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur,  mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ianya berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya.  Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham;   dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.
Doktor,  Ahli Fizik dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing.  Tetapi mereka tidak nampak bahawa penyakit itu  bolehlah dikatakan sebagai “Tali Cinta” yang dengan tali itu Allah menarik AuliaNya kepadaNya.  Berkenaan ini Allah ada berfirman yang bermaksud;
“Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku”.
Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalamaan yang dengannya manusia itu boleh mencapai pengetahuan tentang Allah;  sebagaimana firman Allah melalui mulut Rasul-rasulNya;
“Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan dikepilkan(disertakan) kepada orang-orang pilihanKu”.
Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu,  dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman iaitu;
“Maha Suci Allah” (SubhanaLlah)
“Puji-pujian Bagi Allah (Alhamdulillah)
“Tiada Tuhan Melainkan Allah (La ilaha iLlaLlah)
“Allah Maha Besar” (Allahu Akhbar).
Berkenaan dengan “Allahu Akbar” itu bukanlah bermaksud Allah itu lebih besar dari makhluk,  kerana makhluk itu adalah penzhohiranNya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari.  Tidaklah boleh dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya.  Ianya bermaksud iaitu Kebesaran Allah itu tidak dpat disukat dan diukur dan melampaui jangkauan kesedaran;  dan kita hanya boleh membentuk idea yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.
Jika seorang kanak-kanak bertanya kepada kita untuk menerangkan keseronokkan mendapat pangkat yang tinggi,  kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan kanak-kanak itu tatkala seronok bermain bola,  meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung,  kecuali hanya kedua-dua perkara itu termasuk dalam jenis keseronokkan.  Oleh yanag demikian,  kata-kata “Allahu Akhbar” itu bererti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalaan dan pengetahuan kita.  Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah itu bukanlah sangka-sangka sahaja tetapi adalah dsertai oleh ibadat dan pengabadian kita.
Apabila seorang itu mati,  maka ia bersangkut-paut dengan Allah sahaja.  Jika kita terpaksa hidup dengan orang lain,  kebahagiaan kita bergantung kepada darjah kemesraan kita terhadap orang itu. Cinta itu adalah benih kebahagiaan,  dan Cinta kepada Allah itu dimaju dan dibangun melalui ibadat.  Ibadat dan sentiasa mengenang Allah itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak badan.  Ini bukanlah bererti semua kehendak badan itu dihapuskan;  kerana itu akan menyebabkan hapusnya bangsa manusia.  Apa yang diperlukan ialah membatas atau mengehad kehendak-kehendak badan itu.  Oleh itu seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang Had itu.  Maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam perkara ini,  dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyi Ilahi menentukan batas dan Had yang mesti diperhatikan dalam hal ini.  Siapa yang melanggar batas atau had ini “Menzholimi dirinya sendiri”(Al-Baqarah; 231).
Walaupun Al-Qur’an telah memberi keterangan yang nyata,  masih ada juga orang yang melanggar batas kerana kejahilan mereka tentang Allah dan kejahilan ini adalah kerana beberapa sebab;
Pertama;  ada golongan manusia yang kekal mencari Allah melalui pemerhatian,  lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan.  Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya,  dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau telah sedia ada.  Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka.  Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizik  dan Ahli Kaji Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.
Ada pula setengah orang keana kejahilan tentang keadaan  sebenarnya Ruh itu.  Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadil di sana.  Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu sahaja.
Ada juga orang yang percaya dengan Allah dan Hari Akhirat,  tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah.  Mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
“Allah itu Maha Agung dan tidak ada sangkut-paut dengan kita,  walaupin kita sembah Dia atau tidak;  tidak menjadi apa-apa kepadaNya”.
Fikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan ubat,  tetapi ia berkata; “Apa untung atau ruginya doktor itu jika aku makan ubat atau tidak makan ubat?”.  Memang tidak terjadi apa-apa kepada doktor itu tetapi pesakit itulah yang akan bertambah teruk kerana degilnya.  Badan yang sakit  berakhir dengan mati.  Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan kesiksaan di akhirat nanti,  seperti firman Allah Taala dalam Al-Qur’an yang bermaksud;
“Hanya mereka yang kembali kepada Allah dengan hati yang Salim itulah yang akan terselamat”.
Jenis orang yang tidak beriman yang keempat ialah mereka yang berkata;
“Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah,  jangan menurut nafsu,  jangan bersikap munafik.  Ini tidak mungkin kerana sifat-sifat ini telah memang ada semula jadi pada kita.  Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih”.
Mereka ini sebenarnya bodoh.  Mereka jahil dengan hukum Syariat.  Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu,  tetapi hendaklah ianya dikontrol supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan.  Supaya dengan mengelakkan diri dari dosa besar,  kita boleh memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil.  Sedangkan Rasulullah ada bersabda;
“Saya ini manusia juga seperti kamu,  dan marah juga seperti orang lain”.
Firman Allah dalam Al-Qur’an;
“Allah kasih kepada mereka yang menahan kemarahan mereka”.(Al-Imran:146)
Ini bererti bukan mereka yang tidak ada langsung perasaan marah.
Golongan yang kelima ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuahn sahaja tetapi mengenepikan KeadilanNya,  lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
“Kami buat apa sahaja kerana Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang”.
Mereka tidak ingat meskipun Allah itu Pengasih dan Penyayang,  namun beribu-ribu manusia mati kebuluran dan kerana penyakit.  Meraka tahu,  barangsiapa hendak hidup atau hendak kaya,  atau hendak belajar,  mestilah jangan hanya berkata;  “Allah itu Kasih Sayang”.   tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh.  Meskipun ada firman Allah dalam Al-Qur’an;  “Tiap-tiap makhluk yang hidup itu Allah beri ia rezeki”(Surah Hud:06);  tetapi hendaklah juga ingat Allah juga berfirman;  “Manusia tidak akan mendapat apa-apa kecuali dengan berusaha”.  Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adlah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka bercakap di mulut sahaja,  bukan di hati.
Golongan keenam pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi.  Tetapi kalau anda layan mereka dengan kasar dan tidak hormat,  anda akan dengar mereka merungut bertahun-tahun mengata anda;  dan jika anda ambil makanan sesuap pun yang sepatutunya mereka perolehi dari mereka,  seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka.  Jikalau pun mereka itu sebenarnya telah dapat menakluki hawa nafsu mereka,  mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi,  kerana Nabi Muhammad SAW. sendiri,  manusia yang paling tinggi darjatnya,  sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Allah.  Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga daripada perkara-perkara yang halal pun mereka menghidarkan diri mereka.
Adalah diriwayatkan,  suatu hari Nabi Muhammad SAW.  telah diberi sebiji Tamar.  Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti sama ada Tamar itu ddapati secara halal atau tidak.  Tetapi mereka menelan arak bergelen-gelen banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya menggeletar semasa menulis ini) pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak.  Sesungguhnya mereka telah diheret dan disesatkan oleh Iblis.
Aulia Allah yang sebenarnya mengetahui bahawa orang yang tidak menakluki hawa nafsunya tidak patut dipanggil ”orang” dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati tidak mahu melanggar Syariat sewenang-wenangnya.  Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena,  tetapi adalah sewajarnya dengan pedang.
Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan kehairanan atau tidak sedar,  tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka hairankan itu,  mereka tidak tahu.  Sepatutnya mereka disuruh menungkan kehairanan sebanyak-banyak yang mereka suka,  tetapi di samping itu hendaklah ingat bahawa Allah Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Allah sahaja.