August 4th, 2012

SAYYID ABDULLAH AL HADDAD : MUJADID SUFI ABAD KE 17 & PENGASAS TAREQAT HADDADIYAH

Ia dikenal sebagai seorang mujaddid Islam. Meski sejak kecil mengalami kebutaan, ia tak pernah berhenti belajar. Pemikirannya begitu matang dan mudah dicerna masyarakat awam. Ia juga menulis banyak karya dengan tema beragam. Dalam kehidupan beragama, pandangannya dikenal ramah dan toleran. Dialah Sayyid Abdullah al-Haddad.
Ia di lahirkan di kota Tarim Hadhramaut pada 5 shafar 1044 H. Ayahnya, Sayyid ‘Alwi bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang yang dikenal alim dan saleh. Ibunya seorang syarifah (keturunan langsung perempuan Nabi) bernama Syarifah Salma. Tidak seperti anak-anak lainnya, al-Haddad menghabiskan masa kecilnya untuk menghafal al-Quran, mujahadah al-nafs, dan mencari ilmu. Itu karena saat berusia empat tahun ia terkena cacar yang mengakibatkan kebutaan.
Sejak kecil, ia sudah tertarik dengan dunia sufi. Bahkan, ia selalu “membaca” kitab-kitab Al-Ghazali atau diwan-diwan para ahli dzauq (para sufi). Pada masa itu, ia sudah mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit, seperti mengkaji pemikiran Syaikh Ibn Al-Faridh, Ibn ‘Arabi dan Ibnu ‘Atha’illah. Ia dikenal sebagai murid yang cerdas. Karena itulah, guru-guru al-Haddad selalu memintanya untuk tetap mendampingi ketika majelis sudah usai. Nampaknya, gurunya melihat bakat yang luar biasa pada diri al-Haddad.
Dan memang, isyarat bahwa al-Haddad akan menjadi orang besar sebenarnya sudah diketahui sebelum ia dilahirkan. Suatu ketika, Sayyid ‘Alwi mendatangi rumah seorang ‘Alim bernama ‘Arif billah Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi (kakek dari ibu Al-Haddad).Dalam pertemuan itu, al-Habsyi berkata ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan“. Awalnya, Sayyid Alwi heran mendengar kata-kata ini. Sampai lama, ia tidak mengerti maksud perkataan al-Habsyi. Namun, setelah lahirnya Al-Haddad, ia baru faham. Ia mengatakan, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat ucapan Sayyid Ahmad al-Habsyi. Setelah lahirnya Abdullah, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar al-wilayah (kewalian)”.
Menginjak remaja, pengetahuan al-Haddad tentang sufi kian matang. Bahkan, pemikirannya kerap dijadikan rujukan. Pada usia 25 tahun saja, ia sudah mampu menghasilkan sebuah karya penting. Buku itu bertajuk Risalah al-Muzakarah ma’a Al-Ikhwan Al-Muhibbin min Ahl Al-Khair wa Al-Din. Di dalam buku ini ada beberapa nama besar seperti Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Al-Gazhali, dan beberapa pemikiran para ulama salaf. Pada umur yang sama, ia juga menyelesaikan tulisan yang berjudul Risalah Al-Muawanah wa Al-Muzhaharah yang ditulis sebagai konsumsi masyarakat awam.
Tak berhenti di situ, pada usia 27 tahun, al-Haddad diminta salah seorang tokoh dari kota Syibam untuk menulis sebuah buku pegangan bagi para pengikut tarekat shufiyyah. Buku itu menjelaskan dasar-dasar sebagai murid yang baik, dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam mengarungi dunia tarekat. Sejak buku itu dibaca oleh umum, makin terlihat sosok ketokohan Al-Haddad dalam masalah-masalah sufistik.
Makin maraklah pertemuan-pertemuan ilmiyah yang mendiskusikan buku tersebut. Korespondensi seputar masalah sufistik juga mengalir deras. Sebab itulah, empat bulan setelah penulisan buku tersebut, ia menerbitkan karyanya yang lain, Ittihaf al-Sail bi Jawab al-Masail. Kitab itu memuat berbagai macam pertanyaan berkisar tentang makna tauhid dalam kaitannya dengan salik (perambah sufi) dan wasil, tentang masalah hudhur, fana, hubungan antara ilmu dan hal, hal dan maqam, dan sebagainya.
Namun, kedukaan menerpanya. Pada usia 28, ayah al-Haddad wafat. Tak lama kemudian, ibunya menyusul, pada tahun yang sama, 1072 H. Selanjutnya, ia diambil oleh salah seorang gurunya, Sayyid ‘Umar bin Abd al-Rahman al-‘Aththas. Di bawah bimbingan gurunya ini, pengetahuan al-Haddad bertambah luas.
Setelah menulis beberapa kitab, pandangan al-Haddad seputar masalah sufistik mulai jadi perhatian. Di antara pandangan sufistiknya adalah, seseorang baru bisa dikatakan sufi apabila amal, perkataan, niat, dan moralnya bersih (shafa) dari berbagai macam penyakit hati, seperti riya’, sum’ah, dan sejenisnya. Secara lahir maupun batin, ia selalu ingat dan taat kepada Allah, serta memutuskan segala sesuatu yang dapat melupakan-Nya, baik itu berkaitan dengan keluarga, harta, kedudukan, maupun lainnya. Seorang sufi melakukan semua itu dengan berdasarkan ilmu, al-Quran, sunnah, serta tuntunan para salaf, yang sampai ke derajat kesempurnaan sebagai sufi.
Batasan sufi ala al-Haddad ini nampak begitu sederhana. Namun, sejatinya susah untuk dicapai. Kiranya, dengan penjelasan itu, ia hendak menyindir para pengaku sufi yang sebenarnya belum mampu mencapai maqam-nya. Sebab, kebanyakan dari mereka masih menggantungkan diri pada dunia, pada harta, jabatan atau pun kekuasaan. Mereka juga masih menuruti nafsu sehingga susah untuk membersihkan diri dari penyakit hati.
Seakan tak mau berhenti, meski telah menghasilkan banyak kitab fenomenal, al-Haddad terus menulis. Pada usianya yang ke-45, ia menulis al-Nasa’ih Al-Diniyyah wa al-Washaya al-Imaniyyah yang membahas masalah akidah, fiqih, dan akhlak. Pembahasannya mengikuti metode penulis kitab Ihya’Ulum Al-Din sehingga kitab ini terkesan sebagai ringkasan kitab besutan al-Ghazali itu. Menginjak 56 tahun, al-Haddad menulis Sabil al-Idzdzikar bi ma yamurru bi Al-Insan wa Yanqadhli lahu min Al-A’mar. Menurut riwayat lain, kitab itu ditulis pada usianya yang ke 60 atau 63.
Pada usia 70 tahun, al-Hadad mulai menyelesaikan tulisannya tentang berbagai aspek kehidupan, baik sosial keagamaan, politik ekonomi maupun lainnya. Pada usia ke-81, tepatnya pada pagi hari Kamis, bulan Dzulqa’dah, tahun 1255 H, ia menyelesaikan kitab Al-Nafais Al-Uluwiyyah fi Al-Masail Al-Shufiyyah. Kitab sufistik ini dinilai lebih berbobot. Di antara masalah yang dibahas adalah al-khawatir (kecondongan-kecondongan) bagi seorang wasil (yang telah sampai kepada Allah) dalam kaitannya dengan masalah al-farq dan al-jam’u, hukum perbuatan seorang arif, al-qutb atau al-ghaus tentang hukum khalwah, ‘uzlah, tentang libas al-firqah, tentang batasan al-shidq dan derajat al-shiddiqiyah, tentang af’al al-ibad, dan lain-lain.
Di samping kitab-kitab tersebut, masih banyak kitab-kitab lain yang ditulisnya. Di antaranya adalah kitab Al-Da’wah Al-Tammah, kitab Al-Majmu’, kitab Al-Fushul Al-Ilmiyyah wa Al-ushul Al-Hikamiyyah, kitab Al-Nafayis Al-Ulwiyah fi Al-Masayil Al-Shufiyyah, kitab Risalatul Adab Suluk al-Murid, Al-Fatawa, Al-Durru Al-Manzhum li Dzawi Al-Uqul wa Al-Fuhum, Al-Hikam, Tatsbit Al-Fua’d, dan masih banyak lagi.
Syaikh Al-Haddad juga dikenal sebagai penyair dalam diwan syairnya, al-Durru al-Manzhum li Dzawi al-Uqul wa al-Fuhum yang disusun berdasarkan abjad. Salah satu syairnya di-syarah-i oleh muridnya, Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi dalam bukunya Syarh Al-Ainiyyat(syarah syair-syair yang berakhiran huruf ‘ain). Dalam syarah ini terlihat jelas tentang siapa saja yang dianggfap salaf oleh al-Haddad dan beberapa pendapatnya tentang masalah sufistik. Sebelum wafat, al-Haddad sempat membaca kitab Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makky. Al-Haddad dimakamkan di pemakaman Zanbal, yang dikenal juga dengan pemakaman al-Fuqara’.
Al-Haddad dikenal sebagai seorang sufi yang mencapai derajat tinggi dalam tasawwuf, baik hal dan maqal-nya. Ia dikenal sebagai pembaharu Thariqat ‘Alawiyyah. Di tangannya, thariqat itu dirumuskan menjadi lebih sistematis dan jelas sehingga dapat dijadikan langkah dasar untuk mempersiapkan diri memasuki pemikiran sufistik kaum khawwash. Al-Haddad juga mampu meletakkan thariqat alawiyyah sebagai penyeimbang pendidikan riyadhah al-Qulub ala Imam al-Syadzili dan riyadhah al-Abdan ala Imam al-Ghazali.
Semasa hidupnya, al-Haddad mampu menerjemahkan pemikirannya dalam bahasa masyarakat zamannya sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya. Ia dikenal sangat toleran terhadap pola kehidupan beragama. Ia merupakan tokoh pada masanya yang mampu menempatkan diri, baik sebagai da’i, syaikh, maupun pemikir, sehingga ia membumi di masyarakat. Karena itulah, banyak yang menganggap al-Haddad sebagai seorang mujaddid abad ke-17, tokoh pembaharu yang datang tiap 100 tahun. (Khoirul Muqtafa)

Manaqib Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad Shohibur

Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di provinsi Hadhramaut-Yemen pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim dan di saat beliau berumur 4 tahun, beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkan kedua mata beliau tidak dapat melihat.
Meskipun kedua mata beliau tidak dapat melihat sejak usia dini, beliau tetap tidak memutuskan gairahnya untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan mengisi masa kecilnya dengan berbagai macam ibadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT, sehingga mulai dari sejak usia dini, hidupnya sangat berkah dan berguna.
Ayah beliau, al-Habib Alawi bin Muhammad al-Haddad berkata: “Sebelum aku menikah, aku berkunjung kerumah al-’Arif Billah al-Habib Ahmad bin Muhammad al-Habsyi di Kota Syi’ib untuk meminta do’a. Lalu al-Habib Ahmad menjawabku:
“Awlaaduka Awlaadunaa Fiihim Albarakah”
Artinya: “Putera-puteramu termasuk juga putera-putera kami, pada mereka terdapat berkah.”
Selanjutnya, al-Habib Alawi al-Haddad berkata: “Aku tidak mengerti arti ucapan al-Habib Ahmad itu, sampai setelah lahirnya puteraku, Abdullah dan berbagai tanda-tanda kewalian dan kejeniusannya.”
Semenjak kecil, al-Habib Abdullah al-Haddad telah termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar beribadah. Tentang masa kecilnya, al-Habib Abdullah berkata: “Jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha, maka aku mendatangi sejumlah masjid untuk melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya.”
Kemudian untuk mengetahui betapa besar kemauan beliau untuk beribadah di masa kecilnya, al-Habib Abdullah menuturkannya sebagai berikut: “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita shalihah yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anak kasihanilah dirimu.’ Ia mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah.”
Seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Ketika aku berkunjung kerumah al-Habib Abdullah bin Ahmad Bilfagih, maka ia bercerita kepada kami: ‘Sesungguhnya kami dan al-Habib Abdullah al-Haddad tumbuh bersama, namun Allah SWT memberinya kelebihan lebih dari kami. Yang sedemikian itu, kami lihat hidup al-Habib Abdullah sejak masa kecilnya telah mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu ketika ia membaca Surat Yasiin, maka ia sangat terpengaruh dan menangis sejadi-jadinya, sehingga ia tidak dapat menyelesaikan bacaan surat yang mulia itu, maka dari kejadian itu dapat kami maklumi bahwa al-Habib Abdullah telah diberi kelebihan tersendiri sejak di masa kecilnya.”
Al-Habib Abdullah sering berziarah kubur pada Hari Jum’at sore setelah melakukan shalat Ashar di masjid al-Hujairah. Selain itu, al-Habib Abdullah al-Haddad sering berziarah kubur pada Hari Selasa sore. Setelah usianya semakin lanjut dn dan kekuatannya semaki menurun, maka al-Habib Abdullah tidak berziarah pada Hari Jum’at dan Selasa seperti biasanya, adakalanya beliau berziarah pada Hari Sabtu dan hari-hari lainnya sebelum matahari naik.
Di antara wirid al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad setiap harinya adalah kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAH” sebanyak seribu kali. Tetapi di Bulan Ramadhan dibaca sebanyak dua ribu kali setiap harinya. Beliau menyempurnakannya sebanyak tujuh puluh ribu kali pada waktu enam hari di Bulan Syawal. Selain itu, beliau mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH AL-MALIKUL HAQQUL MUBIIN” sebanyak seratus kali setelah Shalat Dzuhur.
Al-Habib Abdullah berkata: “Kami biasa melakukan shalat al-Awwabin sebanyak dua puluh rakaat.”
Al-Habib Abdullah sering berpuasa sunnah, khususnya pada hari-hari yang dianjurkan, seperti Hari Senin dan Hari Kamis, hari-hari putih (Ayyamul baidh), Hari Asyura, Hari Arafah, enam hari di Bulan Syawal dan lain sebagainya sampai di masa senjanya. Beliau selalu
menyembunyikan berbagai macam ibadah dan mujahadahnya, beliau tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain, kecuali untuk memberikan contoh kepada orang lain.
Selain di kenal sebagai ahli ibadah dan mujahadah, al-Habib Abdullah juga dikenal seorang yang istiqomah dalam ibadah dan mujahadahnya seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. al-Habib Ahmad an-Naqli berkata: “al-Habib Abdullah adalah seorang yang sangat istiqamah dalam mengikuti semua jejak kakeknya, Rasulullah SAW.”
Dalam masalah ini, al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata: “Kami telah mengamalkan semua jejak Nabi Muhammad SAW dan kami tidak meninggalkan sedikitpun daripadanya, kecuali hanya memanjangkan rambut sampai di bawah ujung telinga, karena Nabi SAW memanjangkan rambutnya sampai di bawah ujung kedua telinganya.”
Tentang kesabaran al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, sejak masa kecil beliau sudah mengalami berbagai cobaan, diantaranya adalah ketika ia menderita penyakit cacar sampai kedua matanya tidak dapat melihat. Meskipun begitu, ia rajin mencari ilmu dan beribadah di masa kecilnya, hingga melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap paginya hingga Waktu Dzuhur tiba. Disebutkan bahwa ia selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya, sampai di akhir usianya. Dalam masalah ini beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya:
“Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorangpun yang mengetahui penyakitku ini, sampaipun keluargaku sendiri.”
Tentang Tarekat al-Ba’alawi, al-Habib Abdullah mengatakan:
“Tarekat kami adalah mengikuti tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah dan mengikuti jejak para salafunas shalihin di segala bidangnya.”
Al-Habib Abdullah kembali menjelaskan:
“Kami tidak mengikuti tuntunan, kecuali tuntunan Allah SWT, tuntunan Rasul-Nya dan jejak al-Faqih al-Muqaddam. Dan tarekat orang-orang yang menuju kepada Allah SWT dan kami tidak membutuhkan tarekat selain tarekat ini. Para sesepuh kami al-Ba’alawi telah menetapkan sejumlah petunjuk bagi kami, karena itu kami tidak akan mengikuti petunjuk lain yang bertentangan dengan petunjuk mereka.”
Telah kami sebutkan bahwa di masa kecil beliau, al-Habib Abdullah mengerjakan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Karena itulah tidaklah mengherankan jika Allah SWT memberinya kedudukan sebagai ‘WALI AL-QUTHUB’ sejak usianya masih remaja.
Disebutkan bahwa beliau mendapat kedudukan Wali al-Quthub lebih dari ‘ENAM PULUH TAHUN’. Beliau menerima libas atau pakaian kewalian dari al-’Arif Billah al-Habib Muhammad bin Alawi (Shahib Makkah). Beliau menerima libas tersebut tepat ketika al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, usia al-Habib Abdullah 26 tahun. Kedudukan Wali al-Quthub itu beliau sandang hingga beliau wafat (1132 H). Jadi beliau menjadi Wali al-Quthub lebih dari ’60 TAHUN’.
Beliau menuntut ilmu pada ulama’-ulama’ di zamannya, diantaranya guru-guru beliau adalah: Sayyiduna Al-Quthub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, Al-Habib Al-’Allamah Agil bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Al-’Allamah Abdurrahman bin Syeikh Aidid, Al-Habib Al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahsin Al-Hudayli Ba’alawi, dan termasuk guru-guru beliau juga adalah Al-Imam Al-’Allamah guru besar kota Makkah Al-Mukarromah, Al-Habib Muhammad bin Alwi As-Segaf, dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lainnya.
Beliau memiliki banyak murid, diantara murid-murid belia adalah: Al-Habib Hasan bin Abdullah Al-Haddad (putera beliau sendiri), Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, Al-Habib Umar bin Zain bin Smith, Al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith, Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Bar, Al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Muhammad bin Umar bin Thoha Ash-Shafi As-Segaf, dan masih banyak lagi murid-murid beliau.
Di antara karya-karya tulis al-Habib Abdullah adalah: ar-Risalah Adab as-Suluk al-Murid, ar-Risalatul al-Mu’awanah, an-Nafaais al-’Ulwiyah Fi al-Masailis as-Sufiyah, Sabiilul Iddikar, al-Ithaaf as-Saail, at-Tatsbiitul Fuaad, ad-Da’wah at-Taamah, an-Nasaih ad-Diiniyah, dan masih banyak lagi lainnya.
Dan termasuk wirid-wirid yang beliau susun diantaranya yang sangat terkenal adalah ‘Ratib Al-Haddad’ yang beliau susun di malam Lailatul Qadr tahun 1071 H.
Beliau wafat hari Senin Malam Selasa tanggal 7 Dzulqa’dah 1132 H, dan di makamkan di pemakaman Zambal di kota Tarim-Hadhramaut-Yemen.
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang teramat luasnya dan meridhoinya serta memberi kita manfaat dan barokah beliau serta ilmu-ilmu beliau di dunia dan akhirat. Aamiin..

Karamah Al-Imam Al-’Allamah Al- Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad.

Karamah adalah suatu keistimewaan yang diberikan kepada seorang Wali Allah SWT sebagai karunia khusus baginya, sebagaimana mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi atau Rasul sebagai bukti kenabian dan kerasulannya. Kalau seorang Nabi atau Rasul diperintah memperkenalkan diri dan tugasnya kepada umatnya, dan untuk membuktikan kerasulan atau kenabiannya, maka ia dibolehkan memperlihatkan mukjizatnya, seperti ketika Nabi Allah Musa as di perintah melempar tongkatnya di depan Fir’aun, sehingga tongkatnya berubah menjadi seekor ular.
Berbeda dengan seorang wali dan karamahnya. Ia tidak diperintah memperkenalkan diri dan menampakkan karamahnya kepada orang lain, karena ia tidak diperintah untuk menyebarkan risalah agama. Hanya saja, seorang wali dianjurkan mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Kalau di tengah dakwahnya, ia membutuhkan suatu bukti, maka ia boleh minta diberi karamah, misalnya ketika Sunan Bonang dihadang oleh seorang preman, maka beliau menunjuk tangannya ke atas pohon, dengan izin Allah SWT si preman melihat buah pohon yang ada di atasnya berupa emas, sehingga ia tidak putus-putusnya memandang emas yang ada di atas pohon itu, sampai Sunan Bonang dapat meneruskan perjalanannya dengan lancar. Adapun buah pohon yang berubah menjadi emas adalah karamah Allah SWT yang diberikan kepada Sunan Bonang, sehingga beliau dapat selamat dalam perjalanannya.
Adapun karamah yang diberikan kepada al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad cukup banyak, sehingga kalau diungkapkan satu persatunya, maka akan membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga kami hanya mengungkapkan sebagian kecil saja, seperti yang dapat di baca di bawah ini:
Seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah berkata: “Pada suatu kali aku terlilit hutang yang banyak dan aku tidak dapat melunasinya, karena aku tidak mempunyai uang. Ketika aku menyampaikan keluhanku kepada al-Habib Abdullah al-Haddad, maka beliau berkata: ‘Semoga esok pagi semua hutangmu dapat terlunasi.’ Ternyata keesokan paginya, ada seorang lelaki memberiku sepuluh potong pakaian.Setelah aku
menerimanya, kemudian akupun menjualnya, maka aku mendapat keuntungan yang lebih besar dari jumlah hutangku, semua itu adalah berkah karamah al-Habib Abdullah al-Haddad.”
Salah satu sahabat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Salah seorang yang sangat cinta kepada al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: ‘Aku pernah dirampok sampai semua hartaku habis. Maka akupun mendatangi al-Habib Abdullah untuk meminta tolong dan minta do’a. Ketika aku akan pamitan, maka ia berkata kepadaku, semoga engkau mendapat ganti yang lebih bagus daripada hartamu yang dirampok. Tetapi bacalah setiap paginya ‘YA RAZZAK’ sebanyak tiga ratus delapan puluh kali dan do’a sebagai berikut sebanyak empat kali:
“Allahumma Aghninii Bichalaalika ‘An Charaamika, Wa Bithaa’atika ‘An Ma’shiyatika Wa Bifadhlika ‘Amman Siwaak.”
Maka dengan izin Allah SWA, lelaki itu kembali dalam keadaan yang lebih baik, karena hidupnya lebih baik dan hutang-hutangnya sudah terlunasi. Ia termasuk seorang yang shaleh, bertakwa dan wara’. Ia banyak mengerjakan amal-amal kebajikan, terutama saedekah. Ia sangat yakin kepada al-Habib Abdullah dan kepada orang-orang shaleh. Ia wafat di Kota Syibam pada tahun empat puluh. Semoga Allah SWT merahmatinya dan menempatkannya di surga-Nya yang sangat luas.”
Selain itu, asy-Syeikh Abdullah Syarahil menceritakan kisah asy-Syeikh Umar Bahmid sebagai berikut: “Ada seorang datang mengadu kepada al-Habib Abdullah tentang sakit perut dan darah yang banyak keluar dari duburnya, dan ketika itu aku ada di sisinya. Maka al-Habib Abdullah berkata kepadaku: “Wahai Bahmid, obatilah orang ini.” Maka aku memegang perutnya, kemudian aku meniupnya. Maka penyakit orang itu sembuh pada waktu itu juga. Kemudian penyakit orang itu berpindah kepadaku, sampai aku mengeluh kepada al-Habib Abdullah. Kemudian beliau memberi makanan kepadaku sambil mengusap perutku dengan tangannya yang mulia, maka dengan izin Allah SWT penyakitku segera sembuh pada waktu itu juga.”
Asy-Syeikh Abdullah Syarahil menuturkan, bahwa al-Habib Ahmad berkata kepadaku: “Aku diberitahu oleh al-Habib Ahmad, bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad berkata kepadanya: “Aku melihat ada seorang yang mengeluh sakit gigi dan ia minta do’a kesembuhan darimu.”
Maka aku berkata kepadanya: “Mengapa orang itu meminta do’a kepadaku, padahal engkau masih ada di dekatnya?”
Lalu al-Habib Abdullah mengatakan kepadaku: “Laksanakan saja perintahku.”
“Lalu akupun segera melaksanakan perintahnya, hingga penyakit orang itu sembuh, tetapi rasa sakitnya berpindah pada diriku. Ketika aku menghadap kepada al-Habib Abdullah, maka beliau memberitahuku: “Pdnyakit orang itu sudah sembuh, tetapi rasa sakitnya pindah kepadamu.”
“Memang aku merasakan sakitnya orang itu, namun segera hilang dengan berkahnya,” katanya.
Selain itu masih ada lagi kisah karamah yang dialami oleh al-Habib Abdullah sebagai berikut:
“Disebutkan bahwa ketika al-Habib Abdullah pergi menunaikan ibadah haji, maka ada seekor unta yang melompat-lompat karena emosi, sehingga tidak seorangpun yang berani mendekati dan menungganginya, karena lompatannya sangat keras. Ketika al-Habib Abdullah diberitahu tentang masalah itu, maka beliau mendatangi unta itu dan meletakkan tangannya di lehernya, maka dengan izin Allah SWT, maka unta itu menundukkan kepala kepadanya.”
Salah seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Aku diberitahu oleh salah seorang murid yang selalu mengikuti al-Habib Abdullah al-Haddad: “Pada suatu hari aku keluar untuk mengunjungi seorang syeikh yang dikenal oleh penduduk Kota Tarim dengan nama asy-Syeikh Maula ar-Rakah, dan aku kesana tanpa
memberitahu kepada al-Habib Abdullah lebih dahulu, sehingga aku kesana dalam keadaan demam yang sangat keras. Aku berkata dalam diriku sendiri: “Mungkin penyakitku ini disebabkan aku tidak memberitahu kepada al-Habib Abdullah terlebih dahulu.”
Ketika aku mendatangi al-Habib Abdullah dan mengeluh kepadanya, maka al-Habib Abdullah mengusap badanku dengan tangannya yang mulia. Dengan izin Allah dan berkah al-Habib Abdullah penyakitku segera sembuh dan tidak meninggalkan bekas apapun pada tubuhku.”

Kalam al-Qutub al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad Tentang Menjaga Hati

al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata:
“Hendaknya si murid bersungguh-sungguh menjaga hatinya dari segala bentuk was-was, perasaan yang buruk dan prasangka yang tidak baik. Karena jika perasaan semacam itu masuk kedalam hatinya, maka hatinya akan rusak dan tidak mudah keluar dari badannya.”
Karena itu al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad memerintahkan sang murid untuk bersungguh-sungguh dalam membersihkan hatinya, karena hati termasuk pusat perhatian Allah swt.
al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Hendaknya si murid bersungguh-sungguh membersihkan hatinya dari perasaan senang kepada dunia, dari hasud, dendam, curang dan berprasangka buruk kepada setiap muslim. Hendaknya ia menyayangi imat Islam, perduli kepada mereka, berprasangka yang baik kepada mereka, mengharap kebaikan bagi mereka seperti ketika ia mengharapkannya untuk dirinya dan sebaliknya, ia tidak mengharap keburukan bagi mereka seperti ketika ia tidak mnegharap keburukan bagi dirinya. Dan ia tidak boleh mengharap keburukan bagi kaum muslimin, seperti ketika ia tidak ingin mendapatkannya untuk dirinya.”
Selanjutnya, al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Wahai murid, ketahuilah bahwa hati dapat berbuat maksiat yang lebih keji, lebih buruk dan lebih jahat dari berbagai maksiat yang biasa dilakukan oleh anggota badan. Tentunya hati tersebut tidak dapat menerima ma’rifat dan kecintaan kepada Allah swt, kecuali setelah segala maksiatnya dijauhi oleh hati, diantaranya adalah sombong, riya’, dan hasud.”
Selanjutnya, al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
“Di dalam hati ada sejumlah moral yang banyak tercela. Penyebab utamanya adalah rasa cinta kepada dunia. Mencintai dunia adalah sumber segala kesalahan seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Jika hati seorang tidak mempunyai moral yang tercela, maka hatinya bersih, suci, bercahaya dan indah. Hati semacam itulah yang pantas menerima cahaya ilahi dan melihat segala rahasia-Nya.”

WASIAT-WASIAT AL-HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD

AlhamduliLLah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Menyaksikan segalanya, Maha Pengawas Yang Selalu hadir tanpa pernah absen, Maha Pendamping Yang tiada pernah berpisah dalam pemukiman maupunbepergian, Yang selalu mendorong kaum cerdik cendekiawan untuk mengamati ciptaan-Nya di alam malakut-Nya, di langit dan bumi-Nya yang sarat dengan tanda-tanda kebesaran ayat-ayat-Nya, yang mengandung pengertian dan pelajaran.
Salawat dan salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga beliau yang mulia dan terhormat, sebanyak bilangan gumpalan awan dan curahan hujan dan sebanyak bilangan hembusan angin yang menggerakkan pepohohan.
Ammâ ba’du: Saya berpesan, terutama kepada diri saya sendiri dan kepada anda sekalian para sahabatku tercinta semoga kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Yang Maha Penguasa atas seluruh penguasa, Penyebab dari semua sebab, Yang Tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia, dan tiada suatu tujuan hakiki kecuali kepada-Nya.
Sesungguhnya, orang yang berbahagia itu ialah yang selalu bersandar diri kepada-Nya, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, meletakkan dirinya di dalam kuasa dan kekuatan-Nya, berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada qudrat dan iradat-Nya. Bersungguh-sungguh meletakkan harapan dan keinginan kepada apa yang ada di sisi-Nya.
Adapun orang yang sengsara dan terjauhkan dari segala keberuntungan adalah yang berpaling dari Allah, tiada ingat kepada-Nya, bahkan selalu mengikuti bisikan hawa nafsunya dan mengutamakan dunianya di atas akhiratnya.
Maka pesan saya pertama-tama, hendaklah anda sekalian selalu bertawakal kepada Allah dan percaya sepenuhnya kepada jaminan-Nya, seraya merasa tenteram dalam naungan-Nya, selalu mohon pertolongan-Nya dalam segala urusan, bersandar kepada-Nya dalam segala hal, serta meletakkan harapan dan keperluan dalam lingkup kemurahan dan kurnia-Nya semata-mata.
Dan hendaklah anda sekalian memeutuskan segala harapan dan keinginan dari apa saja berada di tangan orang-orang lain, tidak menunjukkan sedikit pun ketamakan untuk memperoleh apa pun pemberian dari mereka. Namun, sekiranya ada seseorang memberikan hadiah secara ikhlas, terimalah oleh kalian pemberian itu dengan penuh rasa terima kasih kepadanya dan berdoalah untuknya. Nikmatilah seperlunya atau sedekahkanlah kepada orang lain sekiranya tidak kalian perlukan. Meskipun demikian, sekiranya ada keraguan tentang kebaikan sumber perolehan sesuatu yang di hadiahkan kepada kalian, tolaklah dengan cara yang santun.

Mementingkan solat & Zikir 
Hendaklah anda sekalian senantiasa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kelima shalat fardhu seraya memenuhi segala persyaratannya. Shalat adalah tiang agama dan diumpamakan bagai kepala dalam susunan anggota tubuh.
Adapun sebaik-baik cara pemeliharaannya adalah dengan mengerjakannya pada awal waktu dan sedapat mungkin dalam berjemaah. Sedangkan yang paling utama dan menentukan diterimanya solat itu ialah dengan menghadirkan hati di dalamnya di sertai dengan penuh kekhusyu’an. Alangkah buruknya bagi seseorang yang sedang bersolat, apabila anggota-anggota tubuhnya tengah bermunajat dengan Tuhannya, sedangkan hatinya berkelana kesana sini memikirkan ehwal dunianya.

Tetap membaca zikir Ketika dalam Perjalanan Jauh 
Allah Swt. dengan kemurahan-Nya juga telah mneyediakan keringinan bagi hamba-hamba-Nya dalam melaksanakan solat, iaitu solat qasar dan jama’ (yang dibolehkan ketika sedang dalam perjalanan jauh). Maka manfaatkanlah kemudahan seperti itu (sesuai dengan persyaratan dan) pada tempatnya masing-masing kerana Allah Swt. amat suka kemudahan-Nya dinikmati, sebagaimana juga kewajipan-kewajipan-Nya di penuhi. Walaupun demikian, hendaklah kalian tetap melaksanakan semua zikir yang biasa kalian laksanakan setiap hari, sebagaimana yang kalian lakukan di saat sedang tidak bepergian. Oleh sebab itu, hendaklah kalian secara konsisten dan tekun senantiasa memelihara bacaan-bacaan Al-Quran dan pelbagai wirid yang biasa kalian lakukan dalam keseharian kalian. Jangan sekali-kali meninggalkannya. Kalaupun tidak dapat dilaksanakan secara sempurna akibat kesibukan dalam perjalanan, gantikanlah pada kesempatan lain, jika itu termasuk amalan yang dapat diganti (di-qadha’). Atau jika tidak termasuk amalan yang dapat di-qahda’ maka yang demikina itu termasuk dalam keringanan yang diberikan Allah Swt bagi orang musafir, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.:” Apabila seseorang Mukmin dalam keadaan bepergian, atau sedang sakit, maka Allah Swt. memerintahkan kepada malaikat-Nya agar mencatat baginya segala amalnya seperti ketika diamalkannya pada saat-saat ia bermukim dan dalam keadaan sihat wal-afiat”. Ini tentunya merupakan anugerah Allah serta rahmat dan kemudahan-Nya.
Alhamdulillah. Puji syukur ke hadirat-Nya, betapa besar rahmat dan kesayangan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya!

Kesucian Lahir Batin 
Dan hendaklah kalian – disamping memeperbanyakkan zikir kepada Allah Swt pada setiap saat- demikian juga, yang tidak kalah pentingnya, ialah menjaga kesucian batin,d alam erti kebersihan hati dari buruk sangka, dendam dan dengki terhadap sesama muslim atau melakukan penipuan terhadap mereka. Demikian juga hendaklah kalian selalu memperhatikan kesucian lahiriah di setiap saat. Yakni mensucikan diri dari hadas dan najis. Tentang ini, Allah Swt telah mewahyukan kepada Nabi Musa (a.s): “Apabila sesuatu musibah menimpa dirimu, pada saat tubuhmu tidak sedang dalam keadaan suci, maka janganlah menyalahkan selain dirimu sendiri”.
Lakukanlah zikir-zikir secara rutin pada waktu pagi dan sore, kerana zikir adalah benteng dari gangguan syaitan dan penangkal dari berbagai keburukan. Dalam kitab Al-Adzhâr (karya An-Nawawi.-Peny) cukup banyak teks zikir yang di anjurkan, terutama ketika sedang dalam perjalanan jauh, ketika naik dan turun dari kenderaan dan juga pada saat memasuki kota tempat tujuan dan lain-lain sebagainya. Usahakanlah agar mendapatkan kitab tersebut, lalu hafalkanlah bacaan-bacaan yang tertera didalamnya, dan selanjutnya kerjakanlah dengan tekun.

Menghias Diri Dengan Akhlak Yang Baik 
Hendaklah anda sekalian selalu mengutamakan kebersihan hati, kedermawanan dan kasih sayang kepada setiap muslim, serta sikap bersahabat dan ramah tamah kepada siapa saja yang bersahabat dengan kalian. Berupayalah agar kalian selalu membantu setiap muslim dalam memenuhi kebutuhannya, sama seperti mencukupi keperluan diri kalian sendiri.Tanamkanlah dalam diri kalian, kepedulian dan rasa keinginan untuk selalu menyenangkan hatinya. Jangan pula merasa malu atau segam memberikan nasihat dan bimbingan, demi kebaikan akhiratnya. Sebab, perasaan malu untuk melakukan hal seperti itu, sebetulnya bukan malu, melainkan sifat pengecut yang oleh setan dinamakan malu, semata-mata untuk menyenangkan hati orang-orang yang lemah imannya.

Senantiasa Berakhlak Mulia 
Dengan siapa saja kalian bersahabat, utamakanlah budi pekerti yang baik dan sikap lemah lembut kerana semua keluhuran akhlak itu bertumpu pada kelembutan budi dan sikap lapang dada serta mengutamakan kepentingan para sahabat. Dan hendaklah seorang mukmin itu berwatak cepat ridhanya dan lambat amarahnya. Bahkan ciri khas dari sifat utama seorang Mukmin Kâmil (mukmin yang sempurna) ialah tidak akan mudah marah kerana sesuatu yang bekenaan langsung dengan diri peribadinya, melainkan semata-mata kerana sesuatu yang menyangkut pelanggaran terhadap hak tuhannya. Kalaupun seorang mukmin marah kerana sesuatu yang berkenaan dengnan hak peribadinya, maka keimanan yang bersemayam di dalam hatinya akan segera meredam kemerahannya itu. Seorang laki-laki pernah berkata kepada Nabi Saw.: “Ya Rasullallah! Berilah aku nasihat!” Maka beliau pun bersabda : “Jangan marah!” (Ucapan itu beliau ulang-ulang sampau beberapa kali).
Dan hendaklah anda sekalian selalu bersikap tawâdhu iaitu dengan memandang kepada sesama kaum Mukminin dengan pandangan pengnagungan dan penghormatan dan kepada diri sendiri dengan perasaan rendah hati.
Demikian pula hendaknya kalian selalu bersikap tulus ikhlas iaitu dengan senantiasa mengharapkan keredhaan Allah an pahala-Nya semata-mata, pada setiap kali melakukan suatu kebaikan ataupun meninggalkan suatu keburukan sebab barang siapa melakukan suatu perintah Allah Swt. akan tetapi dalam hatinya ingin mendapatkan kedudukan di sisi manusia atau mencar-cari pujian atau menginginkan harta kekayaan mereka, maka ia sudah termasuk kelompok orang yang berbuat riya”. Sedangkan sifat riya’ dalam beramal akan membatalkan amal itu sendiri serta melenyapkan pahalanya.

Memilih Sahabat Yang Berakhlak Baik 
Upayakanlah agar kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia, agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus menggali keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan menziarahi mereka yang sudah tiada, dengan penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Agar dengan demikian diperoleh manfaatnya dan rasa limpahan keberkahan Allah kepada kalian dengan perantaraan mereka itu. Pada zaman ini, memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh dari orang-orang saleh, kerana kurangnya penghormatan dan lemahnya husnuzzhan (persangkaan yang baik) terhadap mereka.
Itulah sebabnya kebanyakan orang di zaman sekarang tidak memperoleh keberkahan dari orang-orang soleh itu, an tidak bisa menyaksikan pelbagai peristiwa menakjubkan yang berasal dari kedudukan mereka yang telah beroleh karâmah (penghormatan dan pemuliaan) dari Allah Swt. Sedemikian rupa, sehingga mereka mengira bahawa pada zaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai ‘wali’.Dugaan yang demikian itu tidak benar sama sekali, Alhamdullillah, para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu, kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Allah dalam hatinya dan mereka yang selalu berhusnuz-zhan terhadap mereka.

Menjauhkan Diri Dari Orang-Orang Yang Berperilaku Buruk 
Hindarilah orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka kerana dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetaka yang akan kalian alami, di dunia maupun di akhirat. Pergaulan seperti itulah yang membengokkan sesuatu yang sudah lurus dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rosaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair : Yang berkudis takkan menjadi sihat kembali akibat bergaul berdekatan dengan yang sihat, namun yang sihat mudah ketularan penyakit akibat bergaul berdekatan dengan yang berkudis.
Memelihara Hati Dan Lidah 
Peliharalah hati kalian masing-masing dati niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk dan berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuh kalian dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam menjaga dan memeilahara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau yang sia-sia; terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa pengunjingan (ghibah) sehingga dinyatakan bahawa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.
Jangan sekali-kali berkata bohong. Sebab kebohongan sangat bertentangan dengan keimanan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis nabi Saw.: “Barangsiapa ingin mengutuk dirinya sendiri, silakan ia berkata bohong”.
Sungguh, bahaya yang ditimbulkan oleh lidah itu amat besar sekali, demikian pula cara mengendalikannya tidaklah mudah. Maka, barangsiapa mendapatkan taufik (pengarahan dan pemudahan dari Allah Swt.) untuk bisa memelihara lidahnya, sungguh ia telah meraih bagian keberuntungan yang amat besar!.

Membaca Al-Quran Secara Rutin 
Hendaklah kalian membiasakan diri dengan sering-sering membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyu’an dan kehadiran hati, di samping menekuni ertinya (tadabbur) dan mengikuti kaedah-kaedah bacaannya (tartîl). Perbanyakkanlah pula – secara khusus-bacaan Surah Yassin, demi memperoleh berbagai kebaikan dan menangkal berbagai keburukan.

Menghindari Kekenyangan 
Jangan sekali-kali memenuhi perut kalian dengan makanan berlebihan. Kekenyangan mengakibatkan kekerasan hati serta kemalasan dalam beribadat, di samping menghalangi hati dari penyiksaan cahaya-cahaya Iiahi dan menjauhkan dari pengaruh positif yang diharapkan dari amalan ibadat dan zikir.

Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umroh 
Hendaklah kalian bersungguh-sungguh dalam menetapkan niat untuk menunaikan ibadah haji (segera setelah memiliki kemampuan untuk itu), guna mengunjungi ka’abah, BaituLLâh Al-aHarâm dan melaksanakan manasik haji, mengagungkan syi ‘ar-syi ‘ar-Nya dan menziarahi makam Nabi-Nya: Muhammad Saw. Dan hendaklah kalian dalam hal ini, benar-benar memfokuskan niat dan tujuan dengna tulus ikhlas hanya untuk ibadah semata-mata, tidak untuk tujuan apa pun selain itu. Jangan sekali-kali mencampur adukkan niat-nat mulia ini dengan suatu tujuan yang lain; seperti ingin berniaga atau berwisata.
Dan ketika sedang dalam ibadah haji, hendaklah sering-sering melakukan tawaf mengelilingi Ka’abah, rumah Allah. Sebab, orang yang mengerjakan tawaf, bagaikan seorang yang sedang menyelam di dalam samudra rahmat Allah Swt. Maka hendaklah kalian tidak menyia-yiakan saat-saat yang baik itu. Penuhilah hati kalian dengan pengagungan terhadap kebesaran Allah Swt., Sang Pemilik ‘rumah’ yang kini kalian sedang berada di hadapannya. Jangan pula menyibukkan hati kalian dengan apa pun juga, terkecuali dengan tilawat Al-Quran, zikir dan doa-doa lain yang telah dianjurkan. Dna janganlah menyia-yiakan waktu kalian dengan berbagai aktivitas yang tidak bermanfaat. Hendaklah kallian dengan sungguh-sungguh dan konsisten mengerjakan berbagai zikir, bacaan dan doa-doa yang biasa diucapkan secara khusus ditempat-tempat tawaf, sa ‘i dan lain-lain yang bekaitan dengan Ibadah Haji. Selain itu, alangkah baiknya bila kalian juga menaruh perhatian khusus untuk menyaksikan tempat-tempat bersejarah yang memiliki nilai sangat agung.
Perbanyak pula Umroh, bila ada kesempatan untuk itu, terutama pada bulan suci Ramadhan. Sebab, satu kali umroh pada bulan Ramadhan, pahalanya sepadan dengan pelaksanaan ibadah haji bersama Rasulallah saw.
Dan hendaklah kalian lebih-lebih menjaga kesopanan yang tinggi selama berada di Tanah Suci (Al-Haramain) dan bersikap ramah tamah dan santun terhadap penduduk setempat. Hargailah kemuliaan yang mereka peroleh kerana bertetangga dengan Rasulallah Saw iaitu dengan cara selalu berbaik sangka terhadap mereka khususnya, dan terhadap kaum Muslimin pada umumnya.
Kalaupun kalian adakalanya menyaksikan atau mendengar di sana, sesuatu yang tidak berkenan di hati, sebaiknya bersikap menahan diri dan bersabar, serta tidak perlu memberikan komentar yang negatif. Akan tetapi jika mampu mengatakan yang benar, ungkapkanlah hal itu. Sebab, ajaran islam tidak membolehkan seseorang mukmin berdiam diri menghadapi suatu yang bathil kecuali dalam keadaan terpaksa, dan meyakini ketidakmampuannya untuk mencegah. Dan alangkah bahagianya orang yang telah mempu memusatkan niat secara bulat dalam pengabdiaannya kepada Allah, tanpa terpengaruh oleh perilaku buruk yang melanda orang-orang di zaman sekarang, yang bertentangan dengan perilaku para salaf saleh. “Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang benar-benar mendapat petunjuk, dan barang siapa yang di sesatkan-Nya, maka tak akan ada baginya seorang pemimpin pun yang memberi petunjuk kepadanya “ (QS.:18:i7)
Selain itu, hendaklah kalian tidak menyia-yiakan kesempatan untuk beramal dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya selama berada di Kota Makkah, mengingat bahawa setiap amal kebaikan yang dilakukan disana akan dilipat gandakan pahalanya sampai seratus ribu kali kelipatan. Penggandaan pahala seperti ini sebetulnya disebutkan dalam sebuah hadis Rasullulah Saw. Khusus berkaitan dengan ibadat shalat. Akan tetapi sebagian ulama memahaminya sebagai sesuatu yang bersifat umum, meliputi semua amal kebaikan yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni demi meraih keridhaan Allah semata-mata.
Namun perlu diingat, baawa sebagaimana amal-amal kebaikan di kota suci Makkah di lipat-gandakan pahalanya oleh Allah, demikian juga sebaliknya perbuatan-perbuatan maksiat di sana pun akan dilipat-gandakan dosa-dosanya. Sedemikian rupa, sampai-sampai sebagian ulama salaf mengatakan; tidak ada suatu tempat di mana ‘niat melakukan maksiat’ saja akan menghadapi tuntutan,s elain kota Makkah. Dalilnya, menurut mereka adalah, firman Allah Swt. dalam Surat Al-Hajj: 25, “Barang siapa bermaksud didalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”.
Abdullah Bin Abbas (r.a) pernah berkata : “Bagiku lebih baik melakukan perbuatan dosa sebanyak tujuhpuluh kali di suatu tempat (selain Makkah), daripadanya melakukannya satu kali di Makkah”.
Semoga Allah selalu menjaga kota suci itu, menambah keagungan dan kehormatannya serta kebesaran dan kemuliaannya!
Diriwayatkan bahawa ketika Rasullullah Saw. Melaksanakan ibadah haji, beliau mengenderai seekor unta berpelana usang, berlapis kain yang harganya tidak mencapai empat dirham. Dan ketika pulang, beliau bersabda, “Ya Allah, jadikanlah ini haji mabrur, tidak tersisip didalamnya perasaaan riya’ atau ingin ketenaran.”
Demikian pula Umar bin Khattab r.a., selesai melakukan tawaf di Ka’bah, ia mencium Hajar Aswad lalu menangis, kemudian berkata : “Demi Allah, aku sedar bahawa engkau ini batu, tidak bisa membawa manfaat ataupun mudarat. Kalau saja tidak kerana aku pernah menyaksikan Rasullullah saw. Melakuka seperti ini (yakni mencium Hajar Aswad), niscaya aku tidak akan melakukannya. Kemudian ia menoleh ke belakang dan melihat Ali bin Abi Talib (karramallahu wajhah). Maka Umar pun berkata kepadanya: “Hai Abu’l-Hasan (julukan Ali bin Abi Thalib r.a.), di sinilah tempat mencucurkan air mata.” Tetapi Ali r.a. berkata kepadanya, “Sesungguhnya Hajar-Aswad ini, wahai Amirul-Mukminin, bisa membawa manfaat dan mudarat. Kerana ketika Allah Swt. , mengambil ikrar anak-cucu keturunan Adam s.a. dan berkata kepada mereka, “Bukankah Aku ini tuhan kalian?’, Ia menuliskan suatu tulisan (yang berisi ikrar mereka itu) lalu menyimpannya di dalam batu ini. Maka batu ini pun bersaksi bagi siapa-siapa yang menciumnya (atau menyentuhnya) dengan keyakinan yang benar.”
Seorang laki-laki bertemu dengan Abdullah bin Umar r.a. ketika sedang mengerjakan tawaf lalu mengutarakan suatu keperluan kepadanya. Tapi Abdullah tidak menghiraukannya, sampai berjumpa lagi dengannya setelah itu, dan berkata kepadanya: “Saya tahu bahawa anda telah kecewa ketika saya tidak mengindahkan pembicaraan anda saat itu. Tidakkah anda mengetahui bahawa kita ini-pada saat bertawaf-sedang berhadapan dengan Allah Swt?! bagaimana pun juga keperluan anda itu telah terkabulkan!”
Pada suatu ketika, Ali bin Al-Husain r.a. (cucu Rasullullah Saw) melihat Hasan Al-Basri di Masjid’l Haram sedang bercerita dihadapan orang banyak. Ia pun berhenti lalu berkata kepadanya, “Wahai hasan, adakah anda telah rela sepenuhnya dan menyiapkan diri menyongsong kematian?”
“Tidak!” jawab Hasan Al-Basri.
“Lalu, ilmu anda untuk dihisab?”
“Tidak!” jawab Hasan lagi.
“Apakah Allah Swt.memiliki ‘rumah’ yang menjadi tujuan manusia dari berbagai penjuru selain ‘rumah’ ini?” tanya Ali bin Husain lagi.
“Tidak!”
“Kalau begitu, mengapa anda menyibukkan orang-orang dengan mendengarkan cerita-cerita anda itu sehingga mereka terhalang dari melakukan tawaf?”
Mendengar itu,Hasan Al-Basri segera meninggalkan tempat itu dan tidak pernah lagi bercerita selama berada di Kota Makkah.
Thawus berkata, “Aku pernah menyaksikan Ali Zain’l-Abidin Ibn’l-Husain (cucu Rasullullah saw.) di tengah malam, sedang shalat di Al-Hijr (berhadapan dengan Ka’bah). Aku mencuba mendekatinya seraya bergumam dalam hati: “Ini seorang saleh dari keluarga Rasullullah Saw. Moga-moga saya mendengar sesuatu yang bermanfaat dari beliau. Lalu kudengar beliau berdoa dalam sujudnya: “Ya Allah, hamba-Mu yang peminta-minta ini berada di halaman rumah-Mu, hamba-Mu yang miskin di halaman rumah-Mu; hamba-Mu yang fakir di halaman rumah-Mu!’ Sejak itu, tak pernah lagi do’a yang kupanjatkan untuk meminta sesuatu yang kumulai dengan kalimat-kalimat itu, kecuali pasti terkabul.”
Diriwayatkan bahawa ketika Ali Zain’i-Abidin r.a. memulai ihramnya dan hendak mengucapkan talbiyah (yakni, Labbaik Allahumma Iabbaik, yang berarti: Aku di sini memenuhi panggilan-Mu, ya Allah) tiba-tiba seluruh tubuhnya bergemetaran, dan wajahnya pucat pasi, kemudian ia terjatuh dari kenderaannya dalam keadaan pengsan. Ketika ditanyakan kepadanya setelah itu, “Mengapa demikian?” ia menjawab, “Aku amat khuatir dan takut bila mengucapkan talbiyah, akan dikatakan kepadaku:”Kedatanganmu tak diterima!”
Salim putera Abdullah bin Umar pernah berada di dalam bangunan Ka’bah bersama dengan Hisyam bin Abdul Malik, yang ketika itu menjabat sebagai Amir (walikota Madinah). Kepada Salim, Hisyam bertanya:”Mintalah apa saja keperluanmy dariku!”
“Aku pun merasa malu meminta sesuatu dari siapa pun selain dari Allah SWT., sementara aku berada di-rumah-Nya.”
Kemudian setelah mereka berdua keluar Ka’bah, Hisyam berkata lagi: “Sekarang kita sudah berada diluar Ka’bah. Ajukanlah keperluanmu!”
“Yang anda maksud keperluan duniawi atau ukhrawi?” tanya Salim.
“Aku tidak memiliki sesuatu kecuali dunia.” Jawab Hisyam.
“Aku tidak pernah meminta dunia dari Dia yang menciptakannya; bagaimana mungkin aku memintanya dari selain-Nya?!”
Pada suatu ketika, Hasan Bin Ali (cucu Rasullulah Saw) lewat di depan Thawus yang sedang mengisi Majlis Ilmu di suatu kelompok besar di dalam masjid’l-Haram. Ia langsung mendekati Thawus dan membisikkan kepadanya, “Jika pada saat ini anda merasa bangga dengan diri anda, segeralah bangkit dan tinggalkanlah tempat ini!” Mendengar itu, Thawus pun segera bangkit dan meninggalkan majlis itu.
Wuhaib bin Ward mengisahkan: “Pada suatu malam, aku sedang melakukan tawaf di sekeliling ka’bah, ketika tiba-tiba mendengar suara yang berasal dari balik tirai penutup Ka’abah : “Aku mengeluh kepadamu, wahai Jibril, dari ucapan-ucapan sia-sia dan pengunjingan kelompok-kelompok manusia yang bertawaf di sekelilingku. Jika mereka tidak mahu berhenti dari perbuatan mereka itu, aku benar-benar akan bergetar sekeras-kerasnya, sehingga batu-batu di sekitarku akan berguguran dan kembali ke tempat asalnya.”
Diriwayatkan oleh seorang dari kalangan orang-orang soleh, “Aku pernah melihat seorang laki-laki sedang melakukan tawaf dan sa’i dikelilingi beberapa pemuda yang mengawalnya dan mendorong-dorong orang –orang yang berada di sekelilingnya. Beberapa waktu setelah itu, aku melihatnya lagi di kota Baghdad, sebagai pengemis yang meminta-minta dari para pejalan. Maka aku pun bertanya kepadanya:”Mengapa keadaan anda seperti ini?” Katanya: “Dahulu aku telah berlaku sombong di suatu tempat yang seharusnya manusia bersikap rendah hati, maka Allah telah menghinakan diriku di tempat yang biasanya orang-orang berlaku sombong”.
Seorang lainnya dari mereka menceritakan pengalamannya: “Aku pernah melihat seorang fakir di dalam Masjid’l Haram, yang tampak jelas di wajahnya tanda-tanda kesalahan, sedang duduk di atas sejadahnya. Ketika itu aku kebetulan membawa sejumlah wang, yang segera aku letakkan di atas sejadahnya sebagai sedekah, seraya berkata kepadanya: “Semoga anda bisa menggunakan ini sekadar keperluan anda”.
Tetapi ia segera berkata-kata kepadaku: “Hai, sesungguhnya aku telah membeli tempat ini hanya demi Allah semata-mata, dengan harga beribu-ribu dan kini anda hendak mengusirku dari sini?’ Bersamaan dengan ucapannya itu, ia menepiskan sejadahnya dan segera bangkit dan pergi meninggalkan tempatnya. Sungguh, tidak pernah aku melihat seseorang sedemikian mulianya ketika ia beranjak pergi. Dan tidak pernah pula ada orang yang sedemikian hinanya lebih daripada diriku sendiri ketika berusaha memungut kembali wangku yang berhamburan.”
Ibrahim Bin Ad-han mengisahkan bahawa apda suatu malam fi musim penghujan, keadaan tempat bertawaf di sekitar Ka’bah sunyi sepi dari manusia. Aku pun bertawaf seraya berdoa : “Ya Allah, berikanlah aku ‘ishmah( penjagaan penuh dari Allah Swt) agar aku tidak lagi berbuat pelanggaran terhadap-Mu!” Tiba-tiba terdengar suara berseru: “Wahai Ibrahim! Engkau meminta ‘ishmah-Ku sementara hamba-hamba-Ku seluruhnya meminta hal yang sama. Padahal, jika aku memberikannya kepada kalian semua, siapa lagi Aku akan memberikan anugerah-Ku dan kepada siapa pula akan Ku-berikan ampunan-Ku?”.
Pada suatu hari, Al-Hasan sedang berwukuf di A’rafah, di tengah terik matahari yang menyengat, ketika seorang laki-laki berkata kepadanya, “Tidakkah sebaiknya anda beralih saja ke tempat yang teduh?”. Dengan terheran-heran Al- Hassan berkata, “Apakah aku kini sedang berada di bawah terik matahari? Sungguh aku teringat satu dosa yang pernah aku lakukan, sehingga aku tidak lagi merasa kan panasnya terik matahari!” padahal, waktu itu, pakaiannya telah basah kuyup kerana peluh yang seandainya diperas, nescaya akan mengalir. Sedangkan dosa yang ia maksud itu mungkin hanya merupakan selintas fikiran yang tercetus begitu saja, yang seandainya terjadi atas orang selainnya, tentu tidak dianggapnya sebagai dosa yang sekecil apa pun. Oleh sebab itu, perhatikanlah betapa besar penghormatan dan pengagungan mereka dari kalangan salaf itu terhadap Tuhan mereka dan betapa jauhnya mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya!
Telah disampaikan pula kepada kami, tentang seorang dari kalangan shalihin itu, yang memungut tujuh buah batu dari padang “Arafah, kemudian meminta kesaksian dari ketujuh batu itu, bahasanya ia benar-benar telah bersaksi dengan kesaksian bahawa ‘tiada tuhan selain Allah’, Pada malam harinya, ia bermimpi seolah-olah berdiri di hadapan Allah Swt. untuk dihisab. Lalu jatuhlah vonnnis atas dirinya agar ia dibawa keneraka. Namun didalam pelaksanaannya, setiap kali ia sampai di depan salah satu pintu dari ketujuh pintu neraka itu, datanglah sebuah batu menutupi rapat-rapat pintu itu. Ia pun menyedari sepenuhnya, bahawa batu-batu itulah yang telah pernah minta kesaksiannya atas tauhidnya kepada Allah swt. Kemudian datanglah syahadat La Iiaha IllaLLah yang membuat pintu syurga terbuka lebar untuknya.
Dikisahkan dari Ali bin Al-Muwaffaq, katanya: “Pada suatu malam setelah wukuf di Arafah, aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu berkata kepada temannya : “Tahukah betapa banyak orang yang telah melaksanakan ibadah haji pada tahun ini?”
“Tidak”, jawab temannya itu.
“Jumlah mereka enamratus ribu orang”.
“Lalu, tahukah berapa dari mereka yang diterima hajinya?”
“Tidak!”
“Hanya enam orang sahaja!”
Kata Ibnul-Muwaffaq selanjutnya, “Aku merasa amat sedih, dan bergumam dalam hatiku: “Di mana aku, di antara keenam orang itu?!” Namun pada malam menjelang Hari Raya Idul-Adh-ha aku bermimpi lagi, dan melihat kedua malaikat itu turun lagi. Salah satu dari keduanya bertanya kepada yang lain: “Tahukah bagaimana keputusan Tuhan kita?” “Tidak!” jawab temannya. “Sungguh Allah Swt. telah menetapkan, mengikutkan sebanyak seratus ribu orang kepada setiap orang dari keenam orang yang diterima hajinya (sehingga keseluruhan enam ratus ribu orang diterima haji mereka semuanya).” “Begitulah,” kata Ali ibn Al Muwaffaq selanjutnya, “Ketika aku terjaga, hatiku diliputi kegembiraan sedemikian rupa sehingga tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Dan beberapa tahun kemudian, aku berkesempatan lagi melaksanakan ibadah haji, lalu memikirkan tentang orang-orang yang tidak diterima hajinya. Maka aku pun berdoa, “Ya Allah, aku rela menghadiahkan pahala hajiku kepada siapa-siapa yang tidak Kau terima hajinya.” Pada malam itu, aku tidur dan bemimpi seakan-akan melihat Allah Swt berfirman kepadaku: ‘Hai Ali, adakah engkau hendak menjadikan dirimu lebih dermawan dari aku? Sedangkan Aku lah yang telah menciptakan para dermawan, dan Aku-lah yang paling berhak memberikan kemurahan kepada segenap penghuni alam semesta. Sungguh aku telah menyerahkan siapa-siapa yang tidak Ku-terima hajinya, kepada mereka yang Ku-terima (sehingga semua mereka diterima hajinya)!”
Demikianlah kisah-kisah dalam Penutup ini tidak terlepas kaitannya dengan wasiat-wasiat sebelumnya. Bahkan bagi seorang pembaca yang arif tentunya dapat lebih luas lagi menyimpulkan pelbagai aturan dan adab sopan santun darinya, yang kiranya patut diamalkan dalam pelbagai keadaan.
Demikian pula, di dalam membicarakan tentang kiprah para salaf dalam perjalanan hidup mereka, terdapat banyak sekali contoh da tauladan serta kepuasan tersendiri yanf dapat dirasakan oleh setiap orang yang bersuluk menuju akhirat. Sebab, mereka itu adalah sosok-sosok teladan yang patut diteladani. Disamping itu, seseorang hanya bisa menyedari tentang kekurangan-kekurangan dirinya sendiri ketika ia mengetahui tentang kesungguhan perjuangan para salaf itu dalam merintis perjalanan menuju keridhaan Allah Swt. diakhirat.
Adapun seorang yang hanya menyaksikan kiprah orang-orang pada zaman ini, yang lebih banyak diliputi berbagai kelalaian dan penyia-yiaan waktu mereka, sedikit sekali kemungkinannya untuk memperoleh pelajaran yang bermanfaat. Bahkan lebih buruk lagi mereka merasa berbangga diri atas perbuatan mereka, ataupun berperangsangka buruk terhadap para tokoh salaf itu. Kedua-dua sikap seperti itu pasti menimbulkan keburukan.
Kesimpulannya: orang yang berbahagia itu ialah yang mampu mengikuti teladan para pendahukunya yang baik-baik dan selalu menuntut dirinya sendiri agar menempuh jalan mereka yang lurus. Dang dengan ini pula, selesailah wasiat ini dengan mengucapkan syukur kepada Allah Swt. atas taufiq-Nya.
Bertakwa dan Berpegang Teguh Pada Al-Quran dan As-Sunnah
Ketahuilah bahawa wasiat yang paling bermanfaat dan paling mencakup semua aspek kehidupan dunia dan akhirat adalahw asiat Allah Swt. kepada kita, dan kepada orang-orang sebelum kita, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya,
…..Sunguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: bertakwalah kepada Allah. (QS An-Nisa’[4]” 131). Demikian pula wasiat Rasullulah Saw. Kepada para sahabatny dan umatnya iaitu berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Melaksanakan Empat Pokok Utama 
Manakala hal-hal tersebut di atas telah anda ketahui, maka kini saya ingin mewasiatkan agar anda menjaga baik-baik dan melaksanakan empat dasar utama, termasuk hukum-hukumnya dan persyaratan-persyaratannya, sebab hal itu merupakan tumpuan dari segalanya, yang apabila sudah benar pada permulaannya akan membuahkan kebenaran juga pada akhirnya.
Pertama: Memelihara kewajiban-kewajiban, baik yang bersifat batiniah, seperti ikhlas, yakni pemusatan arah dan tujuan bagi Allah saja, Tuhan Yang Maha Esa Yang Tiada sekutu bagi-Nya, ataupun yang bersifat lahiriah, seperti shalat, yakni berdiri dengan khusyu’ mengadap Allah Swt. Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.
Kedua: Meninggalkan semua maksiat (pelanggaran) baik yang bersifat batiniah seperti mengikuti ajakan hawa nafsu ataupun yang bersifat lahiriahl seperti ikut berdesak-desakan bersama kebanyakan manusia zaman ini, dalam upaya memperebutkan bangkai dunia.
Ketiga : Tidak bersikap sangat menginginkan sesuatu atau menunjukkan kebutuhan kepada sesuatu selain kepada Allah Swt. saja, disamping tidak merendahkan diri di hadapan siapa pun selain di hadapan Allah Swt.
Keempat:bertawakal sepenuhnya dan hanya bergantung kepada Allah Swt. dalam setiap urusan, disamping merasa tercukupi oleh-Nya saja,seraya senantiasa ber-istighfar dab ber isti’anah (meminta pertolongan) kepada-Nya, baik secara terbuka (yakni ketika bersama orang lain) maupun tertutup (yakni ketika berada sendirian).
Perkukuhlah keempat pokok utama tersebut dalam diri anda, kemudina tambahkanlah lagi dengan empat hal lainnya:
Pertama: Kesungguhan dalam melakukan sesuatu, yakni berdaya upaya sejauh kemampuan demi mencapai kedekatan kepada (Allah Swt) Sang Kekasih.
Kedua: Ketulusan, yakni terpusatnya seluruh potensi batiniah dan lahiriah demi meraih sesuatu yang didambakan.
Ketiga:Kesabaran, yakni pemantapan diri untuk senantiasa bersungguh-sungguh dan bersikap tulus dalam menghadapi segala rintangan.
Keempat: Kekuatan dan ketinggian himmah (tekad), yakni tidak merasa puas selain dengan pengorbanan dan peluruhan diri secara tuntas dan sempurna dalam (mencari keridhaan) Allah Swt. seraya meniadakan keinginan atau kebutuhan apa pun kepada makhluk.
Dalam kaitannya dengan makna-makna di atas, alangkah indahnya ungkapan Asy-Syaikh Umar bin Al-faridh dalam syairnya:
Kuwakafkan baginya seluruh cinta dan pengorbananku
Walau takkan puas diriku sebelum benar-benar luruh di dalam dirinya
Pabila selain aku cukup puas dengan bayang-bayang khayalnya
Namun aku takkan puas bahkan dengan (hanya) berhubungan dengannya
Kemudian, sempurnakanlah keempat pokok utama di atas, dan lengkapilah dengan empat lainnya :
Pertama, membaca Al-Quran dengan sungguh-sungguh ber-tadabbur (merenungi maknanya).
Kedua, sering-sering berzikir kepada Allah dengan kehadiran hati.
Ketiga, berdiri dihadapan Allah (bertahajud) dalam kesunyian malam
Keempat, bersahabat dengan orang yang mampu menunjukkan bagimu jalan menuju Allah, atau membantumu dan menguatkan hatimu dalam melaksanakan bakti dan taat kepada-Nya.
Menghindari Persahabatan Dengan Orang-Orang yang Buruk Akhlaknya 
Hendaklah anda menghindari persahabatan dengan orang yang dapat membuat anda menjauh dari Allah swt. Dan dari perbuatan ketaatan kepada-Nya. Atau yang mengajakmu melanggar perintah-Nya. Atau yang membuat anda lupa berzzikir (mengingat Allah dan mengucapkan nama-Nya), baik yang ia lakukan dengan ungkapan yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi.
Menghindar dari ajakan yang melalui ucapan terang-terangan tentunya sudah jelas bagi anda. Sedangkan menghindar dari ajakan yang halus tersembunyi ialah dengan menyedari bahawa tidak sekali pun anda duduk-duduk bersama seseorang yang menyembunyikan di dalam hatinya niatan untuk meninggalkan pelbagai ketaatan kepada Allah, atau yang terus-menerus melakukan pelbagai pelanggaran terhadap perintah-perintah-Nya, kecuali akan mengalir pula dari hatinya ke dalam hati anda, suatu perasaan persetujuan – walau hanya sedikit – atas sikap dari perilakunya itu.
Maka hendaklah anda, pada zaman seperti sekarang ini, tidak memilih duduk berbincang-bincang bersama seseorang, kecuali jika anda merasa yakin dapat memperoleh menfaat darinya, di bidang agama anda. Misalnya, dengan duduk bersamanya, anda akan bertambah kesedaran akan pentingnya jalan yang anda tempuh atau anda bertambah semangat dalam upaya meraih idaman anda atau anda sendiri justeru dapat memberinya manfaat dalam agama0nya. Namun, semua itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah anda benar-benar yakin akan keselamatan diri anda sendiri. Camkanlah baik-baik hal ini!
Berhati- hati dan Bersikap Waspada Dalam Pergaulan
Ada tiga motivasi yang dapat memaksa seorang murid (yakni yang hendak bersuluk atau menempuh ‘jalan akhirat’) di suatu saat, untuk bercampur gaul dengan sebahagian masyarakat.
Pertama, kerana memang diwajibkan (ataupun dianjurkan) oleh syariat, misalnya dalam kaitannya dengan anggota keluarga yang dekat.
Kedua, kerana memerlukan sesuatu dalam urusan agama maupun dunianya yang tidak dapat terpenuhi kecuali dengan bergaul dengan mereka.
Ketiga, adakalanya seorang murid merasa sumpek atau kesepian dalam kesendiriannya atau timbul perasaan jenuh yang menghinggapi hatinya setelah lama ber-tawajjuh(mengkonsentrasikan diri dalam beribadat). Perasaan seperti itu sudah merupakan bagian dari tabiat mnausia dan tidak mungkin terhapus atau hilang sama sekali kecuali dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang tertentu. Dan yang demikian itu bahkan termasuk salah satu kiat untuk menenangkan jiwa atau menimbulkan kembali semangat yang sudah mulai pudar, sebagaimana diriwayatkan berkenaan dengan beberapa orang sahabat Nabi Saw.
Oleh sebab itu, seandainya anda pada suatu saat memang memerlukan hiburan atau penyegaran separti itu, hendaklah pertama-tama membaikkan niat anda, dan mencari tahu – atau paling sedikit,memperkirakan – akan keselamatan agama anda ketika bergaul dengan mereka itu. Selanjutnya, seandainya ada suatu pelanggaran (maksiat) yang dilakukan di hadapan anda, maka bertindaklah segera untuk melakukan teguran. Dan apabila teguran anda itu tidak didengarkan dan tidak pula dihiraukan, maka selamatkanlah dirimu dan larilah jauh-jauh demi menyelamatkan agamamu.

Berserah Diri Sepenuhnya Kepada Allah Swt. 
Hendaklah anda senantiasa berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt., seraya meyakini bahwa tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan-Nya. Dan seandainya pada suatu saat anda merasa gelisah, atau sumpek, atau dada terasa sempit kerana diliputi kecemasan, maka perbanyakkanlah membaca:
(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).
Itulah ubat penawar yang sangat bermanfaat dan sangat manjur bagi semua penyakit yang seperti itu.
Perbanyakkan pula doa yang diucapkan oleh Dzu’n-Nun (a.s) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
(Tiada Tuhan melainkan Engkau;Maha Suci Engkau, sungguh aku [sebelum ini] termasuk orang-orang zalim)

Mencurigai Diri Sendiri dan Menuntutnya Agar menjadi Lebih Baik 
Hendaklah anda selalu mencurigai diri anda sendiri (atau menujukan tuduhan kepadanya) di setiap saat, baik ia dalam keadaan pauh ataupun dalam keadaan menentang. Jangan sekali-kali merasakan kepuasan berkaitan dengannya sebab barang siapa puas dengan dirinya sendiri, akan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Tuntutlah ia agar selalu tunduk patuh kepada Tuhannya, dan sadarkalah ia selalu akan pelbagai kekurangannya dalam menunaikan kewajipan terhadap-Nya, betapa pun anda merasa telah melakukan upaya maksimal ke arah itu. Sebab, sungguh amat besar hak Tuhanmu atasnya.

Mensyukuri Kurnia-kurnia Allah 
Hendaklah anda selalu mengingat nikmat kurnia Allah- yang bersifat lahiriah maupun batiniah dan yang ebrkaitan dengan urusan agama maupun dunia- yang dilimpahkan kepada anda. Perbanyakkan syukurmu itu dalam setiap kesempatan dengan hatimu maupun melalui ucapanmu.
Ungkapan syukur dengan hatia adalah dengan menyedari bahawa setiap nikmat yang diperolehnya adalah dari Allah Swt. Dan bahwa kegembiraannya ketika menerima suatu kenikmatan adalah disebabkan hal itu merupakan salah satu wasilah (sarana) untuk pendekatan diri kepada-Nya.
Adapun ungkapan syukur melalui lisan adalah dengan memperbanyakkan puji-pujian kepada Allah Swt., Sang Pelimpah kenikmatan. Sedangkan yang melalui anggota-anggota tubuh lainnya adalah dengan mengarahkan semua kenikmatan itu untuk dijadikan sarana mencari keredhaan Allah Swt., disamping menggunakannya sebagai alat bantu dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.


Dalam hal suluk, al-Haddad membahaginya ke dalam dua bahagian.
Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat mujahadah, mengosongkan diri baik lahir mahupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji.
Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahawa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.
Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syeikh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan  yang bersifat rohani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral.
Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya memerlukan empat hal.
Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategik,
Kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram.
Ketiga, semangat yang menumpangnya.

Keempat, moral yang baik yang menjaganya

Ratib Al Haddad 
Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]
???? ??????: ?????????? ????? ???????? ?????????? ???????????? ???????????? ??????????? ???????? ??? ???? ???? ???? – ???????-
Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w
1. ?????? ????? ?????????? ???????????
?????????? ???? ????? ??????????????. ??????????? ???????????. ??????? ?????? ????????? ???????? ???????? ?????????? ????????????. ????????? ?????????? ???????????????. ??????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????? ????????????? ?????????? ????? ?????????????. ???????
1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.
Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”
2. ?????? ??? ?????? ?????? ???? ???????? ???????????? ??? ?????????? ?????? ????? ?????? ???? ??? ??? ??????????? ????? ??? ???????? ???? ??? ???????? ???????? ???????? ?????? ?????????? ???????? ??? ?????? ???????????? ????? ??????????????? ???????????? ???????? ???? ???????? ?????? ????? ????? ?????? ??????????? ???????????? ?????????? ????? ???????? ??????????? ?????? ????????? ??????????.
2. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.
(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)
Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.
3. ????? ??????????? ????? ???????? ???????? ???? ?????? ????????????????? ????? ????? ??????? ?????????????? ?????????? ?????????? ??? ????????? ?????? ?????? ???? ???????? ????????? ????????? ??????????? ??????????? ?????????????????? ???????????.
3. Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain”. Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”
(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)
Diriwayatkan daripada Abu Mas’ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.
4. ???? ????????? ????? ??????? ?????? ????????? ????? ??? ???????? ??????????? ??? ??????????? ???????? ??? ???????????? ???? ????????? ???? ??????????? ???????? ????? ???????? ????????? ??????? ????? ?????????? ????? ?????????? ????????????? ???????? ????? ???????????? ?????? ??????? ????? ???? ??????? ?????? ????????? ????? ??????????? ?????? ?????????? ???????????? ????? ????????? ??????????????.
4. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”
(Surah 2: al-Baqarah Ayat 286)
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.
5. ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ????? ???? ????????? ?????? ????????? ??????? ?????????? ?????? ????? ????? ?????? ???????. (3X)
5. Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X)
Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”
6. ????????? ????? ??????????? ??????? ????? ?????? ?????? ?????? ??????? ????????. (3X)
6. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)
Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.
7. ????????? ????? ???????????? ????????? ????? ???????????. (3X)
7. Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung. (3X)
Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda: Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: ‘SubhanAllah al-Azim dan ‘SubhanAllah wa bihamdihi.’”
8. ???????? ??????? ????? ?????? ????????? ??????? ?????? ??????????? ???????????. (3X)
8. Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)
Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90
9. ??????????? ????? ????? ?????????? ??????????? ????? ???????? ?????????. (3X)
9. Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan-Mu. (3X)
Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.
10. ???????? ??????????? ????? ???????????? ???? ???????? ??????. (3X)
10. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)
Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”
11. ??????? ????? ??????? ??? ???????? ???? ???????? ?????? ??? ???????? ????? ??? ???????????? ?????? ????????????? ????????????. (3X)
11. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)
Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”
12. ?????????? ??????? ?????? ???????????????? ???????? ????????????? ?????????. (3X)
12. Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami. (3X)
Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.
Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”
13. ?????? ????? ??????????? ??????? ??????????? ??????????? ????????????? ?????. (3X)
13. Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah. (3X)
Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.
14. ??????? ??????? ?????????? ??????? ??????? ????? ????? ???????? ??????????. (3X)
14. Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir. (3X)
Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.
Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”
15. ??? ???????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????? ??????. (3X)
15. Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami. (3X)
Dari Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
16. ??? ??? ?????????? ????????????? ????????? ????? ?????? ???????????. (7X)
16. Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam . (7X)
Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.
Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.
17. ??? ??????? ??? ????????? ?????? ????? ???????????????. (3X)
17. Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim. (3X)
Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.
18. ???????? ????? ???????? ??????????????? ?????? ????? ????? ?????????????. (3X)
18. Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka menggangu. (3X)
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.
19. ???? ??????? ???? ???????? ???? ???????? ???? ????????
???? ??????? ???? ???????? ???? ???????? ???? ????????. (3X)
19. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui (3X)
Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.”
20. ??? ??????? ??????? ??? ??????? ???????? ??? ???? ?????????? ???????? ??????????. (3X)
20. Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya. (3X)
Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.
21. ???????????? ????? ????? ??????????? ???????????? ????? ???? ???????????.(4X)
21. Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan. (4X)
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah keampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”
22. ??? ?????? ?????? ?????. (50X)
22. Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X)
Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”
23. ????????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ??????? ????????? ????????? ????????? ????????? ????????? ???????? ????? ???????? ???? ??? ??????????? ???????? ????? ????????????? ????????????????????????? ?????????????? ??????????? ???? ????????? ????? ????? ?????? ????????? ??????????? ???????? ?????????? ???????????? ??? ???????? ??????????????.
23. Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta’ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.
24. ????? ????? ?????????? ???????????.
???? ???? ????? ???????. ?????? ??????????. ???? ??????? ?????? ?????????. ?????? ??????? ???? ???????? ???????. (3X)
24. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)
Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”
Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).
25. ????? ????? ?????????? ???????????
???? ???????? ??????? ?????????? ???? ????? ??? ??????? ?????? ????? ??????? ????? ??????? ?????? ????? ?????????????? ??? ?????????? ?????? ????? ??????? ????? ?????
25. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.
Surah Al-Falaq
Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.
26. ????? ????? ?????????? ???????????
???? ???????? ??????? ????????? ?????? ????????? ?????? ????????? ???? ????? ???????????? ???????????? ????????? ?????????? ??? ???????? ????????? ???? ?????????? ??????????.
26. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas
Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.
27. ?????????????
????? ????? ?????????? ??????????? ???????????? ???????? ??? ?????? ??? ??????? ????????????? ????????????? ???????? ??????????? ??? ????? ??????? ????? ????? ??????? ????????????? ??? ?????????? ????????????? ??????????????????????? ??????????? ???? ??? ????????? ???????????? ???????????.
27. Bacalah Al-fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali Ba’alawi, dan kepada asal-usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga-moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
28. ?????????????
????? ????????? ??????????? ?????????????? ????????? ??????? ??? ????????? ???????? ?????????????? ????????? ????????????? – ????? ????? ??????? ????????????? ??? ?????????? ????????????? ?????? ???????????????????????????????? ??????????? ????? ????????????? ?????? ??? ?????? ???????????.
28. Bacalah al-fatihah kepada roh-roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.
29. ?????????????
????? ?????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ???????? ?????????? ???????????? ??????????? ?????? ????? ???? ??????? ?????????? ???????????? ???????????? ????? ????? ??????? ????????????? ??? ?????????????????????? ?????? ??????????????? ??????????????? ????????????? ??? ????????? ???????????? ???????????.
29. Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad, Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal-usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
30. ????????????
????? ???????? ??????? ????? ???????????? ???????????????? ?????????? ?????????????? ???????????????? ????????????????? ???????????????? ???? ????? ???????? ?????? ?????????????? ????????????? ??????????????? ??????????????
30. Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampuni mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.
31. (????? ??????):
31. Berdoalah disini apa yang di hajati. :
?????????? ????? ????? ????????????? ??????? ???????? ???????? ??????????? ?????????? ??????????? ????? ????? ?????????? ????????? ??????? ???????? ?????????? ?????????. ??????????? ?????? ?????????? ??????? ??????????? ????????????????????????? ???????????? ???? ???????? ????? ??????? ?????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ?????? ?????? ??????????? ???? ?????? ????????? ?????? ???????????? ??? ?????????? ????????????? ??????? ????????? ?????? ??????????? ??????????????? ????????????? ?????????????? ?????????????? ?????????????? ???? ????? ???????? ???????? ??????? ??????? ??????? ????? ????? ????????????? ??????? ????? ???????? ??????? ????? ??? ???????? ?????????????.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi-Nya atas penambahan nikmat-Nya kepada kami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kami dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.
32. ??????????? ?????? ??????????? ???????? ????????????? ??????????? ???? ???? ????????? ???????????. (3X)
32. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keredhaan dan syurga-Mu; dan kami memohon perlindungan-Mu dari kemarahan-Mu dan api neraka. (3X)
Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”
????? ?????? ??????
Tamat Ratib Al-Haddad

Kelebihan Ratib Al-Haddad

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatit dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya;
Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiyun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat.
Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi bila mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ.
Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Tuhan kerana berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Tuhan mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.”

Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka terserempak dengan gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan sesiapa pun, malah mereka lalu dengan tidak mengganggu.
Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tenteranya untuk memerangi negeri Aughan.
Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.
Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, iaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tiada berhasil juga. Maka saya mengajak rakan-rakan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke penujuannya dengan selamat dengan berkat membaca Ratib ini.
Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah sesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Allah akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Allah datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat penujuan kami.

Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersedar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.
Di antaranya lagi apa yang diceritakan  oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannyakepada orang itu.

Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.”

Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri.

Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.
Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun kerana engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.
Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang menggerunkan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tiada pula bermimpi apa-apa pun.”
Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya, kami tiada membaca Ratib dan tiada bersembahyang Isya, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tiada sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebahagian rumah kami terbakar.

Kini tahulah kami bahawa semua itu berlaku kerana tiada membaca Ratib ini. Sebab itu kemudiannya kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tiada bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tiada membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”

Saya rasa cukup dengan beberapa cerita yang saya sampaikan di sini mengenai kelebihan Ratib ini dan anda sendiri dapat meneliti bicara yang saya catitkan di sini, sehingga Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait sendiri pernah mengatakan dalam bukunya Ghayatul Qasd Wal Murad, bahawa roh Saiyidina penyusun Ratib ini akan hadir apabila dibaca Ratib ini, dan di sana ada lagi rahasia-rahasia kebatinan yang lain yang dapat dicapai ketika membacanya dan ini adalah mujarab dan benar-benar mujarab, tiada perlu diragukan lagi.

Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, nescaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.”

Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Sesiapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini sama ada secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.”  ( Thaha: 124 )

Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.” ( Az-Zukhruf: 36 )

Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingai Tuhannya, Kami akan melorongkannya kepada seksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)Apa lagi yang hendak diterangkan mengenai Ratib ini untuk mendorong anda supaya melazimkan diri mengamalkan bacaannya setiap hari, sekurang-kurangnya sehari setiap malam, mudah-mudahan anda akan terbuka hati untuk melakukannya dan mendapat faedah daripada amalan ini.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012
Far?dudd?n Mas’ud Ganjshakar (Punjabi:), ???? ???? ???? ????? ????? ??? ??? (Shahmukhi)) (1173-1266) [1] [2] atau (1188 (584 Hijrah) – 7 Mei, 1280 (679 Hijrah)),  atau lebih dikenali sebagai Baba Farid (Punjabi: ???? ???? (Shahmukhi), (Gurmukhi)), adalah seorang pendakwah Sufi abad ke-12 dan Perintah suci Chishti Asia Selatan

Fariduddin Ganjshakar umumnya diiktiraf sebagai penyair utama yang pertama bagi bahasa Punjabi,  dan dianggap sebagai salah satu orang-orang suci penting wilayah Punjab. Dihormati oleh umat Islam dan Hindu, dia dianggap salah satu daripada lima belas bhagats Sikh, dan pilihan dari kerja-kerja yang dilakukan adalah termasuk dalam Guru Granth Sahib, kitab suci Sikh.

Kehidupan
Baba Farid dilahirkan pada 1173 atau 1188 Masihi (584 Hijrah) di kampung Kothewal, 10 km dari Multan di rantau Punjab dinasti Chauhan dalam apa yang kini Pakistan, Jamal-ud-din Suleiman dan Maryam Bibi (Qarsum Bibi), anak perempuan Sheikh Waj?h-ud-Din Khojend?. Beliau adalah keturunan Farr?khz?d itu, yang dikenali sebagai Jamal-ud-Dawlah, seorang berketurunan Parsi (Tajikistan) raja timur Khurasan
Beliau adalah cucu Sheikh Nabi Syuaib, yang merupakan cucu kepada Farrukh Shah Kabuli, raja Kabul dan Ghazna. Apabila Farrukh Shah K?bul? telah dibunuh oleh gerombolan Mongol menyerang Kabul, datuk Farid, Syeikh Nabi Syuaib meninggalkan Afghanistan dan menetap di Punjab pada 1125. Genealogi Farid adalah sumber pertikaian, kerana beberapa menjejaki nenek moyangnya kembali kepada al-Husayn, manakala yang lain menjejaki keturunannya kembali kepada kedua Khalifah Umar ibn Khattab. Nenek moyang Baba Farid datang dari Kufa, manakala Abdullah ibn Umar meninggal dunia dalam masa mengerjakan Haji dan dikebumikan di Makkah. Pokok keluarga-Baba Fareed kesan melalui Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, yang nenek moyang mereka datang dari Kufah.
Fariduddin Ganjshakar dilahirkan di bandar Balkh. Nama samaran beliau ialah Abu Ishaq. Khwajah Fudhail Bin Iyadh telah dianugerahkan jubah Khilaafate kepadanya. Selain menjadi Khalifah Hadhrat Fudhail, beliau juga khalifah Khwajah Imran Ibn Musa, Khwajah Imam Baqir, Khwajah Shaikh Mansur Salmi dan Khwajah Uwais Qarni. ”
Baba Farid menerima pendidikan awal di Multan, yang telah menjadi pusat pendidikan, ia berada di sini bahawa dia bertemu murshid Qu?budd?n Bakhtiy?r Kaki, Sufi yang diperhatikan, yang lulus melalui Multan, dari Baghdad dalam perjalanan ke Delhi.  Setelah selesai pengajiannya, Farid kiri untuk Sistan dan Kandahar dan pergi ke Mekah untuk menunaikan haji Haji pada usia 16 tahun.
Setelah pendidikan beliau telah berakhir, beliau dipindahkan ke Delhi, di mana beliau mempelajari doktrin tuan, Qu?budd?n Bakhtiy?r Kaki. Beliau kemudiannya berpindah ke Hansi, Haryana. Apabila Qu?budd?n Bakhtiy?r Kaki meninggal dunia pada tahun 1235, Farid kiri Hansi dan menjadi pengganti rohani, tetapi dia menetap di Ajodhan  (Pakpattan sekarang, Pakistan) dan bukannya Delhi. Dalam perjalanan ke Ajodhan, manakala melalui Faridkot, beliau telah bertemu  Nizamuddin berusia 20 tahun, yang terus menjadi pengikut, dan kemudian pengganti (khalifah).
Baba Farid berkahwin Hazabara, anak perempuan Sultan Nas?rudd?n Mahmud. Ibn pengembara Arab Ba???ah besar melawat dia. Dia mengatakan bahawa dia adalah panduan rohani Raja India, dan bahawa Raja telah diberikan kepadanya kampung-Ajodhan. Beliau juga mengatakan bahawa Shaikh Far?dudd?n, kerana dia memanggilnya, begitu berhati-hati mengenai kesucian bahawa jika pakaiannya menyentuh orang-orang lain, dia akan membasuh mereka. Beliau juga bertemu Baba dua orang anak lelaki Farid. Kuil-Nya (darb?r) di Dera Pindi, dan tulisan di batu nisan itu berbunyi, “Ada adalah hanya satu Farid, walaupun musim bunga yang banyak keluar dari putik bunga”.
Baba Farid keturunan, juga dikenali sebagai Fareedi, Fareedies dan Faridy, kebanyakannya membawa Faruqi nama, dan boleh didapati di Pakistan, India dan diaspora. Keturunannya termasuk saint Sufi Salim Chishti, yang anak perempuan adalah ibu angkatnya Maharaja Jehangir. Yang keturunan mereka yang menetap di Sheikhupur, Badaun dan mayat sebuah kubu mereka membina masih boleh didapati.

Puisi
Sarat dengan beban saya daripada salah laku, saya bergerak dalam pakaian pakaian hitam.
Dan orang-orang melihat saya dan memanggil saya darwis.
Gall?N cikka? Dur ghar, n?? piy?r? Ninh,
Chall?N te bhijj? kambl?, rah?N TAN Tutte Ninh.
Saya janji kepada cinta saya, yang panjang cara untuk pergi dan satu lorong berlumpur di hadapan
Jika saya bergerak saya merosakkan jubah saya jika saya menginap saya memecahkan kata-kata saya [6]

Sumbangnnya
Salah satu sumbangan Farid yang paling penting untuk Punjabi kesusasteraan adalah pembangunan bahasa untuk tujuan kesusasteraan. Manakala bahasa Sanskrit, Arab, Turki dan Parsi telah sejarah dianggap sebagai bahasa yang dipelajari dan elit, dan digunakan di pusat-pusat monastik, Punjabi umumnya dianggap sebagai bahasa orang-orang kurang ditapis. Walaupun awal penyair telah ditulis dalam Bahasa Punjabi primitif, sebelum Farid terdapat sedikit dalam kesusasteraan Punjabi selain dari balada tradisional dan tanpa nama. Dengan menggunakan Punjabi sebagai bahasa puisi, Farid meletakkan asas bagi kesusasteraan Punjabi vernakular yang akan dibangunkan kemudian.
Antara orang-orang yang terkenal yang telah melawat makam sepanjang abad-abad cendekiawan yang terkenal explorer Ibn Battuta, yang melawat di 1334 dan Pengasas Sikh, Guru Nanak Dev, yang bertemu ketua ketika itu tempat suci, Sheikh Ibrahim , dua kali, dan mesyuarat itu membawa kepada penubuhan 112 couplets (saloks) dan empat pujian oleh Farid Baba, dalam kitab suci Sikh, Guru Granth Sahib, oleh Guru kelima, Arjan Dev pada tahun 1604. Guru Nanak biasa dengan ayat Farid Baba, dan bukan sahaja termasuk ayat-ayat ini di dalam Kitab Suci, tetapi juga komen terhadap sebahagian daripada mereka Ayat-ayat ini dikenali Sikh sebagai Farid-Bani; Guru Arjan Dev juga menambah lapan belas saloks dari Gurus Sikh, yang menambah ulasan pelbagai kerja Baba Farid.
Bandar Faridkot membawa namanya. Menurut legenda, Farid dihentikan oleh bandar, maka dinamakan Mokhalp?r, dan duduk di pengasingan selama empat puluh hari berhampiran kubu Raja Mokhal. Raja itu dikatakan begitu kagum dengan kehadiran beliau bahawa dia menamakan bandar selepas Baba Farid, yang hari ini dikenali sebagai Tilla Baba Farid. Perayaan Baba Sheikh Far?d ?gman Purb Mela ‘adalah dirayakan pada bulan September setiap tahun, memperingati tiba di bandar raya ini Ajodhan telah juga dinamakan semula sebagai Farid itu.’ Pattan Pak ‘, bermakna’ Ferry Suci ‘; hari ini ia secara umumnya dikenali sebagai Pak Pattan Sharif.
Faridia Universiti Islam, Madrassa agama di Sahiwal, Punjab, Pakistan, dinamakan sempena nama beliau, dan pada bulan Julai 1998, Kerajaan Punjab di India menubuhkan Universiti Sains Kesihatan Baba Farid di Faridkot, bandar yang ia sendiri telah dinamakan sempena kepadanya.
Akaun Pelbagai berkaitan tentang mengapa Baba Farid telah diberikan title Shakar Ganj (‘Treasure Sugar’). Satu legenda menceritakan bagaimana ibunya digunakan untuk menggalakkan Farid muda untuk berdoa dengan meletakkan gula di bawah tikar sembahyang beliau. Sekali, apabila dia lupa, Farid muda mendapati gula anyway, satu pengalaman yang memberinya semangat lebih spiritual dan membawa ke diberi nama.
Lain-lain akaun dan legenda juga mengatakan bahawa Baba Farid sekali menarik sambaran petir dengan tangan dan meletakkan ia ke dalam periuk, yang menyelamatkan kehidupan ramai orang awam.
Kubur
Kubur kecil Baba Farid adalah diperbuat daripada marmar putih dengan dua pintu, satu menghadap timur dan dipanggil Darw?za Nuri atau ‘Pintu Cahaya’, dan kedua menghadapi utara yang dipanggil Bahisht? Darw?za, atau ‘Pintu Syurga’. Terdapat juga koridor panjang yang dilindungi. Di dalam kubur itu adalah dua kubur ala marmar putih. Salah satunya adalah Baba Farid, dan yang lain adalah lebih tua anaknya. Kubur ini adalah sentiasa dilindungi oleh helaian kain yang dipanggil Chadders (chadders berwarna hijau ditutup dengan ayat-ayat Islam), dan bunga yang dibawa oleh pengunjung. Ruang di dalam kubur itu adalah terhad; tidak lebih daripada sepuluh orang boleh dalam pada satu-satu masa. Tuan-tuan adalah tidak dibenarkan di dalam kubur itu, tetapi Allahyarham Benazir Bhutto, perdana menteri Pakistan, berjaya untuk memasuki ke dalam apabila dia melawat kuil.
Tempat suci

Tempat Suci (Mazar / Mazar) adalah luas dan luas, terletak di bandar Pakpattan, jika tidak P?kpattan Sharif. Pada mulanya, makam dan kuil dibina di bawah pengawasan Saint Nizamuddin Auliya / Khawaja Nizamuddin Aulia. Kuil itu dibuat keseluruhannya marmar. Beberapa tahun lalu, ia sebahagiannya diperbuat daripada marmar dan batu bata. Langar Amal makanan yang dipanggil diedarkan sepanjang hari oleh pelawat-pelawat dan Jabatan Auqaf, yang mentadbir kuil. Makam ini dibuka sepanjang hari dan malam untuk pengunjung. Makam telah penjana elektrik besar yang digunakan apabila terdapat potong kuasa atau loadshedding, jadi kuil masih cerah sepanjang malam, sepanjang tahun. Tidak ada pemisahan kawasan lelaki dan perempuan tetapi kawasan wanita yang kecil juga di sana. Terdapat sebuah masjid yang besar baru di makam. Beribu-ribu orang setiap hari melawat kuil untuk kehendak mereka dan perkara-perkara yang dapat diselesaikan; ini mereka berjanji untuk memberi sedekah beberapa apabila hasrat atau masalah mereka diselesaikan. Apabila perkara-perkara yang mereka diselesaikan, mereka membawa amal makanan untuk pelawat dan orang-orang miskin, dan wang penurunan dalam kotak wang besar yang disimpan bagi maksud ini. Wang ini dikumpul oleh Jabatan Auqaf yang menjaga tempat suci.
Pada 25 Oktober, 2010, bom meletup di luar pintu pagar kuil itu, membunuh enam orang.

Menyambut hari Kematian
Setiap tahun, ulang tahun kematian suci disambut selama enam hari dalam bulan Islam yang pertama Muharram, Pakpattan, Pakistan. Darw?za Bahisht? (Pintu Syurga) dibuka hanya sekali setahun, dalam masa yang Urs / adil. Beratus-ratus ribu jemaah dan pengunjung dari seluruh negara dan dunia datang untuk memberi penghormatan. Pintu Darwaza Bahishti diperbuat daripada perak, dengan reka bentuk bunga bertatahkan daun emas. Ini “Pintu ke syurga” padlocked sepanjang tahun, dan hanya dibuka selama sepuluh hari dari matahari terbenam hingga matahari terbit dalam bulan Muharram. Sesetengah pengikut percaya bahawa dengan merentasi pintu ini semua dosa-dosanya dibersihkan. Sesetengah pengkritik berkata ia adalah tidak suci untuk melalui pintu ini hanya dengan tujuan ini. Lain-lain berhujah bahawa ia adalah baik untuk lulus pintu ini dengan resolusi tidak melakukan dosa-dosa pada masa akan datang. Semasa pembukaan Pintu Syurga, peraturan-peraturan keselamatan yang banyak dibuat untuk melindungi orang ramai daripada rempuhan. Pada tahun 2001, 27 orang telah dihancurkan mati dan 100 telah cedera dalam rempuhan satu. [22 A kubur bata besar bersebelahan dengan makam yang utama adalah di tempat berehat adik-beradik Fariduddin .The Urs ‘adalah disambut setiap tahun dari kelima melalui kesepuluh Muharram. Beberapa barangan peribadi beliau telah diambil oleh Sheikh Salim keturunan, kubu yang dibina untuk keluarganya di Sheikhupur, Badaun, di mana mereka kini dipelihara dan disimpan di dalam batang yang dipanggil ‘pitari’. Sehingga hari ini, ia diambil dalam satu perarakan untuk enam hari pertama Muharram.
Mehfil-e-Sama (Qawwali)


Salah satu ciri-ciri penting kehidupan harian yang Qawwali. Ia dilakukan sepanjang hari di beberapa bahagian makam, tetapi pada waktu malam ia menarik perhimpunan besar. Tiap-tiap petang Khamis, ada besar Mehfil-e-Sama hanya di luar kubur, yang berlangsung sepanjang malam dan menarik beratus-ratus orang. Banyak Qawwals terkenal dan popular (penyanyi Qawwali) negara mengambil bahagian dalam Mehfil. Ramai pendengar menjadi begitu terpesona bahawa mereka mula menari tarian tradisional agama yang dipanggil Dhamaal. Petang Khamis pertama setiap bulan lunar menarik tambahan ribu orang, membuat jem kuil yang dibungkus.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

A. Pendahuluan
Tariqat adalah jalan yang ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut tariq. Tak mungkin ada jalan tanpa adanya jalan utama tempat ia berpangkal. Akan tetapi tariq atau jalan itu lebih sempit dan lebih sulit dijalani serta membawa santri – disebut salik, atau pengembara – dalam suluk melalui berbagai maqam, sampai mungkin cepat atau lambat akhirnya ia mencapai tujuannya.
Dalam ilmu Tasawuf diterangkan, bahwa arti tarikat itu ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, dan dikerjakan oleh sahabat-sahabat nabi, Tabiin dan Tabiin-tabiin turun-temurun sampai kepada guru-guru/ulama-ulama sambung-menyambung dan rantai-berantai sampai pada masa kita.
Ajaran dan pengalaman sebuah tarikat sufi tentunya dimaksudkan agar seorang salik lebih mendekatkan dirinya pada Allah. Cara atau upaya untuk mendekatkan diri pada Allah itu tak lain dengan jalan mengamalkan dzikir-dzikir atau wirid-wirid seraya melakukan penyucian kalbu dari berbagai penyakit ruhani secara terus-menerus. Tarikat memberi jalan yang paling mudah untuk mengenal hakikat-hakikat beragama, sehingga hubungan antara hamba dengan Allah terbuka, merdeka dan berimplikasi luas dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah para shufi membuat suatu sistem “tarikat”, mengadakan latihan-latihan jiwa, membersihkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela/mazmumah dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji / mahmudah dan memperbanyak dzikir dengan penuh ikhlas semata-mata untuk memperoleh keadaan “tajalli” yakni bertemu dengan Tuhannya sebagai bagian terakhir dan terbesar.
Tapi sayangnya istilah tarikat itu sendiri masih banyak yang samar, sehingga wajar banyak yang takut. Dan jumlah tarikat itu sendiri banyak sekali, ada yang mu’tabarah dan juga ada yang tidak. Untuk itu dalam makalah ini penulis mencoba membahas salah-satu tarikat, yaitu tarikat Ni’matullah atau Ni’matullahiyah. Apa dan bagaimana tarikat ini akan kita uraikan dalam paparan berikut.

B. Asal-usul Tarikat Ni’matullahiyah

Tariqat Ni’matullahiyah didirikan oleh Nuruddin Syah Ni’matullah Wali, dilahirkan di Aleppo pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 731 H (1331 M) Meninggal pada tahun 1431 M. Tariqat ini didirikan di Mahan dekat Kirman barat daya Iran. Para pengikutnya terutama di Iran dan India. Ayahnya adalah orang Arab dan ibunya orang Persia. Pendidikannya meliputi kajian tentang fiqih, retorika dan teosofi dan teologi skolastik serta karya-karya Ibnu Sina dan Ibnu Arabi.
Pada waktu berusia 24 tahun, Syah Ni’matullah bertemu dengan sufi ‘Abdullah al-Yafi’i di Mekkah. Al-Yafi’i yang termasuk anggota tarikat Syaziliyyah dan Qadiriyyah cabang Yafi’i, menerima Ni’matullah sebagai muridnya dan kemudian khalifah-nya. Kisah tentang pertemuan Syah Ni’matullah dengan Syaikh ini menyedihkan dan puitik. Dia menemui al-Yafi’i di sebuah mesjid ketika mengajarkan hadits dan dia menyadari bahwa dirinya sebagai tetesan air dan al-Yafi’i sebagai lautan. Ni’matullah mengakui Syaikh itu sebagai gurunya dan selama tujuh tahun dia belajar tasawuf dengannya.
Dari sana, dengan mengikuti tradisi yang berlaku di kalangan banyak pengumpul hadits, sufi dan ulama lainnya, untuk mengembara dalam rangka mencari pengetahuan. Syah Ni’matullah melakukan serentetan perjalanan, dengan mengunjungi Mesir, Persia, Transoksania, Samarkand, Syiraz, Kirman dan Mahan.
Di Herat dia menikah dengan cucu perempuan Amir Harawi. Dua puluh lima tahun terakhir usianya dihabiskan antara Mahan dan Kirman dan yang disebut pertama merupakan pusat pengembangan Tarikatnya dan menjadi tempat untuk menulis banyak karangannya. Ketika berkunjung ke Kirman, Syah Ni’matullah wafat setelah menunjukkan anak laki-lakinya sebagai penggantinya.Jenazahnya dibawa ke Mahan dan dimakamkan dipusat kota itu. Sebuah bangungan musoleum dibangun di atas makamnya dan akhirnya tempat itu menjadi pusat ziarah.
Tariqat Ni’matullahiyah tersebar ke India pada masa hayat Syah Ni’matullah melalui perantara cucunya, Syah Nurullah dan tak mengherankan, akhirnya sangat aktif di Iran. Sekarang khanaqah-khanaqah dari cabang tarikat tersebut terdapat di beberapa kota besar dan kecil di Amerika Serikat, Eropa Barat (termasuk Inggris), Australia dan Afrika. Karena itu tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa sekarang tarikat Ni’matullahiyah merupakan tarikat internasional yang diikuti oleh dunia internasional dari banyak bangsa.
Syah Ni’matullah menjadikan doktrin yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi sebagai ilmu terapan. Meskipun Ibnu Arabi pada dasarnya seorang pemikir dan guru, Syah Ni’matullah, pertama-tama dan terutama merupakan seorang praktisi, atau seorang Syaikh, yang peduli dengan pemberian petunjuk kepada murid-murid tarikat. Ajaran-ajaran Ibnu Arabi merupakan latar belakang teoritik bagi program latihan syah Ni’matullah.
Syah Ni’matullah tidak menganggap tasawuf terbatas pada sekelompok orang tertentu, dia membiarkan pintunya terbuka bagi semua pencari Tuhan. Dengan memberikan perintah melalui cara cinta (mahabbah) kepada semua orang yang dinilainya memiliki kerinduan akan aliran penyatuan diri dengan Tuhan (Ittihad). Syah Ni’matullah menganggap semua orang sama-sama berhak dan memerlukan aliran tasawuf. Dia mengatakan : “Semua orang yang telah ditolak oleh para wali, saya akan menerimanya dan sesuai dengan kemampuan mereka, saya akan menyempurnakan mereka.” Tarikat Ni’matullahiyah lebih menekankan pada toleransi, persaudaraan, persamaan, dan peribadatan.

C. Amalan Kerohanian dan Peribadatan Tarikat Ni’matullahiyah

1. Organisasi dan Hirarkinya
Dalam tariqat Ni’matullahiyah posisi sebagai Syaikh tidak dapat begitu saja dinyatakan. Ia harus diperoleh melalui latihan di bawah bimbingan seorang syaikh yang sempurna. Pimpinan sejati terkait dengan lingkaran syaikh-syaikh spritual yang dapat diruntut kembali sampai kepada Nabi. Syaikh itu harus sudah menjalani jalan sufi dan sudah mengenali jalan itu sebelum dia dapat membimbing orang lain menjalani jalan itu. Sejalan dengan itu posisi pemula atau pengikut mengakui di dalam hatinya kekuatan spritual syaikhnya dan segera tunduk kepadanya. Ada tata-krama atau adab bagi murid yang bersifat menyeluruh mengatur hubungan antara Syaikh dan pemula, atau antara murad dan murid; dan sifat kepatuhan yang tidak dapat dipertanyakan harus dipertunjukkan oleh pemula (murid) kepada Syaikhnya di atas paradigma khas Qur’ani yang tercermin dalam pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khaidir.
Syah Ni’matullah menunjuk penggantinya, yaitu anak laki-lakinya Khalilullah, sebelum dia wafat dan yang disebut belakangan akhirnya menjadi Qutb kedua dari tarikat tersebut. Hubungan erat antara silsilah Ni’matullahiyah dan silsilah tarikat Saziliyyah sudah diketahui. Diyakini oleh sejumlah orang bahwa kedua tarikat ini termasuk di antara kelompok minoritas yang telah berkembang masuk ke Barat dalam beberapa tahun terakhir dengan cara yang autentik dan mulus. Syah Nimatullah wali bisa diruntut kembali silsilahnya melalui Syaiknya sendiri, Abdullah al-Yafi’i dan syaikhnya, Syaikh Salih al-Barbari, melalui orang-orang penting seperti Ahmad al-Ghazali, Junaid al-Bagdadi, dan al-Hasan al-Basri hingga sampai keadaan Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad sendiri. Pimpinan cabang Munisiyyah dari tarikat Ni’matullahiyah yang sekarang, Nur Ali Syah 11. Dr. Javad Nurbaksh, meruntut kembali silsilah-nya sampai kepada Syah Ni’matullah Wali dan karena itu, melalui dia, juga sampai kepada Nabi Muhammad.
Jika mesjid merupakan wakil dari aspek-aspek eksternal Islam, maka khanaqah merupakan wakil dari dimensi-dimensi batin agama yang melindungi aspek-aspek eksternal agama. Masuk dalam khanaqah harus bersifat spritual dan fisik. Fokosnya yang menyeluruh adalah cinta dalam teori Ni’matullahiyah : Jadi khanaqah adalah tempat kejujuran, di mana tidak ada satu pun dibahas kecuali yang Tercinta. Ia adalah rumah cinta tanpa pembodohan, pembedan atau tipuan. Di mana tidak ada perbedaan antara seseoang pengemis dengan seorang raja. Semua yang tetap harus ada di sana adalah keadaan spritual tanpa egoisme, cahaya Ilahi pada setiap orang. Di sana semua orang mengikuti ritual-ritual syari’ah dan mendapatkan bermacam-macam peringkat jalan atau tarikat. Kehidupan dalam khanaqah itu diawasi dan diatur dengan ketat. Ia bukan tempat untuk melakukan tindakan indisipliner dan kekacauan spritual melainkan tempat untuk belajar.
2  Upacara Peribadatan
Mendefinisikan inisiasi dengan sesuatu yang secara lahiriah merupakan suatu upacara di mana orang yang mendapatkan inspirasi / petunjuk bersumpah untuk patuh kepada Syaikh dan kemudian diterima masuk tariqat itu. Sebelum melakukan inisiasi, calon sufi harus merumuskan niat yang benar dan kemudian melakukan lima kali wudhu’ sebagai berikut; masing-masing memiliki dimensi eksoterik dan esoterik:
 pertama wudhu’ taubat yang dengannya orang yang mendapatkan petunjuk bertobat atas perbuatan-perbuatan salahnya di masa lampau;
kedua wudhu’ penyerahan diri atau wudhu Islam, ini menyangkut penyerahan diri luar dalam kepada Allah;
ketiga wudhu’ kemiskinan spritual, yang di dalamnya terdapat cermin-cermin lahiriyah yang membersihkan kesucian batin.
 Keempat wudhu’ ziarah (kepada Syaikh). Orang mensucikan diri dan memakai pakaian yan bersih sebelum mengunjungi Syaikh untuk menerima arahan-arahan untuk mensucikan batin dn berziarah melalui jalan sufi.
Kelima adalah wudhu pelaksanaan.
Orang yang mendapatkan inspirasi itu berdoa untuk bisa diperbolehkan mencapai maqam manusia sempurna dan kenikmatan hidup abadi di Sorga
Kemudian lima macam hadiah atau pemberian yang melambangkan kemiskinan spritual, dipersiapkan dan diberikan kepada Syaikh oleh orang yang mendapatkan petunjuk itu. Hadiah-hadiah atau pemberian-pemberian ini terdiri dari sebuah uang logam, selembar kain kafan berwarna putih, sebuah cincin, gula-gula (makanan) yang manis, dan buah pala. Benda ini memiliki kesan mistik; mata uang melambangkan kekayaan duniawi dan penyerahannya kepada Syaikh melambangkan penerimaan semangat kemiskinan secara batini. Kain kafan melambangkan penyerahan sepenuhnya kepada Allah dan penerimaan kehidupan zuhud. Cincin melambangkan ikatan hati orang yang mendapatkan petunjuk dengan Allah; gula-gula merupakan tanda kelahiran orang yang mendapatkan petunjuk untuk kedua kalinya pada saat dia memasuki dunia kemiskinan spritual. Dan buah pala melambangkan kepala orang yang mendapatkan petunjuk yang diserahkan sebagai tanda pengabdian kepada Syaikh.
Sebelum pencari jalan (sufi) memasuki apa yang diistilahkan sebagai ‘lingkaran kemiskinan spritual’, dia dituntut untuk menyatakan lima komitmen kepada Syaikh.
Dia harus:
(1) mengikuti dan mentaati syari’ah, dengan ujian, jika belum memeluk Islam sebelumnya dengan mengucapkan syahadat dan menambahnya dengan kesaksian lain bahwa “Ali adalah wali Allah”;
(2) menyatakan komitmen untuk berbuat baik kepada semua makhluk Allah;
(3) bersumpah kepada diri sendiri untuk menjaga rahasia Tarikat;
(4) setuju melayani dan mematuhi syaikh tanpa mempertanyakannya dan
(5) menyatakan dalam hati untuk berkorban dan menyiapkan makan khusus dari daging biri-biri untuk dibagi-bagikan kepada saudara sesamanya.
Proses inisiasi (upacara peribadatan) ini meliputi lima kali wudhu’, lima macam hadiah atau pemberian dan lima macam komitmen, yang berbarengan dengan lima prinsip utama yang ditetapkan oleh para pengikut Ni’matullahiyah, yang menunjukkan angka Lima merupakan angka favorit dalam tarikat itu.
Tarikat Ni’matullahiyah secara khas mengidentifikasikan lima prinsip yang harus dilaksanakan oleh setiap pengikutnya.
Prinsip-prinsip itu terdiri dari
(1) zikr,
(2) fikr,
(3) muraqabah,
(4) muhasabah, dan
(5) wirid.

 

Dzikir

Dzikir merupakan upaya untuk mengingat Allah dengan ungkapan tertentu secara berulang-ulang. Muhammad Rasyid Ridha menyebutkan bahwa dzikir adalah terlintasnya makna sesuatu dalam ingatan, secara khusus beliau menyebutnya dengan dzikir qalb dan jika ingatan tersebut bermakna maka disebut dzikir lisan. Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Dzikir adalah penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah SWT. Sungguh, ia adalah landasan bagi tarikat itu sendiri. Tidak seorangpun dapat mencapai Allah SWT, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.
Syaikh tarikat Ni’matullahiyah terdahulu, Mahzub, Ali Syah Hamadani (w. 1823) mengkhususkan 13 syarat agar dzkir itu bisa dilaksanakan dengan baik. Javad Nurbaksh menetapkan sepuluh syarat yang disebutnya adab dzikir. Ada penekanan pada kesucian ritual yang dihasilkan dari wudhu-wudhu biasa yang dilakukan oleh orang-orang mukmin sebelum melakukan shalat lima kali dalam sehari; (1) sebagai rangkaiannya perlu memakai pakaian yang bersih sebagaimana ditentukan merupakan cermin atau lambng luar dari kemurnian pikiran dan hati yang batini, (2) perlu kesucian lahir maupun batin terletak pada setiap murid adalah bau yang harum, (3)murid harus menghadap kiblat dengan posisi siap melakukan shalat, (4) kedua mata harus ditutup (5) menyejajarkan kebutuhan akan niat yang baik dalam ritual yang pokok, murid selama dzikir harus secara mental mengharapkan bantuan Syaikhnya, (6) postur khusus harus digunakan yang menekankan dalam bentuk simbolik ketiadaan sufi dan penolakkannya terhadap ego. Ini diartikulasikan dengan kuat dalam postur tubuh di mana tangan-tangan dan kaki-kaki membentuk kata Arab ‘la ( ??) yang berarti tiada atau tidak. Sekali lagi akan mendapatkan refleksi lahiriyah dari sikap batin untuk menahan diri, (7) mengosongkan pikirannya dari segala macam pikiran-pikiran duniawi dan mengisinya hanya dengan pemikiran-pemikiran tentang Allah, (8) dalam keadaan diam (9) dengan bersyukur dan (10) menerima bahwa perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang didapatkan selama dzikir adalah dari Allah sendiri.
Dua corak dzikir boleh diidentifikasikan : dzikir vokal atau bersuara dan dzikir diam. Meskipun dzikir vokal bisa dilaksanakan ketika Syaikh hadir selama pertemuan-pertemuan Ni’matullahiyah, atau kesempatan-kesempatan khusus, cara dzikir yang disukai dikalangan para pengikut tarikat Ni’matullahiyah adalah dzikir diam. Selain itu dzikir diam dapat dilaksanakan ditengah-tengah kegiatan sehari-hari.
Di atas dzikir ada sama’, yaitu konser mistik atau spritual. Alasan yang melandasi sama’ adalah bahwa ia menimbulkan keadaan ektasi pada pendengarnya yang dipersiapkan dengan baik.
Dalam tariqat Ni’matullahiyah, musik digunakan sejak awal sebagaimana majelis Syah Ni’matullah Wali tetapi ia disesuaikan, menurut pendapatnya dengan Syari’ah, dan mencegah adanya tarian dan gerakan memutar-mutarkan badan. Sama’ terdiri dari dzikir sederhana disertai tepukan tangan dan kadang-kadang menggunakan gendang kecil dan seruling. Para Syaikh tarikat ini kemudian hari mengembangkan seluruh peristilahan simbolik sufi yang mencakup anggur, musik, sama’, dan pertemuan-pertemuan bersama. Sama’ dirumuskan sebagai keadaan mistik yang dialami para sufi ketika terpengaruh oleh nyanyian yang merdu dan irama-irama yang menyayat hati. Dalam keadaan kosong tanpa pikiran, para sufi bisa mempertunjukkan gerakan-gerakan, seperti sejenis tarian.
Dengan mengikuti Syaikh Ruzbihan Baqli Syirazi ada tiga tipe sama’ yang diidentifikasikan ; yang sesuai untuk orang biasa, yang sesuai untuk orang pilihan dan yang sesuai untuk orang pilihan di antara orang pilihan. Al-Hujwiri menentang terlalu banyak sama’ dan menetapkan sejumlah syarat untuk melakukan sama’ dalam rangka menghindari penyalahgunaannya.
Fikir
Fikir atau tafakkur merupakan keharusan bagi setiap muslim bahkan menurut al-Ghazali berfikir atau bertafakkur itu lebih tinggi tingkatannya dibandingkan berzikir, karena berfikir pada hakikatnya adalah kegiatan untuk memperoleh pengetahuan. Para sufi mengatakan bahwa berfikir merupakan suatu jalan untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki.
Fikir adalah salah satu di antara lima macam peribadatan utama yang diwajibkan kepada darwisy Ni’matullahiyah. Allah adalah pusat fikir sufi yang mutlak, dengan pikiran yang sama sekali kosong dari semua hal lain. Fikir sufi ditanamkan dengan cinta dan mentransendensikan fikir tokoh atau intelektual (‘arif) yang mencoba mencapai Allah melalui perantara pengetahuan. Meskipun kontemplasi “yang rasional” terjalin di dalamnya, namun kontemplasi “yang didasarkan atas hati’ harus didapatkan. Para pengikut tarikat Ni’matullahiyah mengidentifikasikan tiga macam kontemplasi “yang didasarkan atas hati”:pertama, ada kontemplasi yang berkesinambungan dengan pencari Allah yang tidak memiliki Syaikh dan tarikat tetapi mulai memikirkan perlunya seorang pembimbing spritual;kedua, ada kontemplasi dari orang yang baru pertama kali memasuki jalan spritual di mana dia mempersepsi keindahan spritual Syaikhnya; dan, yang ketiga ada fikir yaitu kontemplasi dari ‘Sufi yang telah maju’ di mana ruhnya ‘terjun masuk ke dalam Kesatuan Tuhan’ dan akhirnya kontemplasi menjadi kebijaksanaan. Bagi pengikut tarikat Ni’matullahiyah hati menempati posisi di atas pikiran, dan bahwa cinta lebih kuat dan lebih potensial ketimbang akal.
Muraqabah
Secara ringkas muraqabah adalah awas mengawasi atau berintai-intaian. Ini dalam rangka pemantapan dari segi hakikat untuk memperoleh ma’rifat. Muraqabah adalah sikap waspada pada setiap saat, selalu mengawasi diri sendiri, menjaga diri dengan ketat agar terus menerus berada dalam garis taat dan jangan sampai menyeleweng kepada maksiat. Adapun Annemarie Schimmel menyebutkan muraqabah sebagai meditasi atau pemusatan diri pada ketenangan yang sempurna sehingga memungkinkan seseorang mengalami musyahadah (penyaksian tuhan). Tetapi penglihatan ini hanya dapat digambarkan sebagai kehadiran atau kedekatan yang disertai dengan ilm al-yakin, ain al-yakin dan pada tarap arif haq al-yaqin.
Javad Nurbaksh mengatakan muraqabah adalah dua bangsa yang satu sama lain saling memelihara dan melindungi. Para tokoh tarikat sudah mengemukakan tentang muraqabah bahwa sebagaimana Allah memelihara dan melindungi manusia, maka manusia pun dalam hatinya harus memelihara dan melindungi Allah. Selanjutnya Nurbaksh menyatakan adadua arah muraqabah itu; dari Allah kepada makhluk dan dari makhluk kepada Allah.
Dalam menggambarkan arah pertama Nurbaksh segera mengikuti pernyataan dengan definisi dari Syaikh Ruzbihan bahwa muraqabah adalah kesadaran Ilahi terhadap setiap aspek penciptaan dari hadirat Allah sampai dengan gejala yang paling rendah, dan kemahapenglihatan-Nya dari semua sifat dengan tujuan memberikan rahmat kepada mereka.
Arah yang kedua muraqabah adalah dari makhluk kepada Allah yang terbagi menjadi arah muraqabah syari’ah, muraqabah iman, dan muraqabah Ilahiyyah, tetapi yang terakhir disebut ini diperuntukkan bagi wali Allah. Muraqabah harus ada di tempat yang kosong dan tidak ramai, dan dilaksanakan dalam keadaan tenang. Untuk menghindari segala macam gangguan pribadi tubuh kita harus bersih, menyenangkan dan bebas dari bau yang tidak sedap. Muraqabah semacam itu memiliki adab atau aturan ritual sendiri; misalnya, ia harus diawali dengan wudhu’, orang yang melakukan meditasi harus duduk di atas tanah menghadap kiblat, masih dalam keadaan mata tertutup, dan pikiran harus sepenuhnya dipusatkan pada Allah. Suatu upaya dilakukan untuk melenyapkan perasaan individu atau nafsu.
Sasaran muraqabah secara menyeluruh, tegas Nurbaksh adalah menjadi orang asing terhadap dunia ini dengan dualismenya “saya” dan “Engkau”. Allah menjadikan manusia mati terhadap dirinya dan kemudian dia hidup kembali dalam Allah.
Muhasabah
Muhasabah berarti menghitung, melakukan perhitungan. Muhasabah erat kaitannya dengan seorang sufi yang bernama Haris al-Muhasibi. Al-Muhasibi adalah seorang yang selalu menghitung dan mengintrosfeksi dirinya dan amal jeleknya dan karena ia terlalu banyak menghitung kesalahan dan dosa yang ada pada dirinya, maka dinamailah ia dengan al-Muhasibi. Beliau mengatakan muhasabah adalah membangkitkan akal untuk menjaga nafsu dari pengkhianatannya, agar kelebihannya lebih berperan daripada kekurangannya. Al-Ghazali mengingatkan agar orang jangan merasa aman oleh kerasnya hati yang disebabkan oleh dosa-dosa dan beliau memerintahkan agar merenung sambil menghitung diri. Jika merasa berdosa hendaknya bertobat, tapi jika tidak banyak dosa hendaknya bersyukur sambil memperbanyak ibadah.
Para pengikut tarikat Ni’matullahiyah menegaskan bahwa prinsip muhasabah mempunyai landasan al-Qur’an dan didukung oleh hadits. Tiga jenis muhasabah diidentifikasikan untuk pengikut Ni’matullahiyah ;
Muhasabah jiwa, yaitu sufi yang bersngkutan dinasihati untuk memeriksa kesadarannya selama beberapa menit setiap malam dan memeriksa secara rinci semua perbuatan negatif maupun positifnya pada hari yang bersangkutan.
Muhasabah Tariqatmerupakan corak pemeriksaan diri yang jauh lebih maju di mana sufi yang bersangkutan mencoba membebaskan diri dari rantai-rantai yang disebut sebagai “keserbaragaman” dan meraih kondisi yang lebih menyatu dan
Muhasabah Ilahiyyah, merupakan bentuk muhasabah tertinggi dan dianggap paling mulia bagi sufi Ni’matullahiyyah dan ini ditujukan kepada Syaikh tarikat.
Secara umum diakui bahwa langkah besar di jalan Allah, baik sufi ataupun bukan, terletak pada kesadaran terhadap jiwa dan kemampuan jiwa tersebut terhadap dosa. Muhasabah membukakan pintu-pintu menuju kepada kesadaran itu.
Wirid
Para pengikut tarikat Ni’matullahiyah membedakan antara dua tingkatan wirid: kata itu bisa menunjukkan pekerjaan harian seseorang dan juga doa harian seseorang. Pada tingkatan kedua yang lebih tinggi ia berarti pengulangan beberapa ayat al-Qur’an, hadits dan beberapa frase atau kata-kata pada saat-saat tertentu. Wirid semacam itu menuntut dua persyaratan sebelum ia dilakukan, yaitu kesucian hati dan izin dari Syaikh. Para pengikut tarikat Ni’matullahiyah mengutip etimologi kata-kata sufi dari al-Junaid, yang secara klasik diturunkan dari kata Arab suf (???) yang berarti bulu halus. Tetapi ditekankan bahwa ketiga huruf Arab (? ? ? ) yang membentuk kata suf itu, masing-masing memiliki makna mistik dan huruf waw ( ? ) mewakili wirid dan doa pendek.
Pembacaan doa pendek secara berulang-ulang dimaksudkan untuk memusatkan diri seorang sufi seutuhnya kepada Allah, dan para pengikut tarikat Ni’matullahiyah menganggapnya pengamalan sangat penting diilhami dari al-Qur’an. Dengan demikian ia menempati peringkat kelima di antara lima prinsip utamanya.
Dalam buku petunjuk bagi para pengikut tarikat Ni’matullahiyah di Inggris, In the paradise of the Sufis, membagi wirid menjadi dua tingkatan; pertama, ada doa ritual Islam yang berbarengan dengan doa-doa lain yang disarankan; kedua, ada wirid di jalan sufi yang juga dibagi lagi menjadi dua sub-kategori; bacaan-bacaan pendek dari imam yang diikuti makmum setelah melakukan shalat lima waktu (misalnya Allahu Akbar sebanyak 33 kali), dan doa-doa khusus yang ditetapkan Syaikh tarikat.
Wirid dalam tarikat Ni’matullahiyah, dibagi menjadi dua, yaitu wirid biasa dibaca seusai shalat wajib dan wirid khusus yang diberikan guru tarikat. Di dalam jenis wirid kedua termasuk ayat-ayat al-Qur’an tertentu yang mesti dibaca berulang-ulang.
a. Wirid selepas shalat.
1. Secara berturut-turut membaca Allah Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali danSubhanallah 33 kali
2. Setelah itu membaca laa ilaaha illallaah 3 atau 100 kali
3. Membaca ayat Kursi (QS. Al-Baqarah : 255-257)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi tersu-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi Maha Besar.
Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendenar lagi Maha Mengetahui.
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
4. Setelah mengucapkan wirid di atas, pengikut tarikat bersujud sebagaimana bersujud waktu shalat. Seelah itu dia membaca sebanyak 3,5, atau 7 kali wirid berikut :

Wahai Pembuka pintu kemurahan! Wahai Sumber semua keinginan! Wahai Penggerak hati dan mata! Wahai Pemelihara siang dan malam! Wahai Pengubah tenaga dan keadaan! Ubahlah kedaanku menjadi sebaik-baik keadaan!

Para penempuh jalan spritual (salik) juga dianjurkan membaca kunut setiap berakhirnya rakaat kedua shalat :
??????? ??? ????? ?????? ?????? ??????? ????? ??????? ????? ???????? ???? ???????? ????? ????? ??????????????????. ?????? ???? ???? ???? ????? ???? ?????? ???? ???? ???? ????? ???? ????? ??????? ???? ????? ???????.??????? ???? ??????? ??? ??, ??????? ?? ????? ?? ??? ???, ?????? ?? ??? ???, ?????? ?? ??? ???? ??????? ????? ???? ???,??????? ?? ??? ???, ?????? ???? ??? ????? ???? ??? ??
Ya Allah, terangi wujud lahirku dengan ketaatan kepada-Mu, wujud batinku dengan kecintaan kepada-Mu, hatiku dengan makrifat tentang-Mu, rohku dengan penglihatan karib kepada-Mu, dan sir-ku dengan kesanggupan mencapai Arasy-Mu.
Wahai Yang Maha Besar dan Maha Agung! Ya Allah, terangi hatiku dan penglihatanku, pendengaranku, lidahku, tanganku, kakiku, dan seluruh tubuhku. Wahai cahaya segala cahaya!
Ya Allah, tunjukkan sesuatu sebagaimana adanya. Ya Allah, jadilah Engkau arahku setiap kali aku mengarah, sasaranku setiap kali aku mengincar, tujuanku dalam setiap aktivitas, tempat pelarian dan pendorongku dalam setiap kesukaran dan dukaku, kecintaanku dalam setiap situasi. Hanya dengan kemurahan dan kasih-sayang-Mu. Kekuatan-Mu dapat membimbing setiap perbuatanku. Ya Allah, li,pahkanlah shalawat dan salam atas Muhammad. Juga ataas keluarganya, sebaik-baik keluarga.
Syekh Bayazid al-Bhisthami, sufi abad ke-9 M, mengucapkan kunut yang indah dan bersahaja :
???? ??? ???? ?? ????
Ya Allah, hanya Kau yang mengetahui keinginanku!
b. Wirid Khusus
Mengenai wirid khusus yang diberikan wali Tarikat Ni’matullah, di antaranya adalah :
1. Kutipan ayat al-Qur’an surah Al-Anbiya : 87, di baca 110 kali :
????? ??? ??? ?????? ??? ??? ?? ?????????
Tiada Tuhan selain Engkau (Allah), seluruh pujian hanya untuk-Mu, sesungguhnya aku termasuk di antara orang yang lalim.
Wirid di atas dikenal sebagai wirid Yunus. Dengan membaca wirid tersebut, Nabi Yunus a.s. dapat keluar dari perut ikan hiu.
2. Membaca 42 kali wirid berikut :
Wahai Yang Maha Hiudp dan Maha kekal! Wahai yang tiada Tuhan selain Engkau! Kepada rahmat-Mu semata aku berlindung!
3. Membaca 7 kali
????? ???? ??????, ????? ???? ?????? ??????, ?????? ????
MahaTerpuji dan segala puji kepada Tuhan. Maha Terpuji Allah Yang Maha Agung. Kepada Allah aku memohon ampunan.
4. Membaca 7 kali
??? ???? ?????? ??????, ????? ??? ???? ??? ?????? ?????? ??????
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada kekuatan dan kuasa selain dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar.
5. Membaca 7 kali
Dialah Tuhan, tiada Tuhan selain Dia. Yang Maha Mengetahui yang gaib maupun yang nyata. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
6. Membaca ayat al-Qur’an surah al-Hasyr : 23-24
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, yang Mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Selain itu, para Syaikh tarikat Ni’matullahiyah menganjurkan kepada ahli tarikat, khususnya dalam keadaan tertentu, seperti menghadapi bahaya dan lain-lain, untuk membaca : ayat al-Qur’an surah al-Baqarah : 163, Ali ‘Imran : 17, al- An’am : 103, al-Taubah : 129, Thaha : 7-8,98, al-Mukminun : 116, al-Naml : 26, al-Qashaa : 70, 88, al-Mu’min : 65, al-Taghabun : 13, al-Muzammil : 9. Juga dianjurkan membaca surah al-Waqi’ah dan al-Mulk.
3. Aturan Hidup
Orang yang telah melaksanakan inisiasi dan mendapat izin formal untuk masuk ke dalam khanaqah, maka kewajiban selanjutnya adalah mengikuti aturan rumah tangga dan berprilaku dengan tatacara atau adabnya. Aturan itu didasarkan atas dua pilar pertimbangan Allah dan pertimbangan untuk sesama pengikut atau anggota. Sufi-sufi dibimbing untuk berpakaian rapi, melupakan urusan duniawi pada saat masuk khanaqah, mengikuti pertemuan-pertemuan sufi pada hari Ahad dan Kamis malam, tetap diam dan memberi penghormatan ketika Syaikh hadir dan menceritakan kepadanya impian-impian mereka, mentaati perintah-perintah (Syaikh) Penasihat dan mencegah perilaku sombong, menipu dan takabur.
Aturan hidup itu diakhiri dengan perintah-perintah untuk penyelenggaraan pertemuan sufi yang dirumuskan sebgai persidangan yang diadakan ketika qutb atau Syaikh hadir. Aturan tentang sikap jasmani, yang semuanya memiliki makna simbolik, dijelaskan secara rinci dan penekanan diletakkan pada sikap diam dan berkonsentrasi kepada Allah. Beberapa ritual tertentu juga dilakukan pada waktu menggelar kain di lantai untuk makan dan makanan yang dimakan daripadanya. Bagian terakhir dari seluruh aturan adalah nasihat secara umum. Di sini sufi diingatkan akan perlunya keterbukaan dan persahabatan dengan orang-orang dari segala macam bangsa dan agama dan perlu para sufi itu memusatkan pemikirannya kepada Allah, yang Maha Dicintai

D. Analisa

Tariqat Ni’matullahiyah merupakan tarikat yang lebih banyak berkembang di Amerika Serikat, Eropa Barat (termasuk Inggris), Australia dan Afrika. Karena itu tarikat Ni’matullahiyah dikatakan sebagai tarikat internasional yang diikuti oleh dunia internasional dari banyak bangsa. Dan sepanjang pengetahuan penulis tariqat ini tidak berkembang di Indonesia, sehingga sulit untuk mengetahui silsilah dari tarikat ini secara rinci.
Adapun silsilah dari tarikat ini yang penulis ketahui adalah terdiri Syah Nimatullah Waliboleh diruntut kembali silsilahnya melalui Syaiknya sendiri, Abdullah al-Yafi’i dan syaikhnya, Syaikh Salih al-Barbari, melalui orang-orang penting sepertiAhmad al-GhazaliJunaid al-Bagdadi, dan al-Hasan al-Basri hingga sampai keadaan Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad sendiri.
Dalam ajaran tariqat Ni’matullahiyah ini ada terdapat istilah “LIMA” yaitu lima kali wudhu’, lima macam hadiah atau pemberian dan lima macam komitmen serta lima prinsip utama. Lima prinsip utama seperti dzikir, fikir, muraqabah, muhasabah dan wirid ini merupakan satu pengertian yang mirip dengan arkan al-Islam. Namun perlu ditekankan bahwa tarikat Ni’matullahiyah sama sekali tidak menganggap kelima prinsip mereka sebagai pengganti lima arkan pokok Islam. Sebaliknya prinsip-prinsip itu adalah suplemen-suplemen spritual yang didasarkan pada al-Qur’an dan dimaksudkan untuk membimbing orang mu’min menuju pemahaman peribadatan Islam secara lebih mendalam.
Dalam tariaat Ni’matullahiyah tidak didapati ajaran-ajaran yang menolak pengamalan-pengamalan ritual pokok Islam, bahkan sebaliknya dalam tarikat ini ditegaskan akan pelaksanaan shalat lima waktu setiap hari secara teratur tanpa meninggalkannya secara syari’at Islam. Ini menunjukkan bahwa dalam mencapai tujuannya yaitu maju ke tingkat spritual yang lebih tinggi, tarikat Ni’matullahiyah ini tidak meninggalkan ketetapan-ketetapan syari’at. Dan yang paling menarik adalah bahwa adab atau tatacara dalam melaksanakan semua ajarannya (lima prinsip utama) ini melibatkan gabungan aspek jasmani dan kegiatan mental (ruhani) dan bagi sufi itu sendiri jasmani menggunakan penyerahan diri kepada jiwa melalui ritual-ritual peribadatannya dan yakin bahwa dia berada di jalan menuju Allah.
Jadi tariqat Ni’matullahiyah merupakan tarikat yang memperhatikan keseimbangan antara ruhani dan jasmani, antara dimensi batin dan dimensi lahir. Ini menunjukkan bahwa tarikat ini sesuai dengan tasawuf modern yang berusaha mencari keseimbangan di antara dunia dan akhirat. Di samping itu tarikat ini juga tidak pernah menjadi tarikat aristokratik,atau tariqat yang hanya diarahkan pada salah satu kelas masyarakat saja. Sebaliknya ia bisa terbuka untuk siapa saja. Di sini para sufi diperingatkan perlunya keterbukaan dan persahabatan dengan orang-orang dari segala macam bangsa dan agama dan perlu para sufi itu memusatkan pemikirannya kepada Allah, yang Maha Dicintai. Sehingga adalah wajar jika tarikat ini berkembang justru di kota-kota atau negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, dan sebagainya.
Walau demikian tampaknya tarikat ini bertujuan tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, namun lebih jauh lagi tarikat ini berusaha untuk bisa menyatu dengan Tuhan. Hal ini dapat kita lihat, misalnya dalam kontemplasinya atau fikir dari sufinya yang telah maju di mana ruhnya terjun masuk ke dalam kesatuan Tuhan dan akhirnya kontemplasi menjadi kebijaksanaan. Bagi pengikut tarikat ini hati menempati posisi di atas fikiran, dan bahwa cinta lebih kuat dan lebih potensial ketimbang akal. Demikian pula dalam muraqabahnya, Allah menjadikan manusia mati terhadap dirinya dan kemudian dia hidup kembali dalam Allah. Adanya tujuan untuk bisa menyatu dengan Tuhan ini kelihatannya karena adanya pengaruh ajaran dari Abu Yazid al-Bisthami dengan paham ittihadnya dan juga Ibnu ‘Arabi dengan paham wihdatul wujud nya.
Ada satu hal yang perlu mendapat perhatian di dalam tariqat Ni’matullahiyah ini, yaitu bagi pencari jalan (sufi) yang ingin memasuki apa yang diistilahkan sebagai ‘lingkaran kemiskinan spritual’, sebelumnya dia dituntut untuk menyatakan lima komitmen kepada Syaikh. Dan salah satu komitmen itu adalah dia harus mengikuti dan mentaati syari’ah, dengan ujian, jika belum memeluk Islam sebelumnya dengan mengucapkan syahadat dan menambahnya dengan kesaksian lain bahwa “Ali adalah wali Allah”. Ini menunjukkan bahwa dalam tarikat Ni’matullahiyah terdapat ajaran-ajaran Syi’ah. Dan ini adalah wajar karena tarikat ini muncul dan berkembang di negara Iran, yang tentunya secara historis maupun secara kultural, aliran Syi’ah telah dan sangat eksis di negara ini dan tentunya dapat memberi pengaruh terhadap ajaran-ajaran tarikatnya.
Dalam hal ini perlu pula kita melihat pendapatnya Graham : bahwa keturunan langsung dari Syah Ni’matullah maupun Ali Hamadani berbalik kepada kelompok Syi’ah adalah sekedar refleksi dari kelenturan dan toleransi dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk lahiriyah yang telah mereka ajarkan, di mana lingkungan sosial dan politik terpaksa dihadapkan pada tuntutan penyesuaian dengan bentuk tertentu dengan tujuan melindungi metode esensialnya yaitu menjaga dan mengamankan tarikat. Di samping itu Pourjavady dan Wilson mengatakan : karena para pengikut tarikat Ni’matullahiyah sekarang kurang lebihnya adalah tarikat Syiah maka di sana ada godaan untuk menganggap bahwa pernyataan syah Ni’matullah itu dalam kerangka doktrin Syi’ah. Namun sebenarnya adalah Syah Ni’matullah dilahirkan dan sangat boleh jadi meninggal sebagai seorang Sunni.
Tariqat Ni’matullahiyah ini tidak berkembang di Indonesia, ini mungkin dikarenakan tidak adanya guru atau Syaikh-nya yang berusaha mengembangkannya. Di samping itu mungkin pula karena ada ajaran-ajarannya yang sama dengan aliran Syi’ah sehingga tarikat ini sulit berkembang di Indonesia. Karena bagaimanapun di negara kita, aliran Syi’ah, terutama Syi’ah yang ekstrim ditolak kehadirannya. Hal ini dapat kita lihat dari hasil keputusan “Seminar Nasional Sehari tentang Syi’ah” tepatnya tangggal 21 September 1997 di Mesjid Istiqlal, Jakarta. Meskipun demikian perlu juga untuk kita ketahui bersama bahwa di negara kita ini ada saja orang yang menganut aliran Syiah terutama Syi’ah moderat dan ini telah lama ada, namun karena mereka pandai untuk menutup diri dangan ajaran taqiyahnya, sehingga sulit dan berat untuk melacak gerakan mereka.

E. Penutup

Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Tariqat Ni’matullahiyah didirikan oleh Nuruddin Syah Ni’matullah Wali. Tarikat ini didirikan di Mahan dekat Kirman barat daya Iran. Para pengikutnya terutama di Iran dan India. Dan sekarang sudah berkembang sampai ke negara Amerika Serikat, Eropa Timur, Australia dan Afrika.
Syah Ni’matullah menjadikan doktrin yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi sebagai ilmu terapan dan ajaran-ajaran Ibnu Arabi merupakan latar belakang teoritik bagi program latihan syah Ni’matullah. Dalam peribadatan tarikat ini adalah istilah “inisiasi atau upacara” ini meliputi lima kali wudhu’, lima macam hadiah atau pemberian dan lima macam komitmen, yang berbarengan dengan lima prinsip utama yang ditetapkan oleh para pengikut Ni’matullahiyah, yang menunjukkan angka Lima merupakan angka favorit dalam tarikat itu.
Lima prinsip utama terdiri dari (1) zikr, (2) fikr, (3) muraqabah, (4) muhasabah, dan (5) wirid.
Meskipun ada yang menganggap tarikat Ni’matullahiyah ini sebagai tarikat Syi’ah, namun ada juga hal yang menarik di dalam ajarannya di mana tarikat Ni’matullahiyah ini lebih menekankan pada toleransi, persaudaraan, persamaan, dan peribadatan.
Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

Dorongan
 Batin Untuk Menuju Ke Jalan Allah

Ketahuilah bahwa jalan permulaan yang ditempuh ialah munculnya semacam dorongan yang kuat didalam hati yang mengerakkan, menarik dan mengajak untuk kita menuju ke jalan Allah Taala dan menuju ke jalan akhirat serta membelakangkan dunia dan membelakangkan segala yang menjadi kebiasaan kita pada mengejar dunia; seperti mengumpul harta dan kekayaan, bersenang lenang mengikuti kehendak syahwat dan hawa nafsu juga bermegah megah dengan keindahan dan kemewahan termasuk keluarga, kaum kerabat, sahabat handai yang dicintai dan lain lain lagi.
Dorongan ini merupakan “Rahsia Ketuhanan” yang diberikan ke dalam batin hambaNya samada dengan cara menakutkan atau mengembirakan ataupun dengan cara menimbulkan
perasaan rindu kepada ZatNya ataupun juga melalui pertemuan dengan para wali Allah atau ketika mendapat pandangan daripada mereka. Kadang kadang dorongan itu terjadi tanpa ada sesuatu sebab yang tertentu. Bercita cita untuk mendapatkan “dorongan” serupa itu sangat sangat disuruh dan digalakkan. Tetapi bercita cita atau berharap saja untuk meningkat tanpa berusaha dan menetap dipintuNya adalah suatu keputusan yang bodoh. Betapa tidak, bukankah Rasulullah saw pernah bersabda;
“Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan berbagai limpahan (kurnia) pada setiap MASA, maka hendaklah kamu mencarinya”
Sesiapa yang telah diberikan penghargaan oleh Allah Taala dengan dapatnya “dorongan” mulia ini maka hendaklah dia meletakkan dirinya pada tempat yang sesuai. Hendaklah kita mengetahui bahwa pemberian Allah Taala ini adalah NIKMAT TERTINGGI antara nikmat nikmatNya yang lain yang tidak dapat ditentukan darjatnya dan tidak dapat dinilai kesyukuran atasnya.
Keterangan:
“Masyallah, sedarlah wahai sekelian saudaraku, Ini adalah “Penghargaan dan
Penghormatan” yang datang langsung daripada Allah swt. Maka hendaklah kita mengetahui akan pemberian Allah Taala ini adalah Nikmat Tertinggi antara nikmat nikmatNya yang lain dan janganlah kita rosakkan dan cacatkan “Penghargaan, Penghormatan dan Nikmat Tertinggi” dengan mengabaikannya atau melalaikan”.
“Meletakkan diri kita pada tempat sesuai bermaksud; “Dorongan Kemauan_Rahsia
Ketuhanan” ini seperti Permata yang sangat sangat berharga dimana kita tidak dibenarkan
meletaknya dilumpur atau berdekatan dengan lumpur. Fahamilah maksud ini”.
Maka wajarlah kita membanyakkan kesyukuran terhahap Allah Taala atas nikmat besar yangtelah diberikan kepada kita yang sudah dipilih dan mungkin akan diutamakanNya
(sekiranya kita mengikuti akan peraturan yang telah digariskan oleh Habib Abdullah
bin Alwi AlHaddad), kita antara orang orang yang setaraf dan rakan-rakan seperjuangan
untuk diberikannya nikmat itu.
Betapa banyaknya orang Islam yang telah mencapai usia 80 tahun atau lebih tetapi masih
belum lagi diberikan “dorongan” serupa itu dan hati mereka tidak pernah sekalipun diketuk oleh “Rahsia Ketuhanan” ini.

Keterangan:

“Alhamdulillah, kami panjatkan syukur kepadaMu Ya Allaaah yang telah memberi dan
meletakkan “dorongan Kemauan_Rahsia Ketuhanan” ke dalam hati hambaMu yang kotor ini,yang penuh dengan dosa dan noda, buta mata zahir dan buta mata batin kami yang selama ini sudah banyak kami remehkan perintah dan laranganMu, mengabaikan dan melalaikan segala nikmat yang Engkau sentiasa berikan dengan tidak mensyukuriMu dengan sewajarnya. Astagfirullah . . . Alhamdulillah”
“Ya Allaaah, kami adalah hambaMu yang tidak ada Daya dan Upaya untuk menjaga
pemberianMu yang tak ternilai ini. Kami mohon kepadaMu, Berilah kami Perlindungan,
Bantuan, Pertolongan dan kekuatan supaya dapat menjaga dan membawa “Dorongan
Kemauan_Rahsia KetuhananMu” ini sebaik baik mungkin. Hanya dengan kehendak dan
izinMu jua yang kami harapkan yang akan berlaku dan pasti berlaku. Kami mohon kepadaMu dengan keberkahan Nabi dan RasulMu, Muhammad saw, dengan keberkahan Ahli BaitNya dan ZuriatiNya, dengan keberkahan Para Habaib yang kami Cintai, dengan keberkahan Guru kami dan Guru Guru mereka. Amin, Amin, Amin, Ya Rabbal Alamin.
Bagaimana Cara Memelihara “Dorongan Kemahuan Rahsia
Ketuhanan
Setiap murid harus rajin berusaha untuk memperkukuh (menguatkan), memelihara dan
mengikuti ajakan dorongan kebatinan ini seperti berikut:
1. Memperkukuhkannya: Dengan memperbanyakkan Mengingati Allah Taala,
Merenung dan Meneliti segala Kekuasaan Allah Taala dan senantiasa berdampingan
dengan Para Wali Allah, Ulama Ulama, Para Guru Guru.
2. Memeliharanya: Menjauhkan diri dari bercampur gaul dengan orang orang yang
terlindung dari pandangan Allah Taala dan juga dengan meletakkan belakang segala
was was dan tipu daya syaitan.
3. Mengikuti: Berlumba lumba kembali / menuju ke jalan Allah, berlaku benar dalam
menghadapi segala PerintahNya, tidak bermalas malas, tidak menangguh-nanggguhkan
dan tidak melambat-lambatkannya. Apabila sampai saja masanya hendaklah
menunaikannya dan apabila merasa seruan bakti hendaklah tidak tunggu tunggu lagi.
Berhati hati dari ucapan besok atau lusa sebab yang demikian adalah dari hasutan
syaitan. Hendaklah terus mengerjakan segala amal baik dengan segera dengan tidak
menunggu-nunggu ataupun mencari keuzuran (mencari alasan alasan) kerana tidak ada
masa lapang, penat, kurang sihat ataupun belum sampai masa untuk beramal dan
sebagainya.
Berkata Abur-Rabi’ rhm: Tunjukkanlah dirimu ke jalan Allah kepada Allah dalam keadaan tempang dan cacat anggota dan jangan menunggu waktu sihat saja kerana menunggu waktu sihat adalah kerugian.
Keterangan:
“Maksud; Tunjukkan pada Allah Taala walaupun jasad kita penat, letih dan mempunyai
halangan halangan lain yang datang, kita tetap hadir pada hari yang telah kita khususkan
buat ‘Dia’ dimana kita dapat menimba ilmu untuk membersihkan dan mendekatkan diri
kepadaNya. Kita tetap menjalankan segala perintahnya dan menjaga larangannya.
Menjalankan wirid wirid harian dan lain lain”.
Keterangan:
“Jangan menunggu waktu sihat bermaksud; orang yang sihat tidak ada ujian dan cubaan dan dengan mudah dapat hadir tanpa memberikan alasan, melaksanakan amal bakti tetapi orang yang penat selepas kerja, letih, yang sakit dan ada saja halangan-halangan supaya dia tidak dapat hadir, melaksanakan amal bakti itu adalah ujian dan cubaan berat baginya. Sekiranya dia dapat mengatasi masalah ini maka Allah Taala akan “SENYUM” keatas dirinya kerana dia mempunyai Haqul Yakin bahwa kehadirannya akan membuat Allah Taala, senyum, Rasulullah saw, senyum, Para Malaikat yang ditugaskan menjaga majlis bakti, senyum, Para penduduk bumi, senyum, Para penduduk langit senyum. Masyallah, Subhanallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”.
Berkata Ibu Atha’ didalam kitabnya Al-Hikam: Melambat lambatkan suatu pekerjaan sehingga ada peluang menunjukkan kebodohan jiwanya.
Keterangan:
“Maksud; Mencari alasan demi alasan supaya tidak perlu hadir untuk melaksanakan amal
bakti dan menunda-nundakan peluang (untuk mencari alasan alasan) untuk diberi
menunjukkan dia lebih senang mendengar nasihat syaitan daripada seruan Allah Taala dan RasulNya”.
Taubat
Langkah pertama yang harus dilalui oleh setiap murid dalam menuju kepada Allah Taala ialah dengan bertaubat kepada Allah Taala dengan sebenar benarnya taubat daripada segala dosa. Jika ada sesuatu hak orang lain dalam simpannya yang telah dizaliminya pada masa lalu, maka haruslah dikembalikan pada pemilik hak jika barangnya masih ada. Jika barangnya sudah tidak
ada haruslah diganti dengan lain ataupun dipohon dari pemiliknya untuk dihalalkan.
Sebab orang (murid) yang masih bergantung zimmatnya (menanggung hak orang) dengan hak orang lain tidak berkemungkinan dapat menuju ke jalan Allah Taala.
“Habib Abdullah AlHaddad menjelaskan bahwa bertaubat harus dilakukan pada semua murid murid yang ada keinginan untuk menuju kepada Allah swt dengan taubat yang benar, mengandungi maksud “dengan penuh keinsafan dan ikhlas atas taubatnya itu”.
Keterangan:
“Sekiranya ada didalam simpanannya atau sudah dihilangkan atau sudah dijualnya tanpa
pengetahuan pemiliknya hendaklah di kembalikan sekiranya masih ada. Sekiranya sudah tidak ada harus diganti. Sekiranya tidak berkemampuan hendaklah memohon maaf pada pemiliknya supaya menghalalkannya sekiranya pemilik itu setuju. Kalau tidak, maka mahu atau tidak harus digantikan, tidak ada jalan lain.
Terjebaknya seseorang melakukan demikian adalah seperti berikut:
1. Suka menjadi Pak Sanggup: Pada permulaannya ada niat yang bersih untuk menolong pada pemilik samada untuk di simpan atau untuk diperbaiki barang kepunyaan pemilik itu.
2. Niat bersih bertukar: Pada suatu masa datanglah niat si pak sanggup itu bertukar kerana desakkan kehidupan yang sempit sehingga sanggup menjual atau mengadai barang kepunyaan pemilik itu tanpa pengetahuan pemilik sebenar. Kerana didalam kiraannya, dia sanggup mengantikan atau menebus balik barangan itu semula pada masa tertentu.
3. Hati yang kotor: Bila sudah tidak dapat mengembalikan barang kepunyaan pemilik, hatinya bertukar menjadi kotor hingga sanggup buat tak tahu yang dia ada menerima sesuatu barangan yang bukan kepunyaannya yang harus dikembalikan walaupun berdepan dengan pemilik yang sebenar tanpa segan silu dan perasaan takut.
4. Tiada ketakutan dalam hatinya:
Pertama, Allah Maha Mengetahui akan sikap si pak sanggup itu yang tidak akan dapat mengembalikan barangan kepunyaan pemilik sebenar tetapi Tuhan mengizinkan juga kerana ada kemungkinan datang pada pak sanggup itu sifat tahu memilih untuk menjadi seorang yang amanah didalam perjanjiannya.
Kedua, oleh kerana cetek ilmu pengetahuan agama maka si pak sanggup itu tidak dapat menilai mana yang baik, mana yang buruk dimana ada tertanam didalam hatinya bahwa bila ada rezki akan dikembalikannya.
Ketiga, si pak sanggup lupa dan tidak tahu bahwa dia tidak mempunyaikeupayaan dan kuasa untuk mengembalikan barangan itu hanya bersandar kepada rezki yangakan datang tanpa berusaha untuk membuat sesuatu tapi hanya duduk dan mengharap aje.
Keempat, maka Tuhan menghinanya kerana tidak mahu berusaha untuk mengembalikan
barang kepunyaan pemilik kerana hatinya tidak ada perasaan takut kepada pemilik baranganitu. Bila sudah ada sifat tidak takut pada pemilik walaupun berdepan dengan pemilik, itumenunjukkan bahwa hakikatnya si pak sanggup tidak takutkan Tuhannya, itupun kalau dia ada Tuhan”.
“Habib Abdullah juga menyebut tentang perjalanan murid menuju kepada Tuhan tidak
berkemungkinan sampai kepada Tuhan selagi ada menanggung hak orang lain. Terpulanglah kepada Tuhan untuk menghakimi hambanya samada dibenarkannya untuk meneruskan perjalan hambanya atau tidak. Ini tergantung pada sihamba samada ketidak sanggupan yang sebenar yang di alami dirinya, keikhlasan hati, bertaubat sebenarnya, mempunyai perasaanmalu dan takut pada pemilik barang, berjanji dengan Tuhan tidak akan mengulangi sikapnya untuk menjadi pak sanggup pada masa akan datang dan menjaga hatinya supaya dibersihkan semula”.
Syarat taubat yang sah ialah menyesali diri atas segala dosa yang lalu dengan sebenar benar penyesalan serta berazam kuat tidak akan buat lagi dosa selama masih hidup termasuk jangan berdetik (cita cita) untuk melakukan dosa kerana perbuatan itu akan merosakkan taubatnya yang sebenar dan tidak diterima oleh Allah Taala.
Keterangan:
“Kita harus memahami apa itu Taubat dan apa kesan sampingannya. Bagaimana cara untuk bertaubat yang berkesan pada hati?Apabila taubat itu berkesan maka akan datang
pertolongan dari Tuhan untuk membantu dan mengingatkan kita dari melakukan perbuatan mungkar pada masa yang mendatang.
Taubat yang sebenarnya adalah suatu perbuatan yang datang dari hati untuk mengucapkan PENGAKUAN pada Tuhan beserta dengan PENYESALAN atas perbuatan perbuatan yang lalu. Apa itu PENGAKUAN, iaitu bersumpah kepada Allah Taala. PENYESALAN adalah PERASAAN KEINSAFAN yang datang dari lubuk hati seorang hamba beserta RASA IKHLAS.

Bagaimana RASA IKHLAS datang? MENYEDARI dirinya tidak ada kuasa dan kemampuan untuk membuat sesuatu walau sebesar zarrah sekalipun. MENYEDARI dirinya dimiliki Tuhanyang menjadikannya. MENYEDARI dirinya dihidupkan dan akan dimatikan oleh Tuhannya.

MENYEDARI perbuatan dirinya akan dihadapkan pada Tuhan untuk ditimbangkan segala amalan-amalannya kelak. Dari mana datangnya MENYEDARI? Itu adalah perbuatan Allah Taala pada hambanya yang hendak diselamatkan dari Api Neraka”.
“Sekiranya kita faham akan keterangan diatas itu ada mengandungi beberapa perkara yang mudah dan juga berat supaya jangan mempermainkan seperti berikut:
1. PENGAKUAN adalah BERSUMPAH PADA ALLAH TAALA.
2. PENYESALAN adalah PERASAAN KEINSAFAN.
3. RASA IKHLAS adalah MENYEDARI.
Bila ketiga perkara ini dapat difahami dan dilakukan barulah Taubat itu Insyallah berkesan pada diri kita”.
Setiap murid harus mengakui dirinya bersifat cuai dan lalai dalam menunaikan hak hak Tuhanyang wajib atas dirinya. Apabila rasa kesalan atas kecuaian dan kelalaian, maka hati akan berpatah hati dan menyesal mengenangkan diri yang malang. Maka ketahuilah ketika itu Allah akan bersama sesuai dengan firmanNya dalam sebuah Hadis Qudsi;
“Aku sentiasa berada bersama sama orang yang berpatah hatinya kerana AKU”
Keterangan:
“Sila rujuk keterangan diatas; untuk mengakui akan sifat yang sering cuai, lalai dan malas atas perintah Tuhan yang diwajibkan pada diri, hendaklah dilakukan dengan adab dan
melaksanankan panduan tersebut sebaik-baiknya. Dengan berwudhu dan selesai shalat
berdoalah kepada Tuhan dan mengakulah didepan pintuNya dan mohonlah bantuan dariNya”.
Memelihara Diri Dari Dosa
Setiap murid harus menjauhkan diri dari melakukan dosa dosa kecil apatah lagi dosa besar seperti menjauhi dari mengambil minuman yang beracun. Hendaklah takut untuk melakukan dosa lebih pada takut dan gentar jika terminum dan termakan racun yang mematikan. Sebab dosa dan maksiat akan mematikan hati seperti racun membinasakan badan.
Keterangan:
“Mengapakah kita boleh dan sanggup melakukan dosa kecil atau dosa besar? Tetapi akan
TAKUT bila seseorang memberitahu bahwa makanan ataupun minuman mengandungi racun dan serta merta maka akan menjauhi dari mengambil makanan ataupun minuman itu.
Mengapa perkara ini tidak berlaku pada diri kita semasa melakukan dosa kecil ataupun dosa besar? Adakah kerana tidak ada khabar akan perbuatan dosa kecil dan besar akan
membinasakan badan dan mendapat siksaan dari Allah Taala? Alasan apa yang hendak
diberikan sedangkan, keterangan dari AlQuran sudah dijelaskan. Nabi dan RasulNya sudah mengingatkan. Para Ulama sudah maklumkan dan Para Guru sudah mengkhabarkannya.
Yang menjadi masalah pada diri adalah kerana tidak mempunyai perasaan TAKUT PADA ALLAH. Kenapa tidak ada PERASAAN TAKUT PADA ALLAH seperti MENJAUHIMAKANAN ATAU MINUMAN YANG BERACUN? Ini disebabkan oleh tiada Iman (tidak ada kepercayaan kepada hukum Allah Taala). Kerana apa tidak ada kepercayaan? Tidak MENGENAL TUHANNYA? Kenapa tidak mengenali Tuhannya. Kerana tidak ada ILMU. Kenapa tidak ada ILMU? Tidak mahu belajar. Kenapa tidak mahu belajar? Saya tak dapat jawab . . . Sebab Iblis pun TAKUT pada ALLAH. Kalau manusia tidak TAKUT PADA ALLAH nak letak manusia KAT MANA ? ? ?”
Adapun hati bila sudah binasa maka akan binasalah bersamanya diakhirat yang menyebabkan seseorang tidak akan terselamat dari kemurkaan Allah dan siksaanya. Hanya orang yang hatinya suci bersih saja yang dapat menuju kepada Allah untuk mendapat keredhaan dan balasan pahalaNya.
Keterangan:
“Habib Abdullah menjelaskan, bila hati sudah binasa akan bersamanya diakhirat daripada terselamat dari kemurkaan Allah dan siksaanya. Manusia bila hatinya sudah binasa dapat dilihat dari percakapan dan perbuatan semasa hidupnya didunia dan dia sendiri yang menunjukkan dirinya sebagai calon manusia yang mendapat kemurkaan Allah dan siksaanya.
Berlindunglah diri kita daripada mendapat jemputan percalonan dari Allah swt yang diberi keistimewaan akan kemurkaan dan siksaanya dan bermohon ampunan untuk mereka dan kita semua, Amin. Hanya hati seseorang yang suci bersih sahaja yang dapat menuju kepadaNya.
Dengan itu haruslah kita menjaga hati kita perpandukan AlQuran, Sunnah Nabi saw, Panduan dan Garisan yang ditunjuk dan diajarkan oleh para habaib, ulama dan guru guru”
Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

PENGASAS TAREKAT BA’ ALAWI – AIDRUSIYAH
Aidrus al-Akbar, al-Imam al-Habib Abdullah al-’Aidarus bin Abu Bakar as-Sakran bin ‘Abdurrahman as-Saqqaf. Beliau adalah merupakan penyusun bagi ratib al-’Aidarus yang terkenal diamalkan sebelah alam melayu ini.

Nasabnya:
‘Abdullah al-’Aidarus bin Abu Bakar as-Sakran bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula ad-Dawilah bin ‘Ali Shohib al-Dark bin ‘Alwi al-Ghuyur bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohib al-Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Ubaidullah bin Imam al-Muhajir Ahmad bin ‘Isa al-Rumi bin Muhammad al-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussin al-Sibth putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah ??? ???? ???? ???? ????.
Di lahirkan dikota Tarim pada tanggal 10 Dhulhijjah 811H. Ibunya Maryam binti Syaikh Ahmad bin Muhammad BaRusyaid. Ibunya juga dari keluarga sholihin. Diriwayatkan oleh Habib Muhammad bin Hasan al-Muallim mengatakan bahhawa bila ingin melihat ahli syurga maka lihatlah Muhammad BaRusyaid. [Diriwayatkan oleh al-Imam al-Habib Muhammad bin ‘Ali Maula Aidid]

Gelaran al-’Aidarus 
Beliaulah yang pertama kali diberi gelaran dengan al-’Aidarus atau al-‘Aitarus. Al-’Aidarus berasal dari kata ‘Utairus’ atau ‘’Atrasah’ yang bermakna bersifat seperti singa iaitu dari segi kekuatan dan keberaniannya. Ini adalah kerana semasa kecil, al-Habib Abdullah al-’Aidarus adalah seorang yang berani menghadapi apa pun baik manusia, binatang, makhlus halus dan sebagainya sehinggakan datuknya al-Imam al-Habib ‘Abdurrahman as-Saqqaf memberikannya julukan ‘Utaiyrus’. Ketika datuknya al-Imam al-Habib ‘Abdurrahman as-Saqqaf wafat, beliau berumur 8 tahun.
Ketika berusia 10 tahun ayahnya, al-Habib Abu Bakar as-Sakran bin al-Habib ‘Abdurrahman as-Saqqaf wafat dan beliau telah diasuh oleh bapa saudaranya al-Habib Umar al-Muhdor bin al-Habib ‘Abdurrahman as-Saqqaf. Dan dari bapa saudaranya inilah beliau banyak mengambil ilmu.

Pendidikan
Al-Habib ‘Abdullah belajar al-Quran dari al-Habib Muhammad bin Umar Ba’Alawi. Manakala ilmu fiqih beliau belajar dari al-Faqih Syaikh Saad bin Ubaidullah bin Abu Ubaid, Syaikh Abdullah Baharawah, al-Faqih Syaikh Abdullah BaGhasyir, al-Faqih Ali bin Muhammad bin Abu ‘Ammar, Ibrahim bin Muhammad Bahurmuz dan lain-lain. Kitab fiqih yang beliau tekuni antara lain adalah Kitab Tanbih karangan asy-Syirazi dan kitab Minhaj karangan Imam an-Nawawi. Guru utama yang membimbing beliau adalah bapa saudaranya al-Habib Umar al-Muhdhor. Pelbagai ilmu yang beliau ambil dari bapa saudaranya ini terutamanya ilmu tasauf kerana bapa saudaranya terkenal sebagai tokoh didalam bidang tersebut. Antara kitab yang dipelajari dan ditekuni oleh beliau adalah kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali. Bahkan beliau hampir menghafal kitab-kitab Imam al-Ghazali terutamanya kitab Ihya. Oleh itu tidak hairanlah sejak dari kewafatannya sehingga kini setiap pagi Selasa, kitab Ihya dibacakan di kubahnya di Zanbal. Al-Habib Umar al-Muhdhor wafat ketika Habib ‘Abdullah berusia 25 tahun.
Beliau telah dipakaikan khirqah shufiyah oleh gurunya iaitu al-Habib Umar al-Muhdor yang mana beliau pula terima dari leluhurnya sebelumnya.

Perkahwinannya
Beliau juga telah dikahwinkan oleh bapa saudaranya dengan anaknya iaitu Syarifah ‘Aisyah binti Umar al-Muhdhor. Habib Umar al-Muhdhor berkata: ”Aku mengkahwinkan puteriku, ‘Aisyah, dengan anak saudaraku, Habib Abdullah al-’Aidarus al-Akbar, disebabkan aku mendapat isyarat dari pendahuluku (sesepuhku)”. Hasil perkahwinan Habib ‘Abdullah dengan Hababah ‘Aisyah, mereka dikurniakan dengan 4 orang putera dan 4 orang puteri iaitu: Abu Bakar al-‘Adni, ‘Alwi, Syekh, Hussin, Roqayah, Khadijah, Ummu Kultsum dan Bahiya.

Mujahadah
Selain tekun menuntut ilmu, al-Habib ‘Abdullah adalah seorang yang tekun bermujahadah dan banyak mengerjakan ibadah. Bahkan beliau mula bermujahadah memerangi hawa nafsu seawal umur 6 tahun lagi. Untuk mengekang nafsu beliau pernah bermujahadah dengan berpuasa selama 2 tahun dimana beliau berbuka hanya dengan 2 butir kurma, kecuali pada malam-malam tertentu dimana ibunya dantang membawa makanan, maka beliau makan untuk meraikan dan menghormati bonda kesayangannya itu.
Didalam kitab Masluk as-Sawi fi Jam’ie Fawaid Muhimmah min al-Masyr` al-Rawi ada menyebut bahwa al-Habib Abdullah al-’Aidarus al-Akbar pernah berpuasa selama 7 tahun dan berbuka hanya dengan 7 biji kurma sahaja.

Sifatnya
Antara sifatnya, beliau seorang yang sangat menghormati bondanya. Diakhir hayat ibunya, beliau berkhidmat melayan ibunya dan mengambilkan air untuk ibunya setiap hari walaupun dari tempat yang jauh. Beliau seorang yang sangat taqwa, tawadhu dan pemurah. Disebut didalam Masyra’ al-Rawi: Pemurahnya bagaikan seorang amir, namun dalam tawadhu’nya bagaikan seorang faqir. Beliau tidak pernah merasakan dirinya lebih baik daripada makhluq Allah yang lain.
Al-Habib ‘Abdullah al-’Aidarus pernah berkata:
“Bagiku, sama saja, pujian dan celaan, lapar atau kenyang, pakaian mewah atau pakaian tidak mewah(rendah mutunya), lima ratus dinar atau dua dinar. Sedari kecil, hatiku tidak pernah condong kepada selain Allah Ta’ala. Dan bagaimana boleh aku tenang, apabila badanku berbalik ke kanan aku melihat syurga, dan apabila berbalik ke kiri aku melihat neraka”. Begitulah sifatnya yang tidak cintakan dunia dan seisinya.
Beliau selalu duduk diatas tanah dan sujud diatas tanah sebagai merasakan bahwa beliau tidak punya apa-apa, sebagai merealisasikan sifat kehambaan. Beliau membawa atau mengurus sendiri keperluannya dan tidak perkenankan orang lain membantunya. Sebagaimana para pendahulunya, ia tidak sukakan syuhrah, beliau memilih untuk khumul. Selain memberi taklim, mentarbiah muridnya, beliau juga gemar berkhalwat didalam sebuah lubang didalam masjidnya. Tempat khalwatnya masih wujud hingga kini [gambaq kat atas tu.... alhamdulillah dapat sholat sunat kat situ ...].
Beliau adalah imam kepada para auliya` dan sholihin pada zamannya. Beliau adalah seorang yang telah sampai ke darjat Quthub.
Kewafatannya: al-Habib ‘Abdullah al-’Aidarus al-Akbar wafat pada hari Ahad sebelum waktu dhuhur 12 Ramadhan 865H/1445M ketika kembali dari perjalanan dakwahnya dari kota Syihr menuju kota Tarim iaitu didaerah Abul. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Zanbal, Tarim. Dan makamnya mudah dikenali kerana ianya adalah salah satu daripada 3 buah kubah yang berada di Zanbal.
Perhatiannya terhadap karangan Imam al-Ghazali: Oleh kerana perhatiannya yang besar kepada kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali terutamanya kitab Ihya` ‘Ulumiddin, maka sehingga kini kitab tersebut dibaca dikubahnya setiap minggu. Disini abu zahrah bawakan sedikit kata-katanya mengenai kitab Ihya` sebagaimana dinaqalkan oleh Syaikh Abdusshomad al-Falimbani didalam kitabnya Sairus Salikin, dalam rubu` ke-3, antaranya:
Aku naik saksi pada bathin dan dhahir bahwasanya barangsiapa memutholaah akan kitab Ihya ‘Ulumiddin itu maka iaitu daripada orang yang mendapat petunjuk daripada Allah Ta’ala.
Naik saksi oleh kamu atasku bahwasanya barangsiapa jatuh atas mengaji dan mutholaah akan beberapa kitab Imam al-Ghazali ???? ???? ????? yang tersebut dahulu itu maka sesungguhnya telah jatuh ia atas kenyataan ilmu syariat dan ilmu thoriqat dan ilmu haqiqat. 
Katanya lagi: Barangsiapa berkehendak mengetahui akan jalan Rasulullah ??? ???? ???? ???? ???? dan akan jalan ulama` yang ‘arifin billah dan akan ulama billah, ahluz zahir dan ahlul bathin maka lazim atasnya dengan mutholaah akan beberapa kitab Imam al-Ghazali ???? ???? ????? yang tersebut dahulu itu, yang tertentu istimewa lagi kitab ihya ‘ulumiddin, yakni terlebih baik lagi kitab ihya ulumiddin itu maka iaitu seperti laut yang meliputi ia akan ilmu syariat dan ilmu haqiqat dan lainnya. [teks arabnya boleh pi rujuk ka kitab Sairus Salikin, Rubu` 3, halaman 172 - 174]
Katanya lagi: Kitab Ihya` ‘Ulumiddin itu terhimpun di dalamnya sekalian rahsia ilmu syariat dan ilmu thoriqat. Dan kitab Bidayatul Hidayah itu terhimpun didalamnya segala ketaqwaan. Dan didalam kitab al-Arba’in fi Usuliddin itu terhimpun didalamnya kenyataan jalan sebenar-benarnya. Dan kitab Minhajul ‘Abidin itu terhimpun didalamnya jalan yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala. Dan kitab al-Khulasoh fil Fiqhi itu terhimpun didalamnya ilmu dan amal yang menerangi akan hati. [teks arabnya boleh pi rujuk ka kitab Sairus Salikin, Rubu` 3, halaman 172 - 174]
Katanya lagi: Telah berhimpun perkataan segala ulama yang ‘arifin billah atas bahwasanya tiada sesuatu yang terlebih memberi manfaat pada membaikkan hati dan tiada yang lebih hampir kepada redho Tuhan itu daripada mengikut akan Hujjatul Islam al-Ghazali ???? ???? ?????dan kasih akan kitab-kitabnya. Maka bahwasanya segala kitab Imam al-Ghazali ???? ???? ????? itu iaitu isi (lubb) al-Quran dan isi (lubb) hadits (as-Sunnah) Nabi ??? ???? ???? ???? ???? dan isi segala ilmu ‘aqal (ma’qul) dan isi segala ilmu naqal (manqul). Dan Allah Ta’ala itu wakil atas apa yang aku kata itu. (????? ???? ??? ?? ????). [teks arabnya boleh pi rujuk ka kitab Sairus Salikin, Rubu` 3, halaman 172 - 174]
Dan katanya lagi:
Mengamalkan dengan barang yang didalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin iaitulah Ismul a’dzom.

Murid-murid Imam Abdullah di antaranya saudaranya sendiri syiakh Ali bin Abi Bakar Sakran, syaikh Umar bin Abdurrahman shahibul hamra, syaikh Abdullah bin Ahmad Baaktsir, sayid Ahmad Qasam bin Ali syaibah, syaikh Muhammad bin Ali al-Afif al-Hamdani al-Hajrani.
Beliau selalu melazimkan membaca kitab ihya ulumuddin dan hamper saja beliau hafal kitab tersebut serta menganjurkan kepada murid dan sahabatnya untuk membaca dan mengkajinya. Sebaliknya beliau melarang sahabatnya untuk mengkaji kitab Futuhatul Makiyah dan beliau memerintahkan untuk berkhusnuzhon saja kepada syaikh Muhyidin Ibnu Arabi bahwa beliau adalah salah satu auliya’ Allah.

Imam Abdullah menginfaqkan hartanya untuk kaum fuqara dan masakin, sangat tawadhu’ terhadap kaum faqir miskin, tegas terhadap para penguasa sehingga para raja cinta dan tunduk kepadanya, lembut perkataannya. Kitab yang dibaca antara lain Tanbih, Minhaj, Khulasoh. Dalam ilmu tauhid dan hakikat, beliau pernah berkata dengan perkataan yang lembut : Jika aku ingin, aku dapat menafsirkan huruf alif hingga seratus jilid, tapi itu tidak aku lakukan. Beliau mengarang kitab al-Kibrit al-Ahmar dan mensyarahkan qsidah yang dikarang oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar.

Imam Abdullah Alaydrus wafat pada hari Minggu sebelum waktu zawal tanggal dua belas ramadhan tahun 865 hijriyah.

Selain daripada meninggalkan ramai murid-murid untuk meneruskan perjuangannya, beliau juga meninggalkan senuah karangan dan beberapa himpuan syair. Kitabnya yang terkenal dan masih dibaca dan dikaji sampai kini berjudul al-Kibriit al-Ahmar wa al-Iksiir al-Akbar fi Ma’rifati Asrar al-Suluk ila Malik al-Muluk al-Mu’abbar ‘anhu bi al-Durr wa al-Jauhar. Kitab ini sebuah kitab yang nipis tetapi padat isinya. [Abu Zahrah ada satu salinan. Itupun photocopy. Siapa berhajat boleh lah hubungi]
Abu Bakar Al-Aidrus adalah seorang wali besar jarang yang dapat menyamai beliau di masanya. Beliau termasuk salah seorang imam dan tokoh tasawuf yang terkemuka. Beliau belajar tasawuf dari ayahnya dan dari para imam tasawuf yang terkemuka. Selain itu beliau juga pernah belajar hadis Nabi dari Muhaddis Imam Shakawi.

Karamahnya
Sebahagian dari karamahnya pernah diceritakan bahawa ketika beliau pulang dari perjalanan hajinya beliau mampir di Kota Zaila’ yang waktu itu wali kotanya bernama Muhammad bin Atiq. Kebetulan waktu itu beliau berkunjung kepada wali kota yang katanya kematian isteri yang dicintainya. Syeikh Abu Bakar menyatakan ikut berdukacita dan menyuruhnya untuk tetap bersabar atas musibah yang dihadapinya itu. Rupanya nasihat Syeikh itu rupanya tidak dapat menenangkan hati wali kota itu. Bahkan ia makin menangis sejadi-jadinya sambil menciumi telapak kaki Syeikh Abu Bakar minta doa padanya. Melihat kejadian itu Syeikh Abu Bakar segera menyingkap tutup kain dari wajah wanita yang telah mati itu. Kemudian beliau memanggil mayat itu dengan namanya sendiri. Dengan izin Allah, wanita itu hidup kembali.
Syeikh Ahmad bin Salim Bafadhal pernah menceritakan pengalamannya bersama Syeikh Abu Bakar: “Pernah aku disuruh Muhammad bin Isa Banajar untuk membawakan hadiah buat Syeikh Abu Bakar Al-Aidrus. Ketika aku beri salam padanya ia telah memberitahukan dahulu apa yang kubawa sebelum kukatakan kepadanya tentang isi hadiah itu. Kemudian Syeikh Abu Bakar berkata: “Berikan kepada si fulan besar ini, berikan pada si fulan demikian dan seterusnya. Ketika Syeikh Umar bin Ahmad Al-Amudi datang berkunjung padanya waktu itu beliau menghormatinya dan mengeluarkan semua makanan yang dimilikinya. Melihat hal itu, Syeikh Umar berkata dalam hatinya: “Perbuatan semacam ini adalah membazir”. Dengan segera Syeikh Abu Bakar berkata dengan sindiran: “Mereka itu kami jamu tapi mereka katakan perbuatan itu adalah membazir. Mendengar sindiran itu Syeikh Umar Amudi segera minta maaf. 
Termasuk karamahnya jika seorang dalam keadaan bahaya kemudian ia menyebut nama Syeikh Abu Bakar memohon bantuannya. Dengan segera Allah akan menolongnya. 
Kejadian semacam itu pernah dialami oleh seorang penguasa bernama Marjan bin Abdullah. Ia termasuk bawahannya bernama Amir bin Abdul Wahab. Katanya: “Ketika aku sampai di tempat pemberhentian utama di kota San’a, tiba-tiba kami diserang oleh sekelompok musuh.Kawan-kawanku berlarian meninggalkan aku. Melihat aku sendirian, musuh mula menyerang aku dari segala penjuru. Di saat itulah aku ingat pada Syeikh Abu Bakar Al-Aidrus dan kupanggil namanya beberapa kali. Demi Allah di saat itu kulihat Syeikh Abu Bakar datang dan memegang tali kudaku dan menghantarkan aku sampai ke tempat tinggal. Setelah aku sampai di rumahku, kudaku yang penuh luka ditubuhnya mati”. 
Syeikh Dawud bin Husin Alhabani pernah bercerita: “Ada seorang penguasa di suatu daerah yang hendak menganiaya aku. Waktu sedang membaca surah Yaasin selama beberapa hari untuk memohon perlindungan dari Allah, tiba-tiba aku bermimpi seolah-olah ada orang berkata: “Sebutlah nama Abu Bakar Al-Aidrus”. Tanyaku: “Abu Bakar Al-Aidrus yang manakah, aku belum pernah mengenalnya”. Jelas orang itu: “Ia berada di Kota Aden (Hadhramaut).” setelah kuucapkan nama itu, Allah menyelamatkan aku dari gangguan penguasa itu. Waktu aku berkunjung ke tempat beliau, kudapati beliau memberitahu kejadian yang kualami itu padaku sebelum aku menceritakan cerita pada beliau”. 
Sayid Muhammad bin Ahmad Wathab juga bercerita tentangnya: “Pernah aku pergi ke negeri Habasya (Ethiopia). Di sana aku dikeronok oleh gerombolan dan dirampas kudaku serta hartaku. Hampir mereka membunuhku. Kemudian aku menyebut nama Syeikh Abu Bakar Al-Aidrus mohon pertolongan sebanyak sebanyak tiga kali. Tiba-tiba kulihat ada seorang lelaki besar tubuhnya, datang menolongku dan mengembalikan kuda beserta hartaku yang dirampas. Orang itu berkata: “Pergilah ke tempat yang kami inginkan”.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

Beliau adalah Saiyid Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Naqieb bin Muhammad bin Ali Al Uraidli bin Ja’far Al Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Imam Al Husain Al Sibth bin Al Imam Ali bin Abi Thalib  dan Fatima Al Zahra Putri Nabi Muhammad SAW.

Biografi Al Imam Al Muhajir
Al Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa lahir di kota Bashra Iraq tempat tinggal keluarga dan sanak saudaranya, para ahli sejarah berselisih tentang tanggal kelahiran Al Imam Al Muhajir, namun Saiyid Muhahammad Dhiya’ Shihab dalam kitab beliau yang berjudul Al Imam Al Muhajir  mengatakan: sejauh pengetahuan kami tak seorang pun yang mengetahui umur Al Imam Al Muhajir secara pas, boleh jadi karena literature yang mengungkapkan hal tersebut telah sirna, akan tetapi dari sedikit data yang kami miliki kami dapat mengambil satu kesimpulan, dan boleh jadi kesimpulan yang kami ambil ini sesuai dengan  fakta, lalu dia mengatkan setelah dipelajari dan diperbandingkan dari sejarah pekerjaan anak-anak beliau dan sebagian guru-guru beliau, bisa disimpulkan bahwa Al Imam Al Muhajir dilahirkan pada tahun 273 H. Saiyid Salim bin Ahmad bin Jindan mengatakan di kitab Muqaddimah Musnad-nya bahwa Al Muhajir belajar kepada Al Nablisi Al basri ketika beliau berumur 4 th, dari sini disimpulkan bahwa beliau dilahirkan pada 279H.
Al Muhajir tumbuh dan berkembang dibawah Asuhan kedua orang tua nya dengan nuansa keilmuan religi yang sangat kental, demikina diungkapkan oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Shatiri, dalam kitabnya Adwaar Al Tarikh Al  Hadhramy.
Masa yang dilalui Al Muhajir adalah masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain, dikatakan bahwasanya Al Muhajir banyak mengambil riwayat dari ulama’ pada zamannya, diantara mereka, Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai, Al Nablisi Al bashri, banyak pula para ulama’ yang mengambil riwayat dari nya seperti Alhafidh Al Daulabi (di bashrah 306H), Ibnu Shaid, Al Hafidh Al Ajury, Abdullah bin Muhammad bin Zakariya Al Aufi Al Muammar Al Bashri, Hilal Haffar Al Iraqi, Ahmad bin Said Al Ashbahani, Ismail bi Qasim Al Hisasi, Abu Al Qasim Al Nasib Al Baghdadi, Abu Sahl bin Ziyad, dan lain-lain.
Sebagaimana disebutkan bahwa masa ini makmur dengan ilmu dan budaya namun disisi lain masa ini pun marak dengan fitnah, pertikaian, bentrok pemikiran dan senjata, Al Muhajir memandang masa itu sebagai masa kritis yang penuh dengan cobaan dan penderitaan, Negara-negara islam mulai meleleh persatuan pandangan dan politiknya, dan berkembang menjadi unstabilitas  sosial dan pertumpahan darah.

Revolusi Negro dan Fitnah Karamitah
Kehidupan Al Muhajir semenjak muda hingga dewasa diwarnai dengan guncangan-guncangan social  dibashrah[1] dan Iraq secara umum, mulai dari revolusi negro yang berawal pada tahun 225, pada masa pemerintahan Negri Abbasiyah, sampai fitnah yang disebarkan oleh Karamitah, sebuah sekte yang dipimpin oleh Yahya bin Mahdi di Bahrain, dia dengan para pengikutnya bekerja keras untuk membiuskan paham-pahamnya disemua lapisan masyarakat dan menggunakan situasi guncang akibat revolusi negro dan  fitnah Khawarij untuk memepercepat pertumbuhan dan  perkembangan mereka.

Terpencarnya Bani Abi Thalib
Seorang Ahli Sejarah, Abdullah bin Nuh menuliskan dalam tambahannya untuk kitab Al Muhajir hal 37 tentang kesaksian Al Muhajir tentang terpencarnya Bani Alawi ke penjuru dunia, seperti India, Sumatra, kepulauan Ujung timur, dan perbatasan cina, yang mana hal ini merupakan sebab tersebarnya agama islam diseluruh dunia.

Kepribadian Al Muhajir di Bashrah[2]
Kepribadian Almuhajir dibentuk oleh suasana yang penuh dengan pertentangan, ilmu, sastra, falsafat, pertumpahan darah, rasa takut, pertikaian disamping giatnya gerakan roda perdagangan dan pertanian, bahkan Almuhajir menyaksikan kapal-kapal besar bersandar di Bashrah dengan membawa barang dagangan hasil bumi, dan orang-orang dari berbagai bangsa. Keluarga Al Muahajir termasu keluarga terhormat yang bersih hatinya, penuh keberanian, kedudukan dan kekayaan dibarengi dengan taqwa dan istiqamah. Saudara Al Muhajir Muhammad bin Isa adalah panglima perang dan pemimpin expansi wilayah islam.

Hijrah Al Muhajir dari Bashrah
Hijrah Al Imam Al Muhajir di dorong oleh keinginan untuk menjaga dan melindungi keluarga dan sanak familinya dari bahaya fitnah yang melanda Iraq diwaktu itu.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Al Muhjir memutuskan untuk hijrah ke hijaz, maka disodorkanlah berbagai alasan untuk meyakinkan keluarga dan sanak familinya untuk meninggalkan bashrah, dan mereka pun menyetujui usulan Al Muhajir. Hijrah Al Muhajir   terjadi pada 317 H dari Bashrah ke Al MAdinah Al Munawwarah. Diantara keluarga dan sanak famili Al Muhajir yang ikut berhijrah bersama Al Muhajir adalah:
1. Al Imam Al Muhajir Ilaa Allah Ahmad bin Isa.[3]
2. Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidli Isteri Al Muhajir
3. Abdullah bin Ahmad putra Al Muhajir
4. Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad  Isteri Abdullah bin Ahmad.
5. Ismail bin Abdullah bin Ahmad yang dijuluki dengan Al Bashry
6. Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah kakek Keluarga Al Ahdal[4].
7. Al Syarif Ahmad Al Qudaimi kakek keluarga Al Qudaim
8. 70 orang dari oarng-orang dekat Al Muhajir diantara mereka: hamba sahaya Al Muhajir, Jakfar bin Abdullah Al Azdiy, Mukhtar bin Abdullah bin Sa’ad, dan Syuwaiyah bin Faraj Al Asbahani.
Rombongan Al Muhajir berhijrah ke madinah melalui jalan Syam karena jalan yang biasa dilalui kurang amandan sampai di Madinah  pada tahun 317, konon di tahun ini terjadi fitnah besar di Al Haramain, gerakan Karamithah masuk ke Makkah Al Mukarramah di musim haji dan membuat keributan di sana serta mengambil hajar aswad dari tempatnya Pada tahun berikutnya 318H Al Muhajir beserta keluarga berngkat ke Makkah untuk melaksanakan Ibadah Haji, konon para jamaah haji pada tahun itu hanya meletakkan tangan mereka di tempat hajar aswad, disaat melaksanakan Ibadah haji Al Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadhramaut, belajarlah mereka dari Al Muhajir ilmu dan akhlak, dan mereka menceritakan kepada Al Muhajir tentang fitnah Al Khawarij di Hadhramaut dan mengajak Al Muhajir untuk membantu mereka menyelesaikan fitnah itu lantas Al Muhajir menjanjikan untuk datang ke negeri mereka.

Perjalanan ke Tihamah dan Hadhramaut.
Hadhramaut pada waktu itu berada dibawah pengaruh Abadhiyah suatu gerakan yang dipelopori oleh Abdullah bin Ibadh Al Maady, gerakan ini pertama kali muncul pada abad kedua hijriah dibawah pimpinan Adullah bin Yahya Al Amawi yang menjuluki dirinya sebagai pencari kebenaran[8].
Al Mas’udi dalam kitab sejarahnya menuliskan “Alkhawarij masuk Hadhramaut dan pada saat itu kebanyakan penduduknya adalah pengikut aliran Ibadhiyah dan sampai saat ini (332 tahun penulisan buku tersebut) dan tidak ada perbedaan antara Khawarij yang ada di Hadhramaut dengan yang ada di Oman. Akan tetapi aliran Ibadhiyah dan Ahlu Sunnah tetap hidup di Hadhramaut  meskipun pengaruh Khawarij lebih menyeluruh di wilayah Hadhramaut samapi datangnya Al Muhajir.
Mengapa Al Muhajir memilih untuk berhijrah ke Hadhramaut?
Dhiya Syihab dalam kitabnya Al Imam Al Muhajir mengatakan, apakah motivasi Al Muhajir untuk berhijrah ke hadhramaut adalah harta? Hadhramaut bukanlah negri yang berlimpah harta dan dia pun seorang yang kaya raya, ataukah  hijrah Al Muahjir adalah untuk membantu rakyat hadhramaut, dan mencegah merembetnya fitnah Karamitah yang terus meluas? Sebenarnya kondisi dan peristiwa-peristiwa diatas adalah alas an utama kenapa Al Muhajir berhijrah ke Hadhramaut, sesuai ayat “Alam takun ardlu Allahi waasi’atan fatuhaajiruu fiihaa” artinya tidakkah bumi Allah itu luas sehingga kamu  berhijrah dan hadist ” yuu syiku an yakuuna khairu maali al muslim ghanamun yatba’u biha sya’afa al jibal wa mawaqi’a alqatar ya firru bidiinihi min al fitan” artinya dikhawatirkan akan dating suatu masa dimana harta yang paling berharga bagi seseorang adalah kambing, dia membawanya kearah pegunungan dan kota-kota untuk melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah. Maka Allah menjadikan hijrah Al Muahajir ke Hadramaut sebagai donator dan petunjuk sebab dengan hartanya Al Muhajir membangun banyak infrastruktuk yang lapuk dimakan zaman dan dengan kehadirannya Allah menyadarkan banyak dari orang-orang yang fanatic buta kepada Kahawarij.

Rombongan Al Muhajir diantara Tihamah dan Hadhramaut.
Saiyid Muhammad bin Sulaiman Al Ahdal salah satu dari anggota rombongan memutuskan untuk menetap di Murawa’ah di Tihamah, sedangkan saiyid Ahmad Al Qudaimy memutuskan untuk menetap di lembah Surdud di Tihamah, dan dengan izin Allah SWT mereka menjadi tonggak berkembangnya keturunan Nabi Muhammad SAW di negri tersebut, adapun Al Muhajir dia tetap meneruskan perjalanan hingga sampai  di desa Al Jubail di lembah Doan, konon penduduknya merupakan pecinta keluarga Nabi Muhammad SAW dan mereka dapat banyak belajar dari Al Muhajir, kemudian pindah ke Hajren disana  terdapat Al Ja’athim termasu kabilah Al Shaddaf yang merupakan pengikut aliran Sunny[10], disana Al Muhajir mangajak semua golongan untuk bersatu di bawah panji islam dan mempererat tali persaudaraan diantara mereka, maka banyaklah diantara orang-orang kahawarij yang sadar dan taubat kembali kejalan yang benar, ketika di Hajren Al Muhajir ditemani dan dibela  oleh para petua dari kabilah ‘afif. Al Muhajir membeli rumah dan kebun korma di hajren yang kemudian dihibahkan ke hamba sahaya nya Syuwaiyah sebelum pindah dari Hajren.
Dan setelah keluar dari Hajren Al Muhajir singgah dan bertempat tinggal di kampung Bani Jusyair didekat desa Bur yang mana penduduknya pada saat itu adalah Sunny, disitu Al Muhajir berdakwah dengan sabar dan sopan, kemudian pindah lagi ke desa Al Husaiyisah dan disana membeli tanah perkebunan yang dinamakan  Shuh di atas desa Bur. Pada periode ini Al Muhajir banyak menarik perhatian orang di daerah itu sehingga mereka banyak mengikut langkah sang Imam, kecuali beberapa golongan dari kahawarij, hal ini yang menyebabkan Al Muhajir mendatangi mereka untuk memahamkan mereka.

Al Imam Al Muhajir dan Khawarij
Hadirnya Al Muhajir di Hadhramaut merupakan  peristiwa besar dalam sejarah, sebab kehadiran Al Muhajir di Hadhramaut membawa perubahan besar di daerah itu, Yaman ketika itu diperintah oleh Al Ziyad di Yaman utara, namun penduduk Hadhramaut memiliki hak untuk menetukan perkara mereka, tidak semua penduduk Hadhramaut pada saat itu bermadzhab Ibadhi, terbukti keluarga Al Khatib dan Ba Fadhal dari Tarim pada saat itu masih berpegang teguh dengan aliran yang benar.
Imam Muhajir selalu berdiskusi  dengan para pengikut Abadhiyah dengan bijaksana dan teladan yang mulia, yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para lawan diskusinya dan menimbulkan simpati mereka, Khawarij adalah mazhab yang menerima diskusi tentang madzhab mereka dan mereka pun banyak berdiskusi dengan para ulama di banyak hal, sedangkan Al Imam Al Muhajir merupakan sosok yang ahli dalam hal meyakinkan lawan bicara. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Saiyid Al Syatiri dalam kitabnya “Al Adwar” halaman 123, sehingga aliran Al Abadhi perlahan-lahan terkikis dan habis di hadhramaut dan digantikan dengan mazhab Al Imam Syafii dalam hal pekerjaan dan Imam Al Asy’ary dalam hal Aqidah.

Adakah persengketaan senjata antara Al Muhajir dan Khawarij?
Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang terjadinya kontak senjata antara Al Muhajir dengan Khawarij, sebagian menyatakan terjadinya hal itu dan meriwayatkan kemenangan Al Muhajir atas kaum Khawarij, sebagian lagi menafikan hal tersebut.
Saiyid Al Syathiri dalam kitabnya “Al Adwar” menafikan terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak, dkatakanjuga bahwa pendapat ini di ambil karena dari sekian referensi sejarah yang ada pada nya tidak satupun yang memaparkan tentang terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak demikian juga para penulis sejarah Hadhramaut dari kurun terakhir[12], adapun Saiyid Dhiya Syihab dan Abdullah bin Nuh dalam kitab Al Muhajir menyatakan terjadinya perang Bahran namun keduanya tidak mencantumkan referensi yang memperkuat pendapat tersebut.
Saiyid Abdul Rahman bin Ubaidillah mengatakan bahwa Al Muhajir dan putra-putra nya terus menrus melancarkan argument-argumen kepada Ibadhiyah sampai mereka kehabisan dalil dan pegangan, dikatakan juga bahwa Al Muhajir melumpuhkan kekuasaan Abadhiyah  dengan cara melancarkan argument-argumen yang membuktikan kesalahan mazhab mereka, Syeh Salim bin Basri mengatakan Al Muhajir membuka kedok bid’ah Khawarij dan membuktikan kesalahannya, pendapat keduanya didukung pula oleh Al Faqih Al Muqaddam.

Al Imam Al Muhajir dan nasab mulianya
Sebagian penulis mengangkat tajuk pada tulisan mereka mengenai nasab Ahlu Bait Nabi Muhammad SAW, banyak diantara mereka yang menanamkan keraguan tentang Ahlu bait, motivasi mereka untuk mengangkat tema itu bermacam-macam diantara mereka ada yang hanya ingin mendapatkan pencerahan sehingga lebih meyakinkan mereka, ada pula diantara mereka yang ingin menjatuhkan Ahlu bait karena iri dan dengki terhadap mereka.
Berangkat dari kenyataan ini Al Imam Al Muhajir sebelum berangkat ke Hadhramaut telah menyusun nasabnya dan anak-anaknya smapai Rasulullah SAW, sebelumnya keluarga Al Muhajir nasab dan silsilahnya sudah terkenal di kota Bashrah, seandainya bukan begitu ini merupakan titik lemah yang bisa digunakan oleh Khawarij untuk menumbangkan dalill-dalil Al Muhajir.
Sepeninggal  Al Imam Al Muhajir beberapa orang ulama Hadhramaut berinisiatif untuk mencari bukti yang membenarkan nasab Al Imam Al Muhajir, Syeh Ba Makhramah dalam kitab tarikh nya mengatakan: Ahmad bin Isa ketika datang di Hadhramaut, penduduk kota itu mengakui kemulyaan dan keagungannya, lantas mereka ingin membuktikan pengakuan mereka lantas 300 orang mufti di Tarim pada saat itu mengutus seorang ahli hadist Al Imam Ali bin Muhammad bin Jadid ke Iraq untuk membuktikan hal tersebut lantas sang imam pulang dengan membawa nasab mulia Al Muhajir.
Saiyid Alwi bin Thohir membeberkan masalah ini di salah satu artikelnya yang di muat di majalah Rabithah Alawiyah(2/3:95M) dan mengatakan, kemulayaan Al Muhajir, keberadaan famili dan handai taulannya di Bashrah, tinggalnya Muhammad putra Al Muhajir di bashrah untuk menjaga harta bendanya, dan putra putri Ali, hasan, dan Husain, kedatangan Saiyid Jadid bin Abdullah untuk melihat harta benda itu, kesaksian penduduk Iraq akan kebenaran nasab Al Muhajir dan pengembangan harta Al Muhajir dari Iraq oleh anak cucunya di Hadhramaut, adanya saudara dan ipar Al Muhajir di Iraq, adanya hubungan yang continyu diantara mereka, adanya kabilah Bani Ahdal dan Bani Qudaim di Yaman, ini semua merupakan bukti akan kebenaran nasab Al Muhajir, tidaklah mudah bagi Saiyid Ali Bin Muhammad bin Jadid  untuk mendapatkan bukti ini sepeninggal kakek-kakenya selama bertahun-tahun bila nasab tersebut tidak terkenal di Bashrah, karena Ali dilahirkan di Hadhramaut bergitu juga Ayahnya Muhammad bin Jadid, akan tetapi hubungan antara mereka dengan keluarga yang di Iraq setelah kepergian mereka tidak putus.
Diantara para penulis yang mengulas luas tentang nasab Al Muhajir da puta-putra nya adalah:
1. Al Majdi, Al Mabsuth, Al Masyjar, yang ditulis oleh Ahli nasab, Abu Hasan Najm Al Diin Ali bin Abi Al Ghanim Muhammad     bin Ali Al Umri Al Bashri, meninggal tahun 443.
2. Tahdhib Al Ansaab, Tulisan tangan Al Allamah Muhammad bin Ja’far Al Ubaidli, meninggal tahun 435.
3. Umdatu Al Thalib Al Kubra, ditulis oleh ahli nasab Al Allamah Ibn Anbah Jamal Al Diin Ahmad bin Ali bin Husain bin Ali bin mihna Al Dawudi.
4. Al Nafhah Al Anbariyah Fi Ansab Khairil Briyah, ditulis oleh Al Allamah Ibn Abi Al Fatuh  Abi Fudhail Muhammad Al Kadhimi, meninggal tahun 859.
5. Tuhfatu Al Thalib Bi Ma’rifati Man Yantasib Ilaa Abdillah Wa Abii Thalib, ditulis oleh Al Allamah Al Muarrikh Abi Abdillah Muhammad bin Al Husain Al Samarqandi Al Makky, meninggal tahun 996.
6. Zahru Al Riyadh  Wa Zalalu Al Hiyaadl, ditulis oleh Al Allamah Dlamin bin Syadqam, meninggal tahun 1085.
Ibn Anbah dan AL Imam Al Murtadla memiliki dua kitab berbeda tentang nasab ini dan belum dicetak, adapun kitab yang ditulis secara modern tentang nasab Ahlu bait antara lain Dirasaat Haula Ansaab Alu bait oleh Saggaf bin Al Alkaff., Tazwiid Al Rawi oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri. Jadi permasalahannya sekarang bukan karena kurangnya literature atau referensi tapi karena hilangnya prinsip amanah dan hantaman dari para pengkhiyanat, juga karena kurangnya tingkat pengetahuan syariah sebagian Ahlu bait dan terpengaruhnya mereka oleh budaya orientalist, yang terus merongrong zona islam.

Meninggalnya Al Imam Al Muhajir
Setelah perjuangan yang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil pula menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, akhirnya Al Muhajir berpulang kehadirat Allah SWT pada tahun 435 H, dan di makamkan di Al Husyaisyiah tepatnya di Syi’b Makhdam, dan dapat diziarahi sampai hari ini.
Dimakamkan pula disekitar Kuba Al Muhajir Saiyid Al Allamah Ahmad Al Habsyi, dahulu diadakan setiap tahunnya peringatan masuknya Al Imam Al Muhajir ke Hadhramaut kemudian peringatan ini sempat terputus, lalu diadakan lagi namun dalam bentuk lebih terbatas, dan pada tahun 1422H ditambahkan nbeberapa peringatan yang sesuai dengan zaman, seperti seminar tentang samapainya Al Imam Al Muhajir di Hadhramaut, yang diisi didalamnya denagn study tentang sosok Al Muhajir, sejarah, ilmu, dan pengaruh perpindahannya ke Hadhramaut dalam kuliah-kuliah yang diadakan di Tarim dan Seiyun, dan harapan kami hal ini akan menjadi adat setiap tahun yang akan membiaskan gambaran ilmu dan sejarah yang telah ditorehkan oleh sekolah Al Muhajir dan orang-orang setelahnya demi membela islam, umat, dan negri.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy

Wali Yang Bertabur Karamah
Salah seorang wali dan ulama dari Ahlil Bait Ba’alawi yang bertabur karamah adalah Habib Abdurrahman bin Muhammad As-Saqqaf. Beliau mendapat julukan As-Saqqaf, yang berarti atapnya para wali dan orang-orang shalih pada masanya
Ulama dari Tarim, Hadramaut ini dikenal sebagai wali yang bertabur karamah. Salah satunya adalah sering dilihat banyak orang sedang hadir di tempat-tempat penting di Makkah. Ulama ini juga dikenal sebagai ulama yang kuat bermujahadah. Beliau pernah tidak tidur selama 33 tahun. Dikabarkan, dia sering bertemu dengan Nabi SAW dan sahabatnya dalam keadaan terjaga setiap malam Jum’at, Senin dan Kamis, terus-menerus.
Habib Abdurrahman As-Saqqaf adalah seorang ulama besar, wali yang agung, imam panutan dan guru besar bagi para auliya al-‘arifin. Ia dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut pada 739 H. Ibunya bernama Aisyah binti Abi Bakar ibnu Ahmad Al-Faqih Al-Muqaddam.

Pada suatu hari, salah seorang santri yang bernama Muhammad bin Hassan Jamalullail saat di masjid merasa sangat lapar sekali. Waktu itu, sang santri malu untuk mengatakan tentang keadaan perutnya yang makin keroncongan. Rupanya sang guru itu tahu akan keadaan santrinya. Ia kemudian memanggil sang santri untuk naik ke atas loteng masjid. Anehnya, di hadapan beliau sudah terhidang makanan yang lezat.
“Dari manakah mendapatkan makanan itu?” tanya Muhammad bin Hassan Jamalullail.
“Hidangan ini kudapati dari seorang wanita,” jawabnya dengan enteng. Padahal, sepengetahuan sang santri, tidak seorangpun yang masuk dalam masjid.
Bila malam telah tiba, orang yang melihatnya seperti habis melakukan perjalanan panjang di malam hari, dikarenakan panjangnya shalat malam yang beliau lakukan. Bersama sahabatnya, Fadhl, pernah melakukan ibadah di dekat makam Nabiyallah Hud AS berbulan-bulan. Dia dan sahabatnya itu terjalin persahabatan yang erat. Mereka berdua bersama-sama belajar dan saling membahas ilmu-ilmu yang bermanfaat.
Banyak auliyaillah dan para sholihin mengagungkan Habib Abdurrahman As-Saqqaf. Ia tidaklah memutuskan suatu perkara terhadap seseorang, kecuali setelah mendengar isyarat dari Yang Maha Benar untuk melakukan sesuatu. Berkata As-Sayyid Al-Jalil Muhammad bin Abubakar bin Ahmad Ba’alawy, “Ketika Habib Abdurrahman telah memutuskan suatu perkara bagiku, maka hilanglah seketika dariku rasa cinta dunia dan sifat-sifat yang tercela, berganti dengan sifat-sifat yang terpuji.”
Sebagaimana para auliya di Hadramaut, ia juga suka mengasingkan diri untuk beribadah di lorong bukit An-Nu’air dan juga sekaligus berziarah ke makam Nabi Hud AS. Seorang muridnya yang lain bernama Syeikh Abdurrahim bin Ali Khatib menyatakan,“Pada suatu waktu sepulangnya kami dari berziarah ke makam Nabi Hud a.s. bersama Habib Abdurrahman, beliau berkata, “Kami tidak akan shalat Maghrib kecuali di Fartir Rabi’. Kami sangat heran sekali dengan ucapan beliau. Padahal waktu itu matahari hampir saja terbenam sedangkan jarak yang harus kami tempuh sangat jauh. Beliau tetap saja menyuruh kami berjalan sambil berzikir kepada Allah SWT. Tepat waktu kami tiba di Fartir Rabi’, matahari mulai terbenam. Sehingga kami yakin bahwa dengan karamahnya sampai matahari tertahan untuk condong sebelum beliau sampai di tempat yang ditujunya.”
Diriwayatkan pula pada suatu hari beliau sedang duduk di depan murid-murid beliau. Tiba-tiba beliau melihat petir. Beliau berkata pada mereka: “Bubarlah kamu sebentar lagi akan terjadi banjir di lembah ini”. Apa yang diucapkan oleh beliau itu terjadi seperti yang dikatakan.
Suatu waktu Habib Abdurrahman As-Saqqaf mengunjungi salah seorang isterinya yang berada di suatu desa, mengatakan pada isterinya yang sedang hamil, ”Engkau akan melahirkan seorang anak lelaki pada hari demikian dan akan mati tepat pada hari demikian dan demikian, kelak bungkuskan mayatnya dengan kafan ini.”
Habib Abdurrahman bin Muhammad As-Saqqaf kemudian memberikan sepotong kain. Dengan izin Allah isterinya melahirkan puteranya tepat pada hari yang telah ditentukan dan tidak lama bayi yang baru dilahirkan itu meninggal tepat pada hari yang diucapkan oleh beliau sebelumnya.
Pernah suatu ketika, ada sebuah perahu yang penuh dengan penumpang dan barang tiba-tiba bocor saja tenggelam. Semua penumpang yang ada dalam perahu itu panik. Sebahagian ada yang beristighatsah (minta tolong) pada sebahagian wali yang diyakininya dengan menyebut namanya. Sebahagian yang lain ada yang beristighatsah dengan menyebut nama Habib Abdurrahman As-Saqqaf. Orang yang menyebutkan nama Habib Abdurrahman As-Saqqaf itu bermimpi melihat beliau sedang menutupi lubang perahu yang hampir tenggelam itu dengan kakinya, hingga selamat. Cerita itu didengar oleh orang yang kebetulan tidak percaya pada Habib Abdurraman As-Saqqaf.
Selang beberapa waktu setelah kejadian di atas orang yang tidak percaya dengan Habib Abdurrahman itu tersesat dalam suatu perjalanannya selama tiga hari. Semua persediaan makan dan minumnya habis. Hampir ia putus asa. Untunglah ia masih ingat pada cerita istighatsah dengan menyebut Habib Abdurrahman As-Saqqaf, yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lalu. Kemudian ia beristighatsah dengan menyebutkan nama beliau. Dan ia bernazar jika memang diselamatkan oleh Allah SWT dalam perjalanan ini ia akan patuh dengan Habib Abdurrahman As-Saqqaf. Belum selesaimenyebut nama beliau tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang memberinya buah kurma dan air. Kemudian ia ditunjukkan jalan keluar sampai terhindar dari bahaya.
Karamah yang lain dari Habib Abdurrahman As-Saqqaf, juga dibuktikan oleh salah seorang pelayan rumahnya. Salah seorang pelayan itu suatu ketika di tengah perjalanan dihadang oleh perampok. Kendaraannya dan perbekalannya kemudian dirampas oleh seorang dari keluarga Al-Katsiri. Pelayan yang merasa takut itu segera beristighatsah menyebut nama Habib Abdurrahman untuk minta tolong dengan suara keras. Ketika orang yang merampas kendaraan dan perbekalan sang pelayan tersebut akan menjamah kenderaan dan barang perbekalannya tiba-tiba tangannya kaku tidak dapat digerakkan sedikitpun. Melihat keadaan yang kritikal itu si perampas berkata pada pelayan yang dirampas kendaraan dan perbekalannya.
“Aku berjanji akan mengembalikan barangmu ini jika kamu beristighatsah sekali lagi kepada syeikhmu yang kamu sebutkan namanya tadi,” kata sang perampok.
Si pelayan segera beristighatsah mohon agar tangan orang itu sembuh seperti semula. Dengan izin Allah tangan si perampas itu segera sembuh dan barangnya yang dirampas segera dikembalikan kepada si pelayan. Waktu pelayan itu bertemu dengan Habib Abdurrahman As-Saqqaf, beliau berkata, “Jika beristighatsah tidak perlu bersuara keras, karena kami juga mendengar suara perlahan.”
Itulah beberapa karamah yang ditujukan kepada ulama yang bernama lengkap Habib Abdurrahman As-Saqqaf Al-Muqaddam Ats-Tsani bin Muhammad Maulad Dawilah bin Ali Shahibud Dark bin Alwi Al-Ghuyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW.
Julukan As-Saqqaf berasal dari kata as-saqfu (atap), yang berarti atapnya para wali dan orang-orang shalih pada masanya. Itu menandakan akan ketinggian ilmu dan maqam yang tinggi, bahkan melampaui ulama-ulama besar di jamannya. Dia juga mendapat julukan Syeikh Wadi Al-Ahqaf dan Al-Muqaddam Ats-Tsani Lis Saadaati Ba’alwi (Al-Muqaddam yang kedua setelah Al-Faqih Al-Muqaddam). Sejak itu, gelar Assaqqaf diberikan pada beliau dan seluruh keturunannya.
Sejak kecil ia telah mendalami berbagai macam ilmu dan menyelami berbagai macam pengetahuan, baik yang berorientasi aql (akal) ataupun naql (referensi agama). Ia menghafal Al-Qur’an dari Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Khatib, sekaligus mempelajari ilmu Tajwid dan Qira’at. Ia juga berguru kepada Asy-Syeikh Muhammad ibnu Sa’id Basyakil, Syeikh Muhammad ibnu Abi Bakar Ba’ibad, Syeikh Muhammad ibnu Sa’id Ka’ban, Syeikh Ali Ibnu Salim Ar-Rakhilah, Syeikh Abu Bakar Ibnu Isa Bayazid, Syeikh Umar ibnu Sa’id ibnu Kaban, Syeikh Imam Abdullah ibnu Thohir Addu’ani dan lain-lain.
Dia mempelajari kitab At-Tanbih dan Al-Muhadzdzab karangan Abi Ishaq. Ia juga menggemari kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah dan Al ’Awarif karya As-Samhudi. Tak ketinggalan ia juga mempelajari kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali seperti Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz, Al-Khulashoh dan Ihya Ulumiddin. Serta kitab karangan Imam Ar-Rofi’iy seperti Al-‘Aziz Syarh Al-Wajiz dan Al-Muharror.
Habib Abdurrahman As-Saqqaf selalu membaca Al-Qur’an setiap siang dan malamnya dengan 8 kali khataman, 4 di waktu malam dan 4 di waktu siang. Yang di waktu siang beliau membacanya 2 kali khatam dari antara setelah Subuh sampai Dhuhur, 1 kali khatam dari antara Dhuhur sampai Ashar (itu dibacanya dalam 2 rakaat shalat), dan 1 kali khataman lagi setelah shalat Ashar.

Setiap kali menanam pohon kurma, beliau membacakan surat Yasin untuk setiap pohonnya. Setelah itu dibacakan lagi 1 khataman Al-Qur’an untuk setiap pohonnya. Setelah itu baru diberikan pohon-pohon kurma itu kepada putra-putrinya.

Beliau wafat di kota Tarim pada hari Kamis, 23 Sya’ban tahun 819 H (1416 M). Ketika mereka hendak memalingkan wajah beliau ke kiblat, wajah tersebut berpaling sendiri ke kiblat. Jasad beliau disemayamkan pada pagi hari Jum’at, di pekuburan Zanbal,Tarim. Beliau meninggalkan 13 putra dan 7 putri.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

MA’RIFAT adalah sejenis pengetahuan dengan mana para Sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Ma’rifat berbeda dengan jenis ilmu lainnya, di mana ia menangkap obyeknya secara langsung, tidak melalui representasi, image ataupun simbol dari obyeknya tersebut.
Seperti indra menagkap obyeknya secara langsung, demikian juga “hati” atau intuisi menangkap obyeknya secara langsung, perbedaannya terletak pada jenis obyeknya; kalau obyek indra adalah benda-benda indrawi (mahsusat), obyek intuisi adalah entitas-entitas spiritual (ma’qulat). Dalam kedua modus pengenalan ini manusia mengalami obyeknya secara langsung, dan karena itu ma’rifah disebut sebagai ilmu dzauqi (experiental), yang biasanya dikontraskan dengan pengetahuan melalui nalar (bahtsi). Walaupun sama-sama melalui pengalaman / dialami seseorang, namun hubungan orang itu dengan obyeknya berbeda. Dalam pengenalan indrawi obyek-obyeknya berada di luar dirinya, dan dikaitkan dengannya melalui “representasi”, sedangkan obyek-obyek intuisi, hadir begitu saja dalam diri orang tersebut, dan karena itu disebut “ilmu hudhuri” dan bukan “ilmu hushuli”.
Ma’rifat dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu rasional, dimana pemilahan antara subyek dan obyek begitu dominan, dan jarak antara keduanya sangatlah lebar. Walaupun ilmu rasional atau tepatnya akal sama-sama menangkap obyek-obyek ma’qulat (ruhani) sebagaimana intuisi tetapi cara keduanya berbeda. Akal menangkap obyek ruhani melalui hal-hal yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui, jadi bersifat inferensial. Sementara intuisi menangkap obyeknya langsung dari sumbernya, apakah Tuhan atau malaikat, melalui apa yang dikenal sebagai penyingkapan, mukasyafah atau penyinaran (iluminasi) dan penyaksian (musyahadah). Penyingkapan ini bisa terjadi dalam keadaaan jaga atau mimpi, dapat mengambil bentuk ilham atau wahyu, atau terbukanya kesadaran hati akan kenyataan yang selama ini tersembunyi demikian rapat.
Ma’rifat tidak bisa diraih melalui jalan indrawi, karena menurut Rumi itu seperti mencari-cari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan memandang laut. Ia juga tidak dapat diperoleh lewat penggalian nalar, karena itu akan sama seperti orang yang menimba laut untuk mendapatkan mutiara. Untuk mendapatkan mutiara (ma’rifat) orang membutuhkan penyelam ulung dan beruntung; yakni butuh seorang mursyid yang berpengalaman. Bahkan mengingatkan bukan hanya penyelam yang ulung tetapi juga beruntung, yakni tergantung kepada kemurahan Tuhan, karena tidak semua kerang mengandung mutiara yang didambakan.
Ma’rifat, seperti yang telah dikemukakan, berdasarkan pada pengalaman; artinya ia harus dialami, bukan dipelajari. Seperti memahami rasa manis, akan bisa dengan mudah dengan langsung mencicipi gula. Mencoba memahaminya lewat keterangan orang lain atau membaca buku akan mendapatkan pengetahuan yang semu. Paling banter, hanya bisa menghampirinya tanpa bisa menyentuhnya. Ma’rifat tidak bisa dipelajari dari buku, bahkan buku para Sufi sekalipun. Ketika kita datang kepada seorang mursyid, maka ia akan mengajak kita berdzikir dan melakukan disiplin-disiplin spiritual yang keras, agar kita mengalami pengalaman-pengalaman mistik atau keagamaan sendiri dan bisa mencicipinya sendiri. Buku bagi seorang Sufi hanyalah simbol karena terdiri dari huruf-huruf yang tidak lain daripada simbol yang disepakati. Tapi bisakah kita menyunting mawar dari M.A.W.A.R.?
Perbedaan lain antara ma’rifat dengan jenis pengetahuan yang lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung, mengasah otak dan berpikir keras melalui cara-cara berfikir yang logis, jadi manusia memang betul-betul berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memperoleh obyek pengetahuannya. Tetapi ma’rifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia, pada tahap akhir semuanya tergantung kemurahan Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan “persiapan diri” (isti’dad) dengan cara membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit jiwa lainnya, yakni akhlak yang tercela. Ibarat kaca yang dipasang untuk menerima cahaya matahari ke dalam rumah hati kita, kaca tersebut harus senantiasa dibersihkan dari segala debu yang menempel di atasnya, agar ketika sinar matahari itu masuk atau hadir maka kaca kita siap mengantarkannya ke dalam jantung rumah kita dan memberi cahaya pada sekitarnya. Sehingga terjadi iluminasi terhadap benda-benda yang ada disekitarnya dan membuat benda-benda yang tak tampak atau remang-remang menjadi jelas dan terang benderang.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012

TAREKAT (thariqah), seperti syari’at berarti jalan, hanya saja yang pertama berarti jalan kecil (path) sedangkan yang terakhir berarti jalan besar (road). Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang Sufi. Selain tarekat sering juga dipakai kata suluk yang artinya juga jalan spiritual, dan orangnya disebut salik. Tetapi kata tarekat juga dipakai sebagai kelompok persaudaraan atau orde spiritual yang biasanya didirikan oleh seorang Sufi besar, seperti Abdal-Qadir jaelani, Sadzali, Jalal al-din Rumi dan lain-lain. Nama tarekat tersebut biasanya diberi nama sesuai dengan nama-nama para pendirinya. Karena itu kita mengenal tarekat Qadiriah, Sadzaliyah atau Mawlawiyah yang dinisbatkan dengan kata Mawlana (guru kami) sebuah sebutan yang diberikan oleh para pengikut Jalal al-din Rumi kepada dirinya.
Sebagai jalan spiritual, tarekat ditempuh oleh para Sufi dan Zahid di sepanjang zaman. Setiap orang yang menempuhnya mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, sekalipun tujuannya adalah sama, yaitu menuju Tuhan, mendekati Tuhan bahkan bersatu dengan-Nya, baik dalam arti majaz atau hakiki, yaitu kesatuan mistik atau ittihad (mystical union). Meskipun begitu para ahli sepakat untuk memilah-milah tahapan perjalanan spiritual ini ke dalam station-station (maqamat), dan keadaan-keadaan (ahwal). Sementara maqamat dicapai dengan usaha yang sadar dan sistimatis, ahwal adalah keadaaan-keadaan jiwa (mental states) yang datang secara spontan dan berlangsung relatif cepat dan tak lama.
Selain pengalaman spiritual yang berbeda-beda dari seorang Sufi dalam tarekatnya, intensitas dan kecepatan perjalanannya pun bisa berbeda-beda. Ali Nadwi misalnya menggambarkan perjalanan mistik Rumi seperti burung rajawali (falcon) yang bisa dengan cepat tiba di tangan rajanya, sedangkan ‘Aththar seperti semut. Rumi sendiri misalnya mengatakan,” Seorang Sufi bermi’raj ke Arasy dalam sekejap; sang Zahid perlukan sebulan untuk sehari pejalanan.”
Walaupun jalan spiritual ini obyektif, karena dialami oleh orang-orang suci di sepanjang zaman, tetapi pengalaman masing-masing Sufi dalam menempuh perjalanan tersebut adalah subyektif. Dan karena sifat pengalamannya subyektif, maka tidak mungkin kita mengharapkan adanya keseragaman ungkapan dan nama-nama tahapan (maqamat) atau keadaan-keadaan (ahwal) dari seluruh atau masing-masing Sufi. Oleh karena itu wajar, kalau para penulis Sufi berbeda misalnya dalam menamakan maqam-maqam ataupun urutan-urutannya. Al-Kalabadzi, misalnya menyebut maqam-maqam tersebut sebagai berikut: taubat, zuhud, sabar, faqr, tawadhu’, taqwa, tawakkal, ridha’, mahabbah dan ma’rifat, sementara al-Ghazali menyebutnya sebagai berikut : taubat, sabr, faqr, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifat dan ridha, sedangkan al-Qusyairi sebagai berikut; taubat, wara, zuhud, tawakkal, sabar dan ridha. Selain perjalanan tersebut digambarkan secara datar dan dalam bentuk prosa, seperti tersebut di atas, ada juga yang menggambarkannya secara simbolis dan dalam bentuk puitis. Farid al-Din ‘Aththar misalnya menggambarkan perjalanan spiritualnya dengan indah dalam karya puitisnya Manthiq al-Thayr sebagai perjalanan panjang dan melelahkan dari burung-burung (yang melambangkan jiwa-jiwa manusia) dalam rangka menjumpai raja mereka “simurgh”. Untuk itu mereka harus melampaui tujuh lembah yaitu lembah pencaharian, lembah cinta, ma’rifat, perpisahan, kesatuan, keheranan, faqir dan fana’. Atau seperti Ibn ‘Arabi yang melukiskan pengalaman spiritualnya secara detail tanpa berusaha memberi nama masing-masing tingkatnya tetapi menceritakan dengan gamblang perjalanan manusia dari tingkat indrawi menuju tingkat imajinal, dan dari dunia imajinasi ke tingkat spiritual murni. Sekurangnya ada 19 tingkatan yang digambarkan Ibn Arabi dalam kitabnya Risalat al-Anwar fima yumnah shahib al-khalwa min al-Asrar, sebelum akhirnya manusia kembali kepada dunia indrawi.
Apa yang kita gambarkan selama ini tentang tarekat, adalah pengertian tarekat sebagai perjalanan spiritual, yang juga disebut suluk. Tetapi ada pengertian lain dari tarekat dalam arti persaudaraan atau ordo spiritual. Pengertian ini sebenarnya yang lebih dikenal oleh kalangan luas, seperti Tarekat Naqsabandiah, Sinusiah, Qadiriah dan sebagainya. Tentu bukan tempatnya di sini untuk membahas satu persatu tarekat tersebut, namun beberapa hal tentang tarekat ini perlu dikemukakan. Pertama, tentang metode spiritual dan peranan sang guru (mursyid). Karena tasawuf pada hakekatnya tidak bisa dipelajari lewat buku, maka latihan spiritual berupa dzikr, atau sama’, adalah cara yang efektif untuk memahaminya lewat pengalaman batin. Daripada mengajarkan murid-murid tentang ajaran-ajaran para Sufi, seorang guru akan mengajak murid-muridnya untuk melakukan perjalanan bersama melalui dzikir menuju tuhan, dengan metode yang pernah dialami oleh si mursyid. Dengan begitu sang guru berharap bahwa apa yang pernah ia alami dengan metode yang sama akan juga dialami oleh murid-muridnya. Metode ini harus diikuti dengan disiplin yang tinggi dan dengan penuh ketaatan kepada petunjuk sang guru. Ini terjadi karena sang guru merasa yakin hanya dengan cara itulah maka pengalaman seorang murid akan sesuai dengan yang direncanakan. Dalam hal ini murid tidak boleh protes atau membangkang, dan seorang murid harus bertindak seolah-olah seperti mayat dalam pangkuan orang yang memandikannya. Boleh saja membangkang, tetapi sang guru tidak bertanggung jawab atas kegagalan sang murid yang membangkang tersebut dan tidak ada jaminan bahwa usahanya itu akan berhasil. Jadi inilah kira-kira peranan sang mursyid terhadap muridnya, yakni memastikan bahwa segala hal-ihwal metodenya dijalankan sepenuhnya oleh sang murid. Baru setelah segalanya dijalankan dengan baik, seorang murid bisa berharap sukses dalam upaya tersebut.

Posted in Tarikat | No Comments »
August 4th, 2012
Bila di sebut Tariqat maka Mursyid adalah perkara yang amat mustahak. Tariqat ialah perjalanan menuju Allah Ta’ala manakala mursyid lah yang memimpinnya ke arah tujuannya itu. Kalau Tariqat di ibaratkan sebagai sampan manakala Mursyid pula di ibaratkan sebagai nakhodanya yang memimpin haluan sampan tersebut. Kedudukan Mursyid di dalam sesebuah jemaah tariqat tidak keterlaluan katakan adalah ibarat nyawa bagi sebuah jasad. Tidak hairanlah ada ahli sufi yang berpendapat : “Rahsianya(intipati perjalanan tariqat) itu adalah pada masya’ih bukannya pada zikir”. Dan berkata Syeikh Tajaldin Naqsyabandi dan perkataan ulama-ulama sufi yang lain juga ada menyatakan senada dengannya iaitu : “Barang siapa tiada baginya syeikh(guru mursyid) maka syaitanlah syeikhnya”. Perkataan di atas merujuk kepada guru kerohanian yakni yang menjalani jalan tariqat keruhanian.

Seseorang yang ingin bertariqat mungkin kurang di dedahkan atau tak tahu menahu kepentingan peranan salasilah. Sedangkan berguru tariqat yang tidak bersambung salasilahnya dengan ulama-ulama asalnya sehingga bersambung dengan Rasulullah s.a.w. hukumnya haram kerana terputus wasilah dalam menyampaikan matlamat.Sebab itu bukan mudah untuk kita berguru dengan seseorang kecuali telah di buktikan bahawa guru yang kita anggap sebagai guru itu memiliki sanad salasilah tariqat yang mutashil(bersambung) sehingga Rasulullah s.a.w. di samping kita melihat kepada faktor-faktor lain yang selari dengan adab syariat dan adab tariqat.

Apakah yang di maksudkan dengan salasilah tariqat dan mengapa salasilah tariqat itu penting ?

Seseorang yang di anggap mursyid ialah seseorang yang telah berguru sebelumnya dengan gurunya terdahulu dan sehinggalah bersusun sampailah kepada tabi’in kepada sahabat dan akhirnya bertemu kepada Rasulullah s.a.w. dan mestilah di dokumenkan dalam bentuk bertulis dan di sahkan oleh gurunya yang terdahulu dengan ‘memberi izin’ bagi menjalankan atau menyebarkan tariqat tersebut serta mahsyur sanadnya mengikut adab tariqat.

Salsilah ini penting kerana beberapa sebab iaitu :

i. bagi menentukan seseorang murid menerima keberkatan (kesan ruhaniah) atau limpahan ruhani yang bersambung dengan syeikhnya itu terus bersambung sehinggalah persambungannya itu benar-benar dari puncanya yang sebenar dan teratasnya iaitu Rasulullah s.a.w. Sekiranya salasilahnya terputus atau tiada memiliki sanad salasilah yang sah maka bagaimana seseorang itu dapat menerima limpahan keberkatan imdad bir ruhaniah dari segala masya’ih yang terdahulu sehingga Rasulullah s.a.w yang dengannya menyampaikan kita kepada jazbah fillah(tarikan kepada Allah iaini zuk fana’fillah dan baqo’billah).

ii. Bagi yang terputus wasilah ruhaniahnya maka terputuslah apa yang di panggil rabithah mursyid(pertalian mursyid).Jika tiada baginya rabithah mursyid maka tiada terpelihara perjalanannya itu daripada tercedera terhadap gangguan musuh-musuh batin seperti iblis, syaitan jin dan segala perkara yang membahayakan perjalanan ruhaninya khususnya dalam meniti perjalanan di alam malakut.Sebab itu kita dengar bahaya-bahaya penipuan di alam ruhani yang sering kita dengar seperti membesarkan diri mengakui diri sudah capai ke martabat wali,martabat sultanul auliya, sudah dapat tahap yang tinggi dan suka menggelar diri , taa’sub , sudah pandai menilik dan di katanya sudah dapat kasyaf , pandai mengubat kerana sudah disangkanya dapat maunah dan akhirnya melalutlah kepada gila dan sebagainya. Sedangkan rukun bagi seseorang mursyid atau khalifah itu ialah sangat merendahkan diri (tawadhu’) bagaimana pula dia nak mengaku dirinya lebih atau macam-macam lagi.Satu perkara lagi sifat orang yang terputus sanadnya iaitu suka kondem orang lain yang nyata kondemnya itu tidak jujur dan terlalu taasub dengan amalannya saja kononnya amalannya yang sah , betul dan orang lain itu semuanya tak betul kalau betul pun tak sempurna macam dia punya. Sebenarnya 2 perkara ini selalu dilakukan bagi orang yang lalai dalam zikrullah atau memang sudah ada cacat dalam perjalanannya.

iii. Sebagai bukti atau hujjah yang sah bahawa seseorang itu mendapat izin dari syeikhnya yang terdahulu bagi menyebarkan ajaran tariqatnya itu kerana sanad salsilah yang mahsyur dan mutashil dengan Rasulullah s.a.w. itu seumpama otoriti yang sangat berwibawa tanpa dapat di pertikaikan lagi dari sudut keizinan dan kelayakannya dalam memimpin murid.Dan inilah adab yang amat penting dalam tariqat.

iv. Salsilah juga adalah suatu keesahan yang menyatakan bahawa tiada berlaku perubahan atau pindaan atau saduran dari hal penyampaian ilmu Tariqat itu sendiri dan lazimnya salasilah ini di kepilkan bersama ajaran-ajaran,adab-adab serta segala keterangan maqam-maqam zikir tariqat yang di rekod bersama dari turun temurun supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau di ciplak dari mana-mana ajaran yang bertentangan dengan asal .

Pesanan Ulama sufi yang muktabar dalam kepentingan mengetahui salsilah tariqat .

1. Kata Syeikh Amin Kurdi dalam kitabnya Dhiya’ul Iman :

“Ketahuilah bahawa seorang murid di jalan Allah yang mahu bertaubat dan menghilangkan sifat kelalaiannya wajiblah ia mencari seorang syeikh yang ada di zamannya. Iaitu seorang yang sempurna suluknya(perjalanannya) syariat dan haqiqat mengikut Al Qura’an dan Al Hadis juga sentiasa berpandukan para Ulama hingga sampai ke maqam ar-rijalul kamal. Syeikh itu telah sampai kepada keredhaan Allah dan suluknya juga adalah di bawah pimpinan seorang mursyid yang mempunyai persambungan salasilah hingga ke nabi s.a.w. Ia juga mestilah telah mendapat izin dari syeikhnya untuk menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Ia juga mempunyai ilmu dan makrifah yang benar dan bukan jahil dan bukan kerana di dorong oleh keinginan nafsu dirinya.Oleh yang demikian syeikh yang arif yang mempunyai persambungan salasilah itu adalah merupakan wasilah kepada Allah bagi seseorang murid itu. Syeikh itulah juga merupakan pintu menuju kepada Allah yang akan di lalui oleh murid itu. Sesiapa yang tiada mempunyai syeikh yang memimpin dan mengasuhnya maka syeikhnya adalah syaitan”.

2. Katanya lagi :

” Tidaklah boleh seseorang itu membuat bai’ah dan memimpin para murid kecuali setelah ia mendapat tarbiyah dan ke izinan mursyidnya seperti yang di tegaskan oleh para masya’ih. Orang yang berbuat kerja demikian itu padahal ia bukan ahlinya yang sebenar , akan lebih banyak merosakkan dari memberi kebaikan. Ianya akan menanggung dosa sebesar dosa seorang perompak kerana ia telah memisahkan murid dari syeikh yang arif sebenarnya”.

3. Berkata Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Dhiya’ul Iman fi Thariqah Ar Rahman pada membicarakan kepentingan salsilah iaitu:

“Adalah sangat wajar bagi para murid di jalan Allah itu untuk mengetahui salasilah para syeikh mereka itu hingga sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. Bila kedudukan syeikh mereka jelas dan benar ada persambungan salasilah hingga kepada nabi s.a.w. maka jika para murid itu mahu mendapatkan pertolongan limpahan ruhaniah dari syeikh mereka itu mereka akan berhasil apa yang dimaksudkan . Orang yang salasilahnya tidak bersambung hingga kepada nabi s.a.w. maka orang itu adalah terputus dari limpahan ruhaniah tersebut. Oleh itu orang itu bukanlah menjadi waris bagi Rasulullah s.a.w. dan TIDAK boleh di ambil bai’ah dan ijazah daripadanya”.

4. Kata Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni di dalam kitab Madarijus Salikin :

“Hai para murid ! Semoga Allah memberikan keredhaan Nya kepada kami dan kamu. Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui bapanya dan datuknya di dalam jalan ini (ilmu Tariqat) ,maka ia adalah buta. Mungkin jua orang yang tersebut di nasabkan(di binkan) kepada orang lain yang bukan bapa sebenarnya. (jika begitu) maka bermakna ia termasuk ke dalam apa yang di sabdakan oleh nabi s.a.w. : ‘Allah melaknat orang yang dinasabkan kepada orang lain yang bukan bapanya yang sebenar”.

Maksud bapa dan datuknya ialah para guru-guru yang terdahulu (para masya’ih) kerana guru mursyid kita ialah bapa ruhani manakala guru kepada guru kita adalah datuk ruhani kepada kita sehingga lah seterusnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. iaitu sumber segala ruhani yakni benih sekelian alam dan induk rahmat Allah Ta’ala dengannya melimpah sekelian rahmat Allah atas setiap kejadian.

5. Kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitabnya Sirrul Asrar :

“Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Sahabat r.a. adalah ahli jazbah(ahli tarikan batin) kerana kekuatannya menemani nabi s.a.w. Tarikan batin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada salasilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakkan umat, yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid’ah”. Ini menunjukkan ‘karan’ atau jazbah fillah akan turun kepada kita melalui susur jalur salasilah tariqat.

6. Kata Syeikh Abdul Qadir Al – Jilani lagi :

“Bagaimana cara menentukan Tasawuf yang benar ? Caranya dengan dua macam : (Pertama) lahiriahnya(Kedua) Batinnya.Lahiriahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah mahupun larangan.Batinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahawa yang di ikuti adalah nabi s.a.w. dan nabi s.a.w. merupakan perantara antara dia dengan Allah.Dan antara dia dengan nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad s.a.w. yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi nabi dan itu merupakan isyarat pada orang – orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membezakan mana golongan yang benar dan yang salah , yang tidak dapat di temukan kecuali oleh ahlinya”.

Maksud di atas ialah bagi menentukan tasawuf yang benar ialah zahirnya mengikut syariat dan batinnya mengikut jalur suluk (yakni perjalanan yang berantai salasilah sehingga berakhir kepada nabi s.a.w.) supaya hingga jelas hati murid mempertemukan kepada nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi sebagai washitah(perantara) yang menyampaikan kepada Allah iaini makrifat terhadap Allah dengan sebenarnya.Kerana jika terputus salasilah bererti terputuslah wasilah dan akibatnya akan kelirulah perjalanannya dan payahlah seseorang itu membezakan dapatan ruhaniah yang haq dengan yang batil kerana perkara ini amat lah halus lagi sukar.Jangan di kata cahaya itu lah diri dan jangan disangka bayang itulah sebenar.Jangan dikata zauk itulah muktamad kerana syaitan masih boleh memberikan rasa zauk dan segala pembukaan yang palsu ! Maka berlindunglah kita kepada Allah dari segala tipudaya makhlukNya.Maka tiada yang mengetahuinya melainkan ahlinya yang berjalan mereka itu mengikut akan mengikut orang yang mengikut akan nabi s.a.w. pada zahir (syariat)dan batinnya(rabithah ruhaniah yakni tariqat yang menyampaikan haqiqat).Bak kata perpatah : Jauhari jua yang mengenal manikam.

SIMPULAN
Justru itu hendaklah kita fahami bilamana di katakana ‘Tariqat’ maka disana ada di dalamnya beberapa perkara yang tidak terpisah ibarat ‘irama dan lagunya’ iaitu :

1. Mursyid berkait dengan
2. salsilah dan keizinan berkait dengan
3. rabithah ruhaniah(pertalian) berkait dengan
4. adab-adab berkait dengan
5. zikir dan maqam-maqamnya berkait dengan
6. muraqabah dan musyahadah terhadapNya

Kesemuanya ini adalah wasilah pokok dalam Tariqat dan keenam-enam inilah di panggil ‘Tariqat’. Ke enam-enam perkara di atas juga ada yang di zahirkan dan di dokumentasikan dan ada yang di batinkan yakni tidak di nyatakan atau tidak di dokumentasikan khusus yang berkait dengan dapatan atau penemuan ruhaniah yang menjadi adab supaya tidak dinyatakan. Namun perkara seperti salasilah dan ke izinan adalah perkara yang wajib di nyatakan supaya di ketahui akan nasab ruhaniahnya dan supaya tidak kita di anggap anak yang tiada bernasab seperti yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni r.h dan yang lebih di takuti kita menyeleweng dari usul dan kaedah kaum sufi secara tidak kita sedari.

Tidak ada keringanan dalam perkara salasilah ini , jangan pula ada pihak yang berkata salasilah ini tak penting yang pentingnya ialah haqiqatnya atau makrifatnya. Jika ada pihak yang berkata begitu , terus segera tinggalkan orang itu kerana orang itu telah mengajar suatu pemahaman yang tidak betul yakni menyalahi usul mengikut kaum sufi. Kerana bagaimana buah itu lahir tanpa pokok dan benihnya ? Sebab itu kata Ulama sufi : “Barangsiapa menyalahi ushul maka diharamkan dia daripada wushul(sampai kepada makrifat Allah Ta’ala dengan makrifat sebenarnya)”. Iaini barang siapa menyalahi perkara-perkara yang telah di sepakati oleh kaum sufi maka terlerai dia daripada jalan mereka.Bersama kita berlindung dengan Allah Ta’ala daripada bahaya-bahaya ini dan tipudaya makhlukNya.

Posted in Tarikat | No Comments »